Money Game Skema Ponzi – Part 1

Menurut MUI, definisi money game adalah kegiatan penghimpunan dana masyarakat atau penggandaan uang dengan praktik memberikan komisi dan bonus dari hasil perekrutan pendaftaran mitra usaha yang baru/ bergabung kemudian, dan bukan dari hasil penjualan produk, atau dari hasil penjualan produk namun produk yang dijual tersebut hanya kamuflase atau tidak mempunyai mutu/kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Money Game ternyata sudah ada sejak tahun 1970-an

Awalnya ini dianggap sebagai jalan keluar terbaik dari status negara miskin saat itu.

Jika setiap penduduk memiliki penghasilan 80 juta sebulan hanya dengan membayar 120 ribu sebulan, Indonesia akan termasuk negara kaya.

Kemudian baru disadari, jika seluruh rakyat ikut program ini, sebenarnya uangnya dari mana ? Karena tidak ada uang yang masuk selain dari anggota itu sendiri. Barulah disadari bahwa ini money game, kita dibayar dengan uangnya orang yang masuk kemudian.
Jika suatu saat program berhenti, akan sangat banyak orang yang kehilangan uang tanpa mendapat haknya.

Ini termasuk dalam apa yang disebut SKEMA PONZI.

Charles Ponzi adalah penipu asal Italia yang bermigrasi ke Amerika saat usia belasan tahun.

Pada tahun 1920 an, dia membuat investasi dengan membeli Perangko yang katanya harganya bisa berlipat 3x jika dijual di luar negeri. Dia menjanjikan keuntungan 50% dalam 45 hari dan 100% dalam 90 hari.

Kondisi masyarakat Amerika saat itu belum melek investasi, mirip di Indonesia saat ini.
Mereka berbondong bondong menyerahkan uangnya ke Charles Ponzi.
Bagi yang berinvestasi di awal awal tentu mendapatkan haknya. Tetapi keserakahan membuat mereka menyerahkan kembali uang yang diperoleh untuk diinvestasikan lagi.

Kasus ini terbongkar karena ada keterlambatan pembayaran akibat tidak sesuai antara uang yang masuk dan yang dibayarkan. Ada kerugian 200 milyar yang saat itu merupakan uang yang banyak sekali. Karena memang tidak ada proses investasi sama sekali. Yang terjadi adalah investor lama dibayar dengan uang investor baru.

Permainan Sniper dan Mafia di Bisnis MLM

Entah kapan Awalnya terjadi. Saya melihat ini sudah terjadi sejak  sekitar tahun 2008 lalu. Saat itu saya menemukan banyak sekali produk Propolis dan Melia Biyang dijual dengan harga murah, jauh di bawah harga resmi member Melia Sehat Sejahtera. Misalnya harga resmi propolis sekitar 600rb/paket, mereka jual 200rb!

Apakah ini hanya terjadi pada produk MLM binary? ternyata tidak. Di sana juga saya sering menemukan Liquid khlorophyl K-link dan Synergy Worldwide yang juga dijual dengan harga miring.  Untungnya mereka cuma kebobolan klorofil aja, gak sampe semua produknya bocor.

Saat ini, saya juga melihat produk-produk MLM lain yang diobral besar-besaran di Marketplace. Ada Milagros dijual Rp. 21.000,- dari harga normal Rp. 35.000,- Ada Mizuco dijual Rp. 90rb dari harga normal Rp. 175.000,-/botol. Ini jelas nggak sehat. Perusahaan MLM lokal harus ambil tindakan tegas untuk melindungi para membernya.

Selidik punya selidik, salah satu penyebabnya ternyata adalah ulah para Sniper? Hah? Apaan tuch sniper? Sniper adalah orang yang bermain curang di system di Network Binary. Bagi mereka, yang penting bnus pasangannya dapat. Mereka gak perduli produk, produknya malah mereka lempar ke bandar mafia, dari bandar terus dilempar ke toko-toko herbal online. Skenarionya begitu.

Kenapa yang jebol cuma perusahaan local aja ya? Saya belum pernah lihat produk-produk MLM asing diobral sadis di Marketplace. Nggak ada tuch produk-produk Amway, Usana, Jeunese Global.

Untuk Sukses di Bisnis MLM, Haruskah Ikut di Perusahaan Fresh Yang Baru Buka?

Sejak MLM berkembang selama beberapa puluh tahun di Indonesia, saat ini kita bisa bayak menemukan berbagai tipe leader MLM dengan segala keunikannya. Saya kenal dengan salah satu leader, saya gak tahu dia itu sebetulnya  pantas disebut leader apa nggak, karena definisi leader bisa relatif. Yang jelas, dia adalah specialis jadi orang pertama yang daftar di perusahaan-perusahaan MLM yang baru buka. 

“Mumpung bis masih kosong, masih banyak tempat yang enak,” jawabnya ketika saya tanya alasannya apa. 

Memang ada perasaan gak enak pada diri pemain ketika prospeknya bertanya, “bisnisnya apa sih?”, terus begitu disebut namanya, si prospek berkomentar, “Oh, itu mah saya udah tahu, saya pernah ikutan 4 tahun yang lalu.” atau, “Oh, itu mah udah lebih dari 10 tahun yang lalu om dan tante saya pernah ikutan.” dan komentar-komentar seperti itu.  Di dunia persilatan MLM di Indonesia, memang ada komunitas yang terdiri dari orang-orang specialis tahu duluan dan ikut duluan. Mereka berprinsip, pokoknya mah ikut duluan aja, siapa tahu jalan. Ibarat penumpang bis yang cari bis kosong, duduk paling depan, begitu bis berangkat, mereka turun terus cari bis yang lain yang masih kosong. Mereka sampai di tujuan? Kalaupun berhasil, hasilnya juga tanggung, gak pernah jadi legenda, atau minimal history maker lah 🙂

Orang yang menurut saya pantas disebut sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam dunia MLM adalah Jim dan Nancy Dornan. Mereka adalah orang yang pertama kali mengajarkan cara menjalankan bisnis Amway secara professional. Mereka adalah pendiri Support System Network 21. Mungkin jarang orang mengetahui bahwa Jim dan Nancy Dornan sendiri baru menjalankan Amway Setelah buka 10 tahun lebih di Amerika. Masih di bisnis yang sama, Crown Ambassador Mitch dan Deidree Sala yang saat ini menjadi salah satu legenda Network 21 dunia, mereka join Setelah 17 tahun Amway buka di Australia. Yang join duluan saat Amway pertama kali buka di sana siapa saja? Mungkin orang-orangnya sudah pada expired. Jadi memang bukan jaminan bahwa yang pertama kali ikutan pasti paling berhasil dan jadi top leader. Saya memang mengamati juga bahwa beberapa leader besar yang menjadi legenda di sebuah perusahaan MLM, mereka memang join di saat pertama kali buka. Seperti Robert Angkasa dan Paul-Linda Agus misalnya, mereka bela-belain pulang ke Indonesia saat Amway dan Network 21 pertama kali buka di Indonesia.

Di Perusahaan lain di negara kita,  Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, dll, mereka termasuk gelombang pertama saat Tianshi buka di Indonesia. Di luar Trisulo yang saat ini sudah di tianshi lagi, mereka yang jadi legenda, siapa yang merupakan orang pertama atau 001-nya Tianshi? Tidak satupun dari mereka. Bukan factor join duluan, tapi ini soal siapa yang menguasai Support System.

Di Oriflame pun begitu. Saya lihat Dini Shanti bukan orang yang pertama kali yang menjalankan Oriflame. Dia salah satu legenda Oriflame Indonesia yang berhasil karena sukses memadukan kekuatan Network Marketing dan Internet Marketing.. Dia adalah orang yang berhasil membuat Oriflame Indonesia menjadi Viral Marketing. Sekali lagi, ini bukan masalah Anda join duluan di perusahaan tersebut, tapi ini masalah Anda punya system atau tidak, punya pola kerja atau tidak, itu saja… 

 

MLM & Viral Marketing – Jilid 2

Di postingan sebelumnya, saya membahas membahas 2 dari 10 poin perbedaan dari Multi Level Marketing dan Viral Marketing, beserta opini saya yang berkaitan dengan itu. Baiklah, dalam tulisan ini, saya akan  bahas tuntas point-point selanjutnya. 

Ketiga, MLM harus bertatap muka langsung dengan calon anggota untuk meyakinkan agar mau membeli produknya dan menjalankan bisnisnya. Di Viral Markeing, tidak perlu harus bertatap muka, cukup online di internet, atau chat lewat WhatsApp Messenger, karena mereka sudah mengetahui dan memakai produknya.

Jaman internet semakin terjangkau seperti sekarang, untuk memprospek produk MLM pun gak harus tatap muka langsung pun bisa kok. Menawarkan produk maupun peluang bisnis MLM bisa dijalankan secara online dengan menggunakan alat-alat bantu seperti  web support, web replika, autoresponder, email marketing, facebook, WhatsApp, Line, dan sebagainya. Dulu sebelum tahun 2000-an awal saat internet masih mahal memang masih sulit dilakukan. Tapi saya lihat makin ke depan memviralkan bisnis MLM lewat internet akan semakin mudah dan cepat. 

Keempat, di MLM harus menjelaskan kehebatan produk yang ditawarkan, karena produk mahal harus menunjukkan khasial / kualitas sehingga orang mau membelinya. Di Viral Marketing tidak perlu presentasi produk, karena pemilik sudah beriklan di berbagai media massa memperkenalkan manfaat / kualitas produknya. 

Produk apa sih yang tidak perlu dijelaskan khasiatnya? Itu bukan cuma di dunia MLM, di perdagangan konvensional biasa juga begitu. Saya ngerti sih maksud dia. Dalam menjual produk MLM, kita sebagai distributor yang harus menjelaskan manfaat produk pada konsumen, apalagi produk-produk kesehatan. Kalau kita jualan produk konvensional di luar system MLM seperti barang-barang yang kita pajang di warung, konsumen umumnya sudah pasti paham karena sudah dijelaskan dan dipromosikan oleh iklan-iklan di media massa,

Kelima, di MLM mengajak menjadi anggota sulit karena ada tahapan meyakinkan atas manfaat, kualitas, dan khasiat produk yang dijual. Di VM mengajak orang menjadi anggota relative mudah karena mereka memang sudah terbiasa memakai produknya, hanya cara dan tempat membelinya saja yang perlu dijelaskan.

Sulit untuk mengajak orang yang belum paham, tapi tetap relative mudah untuk orang yang sudah paham. Jaman Now ini, para internet marketer professional sudah banyak yang sukses menjalankan bisnis MLM tanpa tatap muka, meskipun menurut kacamata orang awam akan sulit dilakukan

Keenam, anggota MLM harus presentasi produk untuk menjelaskan kehebatan produknya, meskipun kadang manipulatif. Viral Marketing hanya mengajak merubah kebiasaan pembelian produk dari toko konvensional ke Online Shop, dan menyampaikan benefitnya jika mau berpindah dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru

MLM berbasis produk juga sudah banyak yang mulai meyediakan fasilitas Online Shop, baik berbasis web maupun berbasis aplikasi android.

Ketujuh. MLM, wajib menghadiri seminar/pertemuan yang dilakukan secara rutin untuk memotivasi para anggotanya yang kesulitan menjual produk karena harganya mahal. VM tidak wajib menghadiri pertemuan/seminar, yang penting rajin memperkenalkan dan mereferensikan teman bergabung menjadi anggota viral Marketing.

Sebetulnya menghadiri seminar dan pertemuan itu bukan kewajiban, itu hanya bagian dari Support System saja, dan sifatnya pilihan. Di jaman serba online seperti sekarang, orang-orang semakin memungkinkan untuk menjalankan bisnis MLM dengan sesedikit mungkin pertemuan berbayar.

Kedelapan, MLM ada biaya pendaftaran yang sangat besar untuk membeli paket produk dengan alasan agar bisa meyakinkan orang lain, maka anggotanya harus merasaan dulu produknya. Viral Marketing pendaftarannya gratis karena anggota pada dasarnya sudah menjadi konsumen produknya.

Tidak setiap MLM mewajibkan membeli sejumlah paket produk yang mahal. Banyak yang

Kesembilan, MLM besarnya bonus berdasarkan pendaftaran member baru, karena bonus dibayar berdasarkan uang pendaftaran. Viral Marketing, bonus dibayarkan per transaksi secara berjenjang dan memiliki jenjang karir sesuai pertumbuhan transaksi.

Saya akui, saat ini memang banyak sekali MLM yang membagi bonusnya berdasarkan uang pendaftaran. Namun praktek ini menurut saya syah-syah saja. Member pun banyak yang suka, kenapa? Karena hasil jerih payahnya memprospek orang langsung terbayar. Bukanlah ada hadits yang mengatakan bahwa “bayarlah upah buruh sebelum kering keringatnya”? 

Kesepuluh, MLM selain harus membeli starterkit, anggota juga wajib membayar iuran setiap tahun agar keanggotaannya tidak hangus, atau membayar lagi agar naik karir. Viral Marketing, registrasi gratis, tidak ada iuran tahunan.

Oke, itulah 10 perbedaan Multi Level Marketing dan Viral Marketing. Seperti sudah saya duga sebelumnya, orang tersebut lalu menawarkan bisnis juga. Bisnis apa sih? Saya akan bahas masalah ini di tulisan-tulisan selanjutnya.

MLM & Viral Marketing – Jilid 1

Saya mendapat broadcast di WAG tentang 10 perbedaan antara MLM dan Viral Marketing.  Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan isi broadcast tersebut. Pada akhirnya, si penyebar BC tersebut menawarkan peluang usaha yang dia sebut “Viral Marketing”, bukan “MLM”…  Inilah isi broadcast, yang saya cetak dengan font warna biru, dengan komentar saya di bawahnya…

Pendapat para ahli di masa yang akan datang ada satu macam bisnis yang akan berkembang dengan pesat di Indonesia yaitu bisnis jaringan. Bisnis ini memiliki keunggulan modal yang murah/relatif terjangkau oleh semua kalangan bahkan gratis, tidak memerlukan lokasi tertentu sebagai tempat usaha, tidak memerlukan gudang sebagai stok barang, tidak perlu karyawan, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan mudah dijalankan oleh semua orang asal memiliki komitmen untuk sukses.

Tidak usah nunggu lagi, bisnis jaringan memang sudah ada kok. Saya sendiri mulai mengenalnya lewat Amway tahun 1992. Saat itu ada juga CNI, Forever Young, dll

Bisnis jaringan yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Multi Level Marketing (MLM) namun sayangnya, bisnis ini saat ini mulai tercemar karena banyak oknum yang menyalah gunakan system guna mempercepat jenjang karier mereka digunakan cara instant sehingga berkembang menjadi money game.

Benar sekali, sejak tahun 95 pun mulai bermunculan banyak money game berkedok MLM.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet berkembang pula bisnis jaringan yang dikenal sebagai Viral Marketing, lantas apa perbedaan antara Viral Marketing dengan MLM? Ada beberapa hal yang membedakan Viral Marketing dan MLM antara lain:

Pertama, MLM  hanya menjual Produk tertentu, atau produk khusus yang tidak dijual di pasar bebas atau monopoli. Viral Marketing, produk tersedia di pasar bebas dan sudah dikenal konsumen. 

Wajar donk jika perusahaan MLM punya produk unik yang tidak ada di pasaran, karena itulah nilai tambah yang ditawarkan ke masyarakat. Di awal tahun 2000-an, Group Sidomuncul pernah berusaha membuat MLM yang produknya merupakan produk kebutuhan sehari-hari yang sudah dikenal masyarakat.  MLM tersebut bernama Triple S, SSS, atau Sugih Sehat Sejahtera. Triple S menggandeng Nissin, Indofood, dll, untuk membuat produk yang sudah ada dengan kemasan khusus atau privat label Triple S. Ada produk Extra Joss dibranding jadi Kuat Joss, ada Adem Sari dikemas ulang dengan merek Extra Kool. Ada minyak goreng, sabun, deterjen, dll. Awalnya sempat booming, namun ternyata tidak bertahan lama. Salah satu sebabnya, menurut saya, karena produknya kurang mendukung. Justru yang saat itu booming adalah Tianshi yang dipimpin oleh Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, Eric Yong, dll. Saat itu, OPP Tianshi di kota Bandung saja terjadi setiap hari. Hotel-hotel dan tempat pertemuan full-booked oleh mereka. Orang-orang ramai membicarakan Tianshi. Kurang viral apalagi fenomena ini? 

Ilustrasi di atas membuktikan bahwa, pertama,  MLM memang butuh produk unik yang berbeda dengan apa yang sudah ada di pasaran. Kedua, barang-barang produk sehari-hari saat itu ternyata gagal menjadi viral di MLM.

Kedua, di MLM harga produk umumnya di mahalkan/manipulsasi harga karena tidak ada dipasaran. Di Viral Marketin harga produk wajar dan kompetitif karena produk bisa dibeli dipasaran.

Sudah saya bahas di atas toch kalau produk-produk MLM Triple S itu wajar dan kompetitif? Harga produk mahal belum tentu karena manipulasi. Banyak kok harga produk di luar MLM yang harganya mahal, obat-obat patent misalnya. Jika sebuah produk dijual di pasaran dengan harga beberapa kali lipat HPP-nya, itu juga wajar, karena komponen biaya marketing memang banyak. Pernah gak kamu mikir berapa sih sebetulnya HPP The Botol Sosro atau Aqua yang kamu minum sehari-hari? Itu adalah dua contoh produk yang dijual dengan harga beberapa kali lipat HPP tapi terasa wajar di konsumen.

Saya baru bahas 2 dari 10 poin yang dibahas broadcast tersebut… Hari ini segitu dulu ya, besok saya sambung lagi pembahasan ini…

Bersambung ke jilid 2