You cannot copy content of this page
Dorphall

Dorphall

Gambar di atas adalah batu-batu bulat berukuran besar yang banyak ditemukan di Costa Rica. Banyak sejarawan yang masih bertanya-tanya, sebetulnya itu batu apa? Dengan cara apa dibuatnya? kok bisa bulat sempurna? Karakteristik batu-batu bulat yang ditemukan di Costa Rica tersebut tentu sangat berbeda dengan batu-batu buatan bulat yang saat ini banyak dipasang sepanjang trotoar Jalan Asia Afrika Bandung. Batu bulat raksasa tersebut ternyata mengandung logam, dengan kata lain, merupakan paduan logam dan batuan. Kalau anda coba googling dan cari di youtube, banyak orang yang masih belum bisa memecahkan misteri tersebut dengan tepat.

Penampakan sebagian dari 109 batu bulat di Jl Asia Afrika Bandung yang disiapkan menjelang Hari Ulang Tahun Konferensi Asia Afrika beberapa waktu yang lalu :

Seorang budayawan Indonesia, Kang Dicky Zainal Arifin, mengatakan bahwa batuan bulat di Kosta Rika tersebut adalah “Cangkang Dorphall”.¬† Istilah Dorphal memang belum pernah diajarkan di sekolah.

Saya menemukan istilah Dorphal dari diskusi-diskusi peradaban nusantara di kalangan komunitas Lanterha. Meskipun demikian, bukti-bukti keberadaan Dorphall terdeteksi dengan alat-alat geolistrik yang digunakan para ahli Geologi yang terlibat dalam penelitian Gunung Padang. Para ilmuwan yang melihat dorphall menyebutnya dengan istilah “dragon ball”.

Dophal sendiri banyak ditemukan di berbagai negara, hanya saja apa istilah yang mereka berikan tidak pernah terekspos dalam literatur.

DORPHALL (baca : dorfal) merupakan sebuah relay ancient technology buatan nenek moyang bangsa Indonesia puluhan tahun yang lalu. Prinsip kerja Dorphal adalah  memancarkan gelombang yang dinamakan ERSELNA yang berfungsi untuk memadatkan atau merapatkan molekular tanah. DORPHAL berisi nanotechnology dan rata-rata berbentuk bulat sempurna supaya bisa memancarkan gelombang ERSELNA ke segala arah dan mampu mendeteksi apapun yang terjadi di permukaan Planet dan membuat antisipasi yang dibutuhkan oleh Planet tersebut.

DORPHAL dibuat oleh Bangsa LEMURIAN 40% pasca meledaknya Gunung ZHUNNDA. Setiap pemancar pasti ada DORPHAL sebagai akselerator untuk me-relay atau memancarkan sinyal.

Dibuat dengan menggunakan teknologi ELLEMANPHATERA untuk mencampurkan unsur logam KRAIMAN dengan unsur batuan agar tidak menjadi karat dan rusak oleh korosi. Molekular dari DORPHAL itu dibuat satu baris dan searah sehingga bisa menimbulkan gelombang magnetik sangat tinggi apabila terkena simulus dari gelombang lain, contohnya Radar.

DORPHAL ini juga berfungsi menahan gempa juga meredam ledakan gunung-gunung berapi agar tidak terlalu besar.

DORPHALL juga bermanfaat untuk membantu akselerasi sel-sel tubuh manusia yang berlatih di sekitarnya dengan metoda yang tepat dan sesuai dengan karakteristik DORPHALL di tempat tersebut.

Prinsip kerja DORPHAL adalah dengan cara melawan gelombang dengan gelombang. Contohnya jika terjadi gempa bumi maka gelombang ERSELNA pada DORPHAL akan memberikan reaksi secara otomatis untuk melawan gelombang gempa tersebut dengan cara memadatkan molekular tanah sehingga radius yang melewati gelombang ERSELNA tersebut menjadi mental kembali.



