Kenapa Kulup Harus Dipotong? Dari Pertanyaan Soal Nabi Muhammad Sampai Tradisi Sejak Nabi Ibrahim

Kenapa Kulup Harus Dipotong? Dari Pertanyaan Soal Nabi Muhammad Sampai Tradisi Sejak Nabi Ibrahim

Awalnya sederhana.

Saya kepikiran nulis ini gara-gara ada yang nanya:

“Dalilnya apa dan di surah apa bahwa Nabi Muhammad itu disunat?”

Pertanyaan yang kelihatannya simpel, tapi ternyata bikin diskusi jadi panjang dan dalam.

Karena ketika ditelusuri, ternyata nggak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menyebut, “Nabi Muhammad disunat.”

Lho?

Iya. Memang tidak ada ayat yang menyatakannya secara langsung.

Lalu kok umat Islam yakin beliau berkhitan?


Apakah Ada Dalil Nabi Muhammad Disunat?

Jawabannya ada — tapi bukan dalam bentuk ayat Al-Qur’an yang eksplisit.

Dasarnya berasal dari dua hal:

Pertama, hadits tentang Nabi Ibrahim:

Nabi Ibrahim berkhitan pada usia 80 tahun.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, perintah Allah agar Nabi Muhammad mengikuti ajaran Nabi Ibrahim:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim yang hanif…”
(QS. An-Nahl: 123)

Karena khitan adalah bagian dari syariat Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad diperintahkan mengikuti millah Ibrahim, maka para ulama menyimpulkan bahwa beliau tentu mengamalkannya.

Ada juga riwayat yang menyebut Nabi Muhammad lahir sudah dalam keadaan “makhtun” (sudah disunat). Tapi riwayat ini diperselisihkan dan banyak yang dinilai lemah.

Jadi posisi paling aman secara ilmiah:

  • Tidak ada ayat eksplisit soal Nabi Muhammad disunat.
  • Tapi kesimpulan bahwa beliau berkhitan sangat kuat secara hadits dan logika syariat.

Dan dari sini, diskusi melebar.


Sunat Itu Sejak Kapan? Sejak Adam?

Ada yang bilang sejak Nabi Adam.

Tapi kalau kita pakai standar dalil yang kuat, maka titik sejarah yang jelas baru ada di Nabi Ibrahim.

Minimal sejak Ibrahim, khitan sudah menjadi bagian dari syariat.

Sebelumnya? Tidak ada dalil shahih yang memastikan.

Baca Juga  Nabi Idris AS: Gelar "Asadul Usud" dan Keberaniannya dalam Menegakkan Kebenaran

Pertanyaan yang Lebih “Nakil”: Kalau Manusia Sudah Sempurna, Kenapa Ada yang Dipotong?

Di sinilah diskusi jadi menarik.

Al-Qur’an menyebut:

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.”
(QS. At-Tin: 4)

Lalu muncul pertanyaan logis:

Kalau sudah sebaik-baiknya bentuk, kenapa kulup harus dipotong?

Apalagi ini bukan rambut.
Bukan kuku.
Bukan bulu ketiak atau jembut yang bisa tumbuh lagi.

Kulup itu permanen. Sekali dipotong, ya sudah.

Dan ini pertanyaan yang valid.


Apakah Kulup Tidak Berguna?

Secara medis, kulup punya fungsi:

  • melindungi kepala penis,
  • menjaga kelembapan,
  • berperan dalam sensasi.

Jadi bukan organ yang “nggak ada gunanya”.

Tapi secara medis juga diakui:

  • kulup bisa jadi tempat penumpukan smegma,
  • rawan infeksi kalau kebersihan buruk,
  • dalam beberapa penelitian, khitan menurunkan risiko penyakit tertentu.

Di lingkungan kuno seperti zaman Ibrahim — dengan sanitasi minim dan iklim panas — aspek kebersihan ini sangat mungkin punya peran besar.

Namun penting dicatat:
tidak ada dalil yang menyebut khitan muncul karena wabah kulup atau epidemi tertentu.

Penjelasan medis adalah hikmah yang bisa dipahami, bukan sebab tekstual yang disebut wahyu.


Jadi Apakah Ini Mengoreksi Ciptaan Allah?

Dalam kerangka teologi Islam, jawabannya tidak.

Manusia diciptakan sempurna, tapi juga diberi aturan bagaimana merawat tubuhnya.

Contoh lain:

  • Rambut tumbuh → dipotong.
  • Kuku tumbuh → dipotong.
  • Bulu kemaluan → disuruh dicukur.
  • Gigi rusak → boleh dicabut.

Kesempurnaan bentuk tidak berarti semua bagian harus dibiarkan tanpa modifikasi.

Khitan dalam Islam diposisikan sebagai bagian dari fitrah. Ada hadits yang menyebut khitan termasuk lima perkara fitrah bersama kebersihan lainnya.

Bedanya memang satu: khitan bersifat permanen.

Dan di situlah unsur ketaatan masuk lebih dominan daripada sekadar perawatan rutin.

Baca Juga  Kajian Kisah Nabi Idris AS: Biografi, Dakwah, Mukjizat, dan Wafatnya

Kalau Dulu Karena Kebersihan, Kenapa Masih Berlaku Sekarang?

Karena dalam Islam, khitan bukan hanya tindakan medis.

Ia sudah menjadi:

  • syariat,
  • identitas millah Ibrahim,
  • dan simbol keberlanjutan tradisi kenabian.

Bahkan dalam tradisi Yahudi, khitan menjadi tanda perjanjian dengan Tuhan. Jadi praktik ini lintas agama dan lintas sejarah.

Manfaat medis mungkin menjadi hikmah tambahan, tapi fondasinya tetap religius.


Penutup: Berpikir Itu Bukan Membangkang

Artikel ini lahir dari satu pertanyaan sederhana tentang dalil Nabi Muhammad disunat.

Tapi ternyata pertanyaan itu membuka diskusi besar tentang:

  • sejarah,
  • teologi,
  • kesehatan,
  • dan filosofi tubuh manusia.

Kalau kamu pernah kepikiran hal yang sama, itu bukan tanda iman lemah.

Itu tanda kamu serius ingin paham.

Dan mungkin memang seperti itulah agama bekerja:
bukan mematikan pertanyaan, tapi mengajaknya naik kelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi