Dari DBS ke VSI, PayTren, dan BEST: Kisah Panjang di Balik Lahirnya Eco Racing

Ada sebuah mata rantai dalam sejarah network marketing Indonesia yang menarik, tetapi jarang diceritakan secara utuh: DBS, VSI, Yusuf Mansur, PayTren, PT BEST, hingga Eco Racing.

Di permukaan, semuanya terlihat seperti cerita tentang perusahaan yang berbeda.

Tetapi jika ditarik ke belakang, terdapat satu nama yang terus muncul: Febrian Agung.

Dan semakin jauh ditelusuri, semakin menarik pertanyaannya:

Apakah PT BEST benar-benar lahir sebagai bisnis baru pada 2017, atau sebenarnya merupakan babak baru dari perjalanan bisnis yang sudah dimulai Febrian sejak era DBS?

Lebih menarik lagi, di tengah perjalanan tersebut ada PT Veritra Sentosa Internasional (VSI)—perusahaan yang kemudian dikenal luas masyarakat melalui nama PayTren dan Yusuf Mansur.

Di sinilah ceritanya mulai berkelok.


Bermula dari DBS

Sebelum ada BEST, sebelum ada Eco Racing, Febrian Agung sudah lebih dahulu membangun bisnis network marketing melalui DBS.

DBS berkembang dengan pendekatan yang pada zamannya cukup menarik: menggabungkan network marketing, komunitas, edukasi kewirausahaan, dan teknologi e-commerce.

Salah satu model yang digunakan adalah Customer Referral Program, dengan bisnis yang antara lain berkaitan dengan pulsa elektronik.

Ini adalah masa ketika internet dan media sosial belum seperti sekarang.

Belum ada TikTok.

Belum ada Instagram.

Facebook pun belum menjadi mesin pemasaran seperti sekarang.

Maka membangun jaringan berarti membangun komunitas dan hubungan personal.

Dalam konteks itulah pengalaman Febrian menjadi penting.

Ia bukan hanya berhadapan dengan produk, tetapi juga dengan pertanyaan yang jauh lebih besar:

Bagaimana mengubah komunitas menjadi jaringan bisnis?


Ketika DBS memasuki fase baru

Menurut salah satu sumber akademis yang menelusuri sejarah PT BEST, sekitar 2013 DBS kemudian bertransformasi menjadi PT VSI, dengan sistem bisnis yang masih membawa pola sebelumnya.

Di sinilah muncul sebuah persoalan sejarah yang menarik.

Sebab VSI ternyata bukan sekadar nama yang kebetulan sama dengan perusahaan yang kemudian dikenal sebagai PayTren.

VSI yang dimaksud adalah:

PT Veritra Sentosa Internasional.

Dan perusahaan inilah yang kemudian berkembang bersama Yusuf Mansur menjadi PayTren.

Namun, sejarah korporasinya ternyata tidak sesederhana narasi populer:

Yusuf Mansur mendirikan VSI → kemudian lahir PayTren.

Ada fase sebelumnya yang melibatkan Febrian Agung.


Febrian dan Yusuf Mansur

Pada periode sekitar 2013, Febrian dan Yusuf Mansur diketahui pernah mempunyai hubungan bisnis.

Ini bukan lagi sekadar dugaan berdasarkan kesamaan nama perusahaan.

Dalam berbagai pemberitaan dan pernyataan Febrian pada tahun-tahun berikutnya, ia menyebut dirinya pernah menjadi mitra bisnis Yusuf Mansur.

Pada periode tersebut, Febrian sudah mempunyai pengalaman membangun sistem bisnis berbasis jaringan dan teknologi.

Sementara Yusuf Mansur memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dunia network marketing:

komunitas.

Yusuf sudah mempunyai basis jamaah dan komunitas yang besar.

Secara bisnis, kombinasi keduanya sangat menarik.

Satu pihak memiliki sistem dan infrastruktur bisnis.

Pihak lainnya mempunyai komunitas yang besar dan loyal.

Jika keduanya dipadukan, tentu potensinya luar biasa.


Sebuah model yang lebih besar daripada sekadar menjual produk

Menurut cerita yang saya dapat dari salah satu partner bisnis saya yang berada dalam ekosistem tersebut pada masa itu, Febrian memang pernah menawarkan sebuah pola kerja sama kepada pemilik komunitas besar.

Gambaran sederhananya kira-kira:

Anda punya komunitas.

Saya punya sistem.

Saya punya teknologi.

Saya punya pengalaman network marketing.

Kemudian semuanya digabungkan menjadi sebuah bisnis jaringan.

