Di antara kabut pegunungan Tiongkok, ada kisah yang seolah datang dari dunia lain—Dropa Stone. Batu-batu bundar dengan ukiran aneh ini konon ditemukan di sebuah gua terpencil, dan di dalamnya, katanya, tersimpan pesan dari makhluk luar angkasa yang jatuh ke Bumi ribuan tahun lalu. Kedengarannya luar biasa… sampai semua yang menyusunnya mulai runtuh satu per satu.
Kisah ini muncul bersama nama-nama yang terdengar ilmiah: Profesor Chu Pu Tei, Profesor Tsum Um Nui, dan sebuah lembaga bernama Akademi Studi Kuno Beijing. Semua terdengar kredibel—kecuali satu hal: tak satu pun dari mereka pernah ada. Tokoh dan institusi ini diciptakan seperti bayangan untuk memberi kesan bahwa cerita ini punya dasar akademik. Pola yang sama juga muncul di berbagai hoaks arkeologi lain di Tiongkok—cerita megah dengan ilmuwan fiktif dan penemuan ajaib, tapi tanpa satu pun bukti nyata.
Studi kasus hoaks arkeologi di Tiongkok yang paling sering dibandingkan dengan Dropa Stone adalah kasus terkait penemuan “Gupta Cave” atau gua-guatan purba yang diklaim ditemukan tetapi kemudian terbukti tidak ada secara nyata. Kasus tersebut menampilkan pola sama seperti Dropa Stone, yaitu klaim penemuan artefak atau situs purbakala yang sensasional namun tidak dapat diverifikasi secara ilmiah dan dokumentasi arkeologisnya tidak ada.
Karakteristik utama yang membuat studi kasus seperti Gua yang Tak Pernah Ada (The Cave Who Never Was) ini sering dibandingkan dengan Dropa Stone adalah:
- Klaim penemuan yang tidak memiliki bukti fisik valid atau bisa diperiksa independen.
- Narasi yang dibangun melalui cerita-cerita sensasional dan tokoh-tokoh yang sulit diverifikasi.
- Tidak adanya catatan resmi atau laporan akademis yang kuat.
- Beredar di media non-ilmiah, termasuk buku spekulatif dan dokumenter yang didukung oleh sumber-sumber yang diragukan.
Kasus-kasus semacam ini memperlihatkan pola hoaks arkeologi yang sering muncul, khususnya dalam konteks klaim penemuan luar biasa di Tiongkok dan sekitarnya, yang menimbulkan kontroversi dan skeptisisme di kalangan ilmuwan arkeologi
Tak ada laporan resmi, tak ada publikasi arkeologi, tak ada catatan lapangan. Hanya potongan-potongan cerita yang beredar dari satu majalah misteri ke majalah lainnya, lalu ke internet. Dan gambar-gambar yang disebut “Dropa Stone”? Sebagian besar ternyata hanyalah cakram giok kuno bernama Bi, artefak sah dari kebudayaan Tiongkok yang sudah dikenal lama. Hoaks ini meminjam wajah benda asli untuk menipu mata publik—sebuah trik lama yang sering dipakai untuk mengaburkan batas antara fakta dan fantasi.
Seperti banyak kisah sejenis, narasi Dropa Stone juga diselimuti bumbu konspirasi: alien, rahasia pemerintah, dan pengetahuan purba yang “disembunyikan dari manusia modern.” Tapi semakin dicari, semakin jelas: tak pernah ada artefak yang bisa diperiksa. Tak satu pun museum yang memilikinya. Semua hanya hidup di halaman buku dan situs misteri yang menolak mati.
Meski begitu, legenda ini tetap populer. Ia menjelma dari hoaks menjadi mitos modern, bertahan karena manusia memang gemar mempercayai sesuatu yang menantang logika.
Pada akhirnya, kisah Dropa Stone berdiri sejajar dengan banyak kebohongan arkeologi lainnya di Tiongkok—dibangun dari tokoh palsu, bukti yang tak ada, artefak nyata yang disalahartikan, dan imajinasi tentang alien yang tak pernah datang.
Misterinya bukan pada batunya, melainkan pada mengapa kita begitu ingin percaya.