Molekular DORPHAL dibuat satu baris dan searah sehingga bisa menimbulkan gelombang magnetik sangat tinggi apabila terkena stimulus dari gelombang lain. Contohnya Radar, yang mengeluarkan atau menembakkan semacam gelombang dan akan direspon oleh DORPHAL, sebagai serangan maka akan terjadi counter attack yang menyebabkan semua mekanisme pesawat jadi mati kecuali pesawat tanpa Radar. Untuk pesawat yang memakai radar, diatas 8000 kaki masih tetap aman, tetapi disekitar 6000 kaki dan jika terperangkap jalur DORPHAL, maka akan terjadi serangan. Dibawah jalur itu juga aman .Inilah yang terjadi terhadap beberapa kasus kecelakaan pesawat  terbang, seperti yang terjadi di Gunung Salak beberapa waktu yang lalu misalnya. Kejadian jatuhnya pesawat terbang yang sering terjadi di Gunung Salak dikarenakan adanya anomali magnetik. Hal itu bisa terjadi apabila jarak & ketinggian pesawat berada dalam radius pengaruh dari Anomali Magnetik tersebut. Para pakar tidak pernah tertarik menyelidiki jatuhnya pesawat terbang di wilayah tersebut dari tahun ke tahun, & menganggap hal itu adalah mistis. Anomali Magnetik tersebut mempengaruhi sistem pelontar radar sehingga menjadi distorsi bahkan kadang menjadi mati. Bahkan tidak menutup kemungkinan pesawat yang masuk dalam radius anomali tersebut kesulitan keluar yang akhirnya menabrak tebing. Korbannya sudah banyak, tapi tidak pernah diselidiki.

DORPHAL dibuat melalui sebuah teknologi bernama teknologi ELLEMANPHATERA yaitu sebuah teknologi untuk mencampurkan unsur logam KRAIMAN dengan unsur batuan agar tidak menjadi karat dan rusak oleh korosi. Casing DORPHAL tersebut diproduksi di daerah Costa Rica oleh Bangsa INCA pada waktu itu. Sedangkan mesin nanotechnology-nya di-implan-kan di NUSANTARA dan hasilnya dipasang diseluruh dunia di setiap gunung-gunung yang besar sebagai relay dan pasak atau penyeimbang ARDH GRUMMA (Planet Bumi) yang sebetulnya sangat mudah sakit-sakitan.

Mini Dorphall yang ditemukan di Gunung Padang, sayang sudah tak berfungsi. Seharusnya bagian tengah bisa berputar.

DORPHAL rata-rata terdapat di gunung yang besar dan tidak hanya terdapat di gunung yang aktif dan tidak aktif, namun efek DORPHAL juga ada di laut, bahkan DORPHAL di segitiga bermuda sangat kuat karena mampu membentuk wormhole.

Letusan gunung pada masa sekarang tidak seperti letusan Guntung Tambora atau gunung-gunung yang letusannya besar karena ada DORPHAL. Gunung yang letusannya sangat dahsyat dikarenakan Bangsa LEMURIA memang saat itu belum memasang DORPHAL, contohnya letusan Gunung ZHUNNDA.

Gunung yang memiliki DORPHAL diantaranya Gunung Gede, Gunung Ciremai, Gunung Merapi, Gunung Salak, Gunung PADRANG. Di empat piramida bawah laut juga terdapat DORPHAL, yaitu di piramida tempat ARKHYTIREMA, GLABHINNARA, GHRIBADAR, RHINGGAMANA.

DORPHAL yang masih aktif masih banyak sekali terkubur di Nusantara namun banyak pula DORPHAL yang digali untuk diambil inti teknologinya sebagai sumber energi besar dan aman juga mahal. Di Nusantara yang mencuri isi DORPHAL itu adalah kaum penjajah seperti Jepang dan Belanda karena mereka mengetahui dari manuskrip. Itu sebabnya dibeberapa tempat di Nusantara terdapat cangkang-cangkang DORPHAL yang sudah diambil teknologinya. Kalau teman-teman pembaca pernah berkunjung ke Gua Jepang dan Gua Belanda yang berada di daerah Tahura Djuanda, Gunung Kunci Sumedang, dan lain-lain, gua tersebut digali mereka yang sedang berburu Ancient Technology. Jadi bukan gua tempat persembunyaian jaman perang ya.

 

Sumber :

  • Glosarium Novel Arkhytirema
  • Catatan-catatan pribadi hasil diskusi dan Open Dialog di Komunitas Hikmatul Iman / Lanterha

Comments

comments

One Comment

Leave a Reply