Cerita tersebut juga menyebut bahwa pendekatan seperti itu tidak hanya diarahkan kepada satu komunitas.

Jika benar, maka strategi Febrian saat itu sebenarnya cukup mudah dipahami.

Ia tidak harus membangun komunitas dari nol.

Ia dapat menggandeng komunitas yang sudah memiliki massa, kemudian menyediakan kendaraan bisnis dan sistemnya.

Dan salah satu komunitas yang kemudian mempunyai hubungan dengan Febrian adalah lingkungan Yusuf Mansur.


Lahirnya VSI dan kemudian PayTren

PT Veritra Sentosa Internasional berdiri pada 2013.

Yusuf Mansur kemudian menjadi figur yang sangat dominan dalam pengembangan bisnis tersebut.

Dari sinilah kemudian lahir dan berkembang PayTren.

Tetapi terdapat satu bagian sejarah yang sering luput dari perhatian:

Febrian pernah menyatakan bahwa ia menyedekahkan perusahaan tersebut kepada Daarul Qur’an.

Dalam berbagai pernyataannya, Febrian mengatakan bahwa perusahaan itu pada akhirnya diberikan untuk kepentingan dakwah dan pesantren.

Kemudian perusahaan tersebut dikembangkan oleh Yusuf Mansur.

Baca Juga  Blogging Masih Cerah di 2026? Ini Jawaban Jujur Seorang Blogger yang Akhirnya Belajar Bikin Video

Di sinilah terjadi perubahan besar.

Apa yang awalnya merupakan sebuah kendaraan bisnis berbasis network marketing dan e-commerce kemudian berkembang menjadi ekosistem PayTren yang dikenal masyarakat luas.


Lalu bagaimana hubungan mereka berakhir?

Di sinilah kita memasuki wilayah yang harus diberi tanda khusus.

Tidak semua bagian cerita ini mempunyai dokumentasi publik yang cukup untuk memastikan detailnya.

Ada cerita dari orang-orang yang berada di sekitar ekosistem bisnis tersebut bahwa hubungan Febrian dan Yusuf kemudian tidak berjalan seperti yang diharapkan Febrian.

Ada pula pernyataan Febrian pada kemudian hari yang menunjukkan adanya persoalan mengenai bagaimana perusahaan yang ia serahkan tersebut kemudian dikembangkan.

Tetapi saya tidak ingin mengubah berbagai cerita tersebut menjadi sebuah kesimpulan yang belum terbukti.

Yang bisa kita katakan dengan lebih aman adalah:

Febrian akhirnya tidak lagi berada di VSI.

Dan beberapa tahun kemudian, ia kembali membangun perusahaan baru.

Namanya:

PT Bandung Eco Sinergi Teknologi — BEST.


“Kalau begitu, saya bikin lagi yang baru.”

Di titik inilah saya punya sebuah interpretasi pribadi.

Saya tentu tidak tahu apa yang sebenarnya ada di kepala Febrian ketika hubungan bisnis tersebut berakhir.

Saya juga tidak memiliki bukti bahwa ia pernah mengucapkan kalimat berikut.

Tetapi kalau harus menggambarkan secara sederhana kemungkinan sikapnya, mungkin kira-kira begini:

“Ya sudah, silakan lo jalanin sendiri sistem yang sudah gue bikin. Gue bikin lagi aja yang baru.”

Catatan penting: kalimat tersebut adalah imajinasi saya sebagai penulis, bukan kutipan Febrian.

Tetapi sebagai gambaran perjalanan bisnis, kalimat itu terasa menarik.

Sebab Febrian memang kemudian melakukan sesuatu yang sangat mirip dengan itu:

ia membangun kembali.


2017: Lahirnya PT BEST

Pada 2017 berdirilah:

PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST).

Febrian kembali mempunyai kendaraan bisnis sendiri.

Dan kali ini ia tidak datang dengan tangan kosong.

Ia sudah membawa pengalaman bertahun-tahun:

  • membangun jaringan;
  • mengelola komunitas;
  • mengembangkan sistem referral;
  • menjalankan e-commerce;
  • membangun infrastruktur IT;
  • menyusun marketing plan;
  • dan mengembangkan produk.

Pengalaman dari era DBS dan VSI menjadi modal yang sangat besar.

Tetapi ada satu hal lain yang ternyata menjadi bagian penting dari cerita BEST:

produk.


Dari Hi-Octan menuju DBS Pro

Kalau cerita ini benar-benar kita tarik sampai ke akarnya, perjalanan produk yang kemudian dikenal sebagai Eco Racing ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar sejarah PT BEST.

Jejaknya membawa kita kembali kepada Hi-Octan, sebuah produk yang berkembang dari ekosistem komunitas Hikmatul Iman, yang kemudian bertransformasi menjadi Lanterha. Pada masa awalnya, Hi-Octan masih hadir dalam bentuk cair dan telah digunakan dalam lingkungan komunitas tersebut sejak tahun 2010 akhir.

Dari sinilah cerita kemudian bersinggungan dengan perjalanan bisnis Febrian Agung dan DBS.

Di luar aktivitasnya sebagai pengusaha, Febrian ternyata memiliki ketertarikan yang cukup kuat pada dunia otomotif. Ia kerap mengikuti berbagai event otomotif, termasuk kegiatan yang bernuansa motocross. Ketertarikannya pada dunia kendaraan inilah yang kemudian membuka jalan menuju sebuah perjalanan panjang yang kelak melahirkan Eco Racing.

Pada awalnya, Febrian sebenarnya memiliki rencana untuk memasukkan produk penghemat bahan bakar berbasis minyak atsiri ke dalam jajaran produk fisik DBS. Namun, sebuah pertemuan dengan salah satu tokoh di dunia otomotif kemudian mengubah arah rencana tersebut.

Dari perkenalan itulah Febrian kemudian mengenal Hi-Octan.

Pertemuan berikutnya dengan Angga Satria dan rekan-rekannya di Tim Furete (Fuel Revolution Team) menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Dari sinilah sebuah gagasan tentang produk penghemat bahan bakar mulai menemukan bentuknya dalam ekosistem bisnis yang lebih besar.

Bisa dikatakan, pertemuan Febrian dengan Angga Satria dan kawan-kawan di Fuel Revolution Team merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah panjang yang pada akhirnya melahirkan Eco Racing.

Sebuah pertemuan yang pada saat itu mungkin terlihat biasa saja, tetapi kelak membawa konsekuensi yang jauh lebih besar: sebuah produk yang awalnya dikenal dalam bentuk cair kemudian mengalami perjalanan, pengembangan, dan transformasi hingga akhirnya dikenal luas dengan nama Eco Racing.

Febrian, yang saat itu membangun ekosistem DBS (Duta Business School), pernah mencoba membawa produk Hi-Octan ke dalam ekosistem bisnisnya. Produk tersebut kemudian dikenal dengan nama DBS Pro. Ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan produk tersebut—dari sebuah produk yang berkembang di lingkungan komunitas, kemudian masuk ke dalam ekosistem network marketing yang lebih terstruktur.

Baca Juga  Perbandingan ECO RACING, MICS1 RACING FUEL, dan RACING POWER MACHINE

Namun perjalanan produk tidak berhenti pada bentuk cair.

Terjadi proses pengembangan lebih lanjut untuk mencari bentuk produk yang lebih praktis, mudah didistribusikan, dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Dari sinilah kemudian muncul transformasi menuju bentuk tablet.

Dan pada fase berikutnya, lahirlah Eco Racing.

Eco Racing kemudian berkembang jauh lebih besar. Produk tersebut bukan hanya menjadi salah satu produk dalam jaringan bisnis, tetapi perlahan menjadi identitas yang sangat kuat bagi PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST). Nama BEST bahkan kemudian begitu lekat dengan Eco Racing, terutama di kalangan pelaku network marketing dan komunitas pengguna produk tersebut.

Namun lagi-lagi, perjalanan belum berhenti.

Dari Eco Racing, PT BEST kemudian membangun dan mengembangkan berbagai kategori produk lainnya. Ekosistemnya semakin luas, tidak hanya berkaitan dengan otomotif, tetapi juga merambah ke berbagai bidang seperti kesehatan, kecantikan, pertanian, peternakan, dan produk konsumen lainnya.

Dengan demikian, BEST bukan sekadar menjadi perusahaan yang memasarkan satu produk. Ia berkembang menjadi sebuah perusahaan sekaligus jaringan bisnis yang membesarkan berbagai produk melalui sistem network marketing.

Dan kemudian kita sampai pada fase yang lebih baru: Brilian.

Brilian dapat dilihat sebagai fase baru dalam perjalanan ekosistem bisnis tersebut. Dengan fondasi pengalaman yang telah dibangun sejak era DBS dan BEST, sistem bisnis kemudian dikembangkan kembali dengan pendekatan yang lebih modern dan dukungan teknologi digital yang semakin kuat.

Jika seluruh perjalanan tersebut dirangkai dalam satu garis besar, kita bisa melihat sebuah evolusi:

Hi-Octan → DBS Pro → pengembangan bentuk produk → Eco Racing → BEST → Brilian.

