Untuk Sukses di Bisnis MLM, Haruskah Ikut di Perusahaan Fresh Yang Baru Buka?

Sejak MLM berkembang selama beberapa puluh tahun di Indonesia, saat ini kita bisa bayak menemukan berbagai tipe leader MLM dengan segala keunikannya. Saya kenal dengan salah satu leader, saya gak tahu dia itu sebetulnya  pantas disebut leader apa nggak, karena definisi leader bisa relatif. Yang jelas, dia adalah specialis jadi orang pertama yang daftar di perusahaan-perusahaan MLM yang baru buka. 

“Mumpung bis masih kosong, masih banyak tempat yang enak,” jawabnya ketika saya tanya alasannya apa. 

Memang ada perasaan gak enak pada diri pemain ketika prospeknya bertanya, “bisnisnya apa sih?”, terus begitu disebut namanya, si prospek berkomentar, “Oh, itu mah saya udah tahu, saya pernah ikutan 4 tahun yang lalu.” atau, “Oh, itu mah udah lebih dari 10 tahun yang lalu om dan tante saya pernah ikutan.” dan komentar-komentar seperti itu.  Di dunia persilatan MLM di Indonesia, memang ada komunitas yang terdiri dari orang-orang specialis tahu duluan dan ikut duluan. Mereka berprinsip, pokoknya mah ikut duluan aja, siapa tahu jalan. Ibarat penumpang bis yang cari bis kosong, duduk paling depan, begitu bis berangkat, mereka turun terus cari bis yang lain yang masih kosong. Mereka sampai di tujuan? Kalaupun berhasil, hasilnya juga tanggung, gak pernah jadi legenda, atau minimal history maker lah 🙂

Orang yang menurut saya pantas disebut sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam dunia MLM adalah Jim dan Nancy Dornan. Mereka adalah orang yang pertama kali mengajarkan cara menjalankan bisnis Amway secara professional. Mereka adalah pendiri Support System Network 21. Mungkin jarang orang mengetahui bahwa Jim dan Nancy Dornan sendiri baru menjalankan Amway Setelah buka 10 tahun lebih di Amerika. Masih di bisnis yang sama, Crown Ambassador Mitch dan Deidree Sala yang saat ini menjadi salah satu legenda Network 21 dunia, mereka join Setelah 17 tahun Amway buka di Australia. Yang join duluan saat Amway pertama kali buka di sana siapa saja? Mungkin orang-orangnya sudah pada expired. Jadi memang bukan jaminan bahwa yang pertama kali ikutan pasti paling berhasil dan jadi top leader. Saya memang mengamati juga bahwa beberapa leader besar yang menjadi legenda di sebuah perusahaan MLM, mereka memang join di saat pertama kali buka. Seperti Robert Angkasa dan Paul-Linda Agus misalnya, mereka bela-belain pulang ke Indonesia saat Amway dan Network 21 pertama kali buka di Indonesia.

Di Perusahaan lain di negara kita,  Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, dll, mereka termasuk gelombang pertama saat Tianshi buka di Indonesia. Di luar Trisulo yang saat ini sudah di tianshi lagi, mereka yang jadi legenda, siapa yang merupakan orang pertama atau 001-nya Tianshi? Tidak satupun dari mereka. Bukan factor join duluan, tapi ini soal siapa yang menguasai Support System.

Di Oriflame pun begitu. Saya lihat Dini Shanti bukan orang yang pertama kali yang menjalankan Oriflame. Dia salah satu legenda Oriflame Indonesia yang berhasil karena sukses memadukan kekuatan Network Marketing dan Internet Marketing.. Dia adalah orang yang berhasil membuat Oriflame Indonesia menjadi Viral Marketing. Sekali lagi, ini bukan masalah Anda join duluan di perusahaan tersebut, tapi ini masalah Anda punya system atau tidak, punya pola kerja atau tidak, itu saja… 

 

MLM & Viral Marketing – Jilid 1

Saya mendapat broadcast di WAG tentang 10 perbedaan antara MLM dan Viral Marketing.  Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan isi broadcast tersebut. Pada akhirnya, si penyebar BC tersebut menawarkan peluang usaha yang dia sebut “Viral Marketing”, bukan “MLM”…  Inilah isi broadcast, yang saya cetak dengan font warna biru, dengan komentar saya di bawahnya…

Pendapat para ahli di masa yang akan datang ada satu macam bisnis yang akan berkembang dengan pesat di Indonesia yaitu bisnis jaringan. Bisnis ini memiliki keunggulan modal yang murah/relatif terjangkau oleh semua kalangan bahkan gratis, tidak memerlukan lokasi tertentu sebagai tempat usaha, tidak memerlukan gudang sebagai stok barang, tidak perlu karyawan, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan mudah dijalankan oleh semua orang asal memiliki komitmen untuk sukses.

Tidak usah nunggu lagi, bisnis jaringan memang sudah ada kok. Saya sendiri mulai mengenalnya lewat Amway tahun 1992. Saat itu ada juga CNI, Forever Young, dll

Bisnis jaringan yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Multi Level Marketing (MLM) namun sayangnya, bisnis ini saat ini mulai tercemar karena banyak oknum yang menyalah gunakan system guna mempercepat jenjang karier mereka digunakan cara instant sehingga berkembang menjadi money game.

Benar sekali, sejak tahun 95 pun mulai bermunculan banyak money game berkedok MLM.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet berkembang pula bisnis jaringan yang dikenal sebagai Viral Marketing, lantas apa perbedaan antara Viral Marketing dengan MLM? Ada beberapa hal yang membedakan Viral Marketing dan MLM antara lain:

Pertama, MLM  hanya menjual Produk tertentu, atau produk khusus yang tidak dijual di pasar bebas atau monopoli. Viral Marketing, produk tersedia di pasar bebas dan sudah dikenal konsumen. 

Wajar donk jika perusahaan MLM punya produk unik yang tidak ada di pasaran, karena itulah nilai tambah yang ditawarkan ke masyarakat. Di awal tahun 2000-an, Group Sidomuncul pernah berusaha membuat MLM yang produknya merupakan produk kebutuhan sehari-hari yang sudah dikenal masyarakat.  MLM tersebut bernama Triple S, SSS, atau Sugih Sehat Sejahtera. Triple S menggandeng Nissin, Indofood, dll, untuk membuat produk yang sudah ada dengan kemasan khusus atau privat label Triple S. Ada produk Extra Joss dibranding jadi Kuat Joss, ada Adem Sari dikemas ulang dengan merek Extra Kool. Ada minyak goreng, sabun, deterjen, dll. Awalnya sempat booming, namun ternyata tidak bertahan lama. Salah satu sebabnya, menurut saya, karena produknya kurang mendukung. Justru yang saat itu booming adalah Tianshi yang dipimpin oleh Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, Eric Yong, dll. Saat itu, OPP Tianshi di kota Bandung saja terjadi setiap hari. Hotel-hotel dan tempat pertemuan full-booked oleh mereka. Orang-orang ramai membicarakan Tianshi. Kurang viral apalagi fenomena ini? 

Ilustrasi di atas membuktikan bahwa, pertama,  MLM memang butuh produk unik yang berbeda dengan apa yang sudah ada di pasaran. Kedua, barang-barang produk sehari-hari saat itu ternyata gagal menjadi viral di MLM.

Kedua, di MLM harga produk umumnya di mahalkan/manipulsasi harga karena tidak ada dipasaran. Di Viral Marketin harga produk wajar dan kompetitif karena produk bisa dibeli dipasaran.

Sudah saya bahas di atas toch kalau produk-produk MLM Triple S itu wajar dan kompetitif? Harga produk mahal belum tentu karena manipulasi. Banyak kok harga produk di luar MLM yang harganya mahal, obat-obat patent misalnya. Jika sebuah produk dijual di pasaran dengan harga beberapa kali lipat HPP-nya, itu juga wajar, karena komponen biaya marketing memang banyak. Pernah gak kamu mikir berapa sih sebetulnya HPP The Botol Sosro atau Aqua yang kamu minum sehari-hari? Itu adalah dua contoh produk yang dijual dengan harga beberapa kali lipat HPP tapi terasa wajar di konsumen.

Saya baru bahas 2 dari 10 poin yang dibahas broadcast tersebut… Hari ini segitu dulu ya, besok saya sambung lagi pembahasan ini…

Bersambung ke jilid 2