Gila… saya kaget banget, guys.
Dunia makin kacau. Negara-negara berlomba bikin nuklir, pesawat tempur, rudal, persiapan perang dunia tiga…
Eh Indonesia?
Malah bikin genteng.
Saya benar-benar syok.
Prabowo meluncurkan program yang namanya: Gentengisasi.
Saya sampai mikir, “Ini apaan sih? Kenapa genteng? Urgen banget?”
Kalau kamu penasaran juga, jangan skip. Kita bahas lebih detail.
Jadi gini, teman-teman.
Di Rakornas 2026 kemarin, Presiden Republik Indonesia Prabowo resmi meluncurkan program spektakuler bernama program gentengisasi.
Dan jujur, pas pertama dengar, saya ketawa.
Tapi setelah saya cari tahu, ternyata ini bukan ide asal-asalan.
Karena saya ketemu dokumen lama dari tahun 1970, tentang reformasi yang dilakukan Presiden Korea Selatan: Park Chung-hee.
Korea Selatan Pernah “Gentengisasi” Duluan
Di tahun 1970, Park Chung-hee melihat rakyat Korea Selatan itu masih hidup susah.
Desa-desa kumuh, miskin, berantakan.
Banyak rumah atapnya masih dari ijuk.
Jalan rusak, irigasi tidak ada, pokoknya kacau.
Padahal visinya Korea Selatan mau jadi negara maju.
Akhirnya Park Chung-hee bikin program bernama Saemaul Undong.
Apa isinya?
Pemerintah bagi-bagi semen, genteng, dan besi rangka ke desa-desa.
Setiap desa bisa dapat sekitar 335 karung semen gratis.
Kalau desanya berhasil upgrade infrastruktur dan fasilitas, mereka dikasih tambahan lagi:
- 500 karung semen
- plus bonus 1 ton besi
Di awal program, ada sekitar 33 ribu desa yang dibantu.
Karena sukses, programnya diperluas lagi sampai 16 ribu desa tambahan.
Hasilnya?
Luar biasa.
Jalan pedesaan membaik, irigasi beres, rumah-rumah atapnya jadi genteng.
Dan yang paling menarik: pendapatan rumah tangga naik drastis.
Sebelum program, pendapatan per KK cuma sekitar 825 dolar.
Sepuluh tahun setelah program itu jalan, naik jadi sekitar 4.600 dolar.
Dari sini saya mulai mikir…
“Jangan-jangan ini yang sedang ditiru Prabowo?”
Kalau di Indonesia, Emang Sepenting Itu Genteng?
Awalnya saya kira gentengisasi cuma soal estetika.
Biar rumah lebih bagus, lebih rapi, lebih nyaman.
Dan memang itu ada manfaatnya.
Karena Indonesia tropis. Rumah dengan atap yang tepat bisa bikin lebih sejuk. Orang tidur lebih nyaman, besok kerja lebih kuat.
Tapi ternyata ini bukan cuma soal nyaman.
Ada faktor ekonomi besar yang banyak orang lewatkan.
Masalahnya: Genteng Indonesia Banyak yang Impor
Fakta yang bikin saya kaget:
Dari sekitar 40 juta rumah di Indonesia, yang pakai genteng tanah liat cuma 57%.
Sisanya masih pakai:
- seng
- asbes
- bahan lain
Nah genteng seng itu sebenarnya bukan “seng doang”.
Di dalamnya ada:
- lembaran baja tipis (steel sheet)
- lapisan aluminium
- zink
- silikon
Dan masalahnya: bahan-bahan itu banyak yang impor.
Contoh: Baja Tipis dari Cina
Tahun 2024, Indonesia impor baja tipis dari Cina sampai sekitar 4 triliun.
Tahun 2022 dan 2023 juga mirip, sekitar 4–5 triliun.
Kalau ditotal tiga tahun?
Lebih dari 14 triliun cuma buat impor bahan genteng seng.
Dan itu baru dari Cina.
Belum impor dari Korea Selatan dan Thailand.
Kalau digabung, impor baja tipis dari beberapa negara itu bisa sampai 4,9 triliun dalam setahun.
Aluminium? Lebih Parah Lagi
Aluminium Indonesia itu masih banyak impor.
Bahkan ada data yang menunjukkan lebih dari 50% aluminium kita impor.
Devisa kita bocor besar-besaran.
Dan aluminium ini dipakai buat banyak hal, termasuk bahan pelapis genteng seng.
Silika? Masih Impor Juga
Bahan silikon/silika untuk genteng seng juga banyak impor.
Dari Cina saja, tiga tahun terakhir nilainya hampir 2 triliun.
Kalau dihitung-hitung, kebocoran uang kita bisa sangat besar.
Dan efeknya apa?
Rupiah makin lemah, dolar makin kuat, karena kita terus menjual rupiah buat beli barang impor.
Solusinya: Genteng Tanah Liat = 100% Lokal
Nah ini bagian yang menarik.
Genteng tanah liat itu bahan utamanya:
- lempung (tanah liat)
- pasir
- kadang ditambah sedikit semen, kapur, feldspar
- bisa juga abu sekam/abu kayu
Intinya?
Bahan-bahannya bisa 100% dari dalam negeri.
Dan menurut data Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia, produksi genteng tanah liat di Indonesia itu 95% dari produsen lokal. Impor cuma sekitar 5%.
Jadi kalau kita dorong genteng tanah liat, yang untung:
- UMKM
- pabrik rumahan
- industri lokal
- pekerja lokal
Bukan importir.
Hitung-hitungan Ekonomi Gentengisasi
Di Indonesia, ada sekitar 22 juta rumah yang masih pakai seng.
Misalnya targetnya cuma 50% diganti genteng tanah liat.
Berarti sekitar 11 juta rumah.
Rata-rata rumah subsidi:
- luas bangunan 36 m²
- luas atap efektif sekitar 47 m²
Untuk menutup 1 m² atap, butuh sekitar 25 genteng.
Jadi 1 rumah butuh:
47 × 25 = 1.175 genteng
Kalau harga 1 genteng rata-rata Rp3.500, maka biaya genteng per rumah sekitar Rp4.112.000.
Kalau 11 juta rumah?
Nilai ekonominya sekitar Rp45,6 triliun.
Ini bukan angka kecil.
Dampaknya ke Lapangan Kerja
Satu pabrik genteng skala UMKM bisa produksi sekitar 1.800 genteng per hari.
Dalam setahun, produksi sekitar 657 ribu genteng.
Kalau kebutuhan nasionalnya sekitar 13 miliar genteng, maka jumlah pabrik yang dibutuhkan sekitar 19.851 pabrik.
Hampir 20 ribu pabrik baru.
Dan satu pabrik rata-rata mempekerjakan 35 orang.
Berarti potensi tenaga kerja sekitar 694.785 lowongan kerja.
Hampir 700 ribu lapangan kerja baru.
Kalau gaji rata-rata 2 juta per bulan, maka perputaran ekonomi dari gaji saja bisa lebih dari 16 triliun per tahun.
Belum termasuk efek domino:
- warteg
- toko material
- tukang bangunan
- jasa pemasangan
- transportasi
Kesimpulan
Awalnya saya juga mengira program ini konyol.
Tapi setelah dianalisis, ternyata ada logika ekonominya.
Ini bukan cuma soal atap rumah.
Tapi soal:
- mengurangi impor
- menjaga devisa
- memperkuat industri lokal
- menciptakan lapangan kerja
- menggerakkan ekonomi desa
Kalau dijalankan dengan serius dan bersih, program ini bisa punya dampak besar.
Dan mungkin saja, seperti Korea Selatan dulu, yang awalnya ditertawakan… tapi akhirnya jadi fondasi kemajuan mereka.




