Azan Magrib Sudah Berkumandang, Tapi Matahari Belum Terbenam: Puasa Orang Indonesia Salah?

Buat sebagian orang, puasa itu simpel: mulai dari azan Subuh, selesai saat azan Magrib. Tapi belakangan, makin banyak orang yang mulai memperhatikan alam dengan lebih teliti.

Dan muncul pertanyaan yang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya sangat penting:

“Kenapa saat azan Magrib berkumandang, matahari kadang masih kelihatan? Kalau begitu, puasanya belum boleh selesai dong?”

Pertanyaan ini bukan cuma wajar. Justru ini bentuk kepekaan dan ketelitian yang bagus, karena Islam memang menjadikan fenomena alam sebagai patokan ibadah, bukan semata jadwal.

Mari kita bahas pelan-pelan, biar jelas dan nggak simpang siur.


Dalilnya Jelas: Puasa dari Fajar hingga Matahari Terbenam

Dalam Islam, batas waktu puasa bukan berdasarkan jam atau azan, tapi berdasarkan tanda alam.

Dalil utamanya adalah firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Baqarah ayat 187:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”

Ayat ini tegas menyebut dua batas:

  • Awal puasa: saat terbit fajar (fajar shadiq)
  • Akhir puasa: sampai datang malam, yang berarti matahari terbenam

Hadis Nabi ﷺ juga memperjelas bahwa waktu berbuka adalah saat matahari benar-benar tenggelam:

“Jika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sana, dan matahari telah terbenam, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, secara teks syariat, tidak ada debat:
puasa baru selesai setelah matahari terbenam.


Tapi Kenapa di Indonesia Azan Magrib Kadang Lebih Cepat?

Nah, ini bagian yang bikin banyak orang kaget.

Di Indonesia, jadwal salat yang dipakai masjid dan masyarakat umumnya berasal dari perhitungan astronomi (hisab) yang kemudian diberi “pengaman waktu”.

Baca Juga  Kontroversi Pagar Laut di Tangerang: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Dalam istilah falak, ini disebut ihtiyath, yaitu margin kehati-hatian.

Artinya apa?

Secara praktik, jadwal Magrib di banyak daerah kadang dimajukan 2 sampai 4 menit, supaya:

  • muazin tidak telat azan
  • seluruh wilayah dalam satu kota aman
  • tidak terjadi perbedaan ekstrem antar masjid
  • masyarakat tidak salat sebelum waktunya karena salah hitung

Hasilnya:

Azan Magrib bisa saja berkumandang ketika matahari menurut pengamatan mata masih terlihat sedikit.


Azan Itu Penanda, Bukan Penentu Hukum

Ini poin penting yang sering terlupakan.

Dalam Islam:

  • Waktu salat dan puasa ditentukan oleh tanda alam
  • Azan hanya pengumuman bahwa waktunya sudah masuk

Jadi kalau ada kondisi tertentu di mana azan terdengar tapi tanda alam belum terjadi, maka patokan syariat tetap fenomena alam, bukan suara azan.


Lalu, Kalau Kita Berbuka Saat Matahari Masih Terlihat, Gimana Hukumnya?

Ini yang paling krusial.

Kalau seseorang benar-benar yakin matahari masih ada di atas ufuk, artinya:

  • waktu Magrib belum masuk
  • puasa secara hukum belum selesai

Dalam kondisi ini, yang paling aman adalah:

menunggu sampai matahari benar-benar tenggelam

Karena dalam fiqh ada kaidah:

“Keyakinan tidak hilang karena keraguan.”

Kalau keyakinannya adalah “matahari masih jelas kelihatan”, maka tidak pantas mengalahkan itu hanya karena jadwal.


Terus, Apakah Berarti Puasa Orang Indonesia Selama Ini Salah?

Jawabannya: tidak sesederhana itu.

Mayoritas masyarakat:

  • tidak mengamati matahari langsung
  • mengikuti jadwal resmi
  • mengikuti ijtihad ahli falak
  • tidak berniat melanggar syariat

Dalam kondisi seperti ini, para ulama umumnya memandang:

puasa mereka sah
karena mereka mengikuti penanda yang dipercaya dan diakui.

Namun, ini tidak berarti masalahnya tidak ada.

Karena memang benar:
jika jadwal dimajukan terlalu cepat, potensi berbuka sebelum waktunya itu nyata.

Baca Juga  Pasukan Gajah Menyerang Ka’bah: Kisah Epik, Logistik Gila, dan Pertanyaan yang Jarang Dibahas

Kenapa Matahari Masih Terlihat Padahal Jadwal Sudah Masuk Magrib?

Selain soal margin jadwal, ada juga faktor teknis yang bikin matahari “terlihat masih ada”, seperti:

  • posisi ufuk berbeda (ada gunung, gedung, pohon)
  • tinggi tempat kita berdiri
  • efek refraksi atmosfer yang membuat cahaya matahari “seolah masih tampak”

Jadi kadang matahari terlihat sedikit, padahal secara perhitungan astronomi sudah sangat dekat tenggelam.


Sikap Terbaik: Jangan Ribut, Tapi Jangan Menutup Mata

Topik ini sering jadi sensitif, karena orang takut dianggap menyalahkan tradisi.

Padahal ini bukan soal tradisi.

Ini soal:

  • memahami dalil
  • memahami fenomena alam
  • menempatkan jadwal dan azan pada posisinya

Sikap paling adil adalah:

  1. Jangan mudah menghakimi orang yang berbuka saat azan
  2. Tapi juga jangan menolak fakta kalau memang matahari masih terlihat
  3. Kalau ragu, tunggu 1–2 menit sebagai kehati-hatian pribadi

Kesimpulan

Dalil Islam jelas:
puasa itu dari fajar sampai matahari terbenam.

Namun, dalam praktik di Indonesia:

  • jadwal Magrib kadang diberi margin (ihtiyath)
  • azan bisa terdengar sedikit lebih awal
  • pengamatan alam kadang menunjukkan matahari belum tenggelam

Maka kesimpulan praktisnya:

  • mengikuti jadwal resmi → umumnya sah dan diterima ulama
  • kalau yakin matahari belum terbenam → lebih aman menunggu

Karena pada akhirnya, yang kita cari dalam ibadah bukan sekadar cepat selesai, tapi ketepatan dan ketakwaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Belajar... Tumbuh... Berbagi