Beberapa waktu terakhir aku sering kepikiran satu pertanyaan yang agak mengganggu:
“Blogging itu masih punya masa depan nggak sih sekarang?”
Aku nanya ini bukan karena aku udah nggak suka menulis. Justru aku masih rajin banget nulis di blog. Menulis masih jadi tempat paling nyaman buat aku menuangkan ide, cerita, analisis, dan opini.
Tapi semakin hari, aku makin sadar: dunia konten berubah cepat. Dan perubahan itu bikin aku mulai gelisah.
Karena realitanya sekarang, orang lebih suka video. Bahkan aku sendiri—sebagai blogger—kadang lebih memilih video daripada baca artikel.
Dan yang bikin aku makin terpaksa “naik level” adalah dua hal lain yang lebih nyebelin: iklan blog yang brutal dan konten tulisanku yang dicopas orang lalu dijadiin video oleh mereka.
Di artikel ini aku mau cerita santai aja, dari sudut pandang seorang blogger yang lagi berusaha bertahan (dan beradaptasi) di era yang serba cepat ini.
Orang Sekarang Lebih Suka Video (Dan Aku Nggak Bisa Menyangkal)
Kalau kita lihat kebiasaan orang sekarang, memang jelas: konten video lebih digemari.
TikTok, Reels, Shorts… semua platform berlomba-lomba bikin orang betah nonton.
Dan jujur ya, aku ngerti kenapa.
Video itu cepat. Tinggal klik, duduk, nonton. Selesai.
Sementara tulisan butuh waktu dan fokus. Apalagi kalau artikelnya panjang, atau isinya muter-muter dulu sebelum masuk ke inti.
Masalahnya, tren ini bikin aku kepikiran:
Kalau semua orang makin terbiasa dengan konten instan, apa blog masih akan dibaca?
Aku Mulai Malas Baca Blog Orang… Karena Iklannya Brutal
Ini bagian yang agak ironis.
Aku ini blogger. Aku rajin nulis.
Tapi aku sendiri mulai malas baca berita atau artikel di blog orang.
Kenapa?
Karena sekarang pengalaman baca blog itu sering banget menyiksa.
Beneran.
Kadang aku buka satu artikel, lalu:
- baru masuk halaman, langsung disambut pop-up
- scroll sedikit, muncul iklan nempel di bawah
- ada iklan yang nutup paragraf
- tiba-tiba video autoplay muncul di pojok
- ada gambar yang kelihatan seperti ilustrasi, ternyata iklan
- pas lagi scroll, jempol nggak sengaja nyentuh… kebuka tab baru
Belum lagi link jebakan.
Teksnya terlihat kayak bagian artikel, ternyata hyperlink afiliasi atau redirect ke marketplace. Klik sedikit, halaman lain kebuka.
Rasanya bukan lagi baca artikel.
Rasanya kayak lagi menghindari ranjau.
Aku paham, banyak blogger butuh uang. Monetisasi itu wajar. Tapi kalau iklan sampai merusak pengalaman baca, akhirnya pembaca malah lari.
Dan aku sendiri adalah salah satu yang lari.
Karena Muak, Aku Jadi Lebih Sering Ngobrol Sama AI
Ini mungkin terdengar aneh, tapi ini kenyataan.
Karena muak dengan iklan yang terlalu brutal, link jebakan, dan pengalaman baca yang nggak nyaman, aku sekarang cenderung lebih sering:
- ngobrol dengan ChatGPT
- kadang pakai Gemini
- kadang Grok
- kadang Perplexity
Daripada buka artikel panjang, aku tinggal tanya AI.
Jawabannya keluar cepat, ringkas, to the point.
Tanpa pop-up.
Tanpa jebakan klik.
Tanpa autoplay.
Tanpa banner yang bikin mata sakit.
Dan di titik ini aku mulai kepikiran satu hal yang cukup menyeramkan buat blogger:
Kalau semua orang seperti aku… apakah traffic blog bakal menurun drastis?
Kalau orang sudah terbiasa tanya AI untuk segala hal, mereka mungkin nggak akan klik artikel lagi.
Dan kalau mereka nggak klik artikel, ya otomatis blog kehilangan pembaca.
AI Itu Ancaman Nyata Buat Blog, Tapi Bukan Akhir Segalanya
Aku nggak mau sok optimis palsu.
AI memang ancaman nyata.
Karena AI bisa merangkum jawaban dari banyak sumber—termasuk blog-blog yang kita tulis.
Kalau orang cukup puas dengan ringkasan, mereka nggak merasa perlu membuka sumber asli.
Akibatnya:
- traffic organik turun
- pageview berkurang
- pendapatan iklan menurun
- blogger makin sulit bertahan
Dan ini sudah mulai terjadi di beberapa niche.
Tapi setelah aku pikir lebih dalam, aku sadar:
AI itu pintar, tapi AI nggak punya pengalaman hidup.
AI bisa menjawab pertanyaan, tapi AI nggak punya sudut pandang personal.
AI bisa merangkum, tapi AI nggak bisa menggantikan karakter.
Kalau blog kamu hanya berisi informasi generik, ya memang bisa tergilas.
Tapi kalau blog kamu berisi:
- opini khas
- gaya bercerita unik
- pengalaman pribadi
- analisis yang punya “suara”
maka blog kamu masih punya tempat.
Tapi Masalah Terbesarku Justru Bukan AI… Melainkan Copas Konten
Nah ini bagian yang paling bikin aku emosi.
Alasan terbesar aku akhirnya mulai belajar bikin video bukan semata-mata karena tren.
Bukan juga karena aku pengen viral.
Tapi karena aku muak dengan orang-orang yang copas tulisan aku tanpa izin, lalu mereka bikin video dari situ, dengan metoda yang betul-betul bikin aku muak. Copas, masukin ke AI Capcut, jadi video, upload ke channel dia. Mending kalau kualitasnya bagus. Ini mah video dia itu terlihat picisan banget. Sangat terlihat robotik!
Iya.
Aku nulis, aku riset, aku susun, aku edit, aku rapikan… lalu ada orang tinggal ambil, copy-paste, dibacain pakai suara AI, dikasih judul bombastis, dan mereka yang panen views.
Rasanya kayak:
Aku capek nanam.
Orang lain yang petik.
Orang lain yang panen.
Dan yang bikin tambah sakit adalah… mereka sering dapat apresiasi, dapat follower, bahkan dapat uang dari hasil “memanen” kerja keras orang lain.
Sementara aku, sebagai penulis aslinya, cuma bisa menatap.
Karena Itulah Aku Mulai Belajar Bikin Video
Akhirnya aku ambil keputusan:
Kalau tulisanku gampang dicuri dan dijadikan video orang lain, maka aku harus bikin versi videonya sendiri.
Sekarang aku mulai belajar:
- ngedit video
- nyusun pacing
- bikin visual pendukung
- mengubah tulisan jadi skrip video
Aku belum jago. Masih belajar. Tapi aku mulai jalan.
Dan metode yang paling realistis buatku adalah:
Tulisan blog → diolah jadi video.
Aku nggak perlu cari ide baru setiap hari. Aku sudah punya “tambang” konten di blog.
Tinggal aku kemas ulang.
Dan ini terasa seperti mengambil kembali hak panen yang seharusnya memang milik aku.
Blog + Video = Strategi Paling Masuk Akal di 2026
Sekarang aku makin yakin:
Blog dan video itu bukan musuh.
Mereka pasangan.
Aku mulai melihat pola yang paling masuk akal:
- Blog jadi versi lengkap, mendalam, SEO
- Video jadi versi ringkas, menarik, pemantik
- Video membawa orang ke blog
- Blog jadi rumah utama dan arsip jangka panjang
Dengan cara ini, aku tidak bergantung pada satu platform.
Kalau traffic blog turun, video masih bisa jalan.
Kalau video tenggelam, blog masih jadi aset.
Kesimpulan: Blogging Masih Cerah, Tapi Harus Naik Level
Jadi, apakah blogging masih cerah masa depannya?
Jawabanku: iya, masih cerah.
Tapi bukan cerah untuk yang main santai.
Blogging sekarang adalah soal:
- membangun aset digital
- membangun identitas
- bertahan dari iklan brutal yang bikin pembaca lari
- menghadapi AI yang bikin orang malas klik
- melawan copas konten yang merajalela
- dan beradaptasi lewat multi-platform
Aku sendiri masih belajar.
Masih jauh dari sempurna.
Tapi setidaknya sekarang aku sudah mulai bergerak.
Karena aku nggak mau cuma jadi orang yang nanam terus…
Sementara orang lain yang panen.




