Setiap menjelang Ramadhan, satu perdebatan klasik selalu muncul kembali: kapan sebenarnya puasa dimulai? Di tengah kemajuan ilmu astronomi yang makin presisi, umat Islam—khususnya di Indonesia—masih berkutat pada perbedaan penentuan awal bulan. Muhammadiyah dan pemerintah kerap mengambil keputusan berbeda, dan perbedaan itu seolah tak pernah benar-benar selesai.
Padahal, jika ditarik ke akar persoalan, ini bukan semata soal hilal. Ini soal cara kita memahami kebenaran, mendefinisikan “melihat”, dan menentukan siapa yang berhak memutuskan.
Hisab, Rukyat, dan Batas “Melihat”
Perbedaan paling mendasar terletak pada metode. Muhammadiyah menggunakan hisab astronomi murni. Selama secara perhitungan bulan sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam, bulan baru dianggap telah masuk. Metode ini konsisten, presisi, dan dapat ditentukan jauh hari.
Pemerintah Indonesia, melalui sidang isbat, menggabungkan hisab dan rukyat, dengan syarat tambahan: hilal harus benar-benar terlihat. Jika tidak terlihat—karena cuaca atau faktor atmosfer—bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
Masalahnya muncul saat definisi “melihat” dipersempit. Teleskop masih diterima, tapi teknologi yang jauh lebih canggih seperti satelit ditolak, meski datanya jauh lebih akurat dan bebas dari gangguan cuaca. Padahal, banyak aplikasi astronomi modern—bahkan di ponsel—sudah mampu menampilkan waktu ijtimak, posisi bulan, dan ketinggian hilal dengan presisi tinggi.
Dalam praktiknya, dari tahun ke tahun, hasil hisab Muhammadiyah terbukti konsisten dengan data astronomi tersebut. Ini bukan klaim sepihak, tapi sesuatu yang bisa diverifikasi siapa saja.
Ketika Prosedur Mengalahkan Substansi
Jika hisab dan observasi modern digabungkan secara dewasa, seharusnya tidak ada konflik berarti. Dalam sains, teori diuji oleh observasi, bukan dipertentangkan. Namun dalam praktik, rukyat sering kali berubah fungsi: bukan lagi alat verifikasi, melainkan alat legitimasi.
Sidang isbat pun menjadi agenda tahunan yang sarat simbol. Keputusan sebenarnya sudah bisa diprediksi jauh sebelum sidang digelar. Biaya logistik, perjalanan, dan pengamatan di puluhan titik bukan angka kecil. Di titik ini, pertanyaan wajar muncul: apakah manfaatnya sebanding dengan energi dan dana yang dikeluarkan?
Pertanyaan yang Sering Diabaikan: Kenapa Hanya Ramadhan?
Di sinilah kontradiksi paling jelas terlihat.
Jika awal Ramadhan dan akhir Ramadhan harus ditentukan dengan rukyat dan sidang isbat, maka pertanyaannya sederhana:
kenapa awal bulan hijriah lain tidak diperlakukan sama?
Kenapa 1 Muharram hampir selalu disepakati tanpa perdebatan nasional?
Kenapa tidak ada sidang isbat besar-besaran setiap pergantian bulan?
Secara fikih, semua awal bulan hijriah memiliki status yang sama. Tidak ada dalil yang membedakan Ramadhan dari bulan lain dalam hal metode penentuan. Jika “melihat hilal” dipahami secara literal dan mutlak, maka seharusnya setiap bulan ada rukyat nasional.
Faktanya, tidak demikian.
Jawaban jujurnya bukan teologis, melainkan sosiologis dan administratif. Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah memiliki dampak sosial besar: puasa wajib, Idul Fitri, libur nasional, THR, cuti bersama, dan pergerakan ekonomi masif. Sementara bulan lain tidak.
Akibatnya, rukyat hanya “diaktifkan” saat risikonya tinggi. Untuk bulan lain, hisab diterima secara diam-diam tanpa polemik. Ini menunjukkan satu hal penting: hisab sebenarnya sudah diterima secara praktis, hanya belum diakui secara terbuka sebagai standar utama.
Di titik ini, sidang isbat lebih berfungsi sebagai mekanisme pengaman legitimasi publik, bukan kebutuhan ilmiah atau syar’i murni.
Memilih dengan Tenang, Bukan Fanatik
Bagi sebagian keluarga, memilih mengikuti metode hisab Muhammadiyah bukan soal organisasi atau perlawanan, melainkan soal konsistensi dan ketenangan batin. Ketika metode yang sama dipakai sepanjang tahun, berbasis ilmu, dan terverifikasi dari waktu ke waktu, keyakinan tumbuh secara alami.
Dalam ibadah, ketenangan jauh lebih penting daripada keseragaman formal. Islam sendiri mengajarkan bahwa keyakinan tidak gugur oleh keraguan. Selama pilihan diambil dengan pemahaman, bukan ikut-ikutan, maka ibadah tetap sah dan bermakna.
Penutup
Perdebatan awal Ramadhan tidak akan selesai selama kita lebih sibuk mempertahankan prosedur daripada mengejar substansi. Ilmu pengetahuan sudah memberi kita alat yang sangat presisi. Yang dibutuhkan sekarang bukan teknologi baru, melainkan kejujuran metodologis dan keberanian bersikap konsisten.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan soal siapa paling benar menentukan tanggal, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh memaknai puasanya. Dan setiap orang berhak memilih jalan yang membuatnya paling tenang—selama tetap saling menghormati.


