Empat Pendekar Ciremai mengisahkan sepak terjang Kinong, Kartawan, Thomas, dan Mang Pe’i setelah mereka turun gunung. Keempatnya bukan lagi pemuda biasa. Mereka telah dibekali dengan jurus-jurus khusus yang disesuaikan dengan hewan kesayangan masing-masing.
Kinong menguasai Jurus Burung Beo, Kartawan dengan Jurus Lumba-Lumba, Thomas menguasai Jurus Kucing sekaligus memiliki kemampuan mata batin yang mampu menembus benda, sementara Mang Pe’i dibekali dengan Jurus Bebek.
Keempat pendekar inilah yang kelak, ketika telah dewasa, dikenal dengan julukan yang begitu melegenda: Malaikat Bayangan.
Sinopsis
Perseteruan antara Keluarga Liem Boen di Krawang dan Keluarga Louw Liong San semakin memanas. Karena putra mereka, Liem Boen Bie, telah dicelakai, keluarga Liem Boen mengutus Bu Beng dan Chuan Chin untuk membawa surat tantangan pibu kepada Louw Liong San. Namun, bukannya menerima tantangan tersebut dengan kesatria, Louw Liong San justru murka. Kedua utusan itu disiksa secara kejam hingga hidung dan telinga mereka dipotong.
Babah Louw Liong San sendiri merupakan seorang tuan tanah yang memiliki pengaruh besar di daerah sekitar Cirebon. Ia juga dikenal sangat dekat dengan pihak kumpeni. Salah satu jasa besarnya kepada Belanda adalah membantu menangkap Bajing Ireng.
Pada suatu siang, rumah Wong Kun Lun diobrak-abrik oleh sekelompok pendekar bayaran yang bekerja atas perintah pihak kumpeni. Rumah tersebut disita dan rencananya akan diberikan sebagai hadiah kepada Babah Louw. Tak punya pilihan lain, Wong Kun Lun bersama putrinya, Mei Ling, terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengembara mencari tempat tinggal baru.
Di tempat lain, tiga pendekar cilik—Kinong, Kataran, dan Mang Pi’i—tiba di daerah Sunyaragi, Cerbon. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Kandanghaur setelah turun gunung. Selama tiga tahun, mereka memperdalam ilmu silat di pegunungan Ciremai di bawah bimbingan Ki Denggol dan Ki Luncup.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Ki Secang dan Ki Cupang, dua seniman topeng monyet yang sedang dirundung kesedihan karena monyet kesayangan mereka mati. Ketiga pendekar cilik itu kemudian bersepakat membantu kedua orang tua tersebut mencari nafkah dengan mengamen.
Mang Pi’i yang bertubuh kurus dan bergigi tonggos bahkan harus melakukan penyamaran yang kocak dengan berperan sebagai seorang waria.
Namun, perjalanan mereka ternyata tidak berlangsung tenang.
Kidang Talun, pendekar cilik pemilik dua keris kembar, terus berusaha membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuanya, Wadul Angkara dan Dewi Seriti. Kedua orang tuanya yang berasal dari golongan hitam tewas dibunuh oleh Ki Denggol dan Ki Luncup.
Kesempatan untuk membalas dendam akhirnya datang. Kidang Talun memasukkan racun ke dalam nasi yang kemudian dimakan oleh Kinong dan Kataran. Kedua pendekar muda itu pun jatuh tak berdaya.
Mang Pi’i berusaha menghadapi Kidang Talun. Dengan Jurus Bebek yang menjadi andalannya, ia berhasil mengalahkan Kidang Talun. Namun, sang pendekar cilik berhasil melarikan diri.
Kesedihan Mang Pi’i akhirnya berubah menjadi kelegaan setelah mengetahui bahwa Ki Secang dan Ki Cupang berhasil mengobati Kinong dan Kataran yang terkena racun.
Sementara itu, perjalanan Wong Kun Lun dan Mei Ling akhirnya membawa mereka ke daerah Kandanghaur.
