Percaya atau tidak, Intelijen Amerika, seperti CIA, memiliki tim orang-orang spesial yang dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai orang-orang Indigo. Mereka adalah individu yang mampu melakukan astral projection ke tempat yang sangat jauh tanpa harus hadir secara fisik. Di sini, saya akan menyebut astral projection ini dengan istilah remote viewing, karena itulah sebutan yang digunakan di Amerika.
Dari semua orang Amerika yang mampu melakukan remote viewing, ada satu individu yang sangat menonjol dengan akurasi yang cukup tinggi, yaitu Ingo Swann. Orang ini telah bekerja sama dengan banyak institusi terkenal di Amerika dan bahkan terlibat dalam beberapa proyek CIA. Kebanyakan misi ini adalah misi rahasia untuk keamanan negara, dan salah satu misi yang paling menarik perhatian adalah misi Ingo Swann untuk pergi ke bulan, lebih tepatnya ke bagian belakang bulan. Di sana, Ingo Swann melihat sebuah bangunan dan banyak aktivitas di dalamnya, namun dia menegaskan bahwa orang-orang di dalam bangunan tersebut bukanlah manusia.
Tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai ceritanya. CIA sebenarnya sudah lama bereksperimen dengan beberapa orang yang mereka kategorikan sebagai psychic atau orang yang memiliki kemampuan supranatural, atau dalam bahasa Inggrisnya, ESP. Salah satu eksperimen mereka adalah mencoba untuk melihat isi dari sebuah kotak yang disegel dengan metode remote viewing. Eksperimen ini dilakukan pada awal 1970-an di sebuah institusi bernama American Society of Psychical Research.
Ingo Swann diminta untuk duduk dan melihat isi kotak yang disegel itu. Setelah mencoba remote viewing, Ingo Swann mengatakan bahwa dia tidak bisa melihat apa-apa di dalam kotak tersebut; dia hanya melihat kegelapan dan kehampaan. Mendengar hal ini, para ilmuwan kecewa dan menganggap eksperimennya gagal. Namun, Swann menjelaskan bahwa dia melihat kegelapan karena lampu di dalam kotak itu mati.
Sejak saat itu, nama Ingo Swann mulai menyebar ke banyak tempat, khususnya ke telinga institusi lain dan juga Intel Amerika, yaitu CIA. Setelah eksperimen itu, Ingo Swann dipanggil ke Stanford Research Center dan mulai mencoba eksperimen remote viewing-nya di sana bersama para ilmuwan. Di sini, para ilmuwan ingin mencari tahu seberapa jauh Swann bisa melakukan remote viewing. Salah satu eksperimen paling jauh yang pernah mereka lakukan adalah remote viewing ke Planet Jupiter.
Ketika dia mendengar untuk disuruh pergi ke tempat yang sangat jauh seperti Planet Jupiter, dia menolak karena tidak mau remote viewing ke tempat yang tidak bisa dia validasi. Dia merasa tertekan karena jika apa yang dilihatnya aneh, reputasinya sebagai remote viewer yang mulai naik bisa hancur hanya gara-gara satu kali remote viewing. Namun, para ilmuwan menjelaskan bahwa NASA sedang mengirimkan sebuah probe ke luar angkasa untuk memotret banyak planet dan objek antariksa, dan probe itu sedang menuju ke Jupiter.
Setelah beberapa diskusi, akhirnya dia setuju. Ingat, di tahun 1970-an, kita hanya bisa melihat Jupiter dari teropong di bumi; belum ada satupun objek antariksa buatan manusia yang bisa memotret Jupiter dalam jarak dekat, kecuali probe buatan NASA yang sedang dalam perjalanan ke sana. Ketika Ingo Swann mencoba remote viewing, dia mengatakan bahwa dia bisa melihat beberapa spiral badai di permukaan Jupiter. Dia juga menyebutkan beberapa warna yang dia lihat di sana, serta beberapa kristal di atmosfer Jupiter.
Beberapa orang yang mendengar ini berpendapat bahwa omongan Swann bukan karena remote viewing, tetapi karena kita memang bisa melihat semua ini dengan teropong di bumi, walaupun kita butuh teropong yang lebih canggih. Namun, ada satu hal yang membuat semua orang bingung: Swann bilang bahwa dia melihat ada cincin tipis di Jupiter, cincin yang mirip dengan yang ada di Saturnus, tetapi jauh lebih tipis dan kecil. Cincin ini berisikan asteroid-asteroid kecil dan debu-debu antariksa yang mengelilingi Jupiter.
Ketika probe NASA akhirnya mengirimkan foto Jupiter kembali ke bumi pada tahun 1973 dan 1974, sayangnya cincin ini tidak terlihat sama sekali di foto. Namun, lima tahun kemudian, pada tahun 1979, ada probe lain bernama Voyager yang terbang melewati Jupiter dan mengambil beberapa foto. Di foto ini, Jupiter memiliki cincin. Mungkin beberapa dari kalian bahkan tidak tahu bahwa Jupiter memiliki cincin, karena cincin ini paling terkenal ada di Saturnus.
Kembali lagi ke akurasi Ingo Swann, banyak orang yang tertarik dan memperhatikan. Sekitar tahun 1975, Ingo Swann akhirnya ditelepon tengah malam oleh orang yang tidak dikenal sekitar jam 3 pagi. Mereka mengaku bahwa mereka adalah Intel Amerika. Dalam telepon ini, dia diminta untuk datang ke salah satu museum di kotanya di pagi hari. Ketika dia sampai di sana, benar ada dua orang kembar berpakaian rapi yang datang menemuinya.
Lucunya, mereka tidak berkomunikasi langsung dengan berbicara, tetapi dengan kartu yang sudah ditulis. Isi tulisan di kartu itu seperti misalnya “Ikuti kami. Jangan berbicara. Kita harus cek pakaianmu dan memastikan kamu tidak disadap.” Setelah dua orang kembar ini yakin bahwa Ingo Swann aman untuk diajak berbicara, mereka pun keluar dan berbicara di luar museum. Mereka bertanya kepada Ingo Swann apakah dia mau dibawa untuk bekerja dalam sebuah misi rahasia, dan apakah dia mau melakukannya. Lokasinya rahasia, dan bahkan dia sendiri tidak boleh tahu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ingo Swann setuju. Dia dibawa masuk ke dalam sebuah mobil, dan kepalanya ditutup dengan kantong hitam. Dia dibawa pergi ke tempat yang sama sekali tidak dia tahu, dan dia benar-benar menaruh 100% kepercayaannya kepada orang yang baru saja dia kenal. Sebenarnya, saya tidak merekomendasikan hal ini. Jika ada orang misterius datang kepada kalian dan bilang kalian akan dibawa ke satu tempat rahasia, sebaiknya kabur saja.
Namun, di sini ceritanya Ingo Swann percaya dan tetap ikut. Dia dibawa ke sebuah kantor yang lokasinya tidak dia tahu, dan di kantor ini dia bertemu dengan seorang bernama Mr. Axelrod. Di sini, dia ditawarkan untuk bekerja sebagai seorang remote viewer untuk misi-misi rahasia CIA. Dia tidak boleh bercerita tentang apapun yang terjadi kepada dia selama 10 tahun ke depan. Selama beberapa hari ke depan, dia hanya boleh berada di fasilitas yang disediakan, tidak boleh keluar, dan tidak boleh berkomunikasi dengan orang luar.
Dia ditawarkan gaji sekitar $1.000 per hari. Jika kita rupiahkan sekarang dengan inflasi, kira-kira itu sekitar Rp100 juta per hari. Namun, ada satu syarat yang diberikan oleh Mr. Axelrod: dia tidak boleh bertanya apapun ketika pekerjaan ini dikerjakan. Tentu saja, ketika ditawari hal seperti ini, Ingo Swann skeptis dan takut untuk mengambil tawaran ini. Namun, entah kenapa, karena penasaran atau karena karisma dari Mr. Axelrod, akhirnya dia mengambil tawaran itu dan pekerjaan langsung dimulai keesokan paginya.
Ini menjadi misi Ingo Swann yang paling kontroversial sepanjang hidupnya. Remote viewing dimulai, dan Mr. Axelrod membawanya ke fasilitas tempat dia tinggal. Di sini, dia mendapatkan tempat yang cukup mewah, dengan kamar tidur, kamar mandi, bahkan gym dan kolam renang agar Ingo Swann merasa nyaman. Setelah bersiap-siap, mereka bertemu di satu ruangan dan langsung memulai remote viewing pertamanya.
Di sini, Axelrod memintanya untuk pergi ke bulan. Saat itu juga, dia diberikan beberapa titik koordinat di atas permukaan bulan. Awalnya, karena kebiasaan Ingo Swann menolak untuk pergi ke tempat yang tidak bisa divalidasi, dia skeptis. Namun, dia ingat bahwa dia tidak boleh bertanya. Kali ini, dia pergi ke bulan dan mengikuti beberapa titik koordinat yang diberikan oleh Axelrod.
Kebanyakan tempat yang diminta Axelrod sebenarnya tidak ada yang spesial atau signifikan. Dia hanya bisa melihat beberapa padang pasir putih dan beberapa kawah, serta permukaan-permukaan yang tidak rata. Namun, semakin banyak tempat yang dia kunjungi, mulai ada visi aneh yang dia lihat di beberapa lokasi tertentu. Ingo Swann mulai melihat ada jejak alat berat di permukaan bulan yang terlihat terlalu rapi dan lurus, seolah-olah itu adalah jejak mobil atau alat berat.
Dia juga melihat beberapa tempat yang tergerus angin cukup lama, padahal di bulan seharusnya tidak ada atmosfer sama sekali. Namun, dia merasakan ada sedikit atmosfer di bulan, seperti ada angin. Dia masuk ke salah satu titik koordinat kawah yang ditunjuk oleh Axelrod, dan di sini dia mulai kebingungan. Ketika remote viewing, dia melihat kabut hijau mengelilingi kawah itu. Kabut itu seolah-olah berasal dari tempat yang tidak bisa dia jelaskan, dan terlihat kabut ini memancarkan cahaya.
Di area kawah itu, dia melihat tempat yang bentuknya seperti bandara. Tempatnya besar, dengan banyak bangunan tinggi, tower, jejak-jejak alat berat, bahkan ada jembatan dan beberapa mesin. Terlihat sekali bahwa tempat ini bukan alami dan pernah ada aktivitas ramai di sana. Ada juga lubang-lubang di tanah dengan bentuk bulat sempurna, seolah-olah ini digali menggunakan mesin berat.
Di beberapa gedung, terlihat ada cahaya yang keluar dari beberapa lubang, seperti jendela. Ingo Swann akhirnya mendekati satu struktur bangunan kompleks yang bentuknya seperti beberapa kubah. Di kubah itu ada jendelanya. Ketika dia mengintip ke dalam kubah itu, dia melihat kabut hijau yang sama, yang memancarkan warna hijau di sekitar bangunan itu.
Ketika dia semakin dekat dan berada di depan jendela, dia melihat banyak sekali makhluk humanoid yang sangat mirip manusia. Dia mendeskripsikan bahwa di dalam ruangan itu terlihat banyak aktivitas yang sangat sibuk. Mereka terlihat sedang bekerja dan sangat sibuk, berkeliling sana-sini. Namun, tidak berapa lama, ketika dia sedang melihat aktivitas alien-alien ini, tiba-tiba satu, dua, tiga alien berhenti dan diam.
Efek ini berantai, hingga semua alien di dalam ruangan itu tiba-tiba mematung, perlahan-lahan melihat ke arah jendela dan menatap mata Ingo Swann. Kesadaran Ingo Swann yang masih berada di satu ruangan dengan Axelrod mulai panik, dan dia berkata, “Mereka bisa melihatku!”
Ketika Mr. Axelrod mendengar ini, dia langsung berkata dengan tegas, “Tinggalkan tempat itu sekarang juga! Balik sekarang!” Ingo Swann pun berkata lagi, “Sekarang orang-orang itu sedang menunjuk ke arahku!” Di sini, Axelrod semakin tegas berkata, “Segera balik sekarang juga dan tinggalkan tempat itu!”
Ingo Swann akhirnya mengembalikan kesadarannya ke kantor bersama Axelrod. Kalimat pertama yang dilontarkan oleh Ingo Swann adalah, “Kamu tahu dari awal kan kalau mereka ini psychic? Mereka ini ESP.” Tanpa menjawab pertanyaannya, Axelrod berkata, “Eksperimennya selesai. Kamu boleh pulang.”
Singkat cerita, setelah beberapa bulan, Ingo Swann bertemu kembali dengan asisten Axelrod, yaitu dua kembar itu. Mereka kali ini bertemu di satu stasiun publik. Di sini, Ingo Swann bertelepon dengan Axelrod menggunakan telepon umum, dan mereka berbicara mengenai persentase akurasi remote viewing Ingo Swann.
Ingo Swann bilang bahwa sekarang akurasinya sudah mencapai 65%. Setelah itu, Axelrod juga bilang bahwa benar, akurasimu sudah sampai 65%. “Tulis di atas kertas dan tinggalkan kertas itu di atas meja kerjamu. Kita akan berjumpa kembali setelah beberapa waktu.”
Ingo Swann berhasil melakukan beberapa eksperimen remote viewing kembali dan akhirnya mencapai akurasi 65% dalam remote viewing-nya. Di sini, dia agak ragu-ragu untuk menuliskan kertas dan meletakkannya di atas meja, tetapi setelah berpikir panjang, dia mengambil kertas dan menuliskan, “Akurasi remote viewingku sudah sampai 65%.” Kertas itu dia letakkan di atas meja dan dia tinggalkan satu malam.
Walaupun kantornya tertutup dan terkunci, entah bagaimana caranya, ketika Ingo Swann datang keesokan paginya, kertas itu sudah hilang. Yang ditemukan hanya semacam bubuk tipis yang disebar merata di atas mejanya, dan ada tulisan yang dituliskan di atas bubuk itu: “Expect contact” atau “Ekspektasikan kita akan bertemu.”
Beberapa hari kemudian, ketika dia sedang bekerja di sebuah universitas, tiba-tiba Axelrod ada di sana. Dia sedang duduk dan menunggu Ingo Swann. Mereka berjabat tangan dan mulai berbicara. Axelrod bertanya kepada Ingo Swann apakah dia bisa pergi selama 3 sampai 4 hari meninggalkan pekerjaannya. Ingo Swann bilang, “Oke, itu bisa kita atur.”
Axelrod melihat Ingo Swann dengan tatapan ragu dan menanyakan sebuah pertanyaan, “Kamu pernah lihat UFO enggak?” Beberapa hari kemudian, mereka terbang dengan private jet ke utara, yang diduga oleh Ingo Swann adalah Alaska. Dia tidak tahu sama sekali mereka akan pergi ke mana.
Mereka tiba di tengah malam, di situ gelap dan sepi. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil, dan di dalam mobil itu tentu ada dua kembar yang aneh itu. Ketika mereka sudah masuk mobil, dia diberikan pakaian antiermal untuk digunakan. Mereka semua mengganti baju menjadi baju termal, dan di sini dia diminta untuk mengeluarkan apapun yang ada di pakaiannya yang berbahan logam.
Mereka pergi menggunakan mobil cukup lama ke arah yang Ingo Swann sendiri tidak tahu. Akhirnya, mereka berhenti di sebuah tempat random dan mereka turun. Selama perjalanan, mereka tidak boleh berisik, tidak boleh berbicara, atau mengeluarkan suara. Dalam gelapnya hutan, Ingo Swann tidak bisa melihat apa-apa karena benar-benar gelap gulita, tidak ada cahaya senter sama sekali.
Namun, kedua kembar tadi menggunakan semacam alat di mata mereka yang diasumsikan adalah night vision. Selama perjalanan, Ingo Swann benar-benar buta dan hanya dituntun oleh Axelrod dan dua orang kembar itu. Setelah cukup lama berjalan pelan tanpa mengeluarkan suara, akhirnya mereka sampai di pinggir danau.
Di sini, Axelrod bilang untuk jangan bergerak. Mereka hanya perlu diam dan mengamati sekitar tanpa suara. Mereka bisa mendeteksi suhu panas, suara, dan gerakan dengan sangat tajam. Mendengar kalimat itu, Ingo Swann bertanya, “Maksudnya mereka apa?” Axelrod hanya bilang, “Jangan berisik.”
Mereka diam cukup lama hingga akhirnya dua orang kembar itu mulai menggerakkan tangannya untuk aba-aba. Axelrod bilang, “Oke, mereka sudah datang.” Tidak berapa lama kemudian, muncul kabut tebal di atas permukaan danau, dan kabut itu mengeluarkan cahaya berwarna biru.
