Beberapa tahun lalu, sekitar tahgun 2016, ada satu produk kecil berbentuk pil yang sempat bikin geger dunia otomotif dan bisnis jaringan di Indonesia: Eco Racing.
Sebagian orang menyebutnya inovasi anak bangsa.
Sebagian lagi menganggapnya overhype MLM.
Dan di tengah semua itu, ada cerita panjang yang jauh lebih kompleks dari sekadar produk penghemat BBM.
Mari kita tarik dari awal.
Awalnya Bukan Eco Racing
Sebelum nama Eco Racing viral, ada produk bernama Hi-Octan dalam bentuk cair.Hi-Octan sendiri awalnya diproduksi sekitar tahun 2010. Produk ini awalnya hanya beredar di kalangan komunitas terbatas, komunitas Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman. Banyak orang menyangka bahwa produk ini bernama Hi-Octan, dengan awal HI, yang juga identik dengan Hikmatul Iman. Namun menurut inovatornya, Hi-Octan itu sendiri berasal dari kata High-Octan, atau Oktan tinggi. Ada cerita lain tentang Hi-Octan yang saya ceritakan di dalam video lain. Link deskripsi saya tuliskan di dalam deskripsi ya…
Di kalangan praktisi otomotif Bandung dan sekitarnya, Hi-Octan cair dikenal sebagai produk yang performanya diakui. Produk ini disebut pernah diuji di laboratorium, pada masa bensin Premium beroktan 88. Hasilnya menunjukkan peningkatan RON dari 88 menjadi 92.
Kalau data ini akurat, itu bukan peningkatan kecil.
Artinya, secara teknis, produk cair tersebut memang punya dasar performa yang bisa dibuktikan.
Masalahnya bukan di kualitas.
Masalahnya ada di distribusi.
Hi-Octan cair mudah menguap. Banyak botol bocor saat pengiriman jarak jauh. Ekspedisi pun sering menolak pengiriman cairan mudah terbakar. Untuk bisnis skala nasional, ini jelas jadi hambatan serius.
Dari Cair ke Tablet: Titik Balik Strategis
Transformasi besar mulai terjadi pada fase inilah. Pada awal kemunculannya, Hi-Octan dipasarkan secara sederhana melalui jalur konvensional. Lingkup pemasarannya masih terbatas pada komunitas-komunitas tertentu dan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.
Seiring berkembangnya internet di Indonesia, para penggunanya mulai memanfaatkan berbagai platform digital yang saat itu sedang populer. Produk Hi-Octan mulai diperkenalkan melalui forum Kaskus, Facebook, hingga BlackBerry Messenger (BBM), jauh sebelum WhatsApp menjadi aplikasi perpesanan utama. Komunitas pedagang online yang mulai bermunculan menjadi salah satu motor penyebaran informasi mengenai produk ini.
Tahap berikutnya menjadi titik penting dalam perjalanan bisnis Hi-Octan. Produk ini kemudian dipasarkan menggunakan sistem Network Marketing melalui sebuah perusahaan bernama Ganesha e-Commerce Solution. Pada masanya, Ganesha menjadi kendaraan yang memperkenalkan Hi-Octan kepada jaringan distributor yang lebih luas. Namun, perjalanan perusahaan tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 2014, Ganesha e-Commerce Solution menghentikan operasinya.
Berakhirnya Ganesha bukan berarti perjalanan Hi-Octan ikut berhenti. Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh sebuah perusahaan baru bernama 3ForS, yang diinisiasi oleh Kang Ridwan Soleh Suriadi Nata, Rimbo Asmoro, dan Haji Firdaus Haryo Lukito. Melalui perusahaan ini, upaya membangun jaringan distribusi kembali dilakukan dengan semangat baru. Sayangnya, usia 3ForS juga tidak panjang. Kurang dari dua tahun kemudian, perusahaan tersebut harus menghentikan operasinya akibat konflik dan perpecahan internal di jajaran manajemen yang berpusat di Semarang.
Meski demikian, kisah Hi-Octan belum berakhir. Tidak lama setelah itu, informasi mengenai produk ini mulai dikenal oleh komunitas member DBS (Duta Business School), salah satu jaringan MLM berbasis isi ulang pulsa elektronik yang pada masanya merupakan yang terbesar di Indonesia. Melalui komunitas inilah Hi-Octan kembali mendapatkan panggung baru. Bahkan, jauh sebelum nama Eco Racing dikenal luas, produk ini sempat dipasarkan di lingkungan DBS dengan nama DBS Pro.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sebelum menjadi produk yang dikenal banyak orang, Hi-Octan telah melewati berbagai fase transformasi, berganti kendaraan bisnis, dan beradaptasi dengan perubahan zaman—mulai dari pemasaran komunitas, forum internet, media sosial generasi awal, hingga berbagai perusahaan Network Marketing yang silih berganti.
Febrian Agung Budi Prastyo, alumni Teknik Kimia ITB yang mendirikan PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST) pada 2016, disebut mendapatkan inspirasi dari aditif bensin berbentuk tablet yang ia temukan dari Malaysia.
Babak baru dimulai ketika Febrian Agung Budi Prastyo, alumni Teknik Kimia ITB sekaligus pendiri PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST) pada tahun 2016, melihat sebuah peluang yang belum banyak dilirik. PT BEST sendiri merupakan transformasi dari PT Duta for Future yang sebelumnya dikenal luas dengan nama DBS (Duta Business School).
Menurut berbagai penuturan yang beredar di kalangan pelaku industri, inspirasi tersebut muncul setelah ia menemukan aditif bensin berbentuk tablet dari Malaysia. Gagasan itu memunculkan sebuah pertanyaan sederhana namun sangat strategis: mengapa aditif bahan bakar harus selalu berbentuk cair?
Dari sinilah lahir sebuah konsep yang kemudian menjadi titik balik.
Jika bentuk cair menyulitkan distribusi, mengapa tidak dibuat menjadi padat?
Bentuk tablet menawarkan berbagai keunggulan. Produk menjadi lebih stabil selama penyimpanan, lebih aman dalam proses pengiriman, lebih praktis dibawa, dan jauh lebih mudah diproduksi serta didistribusikan dalam skala bisnis yang lebih besar.
Gagasan tersebut kemudian didiskusikan secara intensif bersama Hedy Ardenia Octaviano, alumni ITB sekaligus inovator di balik Hi-Octan. Serangkaian riset dan pengembangan pun dimulai untuk mengubah formulasi Hi-Octan dari bentuk cair menjadi tablet tanpa menghilangkan fungsi utamanya.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah prototipe pertama Hi-Octan dalam bentuk tablet. Produk ini kemudian dikemas secara eksklusif untuk PT BEST sebagai bagian dari strategi membangun identitas produk yang baru.
Momen inilah yang kemudian dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam lahirnya Eco Racing. Dari sebuah ide sederhana mengenai perubahan bentuk produk, berkembang sebuah inovasi yang tidak hanya mengubah cara distribusi, tetapi juga membuka jalan bagi model bisnis yang mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas.
2017–2018: Ketika Eco Racing Meledak di Pasar
Memasuki tahun 2017 hingga 2018, nama Eco Racing melesat dengan sangat cepat. Produk yang dipasarkan dalam bentuk tablet aditif bahan bakar ini mulai dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam berbagai materi promosi, Eco Racing diperkenalkan sebagai inovasi yang diklaim mampu meningkatkan kualitas pembakaran bahan bakar. Beragam manfaat pun disampaikan kepada masyarakat, di antaranya meningkatkan angka oktan, membantu menghemat konsumsi BBM hingga sekitar 20–30 persen, mengurangi emisi gas buang, serta meningkatkan performa mesin.
Namun yang membuat pertumbuhannya begitu eksplosif bukan hanya produknya, melainkan model bisnis yang menyertainya.
Eco Racing dipasarkan melalui sistem Network Marketing (MLM), sehingga para mitra tidak hanya memperoleh keuntungan dari penjualan produk, tetapi juga berkesempatan membangun jaringan distributor dan memperoleh insentif sesuai ketentuan program perusahaan.
Kombinasi antara produk yang dianggap inovatif dan sistem pemasaran berbasis komunitas membuat penyebarannya berlangsung sangat cepat. Seminar dan roadshow digelar di berbagai kota. Pertemuan akbar dipenuhi ribuan peserta. Media sosial dibanjiri testimoni pengguna, foto-foto acara, hingga kisah sukses para distributor. Antusiasme masyarakat pun terus meningkat, dan dalam waktu relatif singkat jumlah anggotanya disebut telah mencapai jutaan orang.
Namun, sebagaimana banyak kisah pertumbuhan bisnis yang berlangsung sangat cepat, laju ekspansi yang luar biasa itu juga membawa konsekuensi. Semakin besar organisasi yang terbentuk, semakin besar pula sorotan publik, perhatian regulator, serta tekanan yang harus dihadapi.
Babak berikutnya pun menjadi ujian terbesar dalam perjalanan Eco Racing.
Legalitas dan Daftar Waspada
Di tengah pertumbuhan bisnis yang sangat pesat, aspek legalitas perusahaan mulai menjadi perhatian publik dan regulator.
Pada Mei 2018, PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST) masuk ke dalam daftar entitas yang diumumkan oleh otoritas karena saat itu belum memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL), yaitu izin yang diwajibkan bagi perusahaan yang menjalankan kegiatan penjualan langsung di Indonesia.
Status tersebut kemudian berubah. Setelah seluruh persyaratan perizinan dipenuhi dan SIUPL berhasil diperoleh, pada Oktober 2019 PT BEST resmi dikeluarkan dari daftar tersebut.
Dari sisi administratif, persoalan perizinan dapat dikatakan telah terselesaikan.
Namun dalam dunia bisnis, penyelesaian administrasi tidak selalu serta-merta menghapus persepsi yang telah terbentuk di masyarakat. Informasi yang pernah beredar sering kali terus diingat, bahkan setelah status hukumnya berubah. Akibatnya, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, melainkan membangun kembali kepercayaan publik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam industri yang bertumbuh cepat, legalitas dan komunikasi kepada masyarakat sama pentingnya dengan inovasi produk maupun strategi pemasaran.
Isu Kualitas: Original vs. KW
Ketika Eco Racing berada di puncak popularitasnya, tantangan yang muncul bukan lagi soal pemasaran atau legalitas, melainkan menyangkut kualitas produk.
Di berbagai komunitas distributor dan pengguna, mulai beredar diskusi mengenai adanya dugaan perbedaan kualitas antara produk yang dipasarkan pada masa awal dengan produk yang beredar pada periode berikutnya.
Beberapa pengguna mengaku menemukan perbedaan pada warna, tekstur, hingga performa produk saat digunakan. Pengalaman tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi di kalangan member.
Salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan adalah dugaan bahwa formulasi produk telah mengalami perubahan, atau bahwa produk yang dipasarkan tidak lagi identik dengan formulasi yang dikembangkan pada tahap awal. Dari sinilah muncul istilah populer “Original vs. KW”, yang ramai diperbincangkan di berbagai forum dan media sosial.
Perlu dicatat, tuduhan tersebut tidak disertai putusan pengadilan atau keputusan resmi yang secara terbuka mengonfirmasi adanya penggantian formulasi sebagaimana yang beredar dalam rumor. Meski demikian, perdebatan terus berkembang. Berbagai video perbandingan bermunculan di YouTube dan platform lainnya, menampilkan pengamatan terhadap warna, tekstur, hingga uji sederhana seperti membandingkan proses pelelehan produk menggunakan sendok di atas api.
Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai klaim tersebut, dampaknya terhadap komunitas sangat nyata. Perdebatan mengenai kualitas produk memicu perbedaan pendapat di kalangan distributor dan konsumen, serta menjadi salah satu topik yang paling hangat dibahas pada masa itu.
Dalam bisnis jaringan, kepercayaan merupakan aset yang sangat penting. Ketika muncul keraguan terhadap kualitas produk, dampaknya tidak hanya dirasakan pada penjualan, tetapi juga pada kepercayaan terhadap jaringan itu sendiri. Sekali kepercayaan mulai terkikis, menjaga soliditas komunitas menjadi tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertahankan angka penjualan.
Redupnya Aktivitas
Memasuki tahun 2021, dinamika di dalam komunitas Eco Racing mulai mengalami perubahan. Di berbagai forum dan media sosial, mulai bermunculan keluhan dari sebagian anggota mengenai pencairan bonus, perkembangan jaringan, serta komunikasi dengan perusahaan.
Sejumlah anggota mengaku mengalami kerugian finansial. Ada pula yang menyampaikan bahwa mereka telah mengeluarkan modal dalam jumlah besar, bahkan sebagian mengaku berutang untuk membangun bisnis, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan. Pengalaman tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh anggota, tetapi cukup banyak dibahas di ruang-ruang diskusi komunitas.
Pada saat yang sama, muncul pula laporan dari sejumlah pengguna yang mengeluhkan sulitnya menghubungi layanan perusahaan. Website dan saluran layanan pelanggan disebut tidak lagi seaktif sebelumnya, sehingga menambah ketidakpastian di kalangan member yang masih menunggu informasi resmi.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas perusahaan yang sebelumnya begitu masif semakin jarang terlihat. Seminar besar, promosi nasional, dan berbagai kegiatan yang dahulu menjadi ciri khas Eco Racing mulai meredup.
Hingga akhir tahun 2025, aktivitas Eco Racing tidak lagi tampak berlangsung secara signifikan di ruang publik. Dibandingkan masa kejayaannya beberapa tahun sebelumnya, eksistensi merek ini terlihat jauh berkurang, menandai berakhirnya sebuah fase yang pernah menjadi salah satu fenomena terbesar dalam industri Network Marketing di Indonesia.
Namun Ceritanya Tidak Berhenti
Meredupnya popularitas Eco Racing bukan berarti perjalanan PT Bandung Eco Sinergi Teknologi (BEST) ikut berakhir.
