Legenda ARKHYTIREMA Dalam Novel Kang Dicky Zainal Arifin

Legenda ARKHYTIREMA Dalam Novel Kang Dicky Zainal Arifin

Dalam beberapa kesempatan, Kang Dicky Zainal Arifin, penulis novel ini, mengatakan bahwa Novel ini akan diterbitkan dalam sebuah Trilogi. Namun sampai saat konten ini pertama saya tulis, baru terbit hingga jilid 2B. Saat itu Kang Dicky Zainal Arifin masih sibuk dengan berbagai inovator teknologi energi alternatif.

Setelah membaca seluruh jilid novel yang telah terbit hingga tuntas, saya merasa Kang Dicky sebagai penulis menyampaikan ceritanya apa adanya, tanpa tambahan dramatisasi berlebihan. Bagi sebagian pencinta kisah penuh ledakan emosi dan intrik yang langsung terasa, alur dalam Novel Akhytirema mungkin tampak biasa saja. Awalnya saya pun merasakan hal yang sama.

Namun keunikannya justru di situ. Setiap kali dibaca ulang, selalu ada detail-detail baru yang sebelumnya luput dari perhatian. Seolah-olah cerita ini menyimpan lapisan makna yang baru terbuka ketika pembacanya sudah siap menangkapnya.

Penulis sendiri pernah memberi sedikit bocoran bahwa kisah-kisah yang lebih seru dan sarat intrik akan banyak terungkap di Jilid 3. Di sana, konon akan disajikan berbagai dongeng sejarah masa lalu bumi yang belum banyak diketahui publik. Hal ini membuat saya sangat penasaran, sebab pelajaran sejarah yang kita peroleh di bangku sekolah terasa belum mampu menjawab banyak misteri masa lampau. Bahkan rentang sejarah antara tahun 0 Masehi hingga abad ke-10 pun masih menyisakan banyak tanda tanya.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi jauh sebelum penanggalan Masehi dimulai pun pada dasarnya hanya direkonstruksi dari artefak dan prasasti yang tersebar di berbagai belahan dunia. Kebenarannya pun bersifat relatif, sangat bergantung pada penafsiran para ahli. Belum lagi kemungkinan subjektivitas yang dipengaruhi kepentingan politik maupun pribadi.

Bagi saya pribadi, bagian paling menarik dari novel ini justru terletak pada glosariumnya. Glosarium tersebut terasa seperti kepingan-kepingan puzzle yang menyusun latar dongeng dengan latar sejarah panjang peradaban manusia. Saya menemukan banyak istilah baru yang tidak pernah saya jumpai dalam buku-buku sejarah formal, meskipun memang belum semuanya diakui secara akademis.

Menariknya, beberapa informasi dalam novel ini terasa sejalan dengan berbagai pembahasan dalam tayangan Ancient Aliens di History Channel—sama-sama menghadirkan misteri, terdengar fantastis, namun tetap memiliki benang logika yang membuatnya terasa masuk akal. Bagi para penulis fiksi ilmiah, glosarium ini tentu bisa menjadi ladang inspirasi yang sangat kaya untuk merangkai kisah-kisah baru yang penuh daya imajinasi.

Nama ARKHYTIREMA sendiri, sebelum novel ini terbit, tentu masih asing di telinga masyarakat luas. Namun tokoh yang diasosiasikan dengannya tidaklah asing. Masyarakat Indonesia mengenal figur Aki Tirem dalam berbagai versi legenda. Di Jawa Barat, ia dikenal sebagai Aki Tirem atau Eyang Wali Jangkung, yang disebut sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Di Jawa dan Bali, sosok serupa dikenal dengan nama Angling Dharma.

Menurut novel ini, Arkhytirema adalah nama asli dari tokoh yang dalam tradisi lisan dikenal sebagai Aki Tirem atau Angling Darma tersebut.

***

Dalam novel ini, ARKHYTIREMA digambarkan sebagai sosok dengan kemampuan luar biasa—jauh melampaui representasi Angling Dharma dalam tayangan televisi. Jika dalam versi populer ia hanya dikenal mampu “menunggang angin” dan menjelajahi dunia, maka di novel ini kemampuannya melampaui batas-batas bumi itu sendiri.

Kisahnya bahkan berkembang menjadi petualangan antar-galaksi, dari satu BARQHA ke BARQHA lainnya. Konsep ini mengingatkan pada film seri Stargate yang dibintangi Richard Dean Anderson, di mana perjalanan lintas ruang dilakukan melalui gerbang antar-dimensi.

Prinsip BARQHA dalam novel ini memang memiliki kemiripan dengan konsep STARGATE dalam film tersebut—sebuah sistem penghubung yang memungkinkan perpindahan instan dari satu titik kosmos ke titik lainnya. Bedanya, dalam novel ini, konsep tersebut dibalut dengan narasi mitologis dan sejarah alternatif yang memberi warna tersendiri pada petualangannya.

***

Dalam novel ini dijelaskan bahwa kemampuan luar biasa yang dimiliki Arkhytirema sejatinya adalah kemampuan standar manusia DHAMMA—manusia sempurna dengan penguasaan energi mencapai 100 persen. Bahkan, kemampuan Arkhytirema sendiri masih digambarkan berada di bawah potensi sejati seorang Adhama. Sebuah konsep yang terasa radikal, dan mungkin inilah sisi yang tak pernah diungkap dalam kisah-kisah Aki Tirem maupun legenda Salakanagara yang selama ini beredar di masyarakat.

Selama ini kita kerap membaca atau mendengar berbagai teori tentang misteri Atlantis yang hilang—baik dari buku, artikel internet, maupun tayangan dokumenter. Menariknya, novel Arkhytirema ikut menawarkan kepingan puzzle untuk menjawab misteri tersebut. Tentu saja, ini adalah versi yang tetap perlu ditelusuri dan diuji kebenarannya. Ia belum tentu sejalan dengan konsensus para sejarawan akademik.

Namun di sisi lain, bukankah penafsiran sejarah—bahkan di kalangan akademik—juga tidak sepenuhnya eksak? Sejarah sering kali merupakan hasil rekonstruksi berdasarkan data yang terbatas, interpretasi, dan sudut pandang tertentu. Maka ruang untuk kemungkinan selalu terbuka.

Dalam novel ini, Atlantis digambarkan sebagai bangsa yang hidup sezaman dengan bangsa Lemurian dan beberapa peradaban besar lainnya. Mereka disebut sebagai leluhur dari berbagai bangsa yang kini menghuni bumi. Sebuah narasi yang menawarkan perspektif baru tentang peradaban Atlantis—berbeda dari gambaran yang selama ini kita temui dalam film-film fiksi ilmiah maupun teori populer.

Novel ini tidak sekadar mengulang mitos lama, tetapi menyusunnya kembali dalam versi yang lebih luas dan berani, seolah mengajak pembaca melihat sejarah dunia dari sudut yang sama sekali berbeda.



Kisah dalam novel ini jelas berbeda dengan narasi yang terdapat dalam Cerita Rakyat Wangsakerta. Sebagai catatan, Wangsakerta merujuk pada kumpulan naskah yang diklaim disusun oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon pada abad ke-17. Naskah tersebut berisi rangkaian sejarah Nusantara, mulai dari peradaban purba hingga masa kerajaan-kerajaan Islam, dengan campuran unsur mitos dan legenda.

Namun, keberadaan dan keaslian Naskah Wangsakerta sendiri masih menjadi perdebatan. Banyak akademisi Indonesia meragukan validitasnya, karena isinya dinilai selaras dengan pandangan arkeolog dan sejarawan Belanda abad ke-20. Selain itu, naskah tersebut diduga baru ditulis pada abad ke-20, bukan abad ke-17, antara lain karena penggunaan aksara Jawa yang terkesan dibuat-buat agar tampak kuno, serta ketiadaan informasi yang seharusnya muncul jika benar-benar berasal dari masa lebih awal. Saat ini, Naskah Wangsakerta tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.

Dalam versi Wangsakerta, silsilah Aki Tirem dituturkan secara panjang dan genealogis, menghubungkannya dengan tokoh-tokoh dari Swarnabhumi (Sumatra), Langkasuka di Tanah Melayu, hingga Yawana di India Barat. Narasi tersebut membangun Aki Tirem sebagai bagian dari jejaring migrasi dan percampuran budaya yang luas di kawasan Asia Selatan dan Nusantara.

Berbeda dengan itu, dalam trilogi karya Dicky Zainal Arifin, ARKHYTIREMA digambarkan sebagai anak dari AMNARUTA dan BRINIRHA. Namanya diberikan oleh RHAMIDAAR, pemimpin bangsa Lemurian. Nama ARKHYTIREMA memiliki makna simbolik: ARK (bahtera), KHY (energi), TI (dari), RHEM (berhentinya dua belas planet dalam satu garis), dan A (anak, sebutan dalam bangsa Khaina).

Kekuatan super Arkhytirema dijelaskan sebagai hasil mutasi genetik akibat fluktuasi energi dalam proses RHEM—sebuah peristiwa kosmis yang terjadi tiga jam lebih cepat dari prediksi bangsa Lemurian. Percepatan itu dipicu oleh tindakan bangsa TARX yang mengambil hidrogen matahari untuk proses kloning matahari di planet KRAIRON. Di sinilah novel ini masuk sepenuhnya ke wilayah fiksi ilmiah kosmik yang kompleks.

Trilogi Arkhytirema memang melampaui kisah Angling Dharma yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat. Jika legenda Angling Dharma beredar dari generasi ke generasi dalam bingkai mitologis Nusantara, maka Arkhytirema hadir sebagai petualangan lintas jagat raya—menjelajah miliaran galaksi dari satu BARQHA ke BARQHA lainnya.

Bagi yang pernah menonton serial Stargate yang dibintangi Richard Dean Anderson, mungkin akan menemukan kemiripan dalam konsep perpindahan ruangnya. Namun perbedaannya cukup mencolok: dalam Stargate, tokoh-tokohnya tetap manusia biasa dengan keterbatasan fisik, sementara dalam novel ini, Arkhytirema dan tokoh-tokoh di sekelilingnya memiliki kemampuan yang jauh melampaui manusia modern.

Pada masa ketika Arkhytirema menjelajah antar-galaksi, teknologi nuklir telah menjadi hal yang lazim. Senjata-senjata yang pada masa kini dianggap sangat canggih digambarkan sudah digunakan secara umum pada era tersebut.

Novel ini juga menghadirkan gagasan tentang teknologi kloning di masa prasejarah—mulai dari kloning manusia, hewan, hingga kloning matahari untuk menciptakan sumber energi buatan bagi kehidupan di planet Krairon. Salah satu hasil kloning prasejarah yang disebut adalah ANUBIS, sosok yang ikonnya banyak ditemukan dalam relief dan lukisan di piramida Mesir Kuno.

Dengan pendekatan seperti ini, novel Arkhytirema tidak sekadar menawarkan kisah petualangan, melainkan membangun sebuah kosmologi alternatif yang menggabungkan mitologi, sejarah, dan fiksi ilmiah dalam satu semesta narasi yang luas dan berani.


Analisis Novel Arkhytirema Jilid 1

Novel “Arkhytirema Jilid 1” menghadirkan narasi fiksi ilmiah yang kaya dengan unsur mitologi dan filosofi. Kisah ini berpusat pada peradaban Lemurian yang maju dan perjalanan seorang bayi istimewa bernama Arkhytirema.

1. Tema Utama

  • Pencarian Kebenaran dan Jati Diri: Sepanjang novel, Arkhytirema terus mencari jawaban atas keberadaan Adhama dan tujuan kekuatannya yang luar biasa. Tema ini diperluas dengan kritik terhadap pemahaman sejarah manusia yang bias dan dangkal, yang cenderung menganggap peradaban kuno primitif. Novel ini justru menunjukkan bahwa peradaban pra-sejarah bisa jadi jauh lebih maju.
  • Amanah dan Tanggung Jawab Kekuatan: Kekuatan besar yang dimiliki Arkhytirema selalu ditekankan sebagai amanah dan ujian. Ia diajarkan untuk menggunakan kekuatannya demi kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kesombongan. Ini terefleksi dalam ajaran Wishnu dan interaksinya dengan berbagai bangsa.
  • Filosofi Kehidupan dan Spiritual: Ajaran Wishnu menjadi inti filosofi Lemurian yang menekankan pentingnya kesadaran, pengendalian nafsu (Nispha), penyerahan diri kepada Sang Pencipta (Hambaala), konsistensi pada kebenaran (Satya), dan penerimaan takdir (Umaditha). Novel ini menyoroti bahaya materialisme, kesombongan, dan kebencian yang menguasai manusia dengan tingkat energi rendah.
  • Evolusi dan Peradaban: Novel ini secara radikal mempertanyakan teori evolusi Darwin dan pemahaman linier tentang kemajuan peradaban. Dengan ditemukannya bukti-bukti teknologi kuno yang canggih (reaktor nuklir 2 miliar tahun, pesawat luar angkasa Sanskerta, Vimana), novel ini menyiratkan bahwa peradaban mungkin bersifat siklus, atau bahkan ada peradaban maju di masa lalu yang hilang dari catatan sejarah.
Baca Juga  Hikmatul Iman Sedang Dipecah Belah

2. Karakter Utama

  • Arkhytirema: Protagonis utama yang lahir dengan kemampuan penguasaan energi 60%, jauh di atas rata-rata Lemurian. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kuat, dan cepat beradaptasi. Meskipun masih belia, ia menunjukkan kebijaksanaan dan tanggung jawab yang luar biasa. Perjalanannya adalah metamorfosis dari bayi super menjadi pemimpin berjiwa pahlawan yang menyadari amanah besar dalam dirinya.
  • Dharmina: Profiler dan guru Arkhytirema yang sabar dan bijaksana. Ia berperan penting dalam membimbing Arkhytirema memahami ajaran Wishnu dan mengendalikan kekuatannya.
  • Amnarutta dan Brinirha: Orang tua Arkhytirema yang penuh kasih sayang dan mendukung penuh perjalanan anaknya, meskipun seringkali terkejut dengan kemampuan dan tindakan Arkhytirema yang di luar nalar.
  • Rhamidaar: Pemimpin Lemurian yang bijaksana dan berpandangan luas. Ia mengakui keunikan Arkhytirema dan memberikan izin serta dukungan dalam pencarian Adhama.
  • Adhama: Manusia pertama yang diciptakan Sang Pencipta dengan kemampuan 100% dan menjadi sosok legendaris yang dicari Arkhytirema. Ia melambangkan puncak kemampuan dan kebijaksanaan manusia sejati.
  • Dumba: Pemimpin bangsa Dimbessa (keturunan Negrida) di Planet Trabix yang terperangkap dalam wabah monster akibat rekayasa genetik yang salah. Ia mewakili keputusasaan dan harapan akan penyelamat.
  • Mumbedy: Ilmuwan Dimbessa yang menciptakan serum berbahaya dan menjadi pemimpin para monster. Transformasinya menjadi monster insaf menunjukkan potensi penebusan.
  • Zoga dan Trienta: Ayah dan anak dari bangsa Rudhaza di Planet Nunggra. Mereka adalah praktisi silat yang kuat, namun disadarkan akan kelemahan mereka dibandingkan teknologi dan kekuatan Arkhytirema. Trienta, khususnya, mewakili potensi yang dapat ditingkatkan dengan bimbingan yang tepat.
  • Gunra (Kakek Dewa): Leluhur bangsa Rudhaza yang berubah menjadi makhluk mengerikan akibat keserakahan dalam mencari kekuatan. Ia menjadi simbol pelajaran tentang bahaya penyalahgunaan kekuatan dan pengetahuan.
  • Kredhat: Penjaga Barqha di Planet Undamungtha dari bangsa Eratus. Ia digambarkan sebagai sosok yang ramah dan membantu, serta menjadi saksi perkembangan Arkhytirema menjadi Sang Pallon.
  • Ratu Creetar Pallon: Ratu bangsa Eratus yang awalnya sombong dan mengagungkan kekuatan, namun kemudian mengakui Arkhytirema sebagai Sang Pallon dan pemimpin sejati. Ia melambangkan perubahan dan penerimaan kebenaran.
  • Vridrak: Anggota bangsa Bropa yang tamak dan melanggar aturan dengan menambang Vellid secara ilegal. Ia mewakili sifat egois dan materialistis, namun akhirnya bertobat setelah dikalahkan dan diberi pemahaman oleh Arkhytirema.
  • Loa: Istri tetua bangsa Lilua yang menjadi korban eksperimen bangsa Bropa. Ia adalah simbol ketabahan dan harapan bagi bangsanya yang teraniaya.

3. Latar Tempat dan Waktu

Novel ini mengambil latar di berbagai planet dan galaksi, menunjukkan cakupan alam semesta yang luas:

  • Ardh Grumma (Planet Bumi): Tempat asal bangsa Lemurian sebelum mereka eksodus ke Planet Lemurian.
  • Planet Lemurian (Arithma): Habitat baru bangsa Lemurian yang maju secara teknologi dan spiritual. Mortaphrabeena sebagai pusat kelahiran dan pengaturan energi.
  • Planet Laghim: Planet dengan gravitasi 30 kali Ardh Grumma, digunakan untuk melatih fisik bayi Lemurian melawan gravitasi dan Drulla.
  • Planet Badar: Planet tempat pelatihan menaklukkan monster Badar, menguji kekuatan dan pengendalian energi.
  • Asteroid: Tempat Arkhytirema berlatih mengendalikan asteroid dengan pikiran.
  • Ruang Gamma: Ruangan holografik di Lemurian untuk mengajarkan filosofi Wishnu.
  • Planet Trabix: Planet yang dihuni monster Dimbessa (keturunan Negrida) akibat rekayasa genetik yang salah.
  • Planet Nunggra: Planet tempat tinggal bangsa Rudhaza, ahli silat yang memilih pemimpin melalui pertarungan.
  • Planet Undamungtha: Planet beracun dengan atmosfer ungu, dihuni bangsa Eratus, tempat Arkhytirema bertransformasi menjadi Sang Pallon.
  • Planet Lilua: Planet yang dihuni manusia kerdil (bangsa Lilua) yang menjadi korban eksploitasi dan eksperimen bangsa Bropa.

Waktu dalam novel ini mencakup puluhan ribu tahun sebelum Masehi (40.000 SM), menunjukkan peradaban kuno yang jauh lebih maju daripada pemahaman sejarah modern.

4. Alur Cerita

Alur cerita bersifat linier mengikuti perjalanan Arkhytirema, namun diselingi dengan kilas balik informasi historis tentang peradaban masa lalu dan teori-teori alternatif.

  • Pengantar dan Kelahiran Arkhytirema: Novel dimulai dengan gambaran perdebatan sejarah manusia dan kemudian memperkenalkan kelahiran Arkhytirema melalui teknologi canggih Mortaphrabeena di tengah fenomena RHEM (planetary alignment) yang menyebabkan peningkatan energinya.
  • Pendidikan Prodimar: Arkhytirema menjalani pendidikan di berbagai planet (Laghim, Badar, Asteroid) yang menguji kemampuan fisik dan mentalnya. Ia menunjukkan keunggulan yang luar biasa, seringkali memecahkan rekor.
  • Ajaran Wishnu di Ruang Gamma: Tahap krusial di mana Arkhytirema menerima ajaran filosofis mendalam tentang kehidupan, Sang Pencipta, dan pengendalian diri, yang membentuk pandangannya tentang kekuasaan dan tanggung jawab.
  • Pencarian Adhama: Rasa ingin tahu Arkhytirema tentang Adhama mendorongnya untuk menjelajahi galaksi, menggunakan Barqha dan Tulc.
  • Petualangan di Planet Trabix: Arkhytirema bertemu bangsa Dimbessa yang menjadi monster dan berhasil menemukan penawar serta memulihkan mereka.
  • Petualangan di Planet Nunggra: Ia bertemu bangsa Rudhaza dan membantu Trienta mengalahkan Trugoli, sekaligus mengungkap rahasia teknologi di balik “Ajian Broja” dan membebaskan Kakek Dewa dari kutukan.
  • Petualangan di Planet Undamungtha: Arkhytirema menghadapi badai beracun dan gladiator terkuat bangsa Eratus. Di sinilah ia mengalami transformasi besar menjadi Sang Pallon, sosok legendaris yang diramalkan akan memimpin bangsa tersebut. Ia juga harus menerima tanggung jawab kepemimpinan sementara.
  • Petualangan di Planet Lilua: Arkhytirema menemukan bangsa Lilua yang kerdil dan teraniaya, terjebak dalam eksploitasi bangsa Bropa. Ia memulihkan mereka, bahkan mengembalikan kesadaran para Gorgollad.
  • Pertemuan dengan Adhama: Setelah melalui berbagai ujian dan misi, Arkhytirema akhirnya bertemu dengan Adhama, yang mengungkapkan bahwa semua perjalanannya adalah bagian dari rencana Adhama untuk menggemblengnya.

5. Gaya Bahasa dan Penulisan

Penulis menggunakan bahasa yang cukup lugas dan deskriptif. Meskipun novel fiksi ilmiah, terdapat banyak istilah-istilah unik dari bahasa Lemurian (misalnya, Rha, Nirran, Bhabar, Uliirha, Kraiman, Warugha, Probe, Barqha, Wishnu, Nispha, Rubh, Qiila, Zanuura, dll.) yang memberikan kekayaan dan imersi dalam dunia yang dibangun. Dialog-dialog seringkali bersifat filosofis, terutama dalam sesi ajaran Wishnu. Penulis juga memasukkan “catatan” di beberapa bagian untuk memberikan penjelasan tambahan, baik tentang konsep fiksi maupun hubungannya dengan fenomena di dunia nyata (seperti evolusi, Piltdown Man, bulan, dll.).

6. Kelebihan Novel

  • Dunia yang Kompleks dan Imersif: Penulis berhasil membangun peradaban Lemurian dan berbagai bangsa lain dengan detail yang kaya, termasuk bahasa, teknologi, budaya, dan filosofi mereka.
  • Karakterisasi yang Kuat: Arkhytirema adalah karakter yang menarik dan berkembang sepanjang cerita. Karakter pendukung juga memiliki peran penting dan karakteristik yang jelas.
  • Alur yang Penuh Petualangan: Setiap planet menawarkan tantangan dan pelajaran baru, menjaga pembaca tetap terpaku.
  • Filosofi yang Mendalam: Ajaran Wishnu memberikan dimensi yang lebih dalam pada cerita, menjadikannya bukan sekadar fiksi ilmiah biasa, tetapi juga refleksi spiritual tentang eksistensi dan tujuan hidup.
  • Reinterpretasi Sejarah dan Mitologi: Novel ini secara cerdas mengaitkan elemen-elemen fiksi dengan mitologi dan perdebatan sejarah di dunia nyata, seperti asal-usul manusia biru, teori evolusi, dan artefak kuno.

7. Kekurangan Novel

  • Pace yang Terkadang Cepat: Beberapa peristiwa besar atau transformasi karakter terjadi dengan sangat cepat, terkadang terasa kurang mendalam dalam penggambaran emosi atau dampak psikologisnya.
  • Pengulangan Informasi: Beberapa konsep atau informasi diulang dalam narasi atau “catatan”, meskipun ini mungkin bertujuan untuk memperkuat pemahaman pembaca.
  • Istilah Baru yang Banyak: Meskipun menambah kekayaan dunia, banyaknya istilah baru terkadang bisa membuat pembaca sedikit kewalahan di awal.
  • Aspek Romansa Minim: Fokus utama adalah petualangan dan filosofi, sehingga aspek romansa (meskipun disinggung dengan Ratu Creetar Pallon) tidak dieksplorasi secara mendalam.

8. Kesimpulan

“Arkhytirema Jilid 1” adalah novel fiksi ilmiah yang ambisius dan memprovokasi pemikiran. Dengan pembangunan dunia yang detail, karakterisasi yang kuat, alur petualangan yang seru, dan lapisan filosofi yang mendalam, novel ini berhasil menyajikan kisah yang unik dan menarik. Meskipun memiliki beberapa kekurangan dalam pace dan pengulangan, novel ini sangat direkomendasikan bagi Akang yang menyukai cerita fiksi ilmiah yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak untuk merenungkan makna kehidupan dan peradaban. Novel ini berhasil menggabungkan elemen fantasi, mitologi, dan fiksi ilmiah dengan sentuhan spiritual yang khas, menjadikannya bacaan yang segar dan berkesan. Sumber

Baca Juga  Legenda Peradaban Papua

Analisis Novel Arkhytirema Jilid 2A

Novel ini mengisahkan perjalanan Arkhytirema, seorang utusan perdamaian dari Adhama, untuk menyelesaikan berbagai permasalahan antarbangsa di galaksi. Cerita dimulai dengan pengenalan Bangsa Lemurian dan latar belakang Ardh Grumma (Planet Bumi) di masa lalu.

Bagian 1: Asal-usul dan Latihan Arkhytirema

  • Bangsa Lemurian dan Ardh Grumma: Bangsa Lemurian adalah ras pertama yang dikloning dan dikembangkan oleh Adhama di Ardh Grumma. Mereka diproyeksikan sebagai model ras manusia dengan penguasaan energi 40% dan teknologi maju. Berbeda dengan bangsa Tarx, Mosram, Bropa, dan Zneznela yang berdaya 100% namun moralnya rendah, Lemurian dididik untuk bertanggung jawab. Budaya dan bahasa mereka, Bahasa Zhunnda, memengaruhi bangsa lain. Aksara Lemurian unik, ditulis dari kanan ke kiri, dan tidak mengenal huruf kapital.
  • Kandradinukha dan Astrenzentra: Arkhytirema digembleng khusus oleh Adhama di Kandradinukha, sebuah tempat terpencil di Benua Lemuria. Tempat ini, termasuk Piramida Kristal Kraiman yang bernama Astrenzentra, adalah pusat pelatihan canggih dengan teknologi Nano. Di sini, Arkhytirema dilatih menguasai energi dan menerima segala pengetahuan serta kebijaksanaan langsung dari Adhama. Meskipun ia mengeluarkan energi sangat besar dalam simulasi, Astrenzentra tidak hancur karena energi dinetralisir dan diteleportasikan.
  • Sesi Terakhir Latihan: Arkhytirema, yang kini berusia 15 tahun, menjalani sesi terakhir latihannya tanpa lelah. Ia membiarkan energi tubuhnya berakselerasi bebas, menghasilkan aura kebiruan dengan percikan energi dan medan antigravitasi. Ia menguasai jurus Zanlasva, Pola Gerakan Alam Terpadu, yang merupakan pola untuk mengalirkan energi dan bisa menjadi bela diri dahsyat.
  • Misi Baru: Adhama menugaskan Arkhytirema untuk mengatasi krisis di Gogoma, planet yang diperebutkan empat bangsa (Tarx, Mosram, Bropa, Zneznela). Ia dibekali pakaian khusus dari Entralbotha (teknologi Nano) yang berfungsi sebagai akselerator Mythocondria dan mampu menampung 110% kemampuan energi manusia utuh. Ia juga menerima Kristal Adhama sebagai tanda kekuasaan dan alat multifungsi (teleportasi, peretas, penetralisir Trevtall).

Bagian 2: Perjalanan ke Gogoma dan Konflik Awal

  • Tiba di Gogoma: Arkhytirema tiba di Gogoma menggunakan Kristal Adhama. Planet ini dipenuhi batuan Gogonit berwarna kehijauan yang merupakan sumber energi ramah lingkungan. Ia mendapati Bangsa Trunka, yang seharusnya berada di Planet Trunka, berada di Gogoma dan terlihat beringas.
  • Mutasi Orthoka: Arkhytirema menyadari bahwa Bangsa Trunka telah dimutasikan menjadi Orthoka oleh Bangsa Bropa. Orthoka adalah mutan manusia dengan gen binatang buas, dibuat untuk menjaga teritorial. Arkhytirema berhasil mengalahkan Orthoka dengan 10% tenaganya dan memulihkan mereka dengan merusak “Mutator” yang diimplan di tubuh mereka.
  • Kesaksian Fletilsi: Salah satu Ner’iatu yang pulih, Fletilsi, menceritakan bagaimana mereka diculik saat upacara Ner’iatu oleh benda terbang besar, dan dipaksa menjadi Orthoka untuk bertempur menjaga Gogonit. Mereka telah bertempur ratusan kali dan memakan bangkai lawan.
  • Serangan Walatrod: Kemudian muncul monster Walatrod, hasil rekayasa genetik Bangsa Mosram, berbentuk belalang sembah raksasa. Arkhytirema berhasil mengalahkan mereka dengan memicu ledakan kantung hidrogen di dalam tubuh mereka, yang ia ketahui dari simulasinya di Kandradinukha.
  • Serangan Trondallo: Setelah itu, muncul Trondallo, makhluk rekayasa genetik Bangsa Tarx, berbentuk ular bersayap raksasa yang menembakkan gas panas. Arkhytirema juga melihat penunggangnya, Bangsa Zneznela “dua setengah persen”, menunjukkan kemungkinan kerja sama Tarx dan Zneznela. Arkhytirema menghancurkan Trondallo dengan serangan dadakan.
  • Dialog dengan Pemimpin Bangsa Besar: Empat pemimpin bangsa Tarx, Mosram, Bropa, dan Zneznela (versi “original” dengan kemampuan 100%) tiba di Gogoma. Mereka mengakui kehancuran armada mereka oleh Arkhytirema dan mengungkapkan rencana mereka untuk membunuhnya agar tidak ada saksi. Arkhytirema mengusulkan agar perundingan dilanjutkan di planet netral, Vrestass, dan mereka setuju untuk mengosongkan Gogoma.

Bagian 3: Perjalanan ke Trunka dan Penemuan Bunker

  • Kembali ke Planet Trunka: Arkhytirema menggunakan Kristal Adhama untuk membawa Bangsa Trunka kembali ke planet asal mereka. Ia menggunakan tali energi Drenta dari Kristal Adhama untuk mengikat mereka selama perjalanan melalui Lorong Penyingkat (Wormhole), memastikan mereka tidak terlepas.
  • Pertemuan dengan Glembada: Di Planet Trunka, Arkhytirema bertemu Glembada, Raja mereka. Glembada sangat gembira dengan kedatangan Arkhytirema, yang telah diramalkan leluhur mereka sebagai “Manusia Istimewa” yang akan datang dengan “Lorong Api Mulia” (Wormhole) dan “Api Kering” (Kristal Adhama).
  • Penemuan Lembar Kulit Rahasia: Glembada memiliki “Lembar Kulit Rahasia” yang berisi peta lokasi gudang teknologi Bangsa Bropa di bawah tempat mereka duduk. Arkhytirema, dengan pengetahuannya dari Kandradinukha, dapat membaca aksara dan bahasa Bropa.
  • Membuka Bunker: Arkhytirema meretas pintu bunker menggunakan Kristal Adhama. Bunker tersebut adalah tempat persembunyian yang dibangun Bangsa Bropa dengan teknologi canggih, termasuk Levtor (elevator) untuk turun ke bawah.
  • Sejarah Bunker: Bunker ini dibuat oleh Bangsa Bropa atas perintah Raja Bropa untuk dijadikan tempat persembunyian saat perang besar. Bangsa Trunka sendiri adalah kloning dari Bangsa Bropa yang ditinggalkan di permukaan planet. Seorang ilmuwan Bropa bernama Vlendolbha mencurigai rencana Raja Bropa dan membuat catatan sejarah serta koordinat bunker tersebut di lembar kulit, karena semua pekerja dan ilmuwan pembuat bunker dibunuh untuk menjaga kerahasiaan.
  • Eksplorasi Bunker: Di dalam bunker, terdapat berbagai teknologi, termasuk senjata genggam yang hanya bisa diaktifkan setelah DNA dicocokkan. Arkhytirema membuka akses ke semua teknologi ini untuk kemakmuran Bangsa Trunka.

