Diplomasi Indonesia Menuju Keseimbangan Global dan Indonesia Emas 2045

Diplomasi Indonesia Menuju Keseimbangan Global dan Indonesia Emas 2045

Indonesia sebenarnya sedang berupaya mencegah terjadinya perang dunia ketiga melalui kesepakatan tarif 19% dari Amerika Serikat. Banyak yang mencibir tarif 19% Amerika Serikat terhadap Indonesia dan tarif 0% Indonesia terhadap produk-produk Amerika Serikat itu sebagai bentuk kekalahan diplomasi dan lemahnya Indonesia dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat. Padahal, justru dengan cara ini Indonesia sedang menyelamatkan dunia dari potensi perang dunia ketiga supaya tidak terjadi terlalu cepat, sekaligus mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya untuk proyek hilirisasi Indonesia.

Ini semua sebenarnya adalah langkah panjang untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan menjadikan Nusantara sebagai mercusuar dunia di masa depan. Apa artinya mercusuar dunia? Artinya, negara-negara lain mulai berkiblat kepada Indonesia karena hanya Indonesialah yang mampu mendamaikan dunia di tengah kekacauan dan konflik. Indonesia, dengan kemampuan diplomasinya yang cenderung feminin—yakni lebih mengedepankan welas asih, perdamaian, dan kerja sama atau kolaborasi—justru mampu menjadi penengah dan penyeimbang konflik global yang perlahan-lahan mulai terjadi.

Jika konflik global yang berawal dari perang dagang ini tidak segera ditemukan jalan tengahnya, maka perang dunia ketiga bisa terjadi lebih cepat dan pecah sebelum waktunya. Tentu ini tidak baik karena dampak kerusakannya bisa sangat parah. Justru di saat inilah Indonesia menjadi penyeimbang dua kekuatan dunia, yakni Barat dan Timur, supaya tidak terjatuh dalam konflik terlalu dalam dan mencegah perang dunia ketiga terjadi sebelum waktunya. Bagaimana bisa?


Kecerdasan Masa Depan

Sebelum lanjut videonya, simak dulu informasi penting berikut ini. Kalau di abad 21 ini kamu masih mengandalkan IQ saja, sebenarnya kamu sudah ketinggalan. Karena kalau cuma mengandalkan IQ atau kecerdasan intelektual saja, AI pun bisa punya IQ yang lebih tinggi dari manusia. Tapi, ada bentuk kecerdasan lain yang berasal dari masa depan yang membuat manusia bisa lebih pintar dan tidak tergantikan oleh AI, yakni kecerdasan transendental. Kecerdasan ini sangat berkaitan dengan kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), dan juga kemampuan supernatural atau psikis manusia.

Di masa depan, kemampuan supernatural akan menjadi bentuk kecerdasan baru. Dan ini adalah bentuk kecerdasan manusia Nusantara yang sesungguhnya yang selama ini dikaburkan oleh sejarah.


Kesepakatan Tarif Indonesia-Amerika Serikat

Indonesia berhasil menurunkan tarif resiprokal dari Amerika Serikat menjadi 19% saja, dari yang semula Amerika Serikat memberlakukan tarif 32%. Penurunan ini terjadi setelah beberapa kali perundingan diplomatik antara Indonesia dengan Amerika Serikat, dan juga setelah beberapa kali Donald Trump sempat melakukan pengancaman terkait tarif.

16 Juli lalu, Presiden Donald Trump memberikan pengumuman bahwa Indonesia dan Amerika Serikat sudah sepakat untuk mengenakan tarif bea masuk sebesar 19% untuk produk-produk yang diimpor Amerika Serikat dari Indonesia. Sedangkan untuk produk-produk Amerika Serikat yang diimpor ke Indonesia, pemerintah Indonesia hanya akan menerapkan 0% tarif. Itu artinya, harga barang-barang Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia bisa menjadi lebih murah akibat tarif pajaknya 0%.

Kesepakatan ini akhirnya terjadi setelah Donald Trump melakukan komunikasi via telepon dengan Presiden Prabowo, dan Donald Trump tampak senang. Tak hanya itu, Donald Trump juga mengatakan setelah kesepakatan ini terbentuk, Amerika Serikat jadi punya full access atau akses penuh kepada Indonesia.

Inilah yang kemudian memantik kontroversi. Sebagian orang tidak setuju dengan kesepakatan ini. Sebagian yang lain menganggap kesepakatan ini justru menguntungkan Indonesia. Yang lain ada yang menganggap pernyataan Donald Trump itu sebagai bentuk penjajahan. Sedangkan yang lain menganggap kesepakatan ini adalah sebuah peluang besar bagi Indonesia.

Saya sendiri melihat, justru dengan kesepakatan tarif seperti ini, Indonesia menang di tengah ketidakpastian global. Bahkan, apa yang dilakukan Indonesia saat ini sebenarnya bisa membantu tatanan dunia agar tidak jatuh ke dalam perang dunia 3 lebih cepat lagi. Bagaimana bisa?


Perundingan Alot dan Perang Dagang

Sebelum kesepakatan tarif dengan Indonesia tercapai di pertengahan bulan ini, sebelumnya Indonesia dan Amerika Serikat mengalami perundingan yang cukup alot. Awal Juli 2025, Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Brasil sekaligus untuk menghadiri KTT BRICS di sana. Dalam KTT tersebut, BRICS juga sempat menyinggung tentang tarif resiprokal yang diterapkan Amerika Serikat dan apa dampaknya terhadap ekonomi global.

Tak lama setelah KTT BRICS berakhir, Presiden Donald Trump pun mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menerapkan tarif tambahan 10% kepada negara-negara yang anti kebijakan Amerika Serikat dan menjadi anggota BRICS. Ini sudah bukan untuk menyeimbangkan defisit neraca perdagangan Amerika Serikat lagi. Tapi, penetapan tarif ini sekaligus menjadi langkah Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoni ekonomi dan politik mereka sebagai negara adidaya pemimpin tatanan dunia. Tidak boleh ada negara atau aliansi negara-negara yang nantinya bisa menggeser dominasi Amerika Serikat.

Penetapan tarif masuk untuk Indonesia sebesar 19% ini sudah final dan mulai berlaku sejak 1 Agustus besok. Sebenarnya, tarif yang berlaku untuk Indonesia itu termasuk yang paling kecil dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya:

  • Vietnam: 20% tarif (defisit perdagangan dengan Amerika Serikat tercatat sebesar 123,5 miliar US Dollar).
  • Malaysia: 25% tarif.
  • Thailand: 36% tarif (defisit perdagangan sebesar 45,6 miliar US Dollar).
  • Filipina: 20% tarif.
  • Kamboja: 36% tarif.
  • Laos dan Myanmar: 40% tarif.
  • Brunei Darussalam dan Singapura: 25% tarif.
  • Sedangkan Indonesia dikenakan tarif sebesar 19% saja dengan defisit neraca perdagangan hanya 17,9 miliar US Dollar dengan Amerika Serikat.
Baca Juga  China Balas Amerika dengan Tarif Brutal: Perang Dagang Kembali Memanas

Ini kalau bisa kita lihat, Indonesia justru mendapatkan tarif paling kecil dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Tapi kenapa sih sebagian orang menganggap ini adalah bentuk penjajahan bagi Indonesia? Apakah kita benar-benar dijajah oleh Amerika Serikat?


Keuntungan Tarif 0% dan Proyek Hilirisasi

Perlu diingat, Indonesia menetapkan tarif sebesar 0% terhadap produk-produk Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia. Setidaknya ada 10 komoditas barang yang sudah sering diimpor ke Indonesia dari Amerika Serikat. Sebagian orang khawatir dengan tarif 0% tersebut, Indonesia bisa kebanjiran produk-produk Amerika Serikat sehingga mengganggu iklim persaingan usaha di dalam negeri. Padahal sebenarnya, mayoritas produk yang diimpor tersebut adalah produk-produk yang tidak bisa diproduksi di Indonesia.

Setidaknya ada 10 komoditas produk yang biasa diimpor Indonesia dari Amerika Serikat:

  • Bahan bakar mineral
  • Biji dan buah yang mengandung minyak
  • Mesin dan peralatan mekanis
  • Bahan kimia organik
  • Residu dan sisa industri makanan
  • Kendaraan udara
  • Mesin dan perlengkapan elektrik
  • Palp dari kayu dan kertas
  • Instrumen dan aparatus optik
  • Serta produk-produk dairying

Sedangkan di antara 10 komoditas tersebut, ada empat komoditas yang paling banyak diimpor ke Indonesia, dan kesemuanya adalah produk-produk yang tidak mampu Indonesia produksi sendiri. Produk tersebut adalah palp dan kertas, residu industri makanan, biji dan buah yang mengandung minyak, serta dairy products. Produk buatan Indonesia sendiri jauh lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat ketimbang yang impornya.

Selain mengenakan tarif 0%, Indonesia juga berkomitmen akan melakukan sejumlah impor tambahan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kembali. Indonesia sudah berjanji akan membeli beberapa komoditas barang berikut ini dari Amerika Serikat:

  1. Membeli energi dari Amerika Serikat sebesar 15 miliar US Dollar.
  2. Membeli produk-produk agrikultur seperti gandum dan kedelai yang memang tidak bisa diproduksi di Indonesia sebesar 4,5 miliar US Dollar.
  3. Membeli 50 unit pesawat Boeing 77 terbaru.

Inilah yang bikin sebagian orang Indonesia akhirnya tantrum dan mengatakan kita sedang dijajah Amerika Serikat. Padahal, secara data justru barang-barang Amerika Serikat yang diimpor ke Indonesia dengan tarif 0% itu menguntungkan. Sebab, barang yang diimpor mayoritas adalah produk jadi dengan merek ternama, produk-produk dairy, dan juga mesin-mesin dan energi yang suplainya memang kurang di Indonesia.

Dengan mendatangkan mesin dari Amerika Serikat, Indonesia bisa sekaligus belajar bagaimana untuk melakukan produksi manufaktur lebih baik lagi. Dan karena harga mesin dari Amerika Serikat jadi murah akibat tarif 0%, Indonesia bisa mendatangkan mesin-mesin berkualitas untuk mendongkrak kegiatan hilirisasi. Dengan demikian, justru kita malah semakin maju setelah ini dan tidak melulu mengekspor barang-barang mentah atau setengah jadi saja untuk negara-negara maju.


Tarif Transit dan Perpindahan Pabrik ke Indonesia

Setelah tarif 19% diberlakukan, Donald Trump juga menambahkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan tarif tambahan lain untuk produk-produk yang ditransitkan ke Indonesia sebelum diekspor ke Amerika Serikat. Ini artinya, kalau ada produk-produk dari negara lain yang tarifnya lebih tinggi dari Indonesia dan mau diekspor ke Amerika Serikat, mereka tidak lagi bisa melakukan transit ke Indonesia untuk dilanjutkan diekspor ke Amerika Serikat.

Misalnya nih, ada produk dari Tiongkok yang hendak diekspor ke Amerika Serikat. Tapi karena Tiongkok sekarang mendapatkan tarif sebesar 30%, tentu harga produk-produk dari Amerika Serikat menjadi lebih mahal jika langsung diekspor dari sana. Solusinya adalah mereka harus mencari negara transit terlebih dahulu untuk dilabeli ulang menjadi “made in negara transit” baru diekspor lagi ke Amerika Serikat.

Jika Indonesia mendapatkan tarif 19% tanpa adanya penambahan tarif transit yang dilakukan Donald Trump, tentu saja negara-negara yang mendapatkan tarif lebih tinggi seperti Tiongkok, contohnya, akan melakukan transit ke Indonesia untuk menghindari tarif tinggi yang berpotensi membuat produk mereka jadi mahal di Amerika Serikat, sehingga nanti pasti sulit bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh Amerika Serikat sendiri.

Tapi karena adanya tambahan tarif transit, maka negara-negara produsen besar yang kena tarif resiprokal lebih tinggi seperti di Tiongkok tidak lagi bisa transit di Indonesia, bahkan di Vietnam atau di Singapura sekalipun. Mau tidak mau mereka harus membangun produksi di Indonesia, alias membangun pabrik di sini, sehingga seluruh produknya akhirnya made in Indonesia secara penuh.

Di sini pengusaha kapitalis dari Tiongkok kemungkinan besar justru akan beramai-ramai membuka pabrik mereka ke Indonesia. Tapi yang berpotensi tekor adalah pemerintah Tiongkoknya. Karena jika pemilik modal dan pengusaha manufaktur pada berlarian dari Tiongkok dan berpindah ke Indonesia, mereka malah berpotensi kehilangan pemasukan pajak dan biaya-biaya lain yang sangat besar. Padahal negara itu sebagian besar hidupnya ditopang dari pajak.

Di sini yang berpotensi untung besar justru Indonesia. Sudahlah Indonesia kedapatan pelarian pengusaha dari negara lain, Indonesia masih bebas ekspor ke Amerika Serikat dengan biaya tergolong murah. Apalagi karena hubungan dengan Amerika Serikat baik, maka Indonesia juga bisa mendapatkan impor barang-barang mesin dari Amerika yang berkualitas bagus sehingga bisa meningkatkan produksi dalam negeri itu sendiri.

Di sini sebenarnya Indonesia menang total, tapi Tiongkok berhasil dikalahkan Amerika Serikat. Amerika Serikat juga untuk sementara waktu menang, karena tujuan utama mereka untuk menghambat perkembangan Tiongkok menjadi negara adidaya yang menyaingi hegemoni Amerika Serikat akhirnya berhasil untuk sementara waktu. Setidaknya habis ini Tiongkok harus berpikir keras bagaimana menyelamatkan industri mereka sambil mencegah pengusaha-pengusaha Tiongkok sebagai penyumbang pajak terbesar untuk tidak kabur ke Indonesia membuka pabrik baru.

Baca Juga  Semua Negara direncanakan untuk Punya Hutang

Selama ini negara tujuan ekspor terbesar Tiongkok adalah Amerika Serikat. Ini adalah tujuan utama. Tujuan kedua adalah Uni Eropa. Selama ini dua wilayah inilah yang paling banyak menyerap produk-produk ekspor Tiongkok. Kalau sekarang tarif Tiongkok menjadi 30% dan Indonesia cuma kena 19% tarif, maka akan banyak pengusaha Tiongkok yang berbondong-bondong lari ke Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Vietnam, untuk membuka produksi baru dan ekspor dari sana. Jadi, kalau habis ini Indonesia, terutama Jakarta dan Jawa Barat, semakin kebanjiran pengusaha-pengusaha Tiongkok yang mau buka pabrik, Akang jangan heran ya.


Sejarah Tatanan Dunia dan Ancaman BRICS

[Sebenarnya kalau kita lihat langkah Donald Trump memberlakukan tarif resiprokal ini, tujuan sebenarnya bukan hanya sekadar menyeimbangkan kembali neraca perdagangan Amerika Serikat yang memang selama ini sering defisit terhadap negara-negara yang dulu dianggap negara berkembang. Amerika Serikat defisit terhadap Indonesia. Amerika Serikat juga defisit terhadap Tiongkok. Dalam artian, Amerika Serikat mengimpor barang terlalu banyak dari kedua negara ini dan bahkan mengimpor terlalu banyak dari negara-negara dunia ketiga lainnya.

Karena memang sejak tatanan dunia baru diberlakukan pasca perang dunia kedua berakhir, dunia memang dibagi-bagi menjadi tiga zona besar:

  • Zona pertama: Negara dunia pertama yang berisi negara-negara Barat yang maju dan berpendapatan tinggi, yakni Uni Eropa, Kanada, Australia, dan Amerika Serikat. Mereka ini menjadi negara produsen barang jadi dan menjadi pengekspor utama barang dan jasa ke seluruh dunia.
  • Zona kedua: Negara dunia kedua yang dulunya pasca perang dunia kedua menjadi negara pesaing Amerika Serikat. Zona kedua ini diisi oleh Uni Soviet, sekarang Rusia dengan sekutu-sekutu negara komunisnya seperti Tiongkok dan banyak negara komunis lain yang kaya raya. Tapi di tahun 1990-an, komunisme resmi berakhir dan negara dunia kedua secara de facto jadi tidak ada.
  • Zona ketiga: Negara dunia ketiga yang terdiri dari negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang dulunya merupakan bekas jajahan negara-negara Barat. Dan setelah Perang Dunia Kedua berakhir, mereka ditetapkan sebagai negara penghasil bahan baku dan buruh murah untuk industri-industri di Eropa dan Amerika Serikat.

Negara dunia ketiga ini memang secara de facto selalu dijaga agar ekonominya tidak pernah menyaingi negara-negara dunia pertama. Karena kalau ekonomi mereka meningkat, pendapatan naik, maka Barat kehilangan sumber bahan baku dan juga sumber tenaga buruh murah mereka sehingga harga produksi di Barat bisa meningkat tajam dan Barat bisa saja collapse.

Permainan mulai berganti ketika Tiongkok melakukan revolusi besar-besaran di tahun 1978. Sejak saat itu, Tiongkok yang merupakan negara komunis justru membuka diri seluas-luasnya terhadap pasar global. Mereka menawarkan tenaga kerja yang efisien dengan biaya murah dan etos kerja yang sangat tinggi. Sehingga, sejak saat itu, perusahaan-perusahaan Barat pelan-pelan memindahkan produksi mereka ke Tiongkok karena tenaga kerja di Barat sudah semakin mahal biayanya.

Ternyata siapa sangka, revolusi politik dan ekonomi yang dilakukan Tiongkok ternyata sudah membuat Tiongkok menjadi pabrik dunia dan membuat Tiongkok menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Bahkan sekarang pengaruh Tiongkok sudah mulai membahayakan Amerika Serikat. Baik Amerika Serikat maupun Tiongkok sudah sering terjebak dalam perlombaan ekonomi dan teknologi dan terlibat beberapa kali juga dalam perang dagang. Amerika Serikat harus berkali-kali menghambat Tiongkok supaya tidak tumbuh terlalu cepat. Sedangkan Tiongkok juga terus bertumbuh. Dia sangat fleksibel dan adaptif. Bahkan ketika terjadi pandemi COVID-19 pun yang menghantam ekonomi dan reputasi Tiongkok, Tiongkok tetap bisa bangkit lagi dan bahkan sekarang semakin menyalip kebesaran Amerika Serikat.

Bahkan sekarang dunia sudah mulai melihat. Di saat raksasa-raksasa teknologi Barat memulai terobosan, Tiongkok sudah lebih dulu menjadi inovator teknologi dengan segala kecanggihannya. Bahkan banyak orang yang bilang Tiongkok sudah hidup di 2050, di saat belahan dunia lain baru gagap mengadaptasi kecanggihan AI, robot, dan juga bentuk-bentuk teknologi canggih lainnya.

Kehadiran BRICS juga menjadi ancaman karena jika di total seluruh paritas daya beli negara-negara anggota BRICS ternyata mencapai hampir 50% dari seluruh paritas daya beli dunia atau global. Dalam sejarah perang dunia, baik perang dunia pertama maupun perang dunia kedua, perang besar pecah ketika dunia sudah terbagi dalam blok-blok atau aliansi, terutama aliansi militer dan ekonomi yang saling bertolak belakang satu sama lain. Selama ini aliansi militer dan ekonomi hanya ada dari sisi Barat. Ketika BRICS muncul, maka Amerika Serikat pun panik karena akhirnya dia dan sekutunya punya pesaing tangguh.

Jika BRICS dan Tiongkok tidak dihambat, maka bisa saja kemajuan mereka akan berkembang terlalu pesat. Apalagi jika ditambah dengan luka penjajahan masa lalu yang masih belum banyak sembuh dari negara-negara di Asia dan Afrika, yang mana negara-negara Asia dan Afrika ini ternyata juga banyak yang berminat untuk bergabung BRICS. Maka ini bisa menjadi pemicu pecahnya perang dunia yang lebih dahsyat lagi.


Siklus Peradaban dan Peran Indonesia

Memang sih sebuah peradaban itu ada siklusnya. Setiap 100 tahun sekali, tatanan dunia selalu berubah dengan negara adikuasa yang berbeda-beda menjadi pemimpin tatanan dunia yang baru. Tapi sebelum tatanan dunia yang baru berlaku, biasanya di depan ada kekacauan yang sangat besar dulu. Kekacauan ini biasanya terjadi dalam bentuk revolusi besar atau perang besar yang menewaskan banyak manusia dan akhirnya menyeret peradaban mau tidak mau harus membentuk tatanan dunia yang baru untuk mencapai titik keseimbangan yang baru.

Baca Juga  Kekalahan Ukraina Bisa Hancurkan Seluruh Eropa: Fakta Mengguncang yang Wajib Diketahui!

Memang sih saat ini kita sedang memasuki masa-masa akhir sebuah siklus tatanan dunia lama yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Itu artinya jika suatu saat terjadi kekacauan besar atau perang dunia lagi, kita harus siap karena memang begitu prosesnya. Tapi terjadinya kapan itu yang biasanya sedang dihambat. Dalam hal ini kita mungkin melihat Amerika Serikat begitu jahat dan serakah sampai-sampai tega menaikkan tarif resiprokal dengan jumlah yang sangat tinggi dan tiba-tiba. Di sisi lain, kita mungkin melihat bahwa Indonesia begitu bodoh karena tunduk pada tarif 19% Amerika Serikat dan justru kasih tarif 0% terhadap produk-produk Amerika Serikat.

Tapi yang tidak kita ketahui di baliknya, Amerika Serikat sedang menghambat terjadinya perang dunia ketiga agar tidak terjadi dalam waktu cepat. Karenanya dia harus menggembosi BRICS dan Tiongkok dulu, termasuk nanti juga menggembosi Rusia. Di sisi lain, Amerika Serikat mencoba mendesentralisasi kekuatan blok timur agar tidak terpusat dan bertumbuh terlalu cepat. Di sisi lain, Indonesia berhasil memainkan perannya sebagai penyeimbang dua kekuatan, yakni kekuatan Barat dan Timur. Meskipun Indonesia menjadi bagian dari BRICS, tapi dengan maunya Indonesia bekerja sama dengan Amerika Serikat terkait penetapan tarif terbaru, itu menjadi tanda bahwa Indonesia tidak memihak ke Timur, tapi tetap netral di antara polarisasi dunia.

Indonesia bisa menjadi harapan untuk mendesentralisasikan kekuatan dunia supaya tidak ada yang berkembang terlalu cepat dan memicu pecahnya perang dunia ketiga lebih cepat terjadi. Di sisi lain, Indonesia juga ternyata membangun kerja sama yang sangat memukau dengan Uni Eropa. Sekarang Indonesia mendapatkan tarif 0% untuk ekspor ke Uni Eropa dengan produk apa pun. Kerja sama dagang yang dulu sempat terhambat, penetapan tarif yang cukup besar dari Uni Eropa, sengketa di WTO terkait ekspor Crude Palm Oil sekarang sudah sirna. Indonesia menetapkan tarif 0%. Uni Eropa juga menetapkan tarif 0% terhadap produk-produk yang diimpor dari Indonesia. Sengketa kelapa sawit tidak ada lagi. Sekarang mereka bisa bekerja sama dagang untuk jual beli kelapa sawit dari Indonesia.

Sudah tidak ada lagi itu cerita-cerita bahwa kelapa sawit merusak lingkungan. Tidak ada lagi isu-isu bahwa hilirisasi Indonesia akan merusak lingkungan juga. Semua isu-isu perusakan lingkungan itu adalah bikinan negara-negara Barat yang tidak mau Indonesia melakukan hilirisasi karena mereka takut Indonesia bakalan menjadi seperti Tiongkok, yang akhirnya setelah menjadi pabrik dunia, Tiongkok kemudian berdiri sendiri, menentang Barat dan memantik banyak perang, bahkan terlibat dalam perang-perang proksi di beberapa negara di Asia atau di Timur Tengah.

Ingat, negara tujuan ekspor kedua dari Tiongkok adalah Uni Eropa. Dengan dibuatnya kesepakatan Ayu Sepa (mungkin maksudnya “EU-Indonesia CEPA” atau “Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa”) antara Indonesia dengan Uni Eropa yang membuat tarif keduanya menjadi 0% untuk ekspor-impor, maka pengusaha-pengusaha dari Tiongkok dan Eropa bisa berpindah ramai-ramai ke Indonesia untuk melakukan hilirisasi. Di sini mereka akan banyak buka pabrik di sini karena Indonesia tarifnya murah dan tenaga kerjanya juga masih murah. Sedangkan tenaga ahli dari kedua wilayah besar ini juga bebas masuk Indonesia dan semakin memberikan nilai tambah untuk industri kita.

Indonesia dengan diplomasinya, dengan kesepakatan-kesepakatan dagangnya, seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia bahwa perang akibat ekonomi itu tidak perlu. Kalau kita bisa bekerja sama dan berdagang dengan semuanya, kenapa kita tidak bekerja bersama-sama saja? Ini sebenarnya adalah jati diri Indonesia sebagai bangsa yang sangat spiritual. Indonesia adalah negara yang sangat feminin secara peradaban sehingga lebih suka untuk berkolaborasi ketimbang berperang.

Sekarang Indonesia sedang menunjukkan kekuatan diplomasi dan kolaborasinya. Ini nanti bisa semakin meningkat kalau orang-orang yang tercerahkan di Indonesia sudah semakin banyak yang bangkit dan mereka mulai mengisi posisi-posisi di pemerintahan, militer, intelijen, diplomatik, dan juga ekonomi. Nantinya semua jalan menuju Nusantara Mercusuar Dunia akan terbuka makin lebar lagi. Dan jangan heran setelah keseimbangan dagang ini terjadi maka nanti pelan-pelan isu tentang pemerintah korupsi, pemerintah merusak lingkungan, isu-isu yang menjelek-jelekkan hilirisasi, isu-isu yang menyangkut rasisme di Indonesia atau isu-isu politik lain atau isu SARA yang tampak absurd perlahan-lahan akan lenyap.

Kenapa bisa lenyap? Karena memang sebagian isu tersebut memang operasi intelijen asing untuk menghambat Indonesia jadi negara maju. Tapi waspada juga karena sekarang Indonesia mulai menarik keseimbangan dari dua blok. Bisa jadi pemain operasi intelijennya nanti bakalan berbeda. Pemainnya bisa saja nanti berganti menjadi negara yang gagal jadi negara industri besar atau dari negara yang gagal jadi adikuasa karena merasa iri pada Indonesia. Habis ini bisa jadi isu-isu pungli dan premanisme malah meningkat. Tujuannya apa? Yakni untuk membuat orang-orang takut berinvestasi di Indonesia dan akhirnya tetap investasi di Vietnam, di Singapura atau di Tiongkok saja.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x