Pernahkah Akang-Teteh merenung mengapa dalam budaya Sunda kita mengenal sapaan Mang, Bibi, atau Uwa? Di balik kesederhanaan sapaan sehari-hari ini, tersimpan silsilah kebahasaan yang merujuk pada peradaban kuno yang disebut Lemurian, atau dalam istilah lokal dikenal sebagai Zhunnda. Sebuah masa di mana setiap suku kata memiliki getaran makna yang mendalam sebelum akhirnya mengalami penyederhanaan oleh lidah zaman.
1. Dari “Aménna” Menjadi “Mang”
Dalam bahasa Sunda buhun (kuno) versi Zhunnda, terdapat istilah asli Aménna. Kata ini sejatinya adalah sapaan sakral untuk adik laki-laki dari ayah atau ibu kita. Namun, sejarah mencatat evolusi unik pada kata ini:
- Evolusi Pelafalan: Dari Aménna, kata ini sempat berubah menjadi Aménnang. Banyak yang menduga ini bermula dari pelafalan cadel anak-anak kecil yang kemudian ditiru oleh orang dewasa secara latah. Karena terdiri dari tiga suku kata yang dianggap kurang praktis dalam percakapan cepat, kata ini menciut menjadi Emang atau Mamang, hingga akhirnya kita hanya mendengar satu suku kata yang sangat akrab di telinga: Mang.
- Akar Kata Kaum Ménak: Menariknya, kata Aménna juga merupakan akar dari istilah Ménak (bangsawan). Konon, dahulu istilah Ménak bermula dari sebuah ejekan atau olok-olok bagi adik-adik raja yang sombong dan merasa berkuasa namun tidak memiliki kemampuan apa-apa. Karena mereka merasa tersinggung jika dipanggil “Mang” (yang dianggap sapaan rakyat biasa), mereka lebih memilih disebut “Ménak” agar tetap terdengar ningrat, meski awalnya itu adalah sindiran halus bagi mereka yang “hanya” adik raja.
2. Misteri “Lanbia” dan “Latiwa”
Tidak hanya paman, sapaan untuk bibi dan kakak orang tua pun memiliki akar kata yang puitis namun teknis dalam bahasa Zhunnda:
- Bibi (Lanbia): Sapaan Bi atau Bibi berasal dari kata Lanbia, sebutan untuk adik perempuan ayah atau ibu. Karena lidah masyarakat lebih menyukai efisiensi, Lanbia yang terdengar asing pelan-pelan terkikis dan menyisakan suku kata terakhirnya saja, yaitu Bi.
- Uwa (Latiwa): Pernahkah Akang-Teteh bertanya mengapa Uwa bisa digunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan? Rahasianya ada pada kata asalnya: Latiwa. Dalam bahasa Lemurian, Latiwa adalah sapaan netral gender untuk kakak dari orang tua kita. Sapaan ini menunjukkan posisi yang lebih tinggi atau dituakan dalam hierarki keluarga. Seiring waktu, Latiwa menyusut menjadi Wa, yang kini lazim kita panggil sebagai Uwa.
3. Pergeseran Nilai: “Mang” vs “Om”, “Bibi” vs “Tante”
Fenomena menarik terjadi di era modern. Ada semacam “inferioritas bahasa” yang hinggap di benak masyarakat kita. Sapaan Mang dan Bibi perlahan-lahan dianggap sebagai panggilan yang “udik”, “kampungan”, atau hanya layak disematkan kepada mereka yang bekerja di sektor domestik atau perdagangan kecil.
Sebaliknya, sapaan Om dan Tante (serapan dari bahasa Belanda/Eropa) dianggap lebih berkelas dan modern. Mari kita jujur pada diri sendiri: saat ini, apakah Akang-Teteh merasa lebih “terhormat” dipanggil Om daripada dipanggil Mang? Padahal, jika kita merunut pada sejarah Zhunnda, sapaan Mang dan Bibi adalah sapaan yang membawa getaran penghormatan kekeluargaan yang sangat tua dan sakral.
Kesimpulan
Bahasa adalah cermin peradaban. Dengan memahami bahwa Mang berasal dari Aménna dan Bibi berasal dari Lanbia, Akang-Teteh diingatkan bahwa sapaan Sunda bukan sekadar label, melainkan warisan energi dari peradaban Zhunnda yang sangat terstruktur.
Lain kali Akang-Teteh menyapa “Mang Asep” atau “Bi Euis”, ingatlah bahwa Akang-Teteh sedang melestarikan serpihan sejarah kuno yang sangat berharga. Jadi, setelah membaca ini, apakah Akang-Teteh masih merasa lebih keren dipanggil “Om” daripada “Aménna”?




