Benarkah ABDI Menggunakan Skema Ponzi?

Benarkah ABDI Menggunakan Skema Ponzi?

Saya tertarik untuk membahas masalah ABDI setelah membaca sebuah postingan di blog bahasbisnis.com. Menurut admin bahasbisnis, ABDI merupakan Skema Piramida berbalut Akademi Digital. Ini bukan review pribadi untuk kebutuhan promosi online ya. Saat ini saya belum mendaftar di sana. Beberapa teman yang saya kenal dekat banyak yang sudah ikutan, dan saya juga sudah lihat beberapa materi di dalam member areanya. Saya cuma ingin sekedar memberikan opini tanggapan terhadap artikel tersebut…

Menurut Bahas Bisnis :

Akademi Bisnis Digital melakukan praktek skema Ponzi karena, untuk jadi member ABDI, Anda harus keluar uang Rp. 500.000. Dengan uang itu anda akan mendapatkan sejumlah modul tentang bisnis online. Anda juga mendapatkan produk dengan merek essenzo oil. Lalu nanti member bisa dapat penghasilan? Bisa. Dengan cara mengajak orang lain untuk jadi member. Setiap berhasil mengajak orang lain, member akan dapat komisi 100.000 rupiah.

Opini Saya

Buat saya ini kok gak “make sense” ya? Kenapa itu jadi masalah? Menurut saya sih, praktek bisnis seperti ini sih ya wajar saja. Dalam Internet Marketing, praktek seperti ini disebut “Affiliate Marketing. Member ABDI selain dapat modul pembelajaran Digital Marketing, juga tercatat sebagai affiliate dari program kursus ABDI. Ini, prinsipnya beda jauh donk dengan skema Ponzi yang dituduhkan Bahas Bisnis. Di skema Ponzi itu, kita cukup setor duit, terus duduk diam dapat duit dari member-member baru yang daftar belakangan. Dalam Affiliate marketing, si affiliate hanya bisa mendapatkan komisi setelah orang daftar dari link yang dia promosikan. Hanya affiliate marketer yang rajin promosi saja yang bisa dapat komisi, dan itu gak cukup duduk diam dapat duit kayak di sistem Ponzi. 

Ada banyak E-Course Internet Marketing berbayar yang sejenis dengan ABDI. Misal :

  • DOA, Digital Optimization Academy. 
  • Internet Marketer Pro
  • Marketplace Hero
  • Zuper
  • Markas Digital
  • Surga Digital
  • dll

Sistem komisi yang dilakukan oleh ABDI, itu sangat mirip dengan berbagai e-Course lain yang banyak bertebaran di internet. Sistem ini disebut dengan istilah Affiliate Marketing. Saya agak heran dengan pemikiran Admin Bahas Bisnis. Di satu sisi dia mengatakan bahwa Affiliate Marketing itu baik, tapi pada prakteknya, dia menjelek-jelekan praktik bisnis Afiliasi ABDI dengan istilah skema piramida. 

Menurut Bahas Bisnis :

Skema piramida itu kalau bisnis lebih fokus cari member baru daripada jualan produk. ABDI jelas-jelas seperti itu. Sama seperti Eco Racing, Paytren, Melia Sehat Sejahtera dan sederet MLM skema piramida lainnya.

ABDI juga menyalahi aturan dalam permendag No. 70 2019 yang melarang MLM mewajibkan member baru membeli paket produk saat pendaftaran.

Opini Saya :

Bisnis MLM yang lebih fokus cari member daripada jualan produk tidak bisa langsung di-cap sebagai Skema Piramida. Dulu saya pernah menjalankan Amway. Di semua group IBO Amway yang aktif, para membernya selalu lebih fokus mencari member baru, atau istilahnya adalah “Membangun Jaringan”. Gak ada member yang fokus cari pembeli. Pembeli datang dari orang yang menolak bergabung saat diprospek. Ada juga member pasif gak ngapa-ngapain yang cuma beli sewaktu-waktu dia butuh aja. Itu adalah praktek bisnis yang sangat wajar. 

Di MLM pola matahari yang lain seperti CNI, Tianshi, NASA, HPAI, dll pun, polanya memang selalu begitu. Prinsip kerjanya adalah, bangun jaringan yang kuat terlebih dahulu. Setelah jaringan kuat terbentuk, pasif income akan terbentuk dari banyaknya Repeat Order yang terjadi nanti. Mayoritas Repat Order yang terjadinya pun, adalah produk untuk dikonsumsi sendiri. 

Dalam organisasi group MLM semacam ini, ada istilah alihkan produk yang anda pakai sehari-hari dengan produk sejenis yang disediakan perusahaan. Emangnya ada gitu member Amway yang fokus jualan? Memangnya ada member NASA atau HPAI yang fokus cuma jualan produk? Memang ada sih, tapi jumlahmuya sedikit banget. Hampir gak ada karena mayoritas member tidak tidak melakukan itu! Kalau mau fokus jualan mah, sebaiknya gak usah jalanin MLM aja, udah aja jualan di pasar, buka toko, atau mulailah mencoba untuk jualan di marketplace 🙂

Produk-produk MLM besar seperti Amway, Tianshi, Synergy Worldwide, Nu Skin, Usana dll, gak pernah dipajang di Marketplace. Kenapa? Karena aturan perusahaan memang begitu. Seharusnya para MLM lokal pun melakukan hal yang sama. 

Soal Permendag No 70 2019, perusahaan MLM memang tidak boleh mewajibkan member barunya untuk beli produk. Tapi dalam prakteknya, biasanya upline atau tim bisnisnya yang mendorong member baru untuk langsung beli produk. Ini wajar. Seperti halnya orang buka warung, etalasenya dibiarkan kosong nanti klo udah ada pembeli baru diisi barang, atau barang lebih dulu dipajang supaya pembeli datang? Gunakan logika dagang sederhana saja ya…

Menurut Bahas Bisnis :

Bagaimana dengan ‘ilmu’ nya? Kan namanya akademi? Dikasih berbagai pelajaran? Ilmunya standar saja. Di internet gratis. Googling saja cara beriklan di facebook, cara mendatangkan trafik ke website, cara beriklan di google. Semua ada. Tak perlu bayar.

Lagi pula, Anda harus kritis juga. Siapa yang bikin akademi? Sudah pantaskah? Sudah pernah sukses bisnis online sebelumnya? Namanya tak pernah terdengar kecuali di bisnis MLM skema piramida ini.

Opini Saya :

Kalau memang ilmunya ecek-ecek, semua orang gampang belajar donk? Ini sih analoginya mungkin seperti orang awam memandang bisnis AMDK yang harganya lebih mahal dari air sumur. Air minum itu gratis, tinggal gali sumur atau ambil di sungai lalu rebus sendiri. Air itu gratis, tapi harganya jadi mahal setelah melalui pengolahan di pabrik, dibersihkan, dimatangkan, dimineralisasi, lalu dikemas dalam botol plastik.  

Ilmu-ilmu yang bertebaran di internet pun begitu. Semuanya tersedia gratis. Namun harganya bisa jadi mahal setelah dipilah-pilah sesuai kebutuhan, disusun ulang lagi secara sistematis, dilengkapi dengan banyak ilustrasi, dibuktikan dengan pengalaman para pembuat materinya,  dibuat video tutorialnya, dilengkapi layanan purna jualnya, dan seterusnya. 

Saya rasa, ilmu yang diajarkan dulu di Asian Brain, hingga kini di ABDI, DOA (Digital Optimization Academy), Zuper, Internet Marketer Pro, Marketplace Hero, dll, gak bisa dianggap standar bagi semua orang. Butuh diolah dan dimatangkan sebelum tersaji dalam bentuk E-Course yang menarik dan profesional.

Mengenai pantas tidaknya dia bikin akademi, kenapa ambil pusing? Lihat saja respons masyarakat. Dipercaya atau tidak oleh mereka? Biarkan saja secara alami. Kalau bagus dia bakal terus tumbuh, kalau jelek nanti juga mati dengan sendirinya. Dulu saja, sebanyak apapun Anne Ahira kasih bukti keberhasilan dia mendapatkan penghasilan di internet, tetap saja masih banyak yang negatif dan skeptis toch? 🙂

Menurut Bahas Bisnis :

ABDI itu sebetulnya cuma cara lama. Dulu sekali Anne Ahira pernah pakai cara yang sama. Jual modul ecek-ecek. Orang dapat uang kalau cari member baru. Cuma ABDI menambah dengan produk. Kalau produknya laku dijual mungkin tak terlalu masalah. Sayangnya memang tidak laku.

Opini Saya :

Kalau admin bahas bisnis mengatakan ilmu Asian Brain cuma ecek-ecek yang begitu gampang ditemukan siapa aja di Google, berarti mainnya kurang jauh. Kalau ilmu Anne Ahira sekedar ecek-ecek, gak mungkin donk murid-muridnya banyak sekarang sudah pada jadi mastah? Salah satu diantaranya adalah Bramantya Farid, saya pertama kali ketemu di acara kopdar Asian Brain sekitar tahun 2010, pas saya lagi gaptek-gapteknya dunia bisnis online. 

Nama lain yang saya ingat adalah Dini Shanti, top leader Oriflame yang sukses menerapkan bisnis online pada MLM Oriflame yang dia tekuni. Dia adalah salah satu sahabat Anne Ahira. Dini Shanti menerapkan pendekatan internet marketing melalui web replika disertai modul-modul pembelajaran dan pelatihan di dalamnya, juga mengajarkan teknik list building dengan metoda autoresponder email marketing.

Di  komunitas Asian Brain ini juga saya pernah bertemu dengan River Maya, salah satu nama top di dunia internet marketing Indonesia. 

Saya gak tahu kondisi Anne Ahira sekarang, tapi yang jelas, 10 tahun yang lalu, dia tercatat sebagai salah satu top marketer kelas dunia. Saat itu, semakin kita belajar ilmunya, semakin kenal reputasi Ahira, semakin tidak mungkin kita menyebut ilmu beliau dengan sebutan ecek-ecek. 

Kalau memang ilmunya bagus dan keren, kenapa member Anne Ahira dan member ABDI, alih-alih menjalankan bisnisnya sendiri tapi malah sebagian besar malah cuma  mempromosikan membership seperti cari member buat dapat komisi? 

Ini cuma opini saya sih, ya karena sebagian besar member gaptek saat itu banyak yang merasa kesulitan memahami materi yang diajarkan di member area Asian Brain. Juga banyak yang terkendala masalah teknis. Saat itu khan internet marketing tools banyak yang perlu dibeli pakai dollar. Beda banget dengan Jaman Now. Banyak yang kesulitan membuat konten, apalagi konten berbahasa Inggris seperti yang dicontohkan Bu Guru Ahira. Jadi, ya wajar saja jika murid-muridnya saat itu memilih untuk jalankan afiliasi Asian Brain saja, sambil berharap moga-moga kemampuan mereka naik berhatap hingga bisa jalankan berbagai bisnis online seperti ajaran Ahira. 

Soal member ABDI yang jualan membership, kasusnya hampir serupa. Sebagian besar murid ABDI tidak punya atau belum punya akses supplier, banyak juga yang terkendala modal untuk stock barang yang ditawarkan supplier. Ini adalah salah satu kendala terbesar bagi orang yang ingin mencoba usaha jualan, baik offline maupun online. Karena ABDI menyediakan produk yang kemasannya sudah bagus, siap dipasarkan, materi promosinya lengkap, bisa di-DROPSHIP oleh membernya, pilihan ini tentu diambil. 

Ilmu-ilmu yang diajarkan di ABDI sebetulnya bisa digunakan untuk jualan produk apa saja, gak ada kewajiban bagi membernya buat jualan Essenzo Oil. ABDI pun mempersilahkan murid-muridnya untuk nyontek bahan-bahan promosi online Essenzo yang disediakan di member areanya, contek abis lalu sesuaikan saja dengan produk milik masiing-masing yang mau dijual dengan teknik digital marketing. Tapi apa itu mudah? TIDAK! Para pemula, apalagi yang gaptek, mereka gak punya pengetahuan yang mumpuni tentang seluk beluk membuat website, apalagi yang sistemnya membership yang bisa member get member seperti ABDI. Berdasarkan pengalaman pribadi sih, butuh waktu lumayan lama untuk menguasai seluk beluk pembuatan website, apalagi yang dilengkapi sistem membership yang canggih seperti ABDI. 

Meskipun kita sudah tahu dan menguasai cara-cara membangun website seperti itu dengan CMS WordPress dan Plugin WP-Affiliasi atau Sejoli yang lebih canggih, tapi ternyata sulit diwujudkan tapa teamwork yang solid. Membangun website seperti ABDI atau DOA sendirian tanpa punya tim itu ternyata gak mudah itu, Ferguso! 😀 Butuh investasi waktu dan tenaga yang cukup besar. Belum lagi masalah membuat bahan-bahan promosi onlinenya untuk promo sosial media. Masalah Sosial Media Marketing aja cukup kompleks kok 😀

KESIMPULAN

Saya menemukan beberapa yang sejenis dengan ABDI, antara lain : DOA, Digital Optimization Academy. Komunitas DOA juga mendapatkan dukungan positif dari komunitas Dewa Eka Prayoga si Dewa Selling.

Atau barangkali teman-teman pembaca ingin membuat sendiri program sistem jual beli seperti ABDI dan DOA? Buat yang sudah cukup melek teknologi dan familiar dengan seluk beluk wordpress, tag-tag HTML, dan jiwa seni yang tinggi. Yang perlu anda lakukan adalah

Pertama,  anda perlu membuat website membership. Website ini juga perlu diperkaya dengan banyak landingpage penawaran sistem maupun produk. Website ini juiga perlu dilengkapi dengan autoresopnder dan email marketing.

Kedua, Anda perlu punya tim kreatif untuk membuat bahan-bahan promosi online

Ketiga, tentu saja anda punya supplier produk yang mendukung sistem yang anda buat.

Slogan Bahas Bisnis adalah “Tangkal Penipuan Dengan Pengetahuan”. Saya setuju. Salah satu gegedug Masyarakat Anti Ponzi bermana Firman Akhiya mengatakan bahwa web bahasbisnis.com merupakan bacaan wajib para member MAP. Ya boleh-boleh saja dia berpendapat begitu. Tapi bagi saya pribadi, gak semua konten di blog bahas bisnis merupakan kebenaran mutlak yang harus diikuti semua orang. Saat membahas masalah Memiles, Dream 4 Freedom, MMM, dll, saya memang sependapat dengan dia. Tapi untuk masalah ABDI ini, ternyata saya punya sudut pandang yang berbeda. 

Menurut saya, untuk bisa menilai segala sesuatu dengan obyektif dan netral, perluas wawasan dan pengetahuan, juga perlu banyak ber-tabayyun dengan banyak pihak. Gunakan akal sehat, agar hidup kita bisa bermanfaat bagi banyak orang. 

Comments

comments

You cannot copy content of this page