Kereta api selalu punya cerita tersendiri bagi para penumpangnya. Bagi sebagian orang, kereta bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi juga soal pengalaman, strategi perjalanan, dan kenangan yang sulit dilupakan. Salah satu cerita menarik adalah bagaimana banyak penumpang menemukan cara-cara kreatif untuk menekan biaya perjalanan dengan memanfaatkan jaringan kereta yang saling terhubung di Pulau Jawa.
Saya sendiri pernah mencoba beberapa cara tersebut, dan ternyata cukup efektif untuk perjalanan jauh dengan biaya yang sangat murah.
Kereta Ekonomi dan Realitas “Adu Dengkul”
Sebagian besar kereta ekonomi bersubsidi pemerintah atau yang dikenal sebagai kereta PSO (Public Service Obligation) memang dirancang agar tarifnya tetap terjangkau bagi masyarakat. Kereta seperti KA Kahuripan adalah contoh yang cukup terkenal.
Namun ada konsekuensinya. Banyak kereta ekonomi PSO masih menggunakan desain kursi lama:
- Konfigurasi kursi 3–2 saling berhadapan
- Kapasitas sekitar 106 kursi per gerbong
- Kursi tegak tanpa sandaran rebah
- Jarak kaki yang cukup sempit
Akibatnya muncul istilah yang sudah sangat populer di kalangan penumpang kereta ekonomi: “adu dengkul”. Jika penumpang yang duduk berhadapan sama-sama bertubuh tinggi, lutut mereka sering kali saling bersentuhan selama perjalanan.
Saya sendiri pernah merasakan pengalaman ini ketika melakukan perjalanan Bandung – Kertosono pulang pergi menggunakan KA Kahuripan beberapa tahun lalu. Perjalanan yang bisa mencapai lebih dari 12 jam tentu cukup terasa di kaki, tetapi karena tarifnya sangat murah, kereta ini tetap menjadi pilihan banyak orang.
Strategi Hemat: Memecah Perjalanan
Menariknya, banyak penumpang yang kemudian menemukan cara untuk membuat perjalanan menjadi jauh lebih murah dengan memanfaatkan beberapa kereta sekaligus.
Salah satu strategi yang cukup terkenal adalah rute:
Surabaya – Kertosono – Bandung
Skemanya sederhana.
Pertama, naik KA Dhoho atau Penataran dari Surabaya menuju Kertosono. Kereta ekonomi PSO ini memiliki tarif yang sangat murah, biasanya hanya sekitar belasan ribu rupiah.
Setelah sampai di Kertosono, perjalanan dilanjutkan dengan KA Kahuripan menuju Bandung.
Jika dihitung, total biaya perjalanan dari Surabaya sampai Bandung bisa sekitar seratus ribuan rupiah saja. Untuk perjalanan sejauh hampir setengah Pulau Jawa, tentu ini sangat hemat.
Karena itulah Stasiun Kertosono sering dianggap sebagai salah satu titik transit penting bagi penumpang yang ingin melakukan perjalanan murah di jalur selatan Jawa.
Pengalaman Pribadi: Rute Hemat Kiaracondong – Cikarang
Selain perjalanan jauh, strategi serupa juga bisa dipakai untuk perjalanan yang lebih pendek.
Saya pernah mencoba cara lain untuk menghemat biaya dari Kiaracondong menuju Cikarang.
Strateginya adalah memecah perjalanan menjadi dua bagian:
- Kiaracondong – Purwakarta naik KA Garut
- Purwakarta – Cikarang naik kereta lokal Walahar
Dengan cara ini, biaya perjalanan bisa jauh lebih murah dibandingkan jika langsung menggunakan kereta jarak jauh menuju Jakarta atau Bekasi.
Purwakarta sendiri memang menjadi stasiun transit yang cukup strategis karena:
- Banyak kereta jarak jauh berhenti di sana
- Ada layanan kereta lokal menuju Cikarang
- Dari Cikarang bisa lanjut menggunakan KRL Commuter Line
Jadi perjalanan bisa disusun seperti potongan puzzle yang saling menyambung.
“Kereta Hopping”: Seni Menyusun Perjalanan
Di kalangan penggemar kereta api, strategi seperti ini kadang disebut secara tidak resmi sebagai “kereta hopping”, yaitu perjalanan yang dilakukan dengan berpindah dari satu kereta ke kereta lain untuk mendapatkan tarif yang lebih murah.
Tentu cara ini memiliki beberapa konsekuensi:
- Perjalanan bisa menjadi lebih lama
- Harus menunggu waktu transit
- Ada risiko tiket sambungan habis
Namun bagi banyak orang yang tidak terlalu dikejar waktu, cara ini justru menjadi pengalaman perjalanan yang lebih menarik.
Selain menghemat biaya, kita juga bisa merasakan suasana beberapa kereta yang berbeda, melihat berbagai stasiun di sepanjang jalur, dan menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai.
Kereta Api dan Kenangan Perjalanan
Kereta api di Indonesia telah berubah sangat banyak dalam dua dekade terakhir. Kini perjalanan kereta jauh lebih nyaman, bersih, dan tertib. Penumpang tidak lagi berdiri di kereta jarak jauh, semua tiket memiliki nomor kursi, dan banyak kereta baru dengan fasilitas modern.
Namun bagi banyak orang, kenangan perjalanan dengan kereta ekonomi—dengan segala keterbatasannya—tetap menjadi cerita yang menarik untuk dikenang.
Mulai dari kursi yang saling berhadapan, perjalanan panjang berjam-jam, hingga strategi menyusun rute hemat dengan berpindah kereta di berbagai stasiun.
Semua itu adalah bagian dari pengalaman unik perjalanan kereta api di Indonesia.
Dan bagi sebagian penumpang, justru di situlah letak serunya.