Tentu, setiap tahap memiliki cerita, aktor, konteks, dan persoalannya sendiri. Karena itu, garis perjalanan tersebut tidak boleh dipahami sebagai sekadar pergantian nama produk atau perusahaan. Ada proses panjang di baliknya—mulai dari komunitas, pengembangan produk, perubahan bentuk, strategi pemasaran, teknologi, hingga pembangunan jaringan bisnis.

Dengan demikian, Eco Racing bukan sekadar sebuah produk otomotif.

Ia merupakan salah satu jejak dari perjalanan panjang dunia network marketing Indonesia. Sebuah perjalanan yang mempertemukan komunitas, produk, teknologi, sistem bisnis, dan manusia—yang dari waktu ke waktu berpindah dari satu kendaraan bisnis ke kendaraan berikutnya.

Dan mungkin justru di situlah bagian paling menarik dari sejarahnya.

Karena ketika kita melihat Eco Racing hanya sebagai sebuah produk, kita hanya melihat hasil akhirnya.

Tetapi ketika kita menelusuri jejaknya ke belakang, kita mulai melihat sebuah perjalanan panjang tentang bagaimana sebuah produk berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain, mengalami perubahan bentuk, masuk ke dalam sistem bisnis yang berbeda, lalu akhirnya tumbuh menjadi bagian dari sebuah jaringan yang jauh lebih besar.

Dari produk cair ke tablet

Perubahan bentuk produk inilah yang menjadi bagian menarik dari cerita.

Hi-Octan pada masa awal dikenal sebagai produk cair.

DBS Pro juga masih berada dalam bentuk cair.

Kemudian muncul pengembangan menuju bentuk yang lebih praktis.

Dan akhirnya lahirlah produk yang kemudian menjadi salah satu identitas paling kuat PT BEST:

Eco Racing dalam bentuk tablet.

Produk tablet memiliki keuntungan dari sisi distribusi.

Lebih mudah dibawa.

Lebih mudah dikemas.

Lebih mudah dihitung dalam transaksi.

Dan tentu saja jauh lebih mudah dijadikan produk dalam sistem network marketing.

Di titik ini terjadi pertemuan antara:

teknologi produk

dan

teknologi jaringan.

Dan kombinasi inilah yang kemudian menjadi kekuatan BEST.


Eco Racing menjadi identitas BEST

Selama bertahun-tahun, nama Eco Racing menjadi sangat identik dengan PT BEST.

Jika seseorang menyebut BEST, banyak orang langsung teringat Eco Racing.

Jika seseorang menyebut Eco Racing, banyak orang langsung mengaitkannya dengan BEST.

Produk ini kemudian menjadi pintu masuk bagi pengembangan berbagai kategori produk lainnya.

BEST tidak berhenti pada otomotif.

Portofolionya berkembang menuju:

kesehatan, kecantikan, pertanian, peternakan, dan berbagai produk konsumen lainnya.

Dengan demikian, pengalaman Febrian dari era DBS kembali terlihat:

produk + sistem + komunitas + teknologi.


Lalu muncul Brilian

Beberapa tahun kemudian, muncul identitas baru:

Brilian Biz.

Ini yang kemudian menimbulkan pertanyaan baru.

Apakah Brilian merupakan perusahaan baru?

Sejauh data yang dapat ditelusuri, lebih tepat melihat Brilian sebagai pengembangan/rebranding sistem bisnis PT BEST, bukan sekadar lahirnya badan hukum baru yang menggantikan BEST.

Baca Juga  Disrupsi Generative AI: Pelajaran dari Korban Pertama dan Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan

Platform Brilion bahkan masih secara eksplisit menyebut dirinya membantu kebutuhan mitra PT BEST.

Dengan demikian:

PT Bandung Eco Sinergi Teknologi tetap menjadi badan hukum penting dalam cerita ini.

Brilian lebih tepat dipahami sebagai fase baru dari ekosistem bisnisnya.


Tetapi ada satu persoalan yang jauh lebih sensitif

Di sinilah cerita Brilian menjadi menarik bagi para leader lama.

Sebelum perubahan tersebut, marketing plan BEST menggunakan sistem pencapaian berbasis poin/pasangan.

Dan salah satu karakter penting sistem tersebut adalah poin yang terakumulasi untuk mencapai reward berikutnya.

Misalnya:

TORCASH

kemudian:

MOCASH

dan seterusnya.

Artinya, bagi seorang leader yang telah mengumpulkan ratusan pasangan, pencapaian tersebut mempunyai nilai ekonomi dan psikologis yang sangat besar.

Bayangkan seorang leader sudah berada pada:

300 → 320 → 340 pasangan.

Ia tinggal sedikit lagi menuju MOCASH.

Kemudian sistem berubah.

Jika benar pencapaian lama tidak seluruhnya dikonversikan ke sistem baru, maka bagi leader tersebut masalahnya bukan sekadar:

“Aplikasi baru.”

Masalahnya adalah:

“Bagaimana dengan hasil kerja saya selama bertahun-tahun?”

Ini adalah persoalan yang jauh lebih fundamental.


BEST → Brilian: apakah ini “restart”?

Saya belum ingin mengatakan bahwa Brilian melakukan reset poin secara resmi terhadap seluruh member lama tanpa pengecualian, karena untuk menyatakan hal tersebut kita membutuhkan dokumen resmi perusahaan mengenai mekanisme transisi.

Tetapi apabila keluhan para leader tersebut benar, maka terdapat sebuah pola sejarah yang menarik:

DBS → VSI

kemudian:

VSI → PayTren

kemudian:

Febrian keluar → BEST

dan sekarang:

BEST → Brilian.

Dalam dua titik berbeda, terjadi sesuatu yang secara psikologis bisa dirasakan sebagai memulai babak baru.

Dan di sinilah sejarah lama bertemu dengan persoalan hari ini.


Apakah sejarah sedang berulang?

Saya tidak tahu.

Tetapi ada sebuah pola yang sulit untuk tidak diperhatikan.

Febrian memiliki perjalanan:

DBS

VSI

BEST

Brilian

Setiap fase membawa pengalaman dari fase sebelumnya.

Sistemnya berkembang.

Produknya berubah.

Teknologinya berubah.

Pasarnya berubah.

Komunitasnya berubah.

Tetapi satu hal tetap:

network marketing.

Dan mungkin justru itulah inti seluruh perjalanan tersebut.

Bukan tentang satu nama perusahaan.

Bukan tentang satu produk.

Bukan pula tentang satu marketing plan.

Melainkan tentang bagaimana seorang entrepreneur mencoba berkali-kali menemukan bentuk terbaik dari sebuah mesin bisnis:

produk → komunitas → sistem → teknologi → jaringan.


Dari Hi-Octan ke Eco Racing

Kalau cerita ini benar-benar kita tarik sampai ke akarnya, maka perjalanan produknya bahkan lebih panjang:

Hi-Octan

→ produk dari ekosistem komunitas Hikmatul Iman/Lanterha

DBS Pro

→ upaya membawa produk tersebut ke dalam ekosistem DBS

pengembangan bentuk produk

Eco Racing

→ produk yang kemudian menjadi ikon BEST

BEST

→ perusahaan dan jaringan yang membesarkan produk tersebut

Brilian

→ fase baru ekosistem bisnisnya.

Dengan demikian, Eco Racing bukan sekadar sebuah produk otomotif.

Ia merupakan salah satu jejak dari perjalanan panjang dunia network marketing Indonesia—perjalanan yang mempertemukan komunitas, produk, teknologi, bisnis jaringan, dan orang-orang yang berpindah dari satu kendaraan bisnis ke kendaraan berikutnya.


Epilog: Ada sejarah yang belum selesai

Cerita ini masih menyisakan banyak pertanyaan.

Apa sebenarnya bentuk hubungan awal Febrian dengan Yusuf Mansur?

Apa posisi Febrian dalam struktur PT VSI pada awal berdirinya?

Bagaimana tepatnya proses pengalihan VSI kepada Daarul Qur’an berlangsung?

Apa yang menyebabkan Febrian akhirnya meninggalkan VSI?

Seberapa besar pengaruh pengalaman VSI terhadap lahirnya BEST?

Dan yang tidak kalah menarik:

seberapa jauh produk Hi-Octan benar-benar menjadi cikal bakal DBS Pro dan kemudian Eco Racing?

Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan dokumen dan kesaksian lebih lanjut.

Sebab sejarah bisnis network marketing Indonesia sering kali tidak tersimpan dalam buku sejarah.

Ia tersimpan dalam:

brosur lama, website yang sudah mati, screenshot, dokumen marketing plan, rekaman seminar, posting Facebook lama, dan—yang paling berharga—ingatan orang-orang yang pernah berada di dalamnya.

Dan kadang-kadang, justru dari serpihan-serpihan itulah kita bisa melihat gambaran besarnya.

DBS.

VSI.

PayTren.

BEST.

Eco Racing.

Brilian.

Mungkin semuanya bukan cerita yang berdiri sendiri.

Mungkin semuanya adalah bab-bab berbeda dari satu perjalanan panjang.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x