Dalam bahasa ZHUNNDA, kata PADRANG memiliki makna yang begitu jelas dan transparan, tanpa ada rahasia yang tersembunyi. Gunung PADRANG, sebuah situs kuno yang telah lama terlupakan oleh sejarah modern, dulunya adalah pusat peradaban teknologi informasi canggih. Ia bukan hanya sekadar monumen, melainkan Menara Pusat Informasi Perhitungan ORIGOM serta Prediksi Bencana Alam—teknologi yang usianya bahkan lebih tua daripada kalender suku Maya yang legendaris.
Satu siklus ORIGOM setara dengan 5.125 tahun 236 hari dalam perhitungan waktu manusia modern. Galaksi kita, LAGRAVÉN (Bima Sakti), seperti semua galaksi di alam semesta, berputar dari kanan ke kiri dalam harmoni kosmik. Saat ini, galaksi kita telah mencapai usia sekitar 434 ORIGOM. Di bawah bayang-bayang langit yang luas, terdapat lima piramida raksasa berbentuk segi empat yang mengelilingi Gunung PADRANG sebagai pusatnya. Keempat piramida itu tidak hanya megah, tetapi juga berfungsi sebagai penguat sinyal bagi sistem informasi yang mendeteksi pergerakan bumi dan langit.
Di kedalaman tanah Gunung PADRANG, tersembunyi pasir ORIGOM, material misterius yang memiliki kemampuan luar biasa. Pasir ini dapat menyerap air dan merasakan getaran-getaran halus di dalam perut bumi, menjadikannya alat deteksi dini untuk bencana alam seperti gempa bumi. Penemuan ini terungkap ketika para peneliti menggali hingga kedalaman lebih dari 10 meter. Tiba-tiba, alat penggali mereka tersedot ke dalam rongga bawah tanah, mengungkap keberadaan pasir ORIGOM yang tersembunyi. Pada zamannya, tempat ini menjadi sumber informasi utama bagi para raja-raja, layaknya CPU dalam komputer modern yang menyimpan dan memproses data penting.
Dua Pola Susunan Batu: Teknologi Kuno yang Memukau
Gunung PADRANG memiliki dua pola susunan batu yang unik dan sarat makna:
- Pola Parabola: Pemancar Sinyal Kosmik
Pola pertama adalah susunan batu berbentuk parabola, yang berfungsi sebagai pemancar sinyal. Dulunya, ada lima parabola yang tersusun membentuk pola segi empat. Empat parabola di sekelilingnya mengirimkan sinyal ke parabola tengah, yang kemudian membentuk piramida energi. Sinyal tersebut ditembakkan ke atas menuju Bintang ORIGOM, pusat perhitungan kosmik. Sayangnya, banyak dari struktur ini dirusak oleh waktu dan ulah manusia, sehingga fungsinya menjadi berantakan. Struktur ini juga dikenal sebagai batu SADA, yang memiliki nilai spiritual dan teknologi tinggi. - Pola Generator Alam: Penyusun Piramida dan Detektor Bencana
Pola kedua adalah susunan batu yang melingkupi pasir ORIGOM, berfungsi sebagai penyusun piramida dan generator alam. Mekanisme pendeteksian bencana bekerja melalui aliran air yang mengalir di dalam generator piramida. Air ini ditarik ke atas oleh pasir ORIGOM, lalu datanya diolah. Aliran air ini tidak pernah terputus dan terkoneksi dengan seluruh aliran sungai bawah tanah di planet Bumi, menjadikannya media perambatan informasi global. Informasi yang terkandung dalam air kemudian ditransfer ke piramida PADRANG melalui mekanisme pasir ORIGOM. Batuan khusus yang mengelilingi pasir ini berfungsi sebagai generator alami, sementara batu yang tersusun seperti bola berfungsi sebagai pemancar sinyal.
Secara sederhana, kompleks Gunung PADRANG adalah jembatan antara tubuh bumi dan “sinyal angkasa” ORIGOM. Gelombang energinya mirip dengan tulisan LÉMURIAN, yaitu perpaduan antara gelombang transversal dan longitudinal yang merupakan pola umum di seluruh jagadraya. Gelombang ini selaras dengan tubuh manusia, seperti untaian DNA yang menyatu dengan kehidupan.
Teknologi Canggih Zaman Kuno
Batu-batu di Gunung PADRANG dibuat menggunakan dua teknologi luar biasa:
- TRALLTHA: Teknologi pemotongan batu menggunakan kekuatan lima unsur alam—air, angin, api, kayu, dan logam. Namun, di Gunung PADRANG, teknologi ini lebih sering menggunakan kekuatan angin dan api.
- ÉLLÉMANPHATÉRA: Teknologi yang mampu melemahkan unsur terkeras di alam semesta untuk disatukan dengan unsur lain, menciptakan material yang kokoh namun fleksibel.
Operator Kosmik: KHULNAKA
Proses mendeteksi ORIGOM dimulai ketika sinyal dari dalam perut Gunung PADRANG melesat menembus atmosfer dan memantul menuju Bintang ORIGOM. Seorang operator khusus, yang disebut KHULNAKA, bertugas menerjemahkan sinyal-sinyal ini. Setiap periode, seorang KHULNAKA diganti, biasanya setiap seabad sekali. Kemampuan KHULNAKA melampaui teleskop Hubble modern; ia mampu menerjemahkan gambar holografik perbintangan secara langsung. Informasi ini digunakan untuk menentukan masa tanam setiap tahun, menjaga keseimbangan alam, dan mendeteksi potensi bencana.
Meskipun KHULNAKA tidak terhubung dengan ALLAMUDZ, kemampuannya dalam mendeteksi fenomena kosmik melalui pantulan ORIGOM RAY atau cahaya Bintang ORIGOM sangatlah canggih. Data yang dihasilkan bisa menangkap berbagai fenomena di galaksi Bima Sakti. Namun, perhitungan untuk galaksi lain memiliki parameter yang berbeda.
Warisan Peradaban Leluhur
Gunung PADRANG adalah bukti nyata bahwa peradaban manusia pernah mencapai puncak teknologi dan spiritualitas yang jauh melampaui apa yang kita kenal hari ini. Ia adalah warisan leluhur yang menantang kita untuk melihat kembali sejarah dengan mata yang lebih terbuka. Apakah kita akan membiarkan misteri ini tenggelam dalam lupa, ataukah kita akan menggali lebih dalam untuk memahami kebijaksanaan nenek moyang kita?
(Lihat juga: ORIGOM, SADA)