Tidak lama kemudian, cahaya biru itu berubah menjadi warna ungu. Kemudian, ada UFO berbentuk segitiga dengan lebar sekitar 30 meter yang turun perlahan ke atas permukaan danau. UFO itu mengeluarkan suara berirama, dan benda ini mengeluarkan cahaya hijau. Dia berputar seolah-olah sedang meng-scan area danau itu dengan menggunakan cahaya hijau.
Ketika cahaya hijau ini mulai mengelilingi danau, dua kembar itu mulai berbicara dengan nada terburu-buru, “Kita harus segera pergi!” Mereka pun pergi, dan tidak berapa lama setelah mereka pergi dari tempat itu, terdengar suara petir yang sangat kuat menghantam tempat itu. Suaranya begitu kuat hingga Ingo Swann tidak bisa bergerak karena ketakutan. Dia sampai harus digeret untuk keluar dari daerah itu.
Selama beberapa saat, ketika mereka pergi dari tempat itu, Ingo Swann sempat melihat ke belakang dan melihat air danau disedot ke dalam pesawat itu. Dia mendeskripsikannya seperti air terjun, tetapi terbalik. Airnya disedot secara gravitasi ke atas. Mereka berhasil selamat ke dalam mobil dan kembali ke bandara.
Selama perjalanan, semuanya diam, tidak ada yang ngobrol. Ingo Swann hanya terdiam melihat keluar jendela sambil berpikir tentang apa yang baru saja dia lihat. Begitu sampai di bandara, Ingo Swann mulai menyimpulkan apa yang dia alami kepada Axelrod. “Kayaknya aku tahu apa yang terjadi barusan. Itu adalah pesawat tanpa penumpang, misi rutin untuk mengambil air dari bumi. Mereka sedang menambang bulan dan butuh bahan-bahan seperti air dari bumi.”
Mendengar ini, Axelrod hanya tersenyum dan tidak merespon. Dia tidak setuju, tetapi juga tidak menolak kalimat Ingo Swann. Akhirnya, mereka berjabat tangan dan berpisah. Kali ini, Ingo Swann terbang pulang sendirian, dan semenjak saat itu, mereka tidak pernah bertemu kembali.
Cerita Ingo Swann ini cukup populer di Amerika, karena walaupun terdengar seperti fiksi atau bualan, nyatanya semua eksperimen yang dia lakukan benar-benar ada. Banyak jurnal dan laporan resmi yang keluar, seperti dari Stanford dan bahkan laporan CIA yang bisa dibaca publik. Ingo Swann terlibat dalam beberapa misi CIA, dan namanya muncul di beberapa dokumen, bukan sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali.
Ingo Swann akhirnya menuliskan sebuah buku berjudul “Penetration,” dan semua yang kalian dengar di sini adalah salah satu bagian dari dalam buku itu. Kalian bisa coba baca bukunya dan membelinya secara online. Ingo Swann bukan orang yang nyentrik atau memiliki rekam medis kelainan jiwa. Dia adalah orang normal, berpendidikan, dan banyak orang yang mengenalnya percaya 100% dengan apa yang dia bilang, walaupun banyak visinya yang terdengar tidak masuk akal.
Ingo Swann terlihat sangat meyakinkan setiap kali dia menceritakan semua itu. Dia juga eksplisit bilang ke publik bahwa tidak semua hasil remote viewing-nya akurat; pasti ada yang salah. Namun, sekalinya benar, ini membuat para ilmuwan dan orang biasa seperti kita menjadi skeptis.
Kita sekarang masuk ke ranah pseudo-science, tetapi science yang bisa dibuktikan. Jujur saja, saya pribadi percaya bahwa Ingo Swann tidak berbohong. Dia benar-benar melihat apa yang dia lihat dalam visinya. Namun, kita tidak akan pernah tahu apakah yang dia lihat itu asli atau tidak, terutama saat visinya tidak bisa kita konfirmasi, seperti apa yang terjadi di bulan.
Yang pasti, peringatan tentang apa yang terjadi di atas bulan menjadi yang paling terkenal. Dia bilang mereka sedang menambang bulan kita dan mereka bukan makhluk yang bersahabat. Ingo Swann akhirnya meninggal di usia 70-an pada tahun 2013, dan kita tidak akan pernah tahu kelanjutan cerita ini sampai akhirnya mereka di bulan menampakkan diri secara terang-terangan kepada kita.




