Surel, Pos-el, Daring, Luring: Ketika Bahasa Indonesia “Naik Kelas” di Era Video Pendek

Surel, Pos-el, Daring, Luring: Ketika Bahasa Indonesia “Naik Kelas” di Era Video Pendek

Kalau kamu lahir dan besar di masa internet belum jadi makanan sehari-hari, ada satu hal yang pasti: kata email jauh lebih akrab dibanding surel atau pos-el.

Aku juga begitu.

Dulu, kita kenalnya “email”, bukan “surel”. Kita ngomongnya “download”, bukan “unduh”. Kita lebih nyaman bilang “upload”, bukan “unggah”.

Tapi beberapa tahun terakhir, terutama sejak maraknya konten video pendek di Facebook dan TikTok, banyak istilah bahasa Indonesia yang “bangkit lagi”. Bahkan beberapa terasa seperti istilah baru, padahal sebenarnya sudah lama ada di ranah resmi.

Dan di sinilah serunya: bahasa itu ternyata bukan cuma soal kamus. Bahasa itu soal kebiasaan, rasa, dan cara orang memakainya sehari-hari.


Surel dan Pos-el: Sama, Tapi Terasa Beda

Secara makna resmi, surel dan pos-el itu sama-sama berarti email.

  • Surel = surat elektronik
  • Pos-el = pos elektronik

Keduanya sama-sama padanan dari E-mail (Electronic Mail).

Tapi di kehidupan nyata, keduanya punya “rasa” yang beda.

Misalnya begini:

“Saya sudah surel kamu, segera buka.”

Kalimat itu terdengar wajar, bahkan terasa aktif. “Surel” di sini seperti kata kerja: mengirim email.

Sementara:

“Pos-el kamu apa? Tuliskan di sini.”

Nah ini juga terasa cocok, karena “pos-el” terdengar lebih administratif, lebih formal, seperti kata yang biasa muncul di formulir.

Jadi meskipun secara kamus artinya sama, dalam praktik masyarakat sering terbentuk “beda tipis” yang alami.

Dan itu wajar.

Bahasa hidup memang begitu.


Fenomena Bahasa: Satu Kata, Banyak Makna

Dalam bahasa, ada banyak contoh satu kata yang bisa merujuk ke beberapa hal sekaligus.

Contohnya:

  • “Sekolah” bisa berarti bangunan, institusi, atau aktivitas belajar.
  • “Telepon” bisa berarti alatnya, bisa berarti kegiatannya (“aku telepon kamu”).
  • “WA aku ya” jelas bukan berarti “kirim aplikasi WhatsApp”, tapi “kirim pesan lewat WhatsApp”.
Baca Juga  Gosipnya, Ini Sebabnya Ojek Pangkalan Menolak Gojek

Nah, “surel” juga bisa begitu.


Kenapa Istilah-istilah Ini Mendadak Populer?

Jawabannya simpel: konten video pendek.

TikTok dan Facebook Reels itu punya pola yang khas:

  1. Ada istilah baku yang lama “tidur” di kamus
  2. Dibangunkan lewat konten “Tahukah kamu…?”
  3. Dibuat seolah-olah orang selama ini salah
  4. Viral
  5. Orang jadi ingat

Makanya, istilah seperti:

  • daring
  • luring
  • unduh
  • unggah
  • pranala

jadi sering muncul lagi.

Bukan karena baru dibuat, tapi karena dipopulerkan ulang.


Lantatur: Istilah yang Punya Peluang Hidup

Salah satu istilah yang sekarang mulai sering muncul adalah lantatur.

Banyak orang salah tebak, tapi sebenarnya:

Lantatur = layanan tanpa turun
Padanan untuk drive-thru / drive-through.

Ini menarik, karena lantatur punya beberapa keunggulan:

  • ringkas
  • jelas maknanya
  • mudah diingat
  • terasa “Indonesia banget”

Kalau istilah ini terus dibiasakan, apalagi oleh media dan brand, besar kemungkinan lantatur bisa hidup di masyarakat.


Tapi Tidak Semua Istilah Baku Bisa Menang

Ada juga istilah yang sudah resmi, tapi terasa sulit diterima publik.

Contohnya yang paling terkenal:

Tetikus = mouse (komputer)

Secara makna benar, tapi secara rasa bahasa… banyak orang merasa janggal.

Bahkan sebagian orang lebih memilih serapan yang disesuaikan saja.

Misalnya (sekadar ide bercanda tapi masuk akal):

  • mouse → “mos”

Karena memang dalam sejarah bahasa Indonesia, banyak kata serapan yang sukses justru karena penyesuaian ejaan:

  • musik (music)
  • film (film)
  • tenis (tennis)

Jadi ada dua strategi besar dalam pengayaan bahasa:

  1. Padanan baru (daring, swafoto, lantatur)
  2. Serapan yang disesuaikan (musik, film, tenis)

Keduanya sah, dan dua-duanya bisa berjalan bareng.


Kapitil: Resmi, Tapi Bikin Orang Ketawa

Ini bagian yang paling lucu.

Kapitil adalah istilah resmi (sudah masuk KBBI) untuk menyebut huruf kecil, kebalikan dari kapital.

Baca Juga  Hunting Tempat Kost Dengan Aplikasi Mamikos

Tapi dalam praktiknya, begitu kata “kapitil” disebutkan, banyak orang malah ketawa.

Kenapa?

Karena bunyinya bikin asosiasi yang macam-macam. Ada yang mengira itu nama orang. Ada yang mengira istilah dewasa. Ada juga yang bikin candaan:

“Kapitil itu cewek, kalau cowok itu kapitol.”

Dan ini menarik banget, karena menunjukkan sesuatu:

Kadang istilah itu benar secara kamus, tapi gagal secara sosial.

Bukan karena salah, tapi karena “rasa bunyinya” tidak cocok.


Bahasa Indonesia Itu Sedang Bertumbuh

Kalau dilihat lebih luas, fenomena surel, pos-el, daring, luring, unduh, unggah, lantatur, dan kawan-kawannya adalah tanda bahwa bahasa Indonesia sedang bergerak.

Bahasa Indonesia sedang:

  • memperkaya kosakata
  • menyesuaikan diri dengan dunia digital
  • mencoba berdiri sejajar dengan bahasa internasional lain

Dan sebenarnya, bahasa Indonesia punya modal besar:

  • struktur sederhana
  • mudah dipelajari
  • fleksibel
  • cepat menyerap istilah baru

Tinggal satu hal: konsistensi pemakaian dan kebanggaan penuturnya.


Kesimpulan: Variasikan Saja, Itu Justru Sehat

Pada akhirnya, nggak perlu kaku.

Kalau kamu nyaman bilang “email”, pakai saja.

Kalau lagi nulis artikel, kamu bisa selipkan “surel” biar pembaca terbiasa.

Kalau lagi formal, pakai “surel” atau “pos-el”.

Kalau lagi santai, bilang “email” juga nggak dosa.

Justru dengan variasi seperti itu, bahasa Indonesia makin kaya.

Dan kalau kosakatanya makin kaya, bahasa Indonesia makin pantas jadi bahasa internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi