5 Alasan Produk MLM Dijual Murah di Shopee/Tokopedia (Padahal Dilarang Perusahaan)

5 Alasan Produk MLM Dijual Murah di Shopee/Tokopedia (Padahal Dilarang Perusahaan)

Harga Miring di Marketplace Itu Bukan Diskon, Tapi Tangisan Member!

Pernah nggak Akang-Teteh lagi scrolling Shopee atau Tokopedia, terus nemu produk MLM yang harganya miring banget? Bahkan separuh dari harga yang ditawarkan member kepada Anda. Padahal kalau tanya ke member-nya langsung, mereka bilang: “Produk kami nggak dijual bebas di marketplace, itu melanggar aturan!”

Apakah Akang-Teteh pernah merasa dibohongi? Tapi nyatanya, stoknya ribuan dan yang beli antre. Kok bisa? Ternyata, ada sisi gelap dan fenomena “buang badan” yang dilakukan para pelakunya. Yuk, kita bedah kenapa aturan “larangan marketplace” itu cuma jadi macan kertas.

1. Jago Rekrut, Tapi “Melempem” Jualan

Ini penyakit umum di dunia MLM. Banyak member yang masuk karena tergiur passive income dari sistem jaringan.

  • Fokus di Jaringan: Mereka sangat jago memotivasi orang, jago presentasi, dan pintar merekrut orang baru. Tapi giliran disuruh jualan produk secara eceran? Mereka bingung.
  • Akibatnya: Karena syarat bonus atau naik level harus ada omzet (produk yang keluar), mereka akhirnya beli sendiri produknya biar poin aman, tapi barangnya nggak tahu mau dijual ke siapa. Marketplace-lah jalan pintasnya.

2. Fenomena “Kutu Loncat” (Pindah Perusahaan)

Dunia MLM itu dinamis banget. Hari ini di perusahaan A, bulan depan ada perusahaan B yang sistemnya lebih “gurih”.

  • Ganti Bendera: Saat seorang leader atau member pindah ke perusahaan lain, mereka otomatis berhenti jualan produk lama.
  • Obral Cuci Gudang: Daripada produk lama memenuhi gudang rumah atau kedaluwarsa jadi sampah, mereka “cuci gudang” di marketplace. Prinsipnya: “Banting harga nggak apa-apa, yang penting jadi duit buat modal di tempat baru.”


3. Jebakan “Stok Gajah” yang Membuat Member Terjerat Utang

Banyak sistem MLM yang secara halus “memaksa” membernya stok barang dalam jumlah besar demi mengejar peringkat (seperti Diamond, Platinum, master, grand master, dll.).

  • Rumah Jadi Gudang: Akhirnya, ruang tamu penuh kardus. Seringkali, produk ini dibeli menggunakan dana pinjaman bank, kartu kredit, atau hasil gadai. Saat cicilan atau kebutuhan mendesak datang, barang-barang ini harus segera cair jadi uang tunai.
  • Jalur Ilegal Pun Ditempuh: Meskipun mereka tahu menjual di marketplace itu ilegal menurut aturan perusahaan, mereka sudah nggak peduli. Rasa butuh uang (likuiditas) jauh lebih besar daripada rasa takut kena suspend dari perusahaan yang mungkin sudah nggak mereka urusi lagi.
Baca Juga  Mengapa pH 7 Saja Tidak Cukup? Membedah Rahasia "Clean Water" yang Sering Dianggap Biasa

4. Marketplace: “Pasar Gelap” yang Paling Terang

Kenapa pilih marketplace? Karena anonimitasnya.

  • Di sana, mereka nggak perlu pasang muka. Bisa pakai nama toko “Toko Berkah Sejahtera” atau “Gudang Murah”, tanpa orang tahu kalau pemiliknya adalah top leader di sebuah MLM.
  • Mereka bisa menjual dengan harga modal (atau di bawahnya) secara diam-diam tanpa ketahuan oleh manajemen perusahaan atau jaringan di bawahnya.

5. Reaksi Perusahaan: Pura-Pura Buta atau Memang Tak Berdaya?

Perusahaan MLM sebenarnya tahu fenomena ini. Namun, menindaklanjuti secara keras seringkali sulit dilakukan.

  • Omzet Sudah Aman: Produk yang diobral sudah dibeli oleh member, artinya sudah tercatat sebagai omzet dan profit bagi perusahaan. Secara bisnis, perusahaan sudah untung.
  • Takut Jaringan Kolaps: Jika perusahaan terlalu keras menindak, hal ini bisa menyebabkan rusaknya moral leader dan member yang pada akhirnya membuat jaringan kolaps dan nama perusahaan jadi buruk. Mereka lebih memilih menganggapnya sebagai “oknum” dan mengeluarkan pernyataan “melarang” penjualan di marketplace, padahal secara praktik, mereka membiarkannya terjadi. Ini adalah bentuk lip service industri.

Penutup

Jadi, kalau Akang-Teteh melihat harga produk MLM di marketplace jauh lebih murah dari harga katalog, sekarang Akang-Teteh tahu alasannya. Itu bukan sekadar persaingan dagang, tapi seringkali itu adalah “jeritan hati” para member yang terjebak stok, nggak jago jualan, atau sekadar ingin cepat-cepat move on ke bisnis lain.

Bisnis MLM memang soal jaringan, tapi kalau produknya cuma muter di gudang member dan berakhir “dibuang” ke marketplace, yang sehat itu bisnisnya atau cuma ambisinya?

Setelah membaca ini, Akang-Teteh mau pilih yang mana: Membeli mahal dari member yang berjuang, atau memanfaatkan ‘buangan’ member yang sedang terpuruk dengan harga murah di marketplace? Tulis pendapat Akang-Teteh di kolom komentar!

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x