Saat ini, brand-brand global seperti KFC, McDonald’s, dan Starbucks tengah menghadapi tantangan besar di Tiongkok. Merek-merek lokal yang semakin kuat, seperti Tustian, Wallace, dan Koti, telah mengubah peta persaingan. Mereka menggunakan berbagai taktik yang jarang dipertimbangkan oleh pengusaha kita, yang bisa memberikan pelajaran berharga. Mari kita telusuri kisah perlawanan mereka dan strategi yang mereka gunakan.
Asal Mula Brand Global di Tiongkok
Tiongkok membuka pintu bagi investasi asing pada tahun 1979, dan ini mendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat, termasuk masuknya merek-merek fast food internasional. KFC adalah yang pertama membuka gerai pada 1987 di Beijing, diikuti oleh McDonald’s pada tahun 1990 di Shenzhen. Perubahan ini mencerminkan tren globalisasi dan peningkatan pendapatan yang membuat gaya hidup barat menjadi populer di kalangan masyarakat Tiongkok.
Hingga saat ini, KFC telah memiliki 10.000 gerai di Tiongkok, jumlah yang dua kali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah gerai mereka di Amerika. Starbucks dan McDonald’s juga turut berkembang pesat dengan masing-masing memiliki ribuan kedai dan restoran. Merek-merek ini berhasil mendominasi pasar berkat modal besar dan reputasi internasional.
Merek Lokal Bangkit: Menghadapi Dominasi Brand Global
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, merek-merek lokal mulai bangkit dan menantang dominasi brand-brand besar ini. Contohnya, Tustian menawarkan hamburger khas China seperti Peking Duck dan Mapo Tofu, dengan lebih dari 7.000 gerai dalam waktu 6 bulan. Wallace, merek burger lokal lainnya, kini memiliki lebih dari 20.000 gerai di seluruh Tiongkok. Sementara itu, Koti, pesaing Starbucks, berhasil membuka 10.000 gerai dan menargetkan 20.000 pada 2025.
Pesaing-pesaing ini tidak hanya menawarkan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga berhasil menarik perhatian konsumen dengan cita rasa lokal yang lebih autentik. Miche, penjual bubble tea, kini memiliki 36.000 gerai dan sukses merambah pasar internasional, meraup keuntungan bersih sebesar 350 juta USD pada tahun 2023.
Mengapa Brand Lokal China Bisa Berkembang Pesat?
- Strategi Harga Murah
Merek lokal seperti Luckin Coffee menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan Starbucks, dengan harga hanya sepertiga dari harga minuman sejenis di Starbucks. Ini sangat menarik bagi konsumen yang lebih memilih opsi hemat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit. - Lokasi yang Strategis
Banyak merek lokal memulai ekspansi mereka di kota-kota tier 2 dan tier 3, yang lebih kecil dan kurang terjangkau oleh brand-brand internasional. Tastien misalnya, memulai di Nancheng, sebuah kota tier 2, sedangkan Luckin berhasil berkembang pesat berkat ekspansi mereka di kota-kota kecil yang lebih dekat dengan sentimen lokal. - Cita Rasa Lokal yang Menggugah
Merek lokal seperti Tustian menawarkan cita rasa khas China, seperti Peking Duck Burger, yang resonan dengan kebanggaan budaya masyarakat Tiongkok. Merek lainnya, seperti Lakin dan Shabu Shabu Ha Di Lau, memadukan makanan tradisional dengan teknologi canggih, menciptakan pengalaman makan yang modern namun tetap memelihara nilai-nilai budaya. - Nasionalisme yang Menguat
Merek-merek lokal memanfaatkan semangat nasionalisme yang berkembang pesat di Tiongkok. Konsumen semakin bangga dengan produk lokal mereka, sebuah fenomena yang juga didorong oleh kebijakan pemerintah yang mendukung kebanggaan terhadap produk buatan dalam negeri.
Pelajaran untuk Brand Lokal Indonesia
Kebangkitan brand-brand lokal Tiongkok memberikan banyak pelajaran bagi pengusaha dan brand makanan lokal Indonesia. Baik Tiongkok maupun Indonesia memiliki pasar dengan populasi besar, kelas menengah yang berkembang pesat, dan tingkat urbanisasi yang tinggi. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi besar untuk menciptakan brand makanan lokal yang kompetitif.
Beberapa contoh brand Indonesia yang sudah sukses di pasar global adalah Indomie, yang kini telah diekspor ke lebih dari 80 negara, dan J.CO Donuts & Coffee yang telah membuka gerai di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Kopi Kenangan juga telah berkembang pesat, sementara Wardah menjadi pemimpin pasar kosmetik halal di Indonesia dan mulai memperluas pasar internasional.
Peluang Brand Makanan Lokal Indonesia
Dengan kekayaan kuliner Nusantara yang sangat beragam — mulai dari rendang, sate, hingga gado-gado — Indonesia memiliki dasar yang kuat untuk menciptakan brand makanan lokal yang mampu bersaing di pasar global. Menggabungkan cita rasa lokal dengan tren modern dan menggunakan strategi pemasaran digital yang tepat dapat membuka peluang besar.
Momentum kebangkitan brand lokal Indonesia sangat kuat, didorong oleh peningkatan kebanggaan nasionalisme dan apresiasi terhadap produk dalam negeri. Ini adalah saat yang tepat bagi brand makanan lokal Indonesia untuk memanfaatkan peluang yang ada dan memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara ke pasar internasional.
Kesimpulan
Dengan belajar dari kisah sukses merek lokal di Tiongkok, brand makanan lokal Indonesia bisa berkembang pesat dengan memanfaatkan keunggulan kuliner lokal, harga yang kompetitif, serta strategi pemasaran yang efektif. Indonesia memiliki peluang emas untuk menunjukkan kekayaan budaya dan citarasa lokal melalui brand makanan yang mengedepankan keunikan dan kualitas, sekaligus menggaet konsumen yang semakin bangga dengan produk lokal.
Jika dikelola dengan baik, saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengembangkan brand lokal Indonesia dan meraih sukses di pasar global.