Bagian 4: Krisis di Vrestass dan Ujian Terberat

  • Tiba di Vrestass: Arkhytirema tiba di Planet Vrestass, sebuah planet yang dihuni oleh bangsa yang cinta damai dan makmur. Ia bertemu Khilentia dan bayinya, Khriied.
  • Serangan di Vrestass: Tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat di kota Vrestass akibat serangan pesawat tanpa awak (Albhorg) yang dikendalikan oleh empat Bangsa Besar. Arkhytirema menyelamatkan Khilentia dan Khriied, lalu menghancurkan armada pesawat penyerang.
  • Keanehan Khriied: Bayi Khriied menunjukkan keanehan dengan memahami bahasa Lemurian yang diucapkan Arkhytirema, padahal ibunya tidak. Bayi itu juga tidak takut saat serangan terjadi dan malah terlihat senang.
  • Klevlatra dan Permohonan Maaf: Klevlatra, suami Khilentia dan kepala distrik, awalnya menuduh Arkhytirema sebagai penyebab serangan dan mencurigainya. Namun, setelah Khilentia menjelaskan peran Arkhytirema dan melihat demonstrasi kekuatannya (terbang dan menghancurkan batu besar), Klevlatra menyesali perbuatannya dan meminta maaf.
  • Penyembuhan Massal: Arkhytirema menggunakan kemampuannya untuk meregenerasi sel dan menyembuhkan semua orang Vrestass yang terluka akibat serangan, termasuk patah tulang dan gegar otak. Ini membuat Bangsa Vrestass menganggapnya sebagai dewa.
  • Ujian Terberat: Empat Raja Bangsa Besar (Tarx, Mosram, Bropa, Zneznela) tiba di Vrestass. Mereka mengungkapkan bahwa serangan di Vrestass adalah bagian dari rencana untuk membunuh Arkhytirema dan menjadikannya kambing hitam. Keempat raja ini menyerang Arkhytirema dengan kekuatan gabungan yang sangat dahsyat. Ini menjadi ujian terberat Arkhytirema, yang ia manfaatkan untuk menyerap energi serangan dan membuka Klad dari sel Mythocondria-nya, mendekati kemampuan manusia 100%.

Tema Utama:

  • Tanggung Jawab Kekuatan: Novel ini menekankan pentingnya moralitas dan tanggung jawab dalam penggunaan kekuatan dan kecerdasan, seperti yang dicontohkan oleh Arkhytirema dan dikontraskan dengan bangsa-bangsa lain yang menyalahgunakan kemampuan mereka untuk kekuasaan dan penindasan.
  • Ego vs. Ikhlas: Konsep “Ego” yang berakar pada kesenangan diri sendiri dan keinginan untuk diakui, dikontraskan dengan “ikhlas” atau tindakan yang dilakukan “Hanya Karena Allah” tanpa mengharapkan imbalan. Arkhytirema mewujudkan sikap ikhlas ini.
  • Pengetahuan Sejati: Novel ini menyoroti bahwa pengetahuan sejati tidak hanya tentang sains dan teknologi, tetapi juga pemahaman mendalam tentang kehidupan dan hubungan dengan Sang Pencipta.
  • Ramalan dan Takdir: Ada elemen ramalan dalam cerita, seperti kedatangan Arkhytirema yang dinubuatkan oleh leluhur Bangsa Trunka, menunjukkan adanya takdir ilahi.
  • Cinta dan Pengorbanan: Hubungan antara Arkhytirema dan Khriied, serta kesediaan Arkhytirema untuk melindungi orang lain meskipun berisiko, menunjukkan tema cinta dan pengorbanan.
  • Kritik Sosial: Novel ini juga menyisipkan kritik sosial terhadap berbagai aspek kehidupan manusia modern, seperti pendidikan yang berorientasi pada gelar daripada kemampuan, dan masyarakat yang mencari kesenangan semu.

Secara keseluruhan, novel ini adalah kisah petualangan fantasi yang sarat dengan pesan moral dan spiritual, menguji karakter utama dalam menghadapi tantangan besar sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebaikan dan keikhlasan.

***

Analisis Novel Arkhytirema Jilid 2B

mari kita analisis novel ini. Novel “Arkhytirema 2B” ini tampaknya merupakan bagian dari serial yang lebih besar, menggabungkan elemen fiksi ilmiah, fantasi, dan spiritualitas dengan sentuhan lokal Indonesia.

I. Analisis Tema Utama

  • Konflik Kuno dan Modern: Novel ini menggambarkan konflik abadi antara kebaikan dan kejahatan, penindasan dan kebebasan. Ini terlihat jelas dari sejarah Bangsa Lémuria yang diutus untuk menjadi model moral , versus bangsa-bangsa dengan kekuatan besar namun moral yang rendah seperti TARX, MOSRAM, BROPA, dan ZNÉZNÉLA. Konflik ini berlanjut hingga ke masa kini dengan penindasan Bangsa TRAV’NA (THÉROR) oleh Raja BROPA, TRÉNDAVA, terhadap Bangsa BRODÉLLA.
  • Potensi Manusia dan Ketergantungan Teknologi: Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah tentang potensi luar biasa yang dimiliki manusia. Novel ini mengkritik ketergantungan berlebihan pada teknologi yang justru bisa menumpulkan kemampuan alami dan merangsang kemalasan. ARKHYTIRÉMA sendiri adalah contoh manifestasi potensi manusia yang sejati.
  • Penyembuhan dan Rekonsiliasi: Fokus penting dalam novel ini adalah proses penyembuhan, baik fisik maupun emosional, serta rekonsiliasi antara bangsa-bangsa yang berkonflik. ARKHYTIRÉMA memainkan peran sentral sebagai penyembuh dan mediator, membawa perubahan positif pada Bangsa BRODÉLLA dan TRAV’NA.
  • Peran Pemimpin dan Kekuatan Moral: Novel ini menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berintegritas dan bijaksana. LUNDARDA, Raja BRODÉLLA, dan VURTALNA, pemimpin TRAV’NA, meskipun memiliki kekuatan fisik, mereka menghadapi tantangan moral dan kepemimpinan yang berbeda. ARKHYTIRÉMA, sebagai “TÉLLSOPHURDA,” menjadi simbol kepemimpinan yang didasari kasih sayang dan tanggung jawab.
Baca Juga  Bangsa INDARRINA

II. Analisis Karakter

  • ARKHYTIRÉMA (Sang TÉLLSOPHURDA):
    • Kekuatan dan Kemampuan: ARKHYTIRÉMA digambarkan sebagai sosok dengan kekuatan luar biasa, jauh melampaui manusia normal, bahkan raja-raja bangsa besar sekalipun. Dia memiliki akselerasi energi tubuh yang sangat tinggi, mampu menembus kerapatan molekular benda , menyembuhkan penyakit , mengendalikan elemen alam (ARDHRANK) , dan bahkan mengaktifkan sel-sel otak. Pengetahuan luasnya didapat dari ASTRÉNZÉNTRA.
    • Kepribadian: Meskipun memiliki kekuatan dahsyat, ARKHYTIRÉMA digambarkan sebagai pribadi yang rendah hati , bijaksana, penyabar, dan penuh kasih sayang. Dia tidak suka pamer kekuatan dan selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan damai. Dia juga memiliki kemampuan empati yang tinggi, seperti yang ditunjukkan saat dia merasakan kesedihan dan kerinduan Bangsa BRODÉLLA.
    • Peran: Dia adalah “Utusan ADHAMA untuk perdamaian”, seorang penyembuh, guru, dan pembebas bagi bangsa-bangsa yang tertindas. Dia adalah perwujudan dari ramalan TÉLLSOPHURDA.
  • LUNDARDA (Raja BRODÉLLA):
    • Kekuatan: Seorang raksasa dengan kekuatan fisik luar biasa. Dia adalah pemimpin yang memiliki jurus UNTAI, yang menggabungkan elemen alam. Meskipun Raja BRODÉLLA mewarisi kemampuan mengolah energi, itu terbatas pada tingkatan tertentu.
    • Kepribadian: Awalnya dia terlihat pasrah dan putus asa karena penindasan yang dialami bangsanya , namun setelah disembuhkan oleh ARKHYTIRÉMA, semangat dan kepercayaan dirinya kembali muncul. Dia memiliki rasa dendam yang kuat terhadap THÉROR, namun perlahan bisa diarahkan menuju rekonsiliasi. Dia juga memiliki rasa bangga pada bangsanya.
    • Peran: Representasi bangsa yang tertindas dan membutuhkan pembebasan. Dia juga menjadi murid bagi ARKHYTIRÉMA dalam mengembangkan potensinya.
  • VURTALNA (Pimpinan TRAV’NA / THÉROR):
    • Kekuatan: Meskipun fisiknya lebih kecil dari BRODÉLLA, dia memiliki penguasaan energi di atas rata-rata BRODÉLLA. Dia juga memimpin pasukan tempur yang tangguh.
    • Kepribadian: Awalnya terlihat tanpa ekspresi dan patuh pada TRÉNDAVA karena paksaan. Namun, di balik itu, dia memiliki hati nurani dan penyesalan atas penindasan yang dilakukan bangsanya. Dia juga menunjukkan kecerdasan dalam berdiplomasi.
    • Peran: Korban penipuan dan penindasan yang kemudian menjadi kunci rekonsiliasi antara TRAV’NA dan BRODÉLLA. Dia juga menjadi pembawa cerita tentang sejarah bangsanya.
  • ILFINA MASÉRIA TRANDAVIA TATU ÉSÉVARA TURSABÉLTA (Putri TRÉNDAVA):
    • Kekuatan: Memiliki kemampuan yang sangat tinggi, nyaris 100% , mampu mengerahkan Energy GRAVAN yang dahsyat. Dia adalah Ratu Galaxy TURSABÉLTA.
    • Kepribadian: Awalnya digambarkan sombong , temperamental , agresif , dan terbiasa dengan pujian berlebihan. Dia juga memiliki “nafsu membunuh”. Namun, setelah berinteraksi dengan ARKHYTIRÉMA, dia mulai menunjukkan perubahan, seperti rasa malu dan empati. Amygdala-nya diubah oleh ARKHYTIRÉMA agar lebih sensitif pada penderitaan orang lain.
    • Peran: Representasi dari kekuatan yang menyalahgunakan kekuasaan dan membutuhkan bimbingan moral. Perubahannya menjadi penting bagi masa depan hubungan antar-galaxy.
  • TRÉNDAVA (Raja BROPA):
    • Kekuatan: Raja dari salah satu Bangsa Besar dengan penguasaan energi 100%.
    • Kepribadian: Digambarkan sebagai penipu , pemaksa , dan memiliki ego tinggi. Dia adalah biang keladi di balik penindasan TRAV’NA terhadap BRODÉLLA.
    • Peran: Antagonis utama yang memicu konflik dan penderitaan banyak bangsa.

III. Analisis Latar dan Dunia Fiksi

  • ARDH GRUMMA (Bumi): Merupakan tempat asal Bangsa Lémuria dan manusia dengan akselerasi energi 2,5%. Digambarkan sebagai planet yang pernah dihuni oleh bangsa-bangsa dengan kekuatan 100% namun moral rendah.
  • Planet BRODÉLLA: Planet tempat tinggal Bangsa BRODÉLLA, yang sepi dan memiliki tanaman serta binatang berukuran sepuluh kali lipat dari ARDH GRUMMA. Gravitasinya berbeda.
  • Planet TRÉD’ZÉ (Gugusan ULNA’DA, Galaxy ORDOLÉNTA): Planet asal Bangsa TRAV’NA, yang kemudian dikenal sebagai THÉROR.
  • ASTRÉNZÉNTRA: Tempat ARKHYTIRÉMA digembleng dan mendapatkan berbagai pengetahuan serta melatih kemampuannya.
  • Konsep Waktu: Penggunaan “ORIGOM” sebagai perhitungan kalender Galaxy Bima Sakti dan “GRALP” sebagai satuan jarak menunjukkan skala waktu dan ruang yang sangat luas.
  • Teknologi: Novel ini menyajikan berbagai teknologi fiksi ilmiah yang canggih, seperti:
    • Lorong Penyingkat: Teknologi perjalanan instan.
    • ALMÉLIAN (Mitochondria): Pakaian yang menyimpan energi tubuh.
    • BASHIR: Senjata pelumpuh.
    • TÉRKLaz: Gelombang elektromagnetik pulsa yang dapat merusak material tertentu.
    • TULSKR: Teknologi untuk membuang energi ke dimensi lain dan menciptakan gelembung pelindung.
    • PORTAL PARADOX: Memperlambat waktu di sekitar.
    • AFÉKTRAL: Ilmu mengubah arah energi dan mengumpulkannya.
    • LÉSTRAPHAL: Ilmu menyatukan gelombang pikiran dan molekular tubuh.
    • GIGRANDOOR: Proses mengubah tubuh menjadi besar secara permanen dengan menyerap unsur alam.
    • UNTAI: Jurus penggabungan lima unsur alam.
    • ZHÉNMAR: Pakaian yang mendukung akselerasi energi.

