MLM & Viral Marketing – Jilid 2

Di postingan sebelumnya, saya membahas membahas 2 dari 10 poin perbedaan dari Multi Level Marketing dan Viral Marketing, beserta opini saya yang berkaitan dengan itu. Baiklah, dalam tulisan ini, saya akan  bahas tuntas point-point selanjutnya. 

Ketiga, MLM harus bertatap muka langsung dengan calon anggota untuk meyakinkan agar mau membeli produknya dan menjalankan bisnisnya. Di Viral Markeing, tidak perlu harus bertatap muka, cukup online di internet, atau chat lewat WhatsApp Messenger, karena mereka sudah mengetahui dan memakai produknya.

Jaman internet semakin terjangkau seperti sekarang, untuk memprospek produk MLM pun gak harus tatap muka langsung pun bisa kok. Menawarkan produk maupun peluang bisnis MLM bisa dijalankan secara online dengan menggunakan alat-alat bantu seperti  web support, web replika, autoresponder, email marketing, facebook, WhatsApp, Line, dan sebagainya. Dulu sebelum tahun 2000-an awal saat internet masih mahal memang masih sulit dilakukan. Tapi saya lihat makin ke depan memviralkan bisnis MLM lewat internet akan semakin mudah dan cepat. 

Keempat, di MLM harus menjelaskan kehebatan produk yang ditawarkan, karena produk mahal harus menunjukkan khasial / kualitas sehingga orang mau membelinya. Di Viral Marketing tidak perlu presentasi produk, karena pemilik sudah beriklan di berbagai media massa memperkenalkan manfaat / kualitas produknya. 

Produk apa sih yang tidak perlu dijelaskan khasiatnya? Itu bukan cuma di dunia MLM, di perdagangan konvensional biasa juga begitu. Saya ngerti sih maksud dia. Dalam menjual produk MLM, kita sebagai distributor yang harus menjelaskan manfaat produk pada konsumen, apalagi produk-produk kesehatan. Kalau kita jualan produk konvensional di luar system MLM seperti barang-barang yang kita pajang di warung, konsumen umumnya sudah pasti paham karena sudah dijelaskan dan dipromosikan oleh iklan-iklan di media massa,

Kelima, di MLM mengajak menjadi anggota sulit karena ada tahapan meyakinkan atas manfaat, kualitas, dan khasiat produk yang dijual. Di VM mengajak orang menjadi anggota relative mudah karena mereka memang sudah terbiasa memakai produknya, hanya cara dan tempat membelinya saja yang perlu dijelaskan.

Sulit untuk mengajak orang yang belum paham, tapi tetap relative mudah untuk orang yang sudah paham. Jaman Now ini, para internet marketer professional sudah banyak yang sukses menjalankan bisnis MLM tanpa tatap muka, meskipun menurut kacamata orang awam akan sulit dilakukan

Keenam, anggota MLM harus presentasi produk untuk menjelaskan kehebatan produknya, meskipun kadang manipulatif. Viral Marketing hanya mengajak merubah kebiasaan pembelian produk dari toko konvensional ke Online Shop, dan menyampaikan benefitnya jika mau berpindah dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru

MLM berbasis produk juga sudah banyak yang mulai meyediakan fasilitas Online Shop, baik berbasis web maupun berbasis aplikasi android.

Ketujuh. MLM, wajib menghadiri seminar/pertemuan yang dilakukan secara rutin untuk memotivasi para anggotanya yang kesulitan menjual produk karena harganya mahal. VM tidak wajib menghadiri pertemuan/seminar, yang penting rajin memperkenalkan dan mereferensikan teman bergabung menjadi anggota viral Marketing.

Sebetulnya menghadiri seminar dan pertemuan itu bukan kewajiban, itu hanya bagian dari Support System saja, dan sifatnya pilihan. Di jaman serba online seperti sekarang, orang-orang semakin memungkinkan untuk menjalankan bisnis MLM dengan sesedikit mungkin pertemuan berbayar.

Kedelapan, MLM ada biaya pendaftaran yang sangat besar untuk membeli paket produk dengan alasan agar bisa meyakinkan orang lain, maka anggotanya harus merasaan dulu produknya. Viral Marketing pendaftarannya gratis karena anggota pada dasarnya sudah menjadi konsumen produknya.

Tidak setiap MLM mewajibkan membeli sejumlah paket produk yang mahal. Banyak yang

Kesembilan, MLM besarnya bonus berdasarkan pendaftaran member baru, karena bonus dibayar berdasarkan uang pendaftaran. Viral Marketing, bonus dibayarkan per transaksi secara berjenjang dan memiliki jenjang karir sesuai pertumbuhan transaksi.

Saya akui, saat ini memang banyak sekali MLM yang membagi bonusnya berdasarkan uang pendaftaran. Namun praktek ini menurut saya syah-syah saja. Member pun banyak yang suka, kenapa? Karena hasil jerih payahnya memprospek orang langsung terbayar. Bukanlah ada hadits yang mengatakan bahwa “bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya”? 

Kesepuluh, MLM selain harus membeli starterkit, anggota juga wajib membayar iuran setiap tahun agar keanggotaannya tidak hangus, atau membayar lagi agar naik karir. Viral Marketing, registrasi gratis, tidak ada iuran tahunan.

Oke, itulah 10 perbedaan Multi Level Marketing dan Viral Marketing. Seperti sudah saya duga sebelumnya, orang tersebut lalu menawarkan bisnis juga. Bisnis apa sih? Saya akan bahas masalah ini di tulisan-tulisan selanjutnya.

MLM & Viral Marketing – Jilid 1

Saya mendapat broadcast di WAG tentang 10 perbedaan antara MLM dan Viral Marketing.  Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan isi broadcast tersebut. Pada akhirnya, si penyebar BC tersebut menawarkan peluang usaha yang dia sebut “Viral Marketing”, bukan “MLM”…  Inilah isi broadcast, yang saya cetak dengan font warna biru, dengan komentar saya di bawahnya…

Pendapat para ahli di masa yang akan datang ada satu macam bisnis yang akan berkembang dengan pesat di Indonesia yaitu bisnis jaringan. Bisnis ini memiliki keunggulan modal yang murah/relatif terjangkau oleh semua kalangan bahkan gratis, tidak memerlukan lokasi tertentu sebagai tempat usaha, tidak memerlukan gudang sebagai stok barang, tidak perlu karyawan, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan mudah dijalankan oleh semua orang asal memiliki komitmen untuk sukses.

Tidak usah nunggu lagi, bisnis jaringan memang sudah ada kok. Saya sendiri mulai mengenalnya lewat Amway tahun 1992. Saat itu ada juga CNI, Forever Young, dll

Bisnis jaringan yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Multi Level Marketing (MLM) namun sayangnya, bisnis ini saat ini mulai tercemar karena banyak oknum yang menyalah gunakan system guna mempercepat jenjang karier mereka digunakan cara instant sehingga berkembang menjadi money game.

Benar sekali, sejak tahun 95 pun mulai bermunculan banyak money game berkedok MLM.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet berkembang pula bisnis jaringan yang dikenal sebagai Viral Marketing, lantas apa perbedaan antara Viral Marketing dengan MLM? Ada beberapa hal yang membedakan Viral Marketing dan MLM antara lain:

Pertama, MLM  hanya menjual Produk tertentu, atau produk khusus yang tidak dijual di pasar bebas atau monopoli. Viral Marketing, produk tersedia di pasar bebas dan sudah dikenal konsumen. 

Wajar donk jika perusahaan MLM punya produk unik yang tidak ada di pasaran, karena itulah nilai tambah yang ditawarkan ke masyarakat. Di awal tahun 2000-an, Group Sidomuncul pernah berusaha membuat MLM yang produknya merupakan produk kebutuhan sehari-hari yang sudah dikenal masyarakat.  MLM tersebut bernama Triple S, SSS, atau Sugih Sehat Sejahtera. Triple S menggandeng Nissin, Indofood, dll, untuk membuat produk yang sudah ada dengan kemasan khusus atau privat label Triple S. Ada produk Extra Joss dibranding jadi Kuat Joss, ada Adem Sari dikemas ulang dengan merek Extra Kool. Ada minyak goreng, sabun, deterjen, dll. Awalnya sempat booming, namun ternyata tidak bertahan lama. Salah satu sebabnya, menurut saya, karena produknya kurang mendukung. Justru yang saat itu booming adalah Tianshi yang dipimpin oleh Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, Eric Yong, dll. Saat itu, OPP Tianshi di kota Bandung saja terjadi setiap hari. Hotel-hotel dan tempat pertemuan full-booked oleh mereka. Orang-orang ramai membicarakan Tianshi. Kurang viral apalagi fenomena ini? 

Ilustrasi di atas membuktikan bahwa, pertama,  MLM memang butuh produk unik yang berbeda dengan apa yang sudah ada di pasaran. Kedua, barang-barang produk sehari-hari saat itu ternyata gagal menjadi viral di MLM.

Kedua, di MLM harga produk umumnya di mahalkan/manipulsasi harga karena tidak ada dipasaran. Di Viral Marketin harga produk wajar dan kompetitif karena produk bisa dibeli dipasaran.

Sudah saya bahas di atas toch kalau produk-produk MLM Triple S itu wajar dan kompetitif? Harga produk mahal belum tentu karena manipulasi. Banyak kok harga produk di luar MLM yang harganya mahal, obat-obat patent misalnya. Jika sebuah produk dijual di pasaran dengan harga beberapa kali lipat HPP-nya, itu juga wajar, karena komponen biaya marketing memang banyak. Pernah gak kamu mikir berapa sih sebetulnya HPP The Botol Sosro atau Aqua yang kamu minum sehari-hari? Itu adalah dua contoh produk yang dijual dengan harga beberapa kali lipat HPP tapi terasa wajar di konsumen.

Saya baru bahas 2 dari 10 poin yang dibahas broadcast tersebut… Hari ini segitu dulu ya, besok saya sambung lagi pembahasan ini…

Bersambung ke jilid 2