Di dalam benteng pertahanan Kandanghaur, Karta dan Ranti setiap hari menghitung waktu dengan penuh kerinduan. Sudah tiga tahun putra mereka, Kataran, pergi memperdalam ilmu silat di Gunung Ciremai. Kini mereka hanya bisa berharap sang anak segera kembali.
Di tengah penantian itu, latihan silat para pendekar di dalam benteng Kandanghaur terus berlangsung. Mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memperkuat perjuangan melawan pihak kumpeni.
Kekuatan Kandanghaur pun bertambah setelah Wong Kun Lun dan Mei Ling bergabung. Atas jaminan Roijah, istri Parmin alias Pendekar Jaka Sembung, Babah Wong dan putrinya diterima sebagai bagian dari keluarga besar Kandanghaur.
Namun, di saat yang sama, sebuah kejutan besar terjadi di karisidenan.
Malam itu, kedatangan Thomas, putra tiri residen yang selama ini dianggap telah meninggal, membuat karisidenan gempar. Thomas ternyata masih hidup. Ia datang bersama seorang pria bernama Petrus, yang selama ini dikenal sebagai pamannya—padahal sesungguhnya Petrus adalah ayah kandung Thomas.
Kisah masa lalu mereka menyimpan tragedi yang kelam.
Bertahun-tahun sebelumnya, Petrus merupakan kekasih sang nyonya residen. Demi mendapatkan sang nyonya, tuan residen menyiksa Petrus dan menghancurkan wajahnya. Ia mengira Petrus telah mati.
Namun, Petrus ternyata masih hidup.
Lebih mengejutkan lagi, anak kandung Petrus dan sang nyonya yang selama ini dianggap telah dibunuh ternyata juga masih hidup. Anak itu adalah Thomas.
Malam itu, karisidenan berubah menjadi lautan darah. Tuan residen akhirnya tewas di tangan Jaka Sembung. Sementara Petrus dan nyonya residen, sepasang kekasih dari masa lalu sekaligus orang tua kandung Thomas, juga harus menghembuskan napas terakhir.
Sebelum meninggal, keduanya menitipkan Thomas kepada Jaka Sembung.
Thomas kemudian bergabung dengan Kinong, Kataran, dan Mang Pi’i.
Empat pendekar muda inilah yang kelak dikenal sebagai Empat Pendekar Ciremai.
Dengan demikian, tugas rahasia Ki Secang dan Ki Cupang pun berakhir. Keduanya sengaja menyamar sebagai pengamen untuk mengawal dan menjaga keselamatan ketiga pendekar muda dari Gunung Ciremai hingga mereka tiba di Kandanghaur.
Lalu bagaimana dengan Kidang Talun?
Seiring berjalannya waktu, Kidang Talun mulai menyadari siapa sebenarnya kedua orang tuanya, Wadul Angkara dan Dewi Seriti—sepasang pendekar dari golongan hitam yang telah menempuh jalan kehidupan mereka sendiri.
Kesadaran itu perlahan mengubah hatinya.
Kidang Talun akhirnya meninggalkan dendamnya dan memilih berdamai. Ia bahkan kemudian bersahabat dengan Empat Pendekar Ciremai.
Mereka semua kini bersiap melanjutkan perjalanan menuju benteng pertahanan perjuangan di Kandanghaur.
Sementara itu, Jaka Sembung bersama Awom bergerak ke selatan Cerbon untuk melanjutkan penyelidikan terhadap pihak kumpeni.
Namun, di balik semua peristiwa tersebut, masih tersimpan pertanyaan besar.
Bagaimana kelanjutan rencana pibu antara keluarga Louw dan keluarga Liem dari Krawang?
Bagaimana nasib Babah Wong Kun Lun dan Mei Ling setelah mereka menjadi bagian dari keluarga besar Kandanghaur?
Dan yang tak kalah penting…
Perjalanan seperti apa yang akan ditempuh Empat Pendekar Ciremai sebelum akhirnya nama mereka dikenal sebagai para pendekar yang melegenda?




