DeepSeek: Gebrakan Teknologi AI dari Tiongkok

DeepSeek: Gebrakan Teknologi AI dari Tiongkok

DeepSeek, sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan di Tiongkok, telah mengguncang dunia teknologi. Awalnya, banyak yang menganggap ini sebagai pertarungan antara AI Tiongkok melawan AI Amerika. Namun, cerita tidak berhenti di situ. Beberapa hari setelah kemunculan DeepSeek, muncul lagi Qwen, AI lain buatan Alibaba, salah satu perusahaan teknologi raksasa Tiongkok. Jadi, bukan hanya AI Tiongkok versus AI Amerika—tetapi juga AI Tiongkok melawan sesamanya.

Fenomena ini memicu reaksi besar di industri high-tech Tiongkok. Banyak perusahaan lokal mulai berlomba-lomba untuk meluncurkan produk serupa dalam waktu dekat. Yang paling menarik adalah bahwa hampir semua inovasi ini dimotori oleh anak-anak muda berusia antara 19 hingga 28 tahun. Mereka yang selama ini sering disebut sebagai “Strawberry Generation”—generasi yang dianggap manja dan kurang tangguh—akhirnya membuktikan diri. Mereka menunjukkan kreativitas luar biasa dan kemampuan teknis yang mendunia.

Bahkan, di India, ada diskusi serius untuk meningkatkan anggaran riset agar negara tersebut bisa menghasilkan aplikasi AI sekelas China. Inilah wajah baru geopolitik global: bukan lagi sekadar pertarungan militer atau ekonomi tradisional, tetapi juga kompetisi teknologi yang saling mendisrupsi. Ketika disrupsi seperti ini terjadi, siap-siaplah menyaksikan perubahan besar-besaran di berbagai industri.


Pelajaran dari Disrupsi Masa Lalu

Kita sudah menyaksikan gelombang disrupsi sebelumnya. Pada tahun 2015, banyak perusahaan besar seperti Nokia dan Kodak jatuh karena gagal beradaptasi dengan teknologi baru. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2025, kita akan menyaksikan fenomena serupa: banyak disruptor yang dulunya menjadi pelopor justru terdisrupsi oleh teknologi baru.

Negara-negara adikuasa yang selama ini dianggap tak tergoyahkan pun mulai mengalami guncangan. Salah satu aspek yang paling terdampak adalah kapitalisme model Amerika. Model ini cukup sederhana: ada inventor (penemu) yang menciptakan teknologi baru, lalu teknologi tersebut dilindungi dengan hak paten. Inventor diberi insentif berupa pajak rendah, akses ke capital market, dan dukungan investor. Dengan sistem ini, mereka bisa menjadi sangat kaya—bahkan disebut sebagai plutokrat.

Baca Juga  Telkom Memang Terbukti Menjebak Konsumennya

Namun, sistem ini tidak luput dari tantangan. Teori The Flying Geese, yang menggambarkan negara adikuasa seperti Amerika sebagai pemimpin dunia, mulai goyah. Negara-negara seperti Jepang pernah mencoba menantang dominasi Amerika dengan industri otomotif dan elektroniknya. Namun, ketika Jepang berada di garis depan, mereka langsung dihajar dengan sanksi-sanksi. Meskipun sanksi itu tidak seberat yang diterima oleh Venezuela, Iran, atau Cina, Jepang akhirnya mundur ke barisan belakang.

Saat ini, Tiongkok sedang mencoba berada di posisi terdepan. Meskipun dikenai embargo dan tarif tinggi, Tiongkok tidak pernah kehabisan akal. Mereka mengubah aturan permainan dengan menciptakan teknologi yang lebih efisien dan murah. Ini adalah alarm bagi Amerika, seperti yang dikatakan Donald Trump: “This is a wake-up call.”


Dampak DeepSeek terhadap Pasar Global

Kehadiran DeepSeek langsung memengaruhi pasar teknologi global. Saham Nvidia, salah satu perusahaan pembuat microchip terbesar, sempat anjlok drastis setelah kemunculan DeepSeek. Nilainya turun sekitar 600 miliar USD. Namun, beberapa hari kemudian, saham Nvidia kembali naik karena mereka memiliki paten baru dan terus berinovasi. Industri otomotif, kesehatan, dan big tech lainnya tetap membutuhkan microchip, sehingga permintaan tetap tinggi.

Apa yang bisa kita pelajari dari ini? DeepSeek dan teknologi serupa mengingatkan kita pada teori klasik: “Necessity is the mother of invention.” Keterbatasan dan tekanan mendorong manusia untuk berpikir kreatif dan menemukan solusi baru. Contohnya, Tiongkok berhasil menciptakan tanaman yang dapat tumbuh di padang pasir—mirip dengan apa yang dilakukan Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Bahkan, meskipun diembargo, Tiongkok tetap mampu mengembangkan DeepSeek dengan menggunakan microchips versi sebelumnya. Hasilnya, kemampuan DeepSeek diklaim bisa mengimbangi ChatGPT.

Namun, DeepSeek juga menghadapi kendala. Saya sendiri sering mendapatkan pesan “The server is busy” saat mencoba menggunakan layanan ini. Ini mungkin disebabkan oleh traffic yang sangat tinggi atau keterbatasan sumber daya server. Namun, justru dari keterbatasan inilah inovasi lahir. Dukungan kuat dari pemerintah Tiongkok membuat mereka mampu bergerak cepat, bahkan menggunakan metode open source untuk mengurangi ketegangan internasional.

Baca Juga  Misteri di Balik Kutukan Gus Dur & Ahok yang Seolah Nyata Terjadi

Cara Berpikir Baru di Era Digital

Di dunia baru yang didominasi oleh teknologi digital, cara berpikir kita harus berubah. Selama ini, kita cenderung berpikir secara analogical—menggunakan asumsi-asumsi lama dan melanjutkan pola pikir yang sama dari masa ke masa. Misalnya, program-program pemerintah sering kali hanya berputar-putar tanpa benar-benar memecahkan masalah. Seperti sindiran Pak JK tentang program “Kopro Banjir”: program yang dibuat setiap tahun hanya untuk merawat banjir, bukan mengatasinya.

Di era digital, kita perlu beralih ke “first principle thinking”—berpikir dari prinsip dasar. Contohnya, Elon Musk men-challenge asumsi lama bahwa roket hanya digunakan sekali lalu dibuang. Dia menciptakan roket yang bisa digunakan berulang kali, menghemat biaya hingga miliaran dolar. Anak-anak muda di balik DeepSeek juga melakukan hal serupa: mereka men-challenge asumsi yang ada dan menciptakan sesuatu yang efisien dan powerful.


Masa Depan yang Terdisrupsi

Disrupsi ini tidak hanya mengubah kapitalisme dan geopolitik, tetapi juga cara hidup kita sehari-hari. Industri, budaya, pasar, dan bahkan generasi baru semuanya terpengaruh. Kita harus membangun kebiasaan baru dengan cara berpikir yang lebih terbuka dan berani menantang asumsi yang ada.

Dunia sedang berubah, dan kita harus siap menghadapinya. Seperti kata pepatah: “Stay relevant or be left behind.” Apakah kita akan menjadi bagian dari perubahan, atau hanya penonton yang tertinggal?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi