Ada masa di hidup saya—tepatnya saat masih kuliah—di mana kegiatan menerjemahkan itu rasanya kayak kerja rodi. Bukan karena malas, tapi karena memang alat bantu saat itu belum semewah sekarang. Terjemahan bukan sekadar “pindah bahasa”, tapi benar-benar perjuangan: nyari kata satu per satu, ngebandingin arti, mikir struktur kalimat, sampai pusing sendiri karena hasilnya tetap terasa aneh.
Kalau ditarik lebih jauh lagi, terutama di awal 90-an, menerjemahkan itu hampir selalu identik dengan satu benda legendaris: kamus tebal. Buku kamus yang beratnya bisa bikin tas kuliah miring sebelah. Dan itu bukan satu jenis—kadang harus punya beberapa kamus: Inggris–Indonesia, Indonesia–Inggris, kamus istilah, sampai kamus bidang tertentu.
Waktu itu, kalau ada yang tanya “alat paling canggih untuk bantu terjemahan apa?” jawabannya mungkin bukan aplikasi, bukan software, apalagi AI. Yang paling modern saat itu adalah kalkulator Alpha Link, yang terasa sangat lumayan lah dibanding buka kamus tebal. Apalagi yang sudah dilengkapi dengan spelling. Buat generasi sekarang, mungkin kedengarannya lucu. Tapi dulu, punya Alpha Link itu rasanya sudah seperti punya teknologi masa depan.
Era “Software Terjemahan”: Mahal, Tapi Mengecewakan
Seiring waktu, muncul era baru: software terjemahan. Salah satu yang sempat terkenal adalah Transtools. Secara konsep, ini terdengar keren: tinggal masukin teks, lalu otomatis keluar terjemahan.
Masalahnya? Dua.
Pertama, harganya mahal.
Kedua, hasilnya… ya ampun.
Terjemahan yang keluar sering terasa seperti:
- kaku,
- tidak natural,
- salah konteks,
- dan kadang bikin makna berubah total.
Alih-alih membantu, kadang malah bikin kita harus kerja dua kali: memperbaiki hasil terjemahan yang berantakan.
Google Translate Muncul: Gratis, Tapi Masih “Kasar”
Lalu datanglah era awal Google Translate. Ini momen penting, karena untuk pertama kalinya banyak orang bisa menerjemahkan teks secara gratis dan instan, langsung dari internet.
Tapi jujur aja, di fase awal, kualitasnya juga belum jauh beda dari software generasi sebelumnya. Hasilnya memang cepat, tapi masih sering terasa:
- terlalu literal,
- terlalu “kata per kata”,
- struktur kalimat aneh,
- dan kadang gagal menangkap maksud.
Google Translate saat itu lebih mirip mesin pengubah kata, bukan mesin penerjemah yang paham bahasa.
Dari Mesin Terjemahan ke AI yang Paham Konteks
Nah, bagian menariknya dimulai di era sekarang.
Kita masuk ke fase di mana terjemahan tidak lagi hanya soal “mengganti bahasa”, tapi mulai mendekati sesuatu yang lebih manusiawi: paham konteks, paham gaya, paham maksud.
Dan ini terjadi karena satu hal: AI generatif.
Sekarang, Google Translate sendiri sudah mulai mengadopsi teknologi AI baru seperti Gemini, supaya hasilnya lebih natural, lebih masuk akal, dan lebih nyambung secara konteks.
Artinya, Google Translate sudah tidak lagi sekadar “mesin terjemahan klasik”. Ia mulai berkembang jadi penerjemah yang bisa memahami:
- idiom,
- ungkapan,
- konteks kalimat,
- bahkan gaya bahasa.
Tapi Buat Saya, Google Translate dan DeepL Bukan Lagi Pilihan Utama
Lucunya, meskipun Google Translate sekarang sudah jauh lebih bagus, saya justru makin jarang memakainya.
Bukan karena jelek. Tapi karena saya sudah menemukan alat yang lebih cocok untuk kebutuhan saya: ChatGPT dan Gemini.
Karena saya tidak cuma butuh “terjemahan”.
Saya butuh:
- terjemahan dokumen panjang,
- materi kuliah,
- bahan ajar sekolah,
- modul pembelajaran,
- atau artikel yang harus tetap enak dibaca.
Dan untuk hal seperti itu, AI percakapan jauh lebih unggul.
Kenapa ChatGPT & Gemini Lebih Enak Buat Terjemahan Dokumen?
Perbedaannya terasa banget.
Google Translate / DeepL biasanya hanya:
- menerima teks,
- mengubah bahasa,
- lalu selesai.
Sementara ChatGPT atau Gemini bisa melakukan lebih dari itu, misalnya:
- Terjemahkan sambil merapikan struktur kalimat
Jadi hasilnya nggak cuma benar, tapi juga enak dibaca. - Menyesuaikan gaya bahasa
Mau versi akademik? Versi santai? Versi untuk anak sekolah? Bisa. - Menjelaskan istilah sulit
Ini penting banget untuk materi kuliah. - Meringkas setelah diterjemahkan
Kadang kita bukan cuma butuh terjemahan, tapi juga ringkasan inti. - Konsisten dengan istilah
Dalam dokumen panjang, konsistensi istilah itu krusial.
DeepL Itu Bagus, Tapi Tidak Relevan Buat Semua Orang
Kalau bicara DeepL, banyak orang bilang kualitasnya unggul. Tapi itu biasanya berlaku untuk bahasa-bahasa Eropa seperti:
- Jerman,
- Prancis,
- Spanyol,
- Belanda,
- dan sejenisnya.
Sementara saya sehari-hari pakai:
- Bahasa Indonesia,
- Bahasa Inggris,
- Sunda,
- Jawa.
Di area itu, DeepL tidak punya keunggulan yang terasa. Bahkan untuk bahasa daerah seperti Sunda dan Jawa, Google Translate justru lebih relevan.
Tapi tetap saja, untuk dokumen dan materi pembelajaran, saya lebih nyaman pakai AI seperti ChatGPT atau Gemini.
Dulu Terjemahan Itu Perjuangan, Sekarang Tinggal Ngobrol
Kalau dipikir-pikir, perkembangan ini agak gila.
Dulu saya harus:
- buka kamus,
- nyari kata,
- nulis ulang,
- mikir struktur,
- lalu revisi.
Sekarang?
Saya tinggal bilang:
“Tolong terjemahkan ini ke Bahasa Indonesia yang akademik tapi mudah dipahami mahasiswa.”
Atau:
“Tolong ubah terjemahan ini jadi versi modul untuk anak SMA.”
Dan hasilnya bisa langsung jadi.
Penutup: Terjemahan Bukan Lagi Sekadar Bahasa, Tapi Pemahaman
Terjemahan hari ini sudah berubah.
Bukan lagi tentang seberapa cepat mesin mengganti kata, tapi seberapa baik teknologi memahami maksud manusia.
Dan buat saya pribadi, itulah kenapa saya lebih memilih AI seperti ChatGPT dan Gemini untuk dokumen, materi belajar, dan tulisan panjang.
Karena di titik ini, terjemahan yang paling berguna bukan yang paling cepat…
Tapi yang paling mengerti.