Dalam beberapa tahun berikutnya, perusahaan masih terlihat melakukan aktivitas bisnis dan memperluas lini produknya. Secara bertahap, berbagai produk baru mulai diperkenalkan ke pasar. Arah bisnisnya pun tampak mengalami perubahan. Jika sebelumnya identitas perusahaan sangat melekat pada satu produk yang sempat viral, kini strategi yang terlihat adalah membangun portofolio produk yang lebih beragam.
Salah satu produk yang belakangan cukup sering disebut adalah Izumi Alkabest. Di sejumlah komunitas dan pembahasan daring, produk ini kerap dibandingkan dengan Mizuco yang dipasarkan oleh PT Tirtayasa Sagara Persada. Namun, hubungan maupun kesamaan kedua produk tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan perbincangan publik, sehingga memerlukan verifikasi lebih lanjut apabila ingin disimpulkan sebagai fakta.
Terlepas dari hal tersebut, dari sudut pandang strategi bisnis, langkah diversifikasi produk merupakan pendekatan yang lazim dilakukan perusahaan yang sedang menghadapi perubahan pasar. Dengan memiliki lebih banyak lini produk, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu merek, menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, serta membangun kembali citra bisnis melalui inovasi-inovasi baru.
Jika memang arah inilah yang ditempuh PT BEST, maka fokusnya tampak bergeser: dari mengandalkan satu produk yang pernah menjadi fenomena, menuju pembangunan bisnis yang lebih berkelanjutan melalui portofolio produk yang lebih luas.
Perjalanan ini menunjukkan satu pelajaran penting. Dalam dunia usaha, sebuah perusahaan dapat mengalami masa pertumbuhan yang luar biasa, menghadapi berbagai tantangan, bahkan kehilangan momentum. Namun, selama masih memiliki sumber daya dan kemampuan untuk beradaptasi, selalu ada peluang untuk memulai babak baru. Adaptasi sering kali menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah perusahaan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Refleksi Akhir
Kisah Eco Racing sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang sebuah tablet aditif bahan bakar.
Di balik perjalanan produk ini, tersimpan sebuah potret tentang bagaimana sebuah inovasi lahir, berkembang, mencapai puncak popularitas, lalu menghadapi berbagai tantangan yang menguji keberlangsungannya.
Di dalamnya kita dapat melihat berbagai pelajaran berharga: bagaimana sebuah inovasi teknis berusaha menjawab kebutuhan pasar, bagaimana transformasi produk dilakukan agar lebih mudah diproduksi dan didistribusikan, serta bagaimana kekuatan branding dan jaringan pemasaran mampu mempercepat pertumbuhan bisnis dalam waktu yang relatif singkat.
Namun, perjalanan tersebut juga memperlihatkan sisi lain yang tak kalah penting. Ketika bisnis tumbuh semakin besar, tantangan yang dihadapi pun semakin kompleks. Persoalan legalitas, perdebatan mengenai kualitas produk, hingga krisis kepercayaan menjadi ujian yang dapat memengaruhi persepsi publik dan keberlangsungan sebuah organisasi.
Di sisi lain, perjalanan PT BEST juga menunjukkan bahwa sebuah perusahaan dapat memilih untuk beradaptasi. Melalui pengembangan lini produk dan strategi bisnis yang berbeda, perusahaan berupaya mencari arah baru di tengah perubahan kondisi pasar.
Dari kisah ini, ada satu pelajaran yang layak direnungkan.
Dalam dunia bisnis, inovasi adalah modal awal, tetapi bukan jaminan keberhasilan jangka panjang.
Legalitas adalah fondasi, tetapi tidak otomatis menghadirkan kepercayaan.
Pemasaran mampu menarik perhatian, tetapi tidak selalu mampu mempertahankan loyalitas.
Yang benar-benar menentukan keberlangsungan sebuah bisnis adalah konsistensi, transparansi, kemampuan beradaptasi, dan yang terpenting, kepercayaan dari para pelanggan, mitra, serta masyarakat.
Eco Racing mungkin tidak lagi menjadi fenomena sebesar beberapa tahun lalu. Namun perjalanan yang ditinggalkannya tetap menyimpan banyak pelajaran bagi siapa pun yang ingin membangun sebuah bisnis.
Karena pada akhirnya, aset paling berharga dalam dunia usaha bukanlah produk, bukan pula jaringan atau popularitas yang bersifat sementara.
Aset yang paling bernilai adalah kepercayaan.
Kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, tetapi dapat memudar hanya karena satu rangkaian keputusan yang keliru. Dan ketika kepercayaan itu hilang, biaya untuk memulihkannya sering kali jauh lebih besar daripada biaya menciptakan sebuah produk sejak awal.
Mungkin itulah warisan terbesar dari kisah Eco Racing—bukan sekadar cerita tentang sebuah produk, melainkan pengingat bahwa dalam bisnis, reputasi adalah investasi yang nilainya jauh melampaui apa pun yang dapat dijual.