IV. Analisis Gaya Bahasa dan Narasi

  • Campuran Bahasa: Terdapat perpaduan bahasa Indonesia dengan istilah-istilah fiksi yang unik (seperti nama bangsa, teknologi, dan konsep) serta beberapa serapan dari bahasa Sunda yang diinterpretasikan ulang (seperti “Aménna” menjadi “Mang”, “Janévalla” menjadi “Jawa”). Ini memberikan nuansa khas dan lokal pada cerita fiksi ilmiah ini.
  • Gaya Deskriptif: Penulis detail dalam menggambarkan pemandangan, karakter, dan efek kekuatan.
  • Pesan Moral yang Kuat: Seringkali disisipkan pesan-pesan moral dan filosofis tentang kehidupan, emosi, kepemimpinan, dan spiritualitas.
  • Penceritaan yang Dinamis: Narasi bergerak cepat, terutama dalam adegan aksi, dengan penggunaan onomatope untuk menambah kesan dramatis.
  • Penggunaan Catatan Kaki/Catatan Penting: Beberapa bagian dilengkapi dengan “Note” atau penjelasan tentang fenomena yang sedang terjadi, memberikan konteks ilmiah (fiksi) atau moral.

V. Interpretasi Lanjutan

Novel ini secara cerdik menggabungkan unsur-unsur mitologi dan sejarah dengan fiksi ilmiah. Sebutan “Aki Tirem”, “Angling Dharma”, atau “Wali Jangkung” sebagai nama-nama ARKHYTIRÉMA dalam cerita rakyat menunjukkan upaya penulis untuk mengaitkan kisah fiksi ini dengan warisan budaya Indonesia. Konsep “ADHAMA” sebagai pencipta manusia pertama dengan energi 100% , dan Bangsa Lémuria sebagai “role model” memberikan dimensi spiritual pada narasi, seolah-olah mengisyaratkan keberadaan peradaban yang jauh lebih maju di masa lalu.

Pencampuran bahasa dan istilah yang unik menciptakan alam semesta yang kaya dan berbeda, namun tetap memiliki resonansi dengan pembaca lokal melalui elemen-elemen yang familiar. Ini adalah contoh menarik dari bagaimana fiksi ilmiah dapat diadaptasi dan diperkaya dengan kearifan lokal.

Secara keseluruhan, novel “Arkhytirema 2B” menawarkan petualangan epik dengan pesan moral yang mendalam, mengeksplorasi potensi manusia, bahaya penyalahgunaan kekuatan, dan pentingnya rekonsiliasi serta kasih sayang

***

Info Novel Arkhytirema yang akan datang

Pertama, Novel 2C berjudul ETHEPHAKA. Buku ini bercerita tentang pembentukan Pasukan Perdamaian Antar Galaksi yang dinamakan ETHEPHAKA dan dipimpin langsung oleh Arkhytirema. Diceritakan pula tentang pertemuan ARKHYTIREMA dengan 4 orang Putri dari 4 Raja Bangsa Besar yang telah tewas saat mengeroyok Arkhytirema, yaitu TRENDAVA, ALMUNTROTEP, Kalfrodumtra, Flisualinitz. 4 orang putri yang cantik dan sakti, serta berkuasa di sejumlah galaksi berupaya memperebutkan Arkhytirema.

Kedua, Novel 3 berjudul Ardh Grumma, Bercerita tentang sejarah Bumi dimulai saat Arkhytirema beserta 4 putri Raja Bangsa Besar kembali ke Bumi. Arkhytirema memulai misinya untuk membina umat manusia di Bumi namun di sisi yang lain 4 Putri Raja ini memulai intrik dan misi adu domba umat manusia di Bumi dengan membagi-bagikan teknologi tempur yang mematikan. Teknologi tempur itu diantaranya adalah Strongga, orang-orang Bumi menyebutnya Wesi Kuning. Orang yang memegang Wesi Kuning akan memiliki akselerasi sel sebesar 70% dan ini menjadikan orang tersebut sakti luar biasa dan mudah menjadi raja. Wesi Kuning sebenarnya adalah campuran berbagai logam super dengan uranium. Wesi Kuning diberikan oleh Ilfina putri Raja Bangsa Bropa. Putri Raja Tarx memberikan nanotech Mirah Delima. Putri Raja yang lain mulai mendistribusikan batu-batu berenergi tinggi seperti Clustonit dan Gogonit ke sejumlah bangsa di Bumi yang menjadi sekutunya.

Ketiga, Novel 4 Bercerita tentang Peperangan di Bumi. Saat Arkhytirema memulai misi perdamaian ke berbagai Galaksi maka Bumi ditinggalkan. Saat ditinggalkan inilah Planet Bumi menjadi ajang pertempuran hebat yg melibatkan senjata-senjata penghancur pemberian 4 Putri Raja Bangsa Besar.

Keempat, Novel 5 Bercerita tentang kembalinya Arkhytirema ke Bumi dan memulai pembenahan Bumi pasca hancur lebur akibat pertempuran antar bangsa yg dipicu oleh ulah 4 Putri Raja Bangsa Besar. Setelah dipakai bertempur maka Planet Bumi di-reset atau di-setting ulang dengan cara dimusnahkan sebagian besar umat manusia oleh Dewan Galaksi melalui bencana alam. Setelah di-setting ulang, lalu Arkhytirema mendirikan kerajaan Salaksanagara.

Namun sayangnya, sebelum Novel itu tuntas, penulisnya sudah pindah casing. Empat poin info di atas hanyalah sebatas yang beredar di kalangan internal komunitas, murid, pasien, dan simpatisan. Meskipun demikian, cukup banyak kepingan puzzle yang beredar di komunitas.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
6 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Dicky adalah penulis Novel TRILOGI ARKHYTIREMA, buku Tenaga Dalam dan Tenaga Metafisika Sesuai Syariat Islam, Sehat dengan Olah Nafas, Energi […]

trackback

[…] versi dongeng, misalnya antara Majalah Misteri, dongeng rakyat yang dibuat sinetron, ataupun Novel Arkhytirema karangan seorang budayawan bernama Dicky Zainal […]

trackback

[…] pelajaran Geografi atau IPBA (Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa) SMP. Justru saya temukan dalam buku dongeng, he […]

trackback

[…] dongeng novel Arkhytirema, dahulu kala pada saat jaman Dinosaurus, hiduplah manusia berukuran raksasa bernama bangsa […]

trackback

[…] Novel TRILOGI ARKHYTIREMA, […]

trackback

[…] yang tidak masuk akal jika seseorang menuduh Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman didasarkan pada paham Novel Arkhytirema. LSBD Hikmatul Iman berdiri pada tahun 1989, sedangkan Novel Arkhytirema ditulis pada tahun 2010. […]

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
6
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x