Kang, Hi-Octan Kok Sekarang Pemasarannya Lewat MLM sih?

Kang, Hi-Octan Kok Sekarang Pemasarannya Lewat MLM sih?

Waktu rasanya terbang begitu cepat. Sepuluh tahun sudah perjalanan Hi-Octan terukir, sejak pertama kali menyapa dunia di kisaran Oktober hingga November 2009. Di awal kelahirannya, jangkauannya memang masih sangat terbatas—benar-benar hanya beredar di lingkaran internal komunitas Hikmatul Iman (HI).

Meski lahir dari rahim komunitas HI, banyak yang belum tahu kalau nama Hi-Octan sejatinya berdiri sebagai singkatan dari High-Octan, bukan Hikmatul Iman Octan. Racikan formula dasarnya sendiri lahir dari tangan Kang Dicky Zainal Arifin, yang kemudian terus dikembangkan dan diriset secara intensif oleh Kang Hedy Ardenia Octaviano dan tim, hingga racikannya kian matang dan siap melaju pesat.

Para pemasar nya pun ya cuma teman-teman kita sendiri juga. Ada yang menjualnya di tempat praktek pengobatan terapi Hikmatul Iman, ada yang titip jual di cabang-cabang UP2U. Ada juga yang coba-coba jualan di Facebook, Kaskus, Bukalapak, Tokopedia. Awalnya baru sebatas itu. Tergerak oleh keinginan untuk maju dan tumbuh membesar, produsen Hi-Octan selalu berusaha mencari cara agar Hi-Octan dikenal oleh masyarakat luas.

Sekitar satu tahun setelah mulai dipasarkan, Hi-Octan memasuki babak baru. Produk ini mulai dipresentasikan kepada manajemen Ganesha e-Commerce Solution (GeS), sebuah perusahaan Network Marketing yang pada awal berdirinya berfokus pada bisnis jual beli pulsa elektronik. Perusahaan tersebut dipimpin oleh Setyo Yudoko.

Proses untuk meyakinkan manajemen GeS ternyata tidak berlangsung mudah. Meskipun Rian Irawan Hariadi, Direktur Keuangan GeS yang juga berasal dari komunitas Hikmatul Iman, telah mengenal produk ini, keputusan untuk menjadikan Hi-Octan sebagai salah satu produk perusahaan tetap memerlukan pertimbangan yang panjang.

Momentum penting datang berkat usulan Rimbo Asmoro kepada Setyo Yudoko. Sebagai salah satu leader Elfasenior Semarang yang kemudian bergabung dengan GeS, Rimbo melihat potensi besar Hi-Octan untuk melengkapi model bisnis perusahaan. Setelah melalui berbagai diskusi, akhirnya manajemen GeS memutuskan menerima Hi-Octan sebagai produk fisik pertama yang dipasarkan melalui jaringan mereka.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang penting dalam perjalanan Hi-Octan. Melalui jaringan GeS, produk ini berkembang cukup pesat dan mulai dikenal di berbagai daerah. Salah satu wilayah dengan pertumbuhan paling menonjol adalah Kota Pontianak, yang saat itu menjadi salah satu basis pemasaran terbesar.

Di GeS pula, Hi-Octan mempertemukan penulis dengan sejumlah leader yang memiliki peran penting dalam pengembangan jaringan, di antaranya Sudirman Bakrie, Ferdy Ferdiansyah, Roby Zulendra, serta banyak tokoh lain yang turut mewarnai perjalanan bisnis ini.

Sayangnya, perkembangan tersebut tidak berlangsung selamanya. Di tengah pertumbuhan yang cukup menjanjikan, Ganesha e-Commerce Solution harus mengakhiri perjalanannya akibat konflik internal di jajaran manajemen. Berakhirnya GeS menjadi penutup satu fase penting dalam sejarah Hi-Octan, sekaligus membuka jalan bagi babak berikutnya dalam perjalanan produk tersebut.

Perhatikan gambar di bawah, di situ ada Pak Hedy Ardenia Octaviano, formulator produk, di situ ada admin blog ini juga, khan? Saat itu kebetulan memang saya sendiri yang menemani Pak Hedy ke Pontianak untuk memberikan Product Training pada para leader dan member Ganesha e-Commerce Solution… 😀

Setelah GeS bubar, Hi-Octan kembali ke pola pemasaran konvensional. Saat itu ada Tim Karya Mandiri yang dipimpin oleh Pak Noval, mantan karyawan GeS. Namun itu gak berlangsung lama, gak nyampe setahun, setelah itu bubar. Ada satu event yang dokumentasinya saya pegang. Kegiatan marketing di sekitar Tegal-Cilacap-Pemalang, Jawa Tengah.

Langkah Hi-Octan makin jauh, dari jalanan Jatinangor hingga menembus layar kaca!

Di balik berkembangnya Hi-Octan, ada sekelompok orang yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka menamakan diri Fuel Revolution Team, yang dikomandoi oleh Kang Angga Satria (Ko Robert), Kang Yuda, dan Kang Yunar Hardy.

Melalui kreativitas dan kerja keras merekalah sayap Hi-Octan semakin terbentang. Mereka bukan hanya membantu membangun citra produk, tetapi juga menjadi motor penggerak berbagai aktivitas promosi yang membuat nama Hi-Octan mulai dikenal masyarakat luas.

Salah satu langkah visioner mereka adalah membangun kehadiran Hi-Octan di dunia digital melalui situs hioctan.com dan hi-octan.com. Pada masa itu, ketika pemasaran digital di Indonesia masih berada pada tahap awal, langkah tersebut terbilang cukup progresif.

Namun kekuatan utama Fuel Revolution Team justru berada di pemasaran lapangan. Mereka aktif merancang dan mencetak berbagai materi promosi, mulai dari brosur, banner, spanduk, hingga perlengkapan presentasi. Saat itu, strategi pemasaran masih sangat didominasi aktivitas offline. Seminar, roadshow, dan presentasi tatap muka menjadi ujung tombak membangun kepercayaan pasar.

Melihat perkembangan dunia digital saat ini, kadang terlintas sebuah bayangan. Seandainya Fuel Revolution Team masih tetap bersama hingga hari ini, bukan tidak mungkin mereka telah bertransformasi menjadi salah satu tim digital marketing yang solid, kreatif, dan mampu mengikuti perkembangan era media sosial serta kecerdasan buatan.

Di antara sekian banyak perjalanan yang dilalui, ada satu momen yang hingga kini masih membekas dalam ingatan.

Saat mengadakan sebuah event pemasaran di Jatinangor, terjadi pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan dengan kru IMTV Jawa Barat. Berawal dari obrolan santai, percakapan itu berkembang menjadi sebuah kesempatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tanpa diduga, kami mendapat tawaran untuk mengisi sebuah program talk show.

Kesempatan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Hi-Octan. Untuk pertama kalinya, produk ini tampil di layar televisi dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Dalam kesempatan tersebut, Hi-Octan diwawancarai langsung oleh Kang Daan Arya di IMTV Jawa Barat.

Bagi banyak orang, mungkin itu hanyalah sebuah acara televisi. Namun bagi kami, itulah salah satu penanda bahwa perjuangan yang dimulai dari komunitas kecil akhirnya mulai mendapat perhatian media. Sebuah momen sederhana yang menjadi bagian tak terlupakan dari sejarah perjalanan Hi-Octan.


Fuel Revolution Team, yang akrab disingkat FuReTe, juga aktif membangun citra Hi-Octan melalui berbagai kegiatan branding di luar seminar dan presentasi bisnis.

Salah satu kegiatan yang cukup berkesan adalah keikutsertaan mereka dalam sebuah ajang drifting di kawasan Kemayoran, Jakarta. Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai media promosi untuk memperkenalkan Hi-Octan kepada komunitas otomotif, sebuah segmen pasar yang sangat relevan dengan produk aditif bahan bakar.

Acara ini turut melibatkan Mas Mimo, seorang drifter nasional yang memiliki hubungan pertemanan dengan Kang Angga Satria dan Yudawijaya sejak sama-sama menempuh pendidikan di Program Magister Manajemen (MM) ITB. Jaringan pertemanan tersebut membuka peluang kolaborasi yang memberi nilai tambah bagi kegiatan promosi Hi-Octan.

Baca Juga  Kapan Saya Mengenal LSBD Hikmatul Iman?

Kehadiran Hi-Octan di arena drifting menjadi salah satu strategi branding yang menarik pada masanya. Produk tidak hanya dipromosikan melalui presentasi bisnis, tetapi juga diperkenalkan langsung kepada komunitas otomotif dalam sebuah ajang yang identik dengan performa mesin dan dunia balap. Langkah ini memperluas eksposur merek sekaligus memperkuat citra Hi-Octan sebagai produk yang menyasar para pengguna kendaraan yang peduli terhadap performa mesin.

Fuel Revolution Team tidak hanya fokus membangun jaringan bisnis, tetapi juga berupaya memperkenalkan Hi-Octan langsung kepada berbagai komunitas otomotif. Mereka meyakini bahwa pengguna kendaraan bermotor merupakan kelompok yang paling tepat untuk mengenal dan merasakan manfaat produk ini.

Salah satu kegiatan yang cukup berkesan adalah Event Buka Bersama dan Touring Motor bersama FCMB. Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus sarana memperkenalkan Hi-Octan kepada para pecinta roda dua dalam suasana yang santai dan penuh keakraban.

Melalui kegiatan seperti ini, pendekatan pemasaran yang dilakukan terasa lebih alami. Bukan sekadar presentasi penjualan, tetapi membangun hubungan dengan komunitas, berbagi pengalaman, dan mendengarkan langsung tanggapan para pengguna kendaraan.

Dokumentasi berikut menjadi saksi bagaimana Fuel Revolution Team berusaha menanamkan citra Hi-Octan di tengah komunitas otomotif, jauh sebelum pemasaran digital dan media sosial menjadi strategi utama seperti sekarang.

***

Salah satu dampak yang tidak pernah kami duga datang setelah penayangan talk show Hi-Octan di televisi. Tayangan tersebut ternyata menjangkau kalangan yang jauh lebih luas daripada sekadar komunitas Network Marketing.

Di antara para penontonnya, ada seorang tokoh otomotif di Kota Bandung yang dikenal dengan nama Ko Akok. Rasa penasarannya mendorong beliau untuk mencoba Hi-Octan secara langsung. Setelah melakukan pengujian sendiri, ia menjadi salah satu orang yang memberikan apresiasi terhadap kualitas produk tersebut.

Meski demikian, pada masa itu Hi-Octan masih dipasarkan dalam bentuk cair. Bentuk kemasan ini memiliki tantangan tersendiri, terutama karena botolnya relatif mudah mengalami kebocoran ketika disimpan di dalam bagasi sepeda motor yang terkena panas dalam waktu lama. Kelemahan pada sisi kemasan inilah yang kemudian menjadi salah satu catatan penting untuk pengembangan produk di masa berikutnya.

Pertemuan dengan Ko Akok ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada yang kami bayangkan. Beliaulah yang kemudian memperkenalkan Hi-Octan kepada Febrian Agung, tokoh di balik DBS (Duta Business School). Pertemuan tersebut menjadi salah satu mata rantai penting yang menghubungkan perjalanan Hi-Octan menuju fase berikutnya.

Dari sinilah kemudian lahir babak baru: Hi-Octan dipasarkan sebagai DBS Pro, hingga akhirnya berkembang menjadi Hi-Octan dalam bentuk tablet yang kemudian dikenal luas dengan nama Eco Racing.

Kisah transformasi tersebut memiliki cerita yang panjang dan menarik. Karena itu, saya membahasnya secara khusus dalam artikel dan video tersendiri agar perjalanan inovasi ini dapat dipahami secara lebih utuh.

***

Ketika Hi-Octan Hampir Berhenti Berjalan

Dalam dunia bisnis, tidak ada perjalanan yang selalu menanjak. Setiap usaha pasti mengalami fase pertumbuhan, stagnasi, bahkan kemunduran. Demikian pula yang dialami Hi-Octan.

Ada masa ketika penjualan Hi-Octan merosot tajam. Omzet yang terus menurun membuat CV Energi Selaras Alam (ESA) berada dalam kondisi yang sangat sulit, bahkan sempat berada di ambang kebangkrutan.

Saya menuliskan kisah ini bukan untuk menyimpulkan bahwa sistem Network Marketing lebih baik daripada pemasaran konvensional. Menurut saya, keduanya sama-sama memiliki peluang untuk berhasil, selama didukung oleh strategi pemasaran yang tepat dan dijalankan secara konsisten.

Pada masanya, Fuel Revolution Team sebenarnya telah membangun pola pemasaran yang cukup terstruktur dan mendekati profesional. Mereka aktif menggelar seminar, membangun komunitas, memproduksi materi promosi, hingga memperluas jaringan ke berbagai kota. Namun, tetap ada keterbatasan yang saat itu belum mampu kami atasi.

Perlu diingat, saat itu dunia digital belum seperti sekarang. Kami belum memahami teknik-teknik digital marketing, optimasi mesin pencari, media sosial, content marketing, maupun otomatisasi pemasaran yang kini menjadi standar dalam mengembangkan sebuah bisnis. Sebagian besar aktivitas promosi masih bertumpu pada pertemuan tatap muka dan pemasaran offline.

Terus terang, saya masih merasa kehilangan ketika Fuel Revolution Team akhirnya bubar. Bagi saya pribadi, mereka adalah salah satu tim yang memiliki kontribusi terbesar pada fase awal pertumbuhan Hi-Octan. Banyak fondasi yang mereka bangun masih terasa manfaatnya hingga sekarang. Salah satu peninggalan yang masih saya kelola adalah situs www.hioctan.com, yang menjadi saksi perjalanan panjang produk ini sejak masa-masa awal.

Di tengah kondisi penjualan yang sedang lesu, saya merasa tidak bisa tinggal diam. Saya kemudian menghubungi sahabat saya, Haji Firdaus Haryo Lukito, salah satu tokoh senior di industri Network Marketing yang saat itu telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Support System di Flexter, PT Global Media Nusantara, yang ketika itu merupakan salah satu kompetitor utama DBS.

Saya juga kembali menghubungi Rimbo Asmoro, salah satu top leader Elfasenior yang juga tengah mencari peluang baru setelah perusahaan sebelumnya tidak lagi beroperasi.

Dari berbagai diskusi itulah lahir sebuah gagasan untuk membangun kendaraan bisnis yang baru. Kami kemudian mendirikan 3ForS dan memasarkan Hi-Octan dengan identitas baru, yaitu Fors Booster untuk kendaraan berbahan bakar bensin dan Fors Booster Diesel untuk mesin diesel.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang sangat berarti. Kehadiran 3ForS berhasil menghidupkan kembali penjualan Hi-Octan. Omzet CV Energi Selaras Alam perlahan kembali meningkat, distribusi produk kembali bergerak, dan ancaman kebangkrutan yang sempat membayangi akhirnya dapat dihindari.

Perjalanan itu mengajarkan satu hal kepada saya: dalam bisnis, yang sering kali menyelamatkan perusahaan bukan hanya produknya, tetapi keberanian untuk beradaptasi, membangun kolaborasi baru, dan menemukan strategi yang sesuai dengan tantangan pada zamannya.

Kebangkitan yang Singkat

Namun, perjalanan 3ForS ternyata tidak berlangsung selama yang kami harapkan.

Di tengah pertumbuhan yang sangat menjanjikan, konflik internal di jajaran manajemen kembali menjadi batu sandungan. Situasi mulai berubah setelah bergabungnya investor dari Semarang melalui inisiatif Rimbo Asmoro. Perbedaan pandangan mengenai arah perusahaan dan pengelolaan organisasi akhirnya berkembang menjadi konflik yang tidak dapat diselesaikan. Pada akhirnya, 3ForS pun harus mengakhiri perjalanannya.

Baca Juga  Yahoo Messenger Bermetamorfosa.. tapi kok nggak seasyik dulu ya?

Bagi saya pribadi, peristiwa itu merupakan sebuah ironi. Setelah berhasil menemukan momentum kebangkitan, perusahaan justru kembali menghadapi persoalan yang berasal dari dalam, bukan dari pasar atau kualitas produk.

Meski demikian, ada satu fakta yang menurut saya layak dicatat. Data penjualan menunjukkan bahwa performa 3ForS pada masa awal operasinya sangat mengesankan. Dalam tiga bulan pertama, omzet yang dihasilkan mampu melampaui total omzet pemasaran konvensional selama tiga tahun sebelumnya.

Angka tersebut memberikan satu pelajaran penting. Ketika didukung oleh strategi pemasaran yang tepat, jaringan yang solid, dan sistem distribusi yang terorganisasi, laju pertumbuhan sebuah produk dapat meningkat jauh lebih cepat dibandingkan mengandalkan pola pemasaran konvensional semata.

Tentu saja, keberhasilan itu tidak berarti bahwa Network Marketing selalu lebih unggul daripada pemasaran konvensional. Masing-masing model memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri. Namun, pengalaman 3ForS menunjukkan bahwa sebuah sistem distribusi yang mampu mempercepat penyebaran informasi dan membangun komunitas dapat menjadi akselerator pertumbuhan yang sangat kuat.

Sayangnya, pertumbuhan bisnis yang pesat tidak selalu diikuti oleh kemampuan organisasi dalam menjaga keharmonisan internal. Dan dalam banyak kasus, justru konflik di dalam perusahaan menjadi tantangan yang lebih sulit diatasi daripada persaingan di pasar.

***

Kebangkitan Hi-Octan Bersama DBS Pro

Setelah melalui berbagai pasang surut, Hi-Octan akhirnya menemukan secercah harapan baru.

Awal dari babak ini bermula ketika Febrian Agung menghubungi Kang Angga Satria. Pertemuan keduanya menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang kemudian mengubah arah perjalanan Hi-Octan.

Dalam pertemuan tersebut, Kang Angga memperkenalkan Hedy Ardenia Octaviano, inovator di balik Hi-Octan, kepada Febrian. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas aspek bisnis, tetapi juga sisi teknis produk dan peluang pengembangannya di masa depan.

Sebelum mengambil keputusan, Hi-Octan dalam bentuk cair terlebih dahulu diuji coba oleh sejumlah top leader DBS (Duta Business School). Pengujian ini dilakukan untuk memperoleh masukan dari para praktisi lapangan sekaligus menilai potensi produk jika dipasarkan melalui jaringan DBS.

Menariknya, pada tahap awal Febrian sebenarnya telah memiliki gagasan untuk menghadirkan produk aditif bahan bakar ke dalam ekosistem DBS. Sebagai seorang penggemar dunia otomotif yang aktif mengikuti berbagai ajang motocross, ia melihat peluang besar pada segmen tersebut. Namun, produk yang semula direncanakan bukanlah Hi-Octan, melainkan aditif berbahan dasar minyak atsiri serai wangi.

Arah pengembangan itu kemudian berubah setelah mendapat masukan dari Ko Akok, salah seorang tokoh otomotif di Kota Bandung. Berdasarkan pengalaman dan rekomendasinya, Febrian mulai mempertimbangkan Hi-Octan sebagai produk yang lebih siap untuk dipasarkan melalui jaringan DBS.

Keputusan itulah yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya DBS Pro, yang selanjutnya menjadi jembatan menuju transformasi Hi-Octan dalam bentuk tablet dan kelahiran merek Eco Racing.

Perjalanan menuju fase tersebut menyimpan banyak cerita menarik, melibatkan berbagai tokoh, diskusi teknis, hingga proses inovasi yang tidak sederhana. Karena itulah, kisah lengkapnya saya bahas secara khusus dalam artikel dan video terpisah. Tautannya dapat Anda temukan pada bagian deskripsi.

***

Ketika Muncul Pertanyaan tentang Kualitas Eco Racing

Singkat cerita, Eco Racing berkembang dengan sangat pesat. Jaringan distributor bertumbuh di berbagai daerah, seminar-seminar dipenuhi peserta, dan semakin banyak leader yang berhasil mencapai berbagai jenjang penghargaan.

Salah satu simbol kesuksesan pada masa itu adalah banyaknya leader yang berhasil memperoleh reward Mitsubishi Pajero Sport. Dari luar, pertumbuhan bisnis Eco Racing tampak luar biasa. Produk menjadi perbincangan di mana-mana dan jaringan terus berkembang dengan cepat.

Namun, di balik euforia tersebut, mulai muncul sejumlah pertanyaan dari sebagian leader serta pihak-pihak yang telah lama mengikuti perjalanan Hi-Octan.

Topik yang paling sering menjadi bahan diskusi adalah kapasitas produksi. Sejumlah leader mencoba mencocokkan besarnya pertumbuhan jaringan dengan perkiraan jumlah produk yang beredar di lapangan. Di sisi lain, internal CV Energi Selaras Alam (ESA)—yang sebelumnya memproduksi Hi-Octan—juga melakukan perhitungan berdasarkan data produksi yang mereka ketahui.

Menurut pengamatan mereka, jika begitu banyak leader telah berhasil meraih reward, maka secara logika jumlah pesanan produk dari PT BEST kepada produsen seharusnya meningkat secara signifikan. Terlebih pada periode tersebut, lini produk PT BEST masih didominasi oleh Eco Racing Tablet. Namun, berdasarkan informasi yang mereka miliki, volume pesanan yang diketahui tidak tampak sebanding dengan besarnya pertumbuhan jaringan yang terlihat di lapangan.

Perbedaan antara ekspektasi dan pengamatan itulah yang kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Sebagian mulai bertanya-tanya apakah ada faktor lain yang belum mereka ketahui, sementara yang lain memilih menunggu penjelasan resmi dari perusahaan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, mulai bermunculan pula berbagai pengalaman dari para pengguna mengenai performa Eco Racing setelah digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebagian pengguna mengaku kendaraannya mengalami penurunan performa atau gangguan setelah menggunakan produk selama lebih dari satu tahun. Sebaliknya, tidak sedikit pula pengguna yang menyatakan kendaraannya tetap berfungsi normal dan mereka merasa puas terhadap manfaat produk tersebut.

Perbedaan pengalaman tersebut memicu diskusi yang semakin luas. Berbagai teori dan dugaan bermunculan di komunitas, media sosial, hingga kanal-kanal YouTube. Salah satu dugaan yang paling sering dibahas adalah kemungkinan adanya perubahan kualitas atau formulasi antara produk Eco Racing generasi awal dengan produk yang dipasarkan pada periode-periode berikutnya.

Perdebatan semakin ramai setelah banyak video yang membandingkan kedua produk tersebut. Salah satu aspek yang paling sering disorot adalah perbedaan warna tablet. Produk generasi awal dinilai memiliki warna yang lebih terang, sedangkan produk yang beredar belakangan tampak lebih gelap. Perbedaan visual inilah yang kemudian memunculkan berbagai spekulasi di kalangan komunitas.

Di sisi lain, pihak CV Energi Selaras Alam (ESA) memiliki pandangan yang berbeda. Berdasarkan informasi dari internal perusahaan, selama mereka memproduksi Hi-Octan hanya terdapat satu formulasi dan satu varian produk. Menurut mereka, karakteristik warna produk sejak produksi perdana selalu konsisten dan tidak pernah mengalami perubahan.

Salah satu demonstrasi yang paling banyak diperbincangkan pada masa itu adalah uji sederhana menggunakan sendok logam. Dalam berbagai video yang beredar di YouTube dan media sosial, dua tablet yang diyakini berasal dari periode produksi berbeda diletakkan di atas sendok, kemudian dipanaskan menggunakan nyala lilin hingga meleleh.

Baca Juga  Mengenal Profil Ustadz Joko Yulianto, Komisaris PT MICS1

Menurut tayangan-tayangan tersebut, tablet yang disebut sebagai produk generasi awal meleleh dan meninggalkan residu yang relatif mudah terlepas dari permukaan sendok setelah dingin. Sebaliknya, tablet yang diklaim sebagai produk generasi berikutnya tampak meninggalkan kerak yang lebih kuat menempel pada permukaan sendok sehingga lebih sulit dibersihkan.

Bagi sebagian anggota komunitas, perbedaan tersebut dianggap sebagai indikasi bahwa komposisi atau bahan penyusun kedua produk tidak lagi sama. Mereka menilai demonstrasi sederhana itu memperkuat dugaan bahwa telah terjadi perubahan formulasi dalam proses produksi.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa demonstrasi tersebut bukan merupakan pengujian laboratorium maupun metode ilmiah yang tervalidasi untuk menentukan mutu, komposisi, atau performa suatu produk aditif bahan bakar. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti suhu pemanasan, lama pemanasan, kondisi permukaan sendok, kadar kelembapan produk, hingga variasi proses produksi. Karena itu, hasil uji tersebut tidak dapat dijadikan bukti ilmiah yang memastikan telah terjadi perubahan formulasi ataupun penurunan kualitas produk.

Pada akhirnya, perbedaan antara pengalaman pengguna, pengamatan para leader, informasi dari pihak produsen terdahulu, serta berbagai demonstrasi yang beredar di media sosial melahirkan perdebatan panjang di kalangan komunitas Eco Racing. Hingga kini, peristiwa tersebut tetap menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah perjalanan produk ini.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa isu tersebut memberi dampak besar terhadap persepsi para member. Dalam bisnis jaringan, ketika pertanyaan mengenai kualitas produk mulai muncul dan tidak segera terjawab secara meyakinkan, yang dipertaruhkan bukan hanya penjualan, melainkan juga kepercayaan. Dan ketika kepercayaan mulai terkikis, stabilitas sebuah jaringan bisnis pun ikut menghadapi ujian yang tidak ringan.

Di tengah situasi tersebut, seorang leader Eco Racing, Ustadz Joko Yulianto, berupaya mencari informasi langsung dari sumber yang dianggap mengetahui sejarah awal pengembangan produk. Atas rekomendasi Kang Biben, salah satu top leader Melia Sehat Sejahtera yang sebelumnya diperkenalkan pada Eco Racing oleh Ustadz Joko, ia kemudian menghubungi Hedy Ardenia Octaviano.

Komunikasi itulah yang kemudian menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang memperdalam perbedaan pandangan di kalangan para leader. Seiring berjalannya waktu, sebagian jaringan memilih menempuh jalan yang berbeda.

Dari dinamika tersebut kemudian lahirlah sebuah perusahaan baru bernama MICS1. Ustadz Joko bersama sejumlah leader memutuskan membangun organisasi baru dan mengalihkan sebagian jaringan yang sebelumnya berada di bawah Eco Racing.

Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan Eco Racing. Bukan semata karena munculnya perusahaan baru, tetapi karena menunjukkan bagaimana perbedaan pandangan di tingkat kepemimpinan dapat memengaruhi arah sebuah jaringan bisnis yang sebelumnya tumbuh sangat pesat.

Update April 2019

Sejarah berulang, dalam interna; perusahaan MICS1 terjadi perpecahan. CV Energi Selaras Alam, produsen HI-OCTAN, bekerja sama dengan PT Bio Energi Selaras Alam (Bioesa). Produk HI_OCTAN dan HI-CESTER dibranding dengan nama BIO RACING dan BIO DIESEL. Selain dipasarkan melalui para membernya, HI-CESTER tablet (BIO DIESEL) inipun, setelah melalui proses pengujian yang sangat ketat dan bersaing dengan produk sejenisnya, saat ini sudah mulai digunakan oleh Waskita Karya Indonesia. Produk ini pun sudah dipresentasikan dan didemokan di hadapan Gubernur serta para pengusaha di Propinsi Riau. Bioesa pun ternyata umurnya gak lama

Masuk ke MLM Natural Nusantara

Babak Baru Bersama PT Natural Nusantara

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, perjalanan Hi-Octan ternyata belum berakhir. Pada tahun 2019, produk Hi-Octan dalam bentuk tablet kembali memperoleh peluang untuk memasuki pasar Network Marketing.

Produk tersebut akhirnya dipasarkan melalui jaringan PT Natural Nusantara (NASA) dengan identitas baru, yaitu Racing Power Machine (RPM NASA). Kehadiran RPM NASA sempat membawa optimisme baru. Dengan jaringan distribusi PT Natural Nusantara yang telah terbentuk selama bertahun-tahun, muncul harapan bahwa inovasi Hi-Octan dapat kembali menjangkau pasar yang lebih luas.

Melihat potensi tersebut, PT Natural Nusantara kemudian melengkapi lini produknya dengan menghadirkan RPM Diesel, yang ditujukan bagi kendaraan bermesin diesel sebagai pasangan dari produk RPM untuk mesin berbahan bakar bensin.

Namun, harapan tersebut tidak berlangsung sesuai rencana.

Belum lama setelah peluncuran RPM NASA, dunia dilanda pandemi COVID-19 yang memicu krisis ekonomi dan mengganggu hampir seluruh sektor usaha. Aktivitas masyarakat dibatasi, mobilitas menurun, berbagai kegiatan tatap muka terhenti, dan distribusi produk di banyak industri ikut terdampak.

Kondisi tersebut turut memengaruhi perjalanan RPM NASA. Distribusi produk tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan, sehingga sebagian stok dilaporkan menumpuk di gudang. Momentum yang semula diperkirakan menjadi awal kebangkitan justru berhadapan dengan situasi global yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.

Tentu saja, pandemi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan sebuah produk. Keberhasilan distribusi juga dipengaruhi oleh banyak aspek lain, seperti kondisi pasar, strategi pemasaran, kesiapan jaringan, edukasi kepada distributor, serta tingkat penerimaan konsumen. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat performa RPM NASA tidak mampu berkembang sebesar harapan pada saat peluncurannya.

Meski demikian, perjalanan ini kembali menunjukkan satu pelajaran penting dalam dunia bisnis. Sebaik apa pun sebuah inovasi dan sebesar apa pun jaringan distribusinya, keberhasilan tetap dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang sering kali berada di luar kendali perusahaan. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah peristiwa global dapat mengubah arah perjalanan sebuah produk dalam waktu yang sangat singkat.

***

Kisah Hi-Octan bersama Juara Super Additive JKS88

***

Jadi, saat ada orang yang bertanya, “Kang, kenapa sih pemasaran Hi-Octan harus pake MLM? kenapa gak konvensional biasa saja?”, pertanyaan tersebut dengan sangat mudah terjawab dengan menyajikan data-data sejarah di atas. Kita semua harus mengakui, di abad informasi seperti sekarang, kekuatan Network Marketing yang bersistem, dengan dukungan Teknologi Informasi dan Digital Marketing memang jauh lebih powerful dibanding konvensional biasa. Jadi sangat wajar jika Hi-Octan jauh lebih berkembang dan tersebar di masyarakat dengan pola Network Marketing.

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi