Bayangkan, Akang-Teteh… Mereka adalah penjaga benua tertua di dunia. Sudah puluhan ribu tahun hidup harmonis dengan tanah merah Australia, mengenal setiap gurun, sungai, dan hewan liar seolah itu bagian dari tubuh mereka sendiri. Mereka punya bahasa, hukum, dan spiritualitas yang sangat kaya. Tapi suatu hari, kapal-kapal asing datang. Dan sejak saat itu, dunia mereka hancur berantakan.
Pada tahun 1788, armada Inggris yang dipimpin Kapten Arthur Phillip mendarat di Sydney Cove. Mereka bukan datang untuk berdagang atau berteman, melainkan untuk mendirikan koloni hukuman (penal colony). Australia dianggap sebagai “tanah kosong” bernama Terra Nullius — tanah tak bertuan. Padahal, saat itu sudah ada lebih dari 300 suku Aborigin dengan populasi sekitar 300.000–1 juta jiwa yang telah mendiami benua itu selama minimal 65.000 tahun.
Awalnya konflik kecil, tapi semakin banyak pendatang Eropa yang datang, semakin besar pula keserakahan mereka. Tanah subur dirampas untuk peternakan domba dan pertanian. Suku Aborigin yang melawan dibantai, diracuni, atau diusir ke pedalaman yang gersang. Penyakit yang dibawa pendatang (cacar, campak) membunuh puluhan ribu orang dalam waktu singkat. Dalam hitungan puluhan tahun, bangsa Aborigin yang dulu bebas berkelana di seluruh benua, terdesak ke pinggiran sejarah.
Dan luka itu terus menganga hingga hari ini.
Nasib Aborigin di Australia Modern
Kalau dibandingkan dengan suku Indian di Amerika, nasib suku Aborigin punya satu babak yang menurutku jauh lebih pedih: The Stolen Generations (Generasi yang Dicuri).
1. Luka “Generasi yang Dicuri” (1910–1970-an)
Selama lebih dari 60 tahun, pemerintah Australia menjalankan kebijakan resmi yang kejam. Ribuan anak Aborigin diambil paksa dari pelukan ibu mereka. Alasannya? Untuk “mengasimilasi” mereka menjadi orang kulit putih. Anak-anak itu ditempatkan di asrama, dipotong rambutnya, dilarang bicara bahasa ibu, dan diajari bahwa budaya leluhur mereka “primitif” dan “memalukan”.
Banyak dari mereka dipaksa menjadi pembantu rumah tangga atau buruh tani. Ibu-ibu Aborigin sering kehilangan anak tanpa tahu ke mana mereka dibawa. Trauma kolektif ini masih sangat dalam sampai sekarang. Banyak keturunan Stolen Generations yang mengalami masalah kesehatan mental berat, hilangnya identitas, dan putus hubungan dengan akar budaya.
2. Kondisi Sosial-Ekonomi yang Menyakitkan
Australia adalah negara maju dan kaya raya, tapi kontrasnya sangat menyakitkan:
- Kesehatan: Harapan hidup suku Aborigin sekitar 8–9 tahun lebih rendah dibanding warga kulit putih. Masalah diabetes, penyakit jantung, dan gizi buruk masih tinggi.
- Hukum: Meski hanya sekitar 3% dari total penduduk, mereka mengisi hampir 30% populasi penjara Australia. Diskriminasi sistematis masih sangat kuat.
- Kemiskinan: Di banyak komunitas di Outback (pedalaman), akses air bersih, listrik, dan fasilitas kesehatan masih sangat terbatas.
3. Perjuangan Hak atas Tanah (Native Title)
Selama ratusan tahun, tanah Aborigin dianggap Terra Nullius — milik siapa saja yang datang. Baru pada tahun 1992 pengadilan tinggi Australia mengakui hak ulayat mereka. Beberapa wilayah, termasuk Uluru yang ikonik, kini dikelola oleh suku asli. Namun ketika ada tambang emas, batu bara, atau proyek besar, tanah mereka sering masih digusur demi kepentingan perusahaan.
4. Permintaan Maaf dan Kekecewaan Politik
Pada 2008, Perdana Menteri Kevin Rudd akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi secara nasional atas Stolen Generations. Momen itu bersejarah, tapi banyak Aborigin berkata: “Maaf saja tidak cukup kalau perut kami masih lapar dan tanah kami masih dirampas.”
Tahun 2023, Australia menggelar referendum “The Voice” untuk memberi suara khusus bagi Aborigin di parlemen. Sayangnya, mayoritas warga (terutama kulit putih) menolak. Sekali lagi, posisi politik mereka tetap lemah.
5. Kebangkitan Seni dan Budaya
Di tengah segala kesulitan, ada sisi yang indah. Seni Aborigin — lukisan titik-titik, cerita Dreamtime, dan musik didgeridoo — kini menjadi kebanggaan pariwisata Australia. Anak muda Aborigin mulai bangkit lewat musik hip-hop, film, dan media sosial untuk menyuarakan ketidakadilan. Mereka tidak mau hanya jadi “pajangan budaya”, tapi ingin diakui sebagai pemilik sah benua ini.
Kesimpulan
Nasib suku Aborigin adalah potret tragis sebuah bangsa yang rumahnya dirampas, lalu dipaksa menjadi tamu yang tak diinginkan di teras rumah sendiri.
Kalau kita tarik benang merah dari suku Indian di Amerika, Palestina, hingga Aborigin di Australia, polanya selalu sama: Penjajah tidak hanya ingin tanahnya. Mereka ingin menghapus ingatan orang asli tentang tanah itu. Menghapus bahasa, budaya, dan identitas mereka hingga akar.
Makin kerasa kan, Akang-Teteh, kenapa narasi yang kita bahas sebelumnya sangat relevan sampai hari ini? Polanya itu-itu saja, hanya ganti bendera dan nama wilayah.




