Apakah Bimbingan Belajar Mutlak Dibutuhkan Setiap Anak Sekolah?

Entah sejak kapan ya bisnis Bimbingan Belajar mulai menjamur di negara kita. Yang jelas, sejak saya masih SD pun sudah mulai ada. Isitilah bimbingan Belajar atau Bimbingan Test tersebut saya kenal dari Pembahasan Soal-Soal Ujian Sipenmaru di Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung. Waktu SD saya belum mengenal Bimbel, teman-teman sekelas pun rasanya tidak ada yang ketahuan ikutan bimbel. Kalau sekedar les privat ke gurunya sih tentu banyak.

Bimbingan Belajar lahir dari kelemahan-kelemahan sistem sekolah. Saya pribadi merasakan kok bagaimana kurang nyambungnya pelajaran sekolah dengan soal-soal Ebtanas dan UMPTN (sekarang SBMPTN). Akibatnya, saat itu, bahkan sampai sekarang dan mungkin sampai entah kapan di masa depan, siswa selalu membutuhkan informasi yang kurang ada di sekolah.

Fakta juga menunjukkan bahwa tidak setiap guru menguasai materi ujian akhir, seolah-olah tugas guru sekolah memang tidak berhubungan dengan soal ujian.  Jarang sekali lho guru SMA yang menguasai seluk beluk soal Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Akibatnya, seolah-olah siswa punya beban ganda, menguasai materi yang dibebankan kurikulum lewat gurunya, dan menguasai materi tambahan yang kurang diajarkan di sekolah. Gawat khan? 🙂

Tidak jarang guru-guru eksakta di sekolah, terutama guru favorit yang cara mengajarnya dianggap bagus, enakeun, apalagi yang kreatif dan pintar bikin soal-soal bayangan ujian sekolah, direkrut oleh Lembaga Bimbingan Test terkenal. Bahkan dipromosikan oleh Bimbel tersebut. Saat saya di bangku SMA pun demikian. Guru-guru eksakta terbaik SMAN 3 Bandung saat itu seperti Pak Tata Santana, Pak Rukman direkrut oleh Sony Sugema College (SSC). Bapak Abdur Rahman direkrut oleh Ganesha Operation. Fenomena itu pun kadang menimbulkan kecemburuan sosial di sekolah pada guru-guru bidang studi lain yang mata pelajarannya berada di luar lingkup soal-soal ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Saya juga mengalami kok ketika salah seorang guru saya menyindir sebuah kesalahan kecil seorang siswanya di kelas dengan pertanyaan, “Terlihat sekali penguasaan materi kamu mentah. Mau berharap dikatrol sama Bimbel?”

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan jawaban jujur yang hanya diucapkan dalam hati,  “Iya, bu. Untuk apa saya menjejali memory otak saya dengan pelajaran-pelajaran yang nantinya tidak terpakai dalam hidup saya?” 🙂

Setiap guru bidang studi apapun di sekolah, memang selalu menuntut tiap muridnya agar melakukan yang terbaik. Parameter bagus tidaknya penguasaan materi pelajaran biasanya hanya diukur dengan nilai ulangan yang bagus. Tapi cobalah untuk direnungkan lebih lanjut. Seandainya guru Fisika ikut ulangan Biologi, apakah nilai guru tersebut akan lebih baik dari siswa yang dia tuntut nilai Fisikanya bagus? Juga, seandainya guru biologi tersebut ikut ulangan Fisika, apakah hasil nilainya bisa lebih baik dari murid-murid yang dia tuntut nilai Biologinya bagus? Tidak! Apakah kondisi ini adil? he he..

Sang guru bisa dengan mudah berikilah, dulu waktu ibu/bapak seumur kamu, semua nilai ulangan Ibu bagus kok. Lalu sang murid menjawab, “Mana buktinya, bu?” 🙂

Maksud saya begini, seringkali siswa di sekolah memang terlalu banyak dijejali dengan materi pelajaran yang hanya bermanfaat untuk dapat nilai bagus di ulangan harian dan ujian akhir sekolah, setelah itu dilupakan. Jadi nggak heran kalau fenomena mencontek an mencari bocoran soal sering terjadi di sekolah. Pada saat itu terjadi, munculah berbagai khutbah tentang haramnya mencontek, dan mencontek adalah perbuatan tercela. Itu bisa dikembalikan ke para guru juga, apakah para guru juga bebas dari perbuatan mencontek dan plagiarisme saat memperjuangkan sertifikasi profesi gurunya? Nah lho….

Kadang saya berpikir, jika parameter penentu kelulusan siswa hanya berdasarkan hasil Ujian Akhir seperti UAN atau Ebtanas saja, lebih baik sekoleh dibubarkan saja. Sistem sekolah ganti saja dengan sistem bimbingan Test yang fokusnya membahas soal-soal ujian sekolah. Waktu sekolah optimalkan untuk mengasah bakat dan minat anak. Sekolah berbasis bakat dan minat adalah sistem sekolah yang paling ideal yang saat ini jarang sekali terjadi.

Beberapa alasan kenapa siswa butuh bimbingan Belajar :

  1. Butuh suasana belajar baru setelah jenuh belajar di sekolah dan belajar sendiri di rumah.
  2. Mendapat “jurus-jurus” baru pemecahan soal yang tidak didapatkan di sekolah.
  3. Mendapatkan teman-teman baru yang berasal dari sekolah yang berbeda, apalagi teman lawan jenis yang mungkin jadi bagian dari petualangan cinta monyetnya 🙂

Ganesha Operation Bandung

Saya mulai mengenal nama Ganesha Operation (GO) sejak kelas 6 SD. Kebetulan saat itu keluarga saya berlangganan Harian Umum Pikiran Rakyat, yang setiap tahun selalu memuat pembahasan soal-soal Sipenmaru yang kemudian berubah namanya menjadi UMPTN, kemudian SMPTN.

Menurut catatan dari hasil browsing di internet, konon, GO didirikan pada tanggal 1 Mei 1984. Dengan modal 500 ribu Rupiah, Bob Foster bersama adiknya Johhson, dan 2 temannya Kamajaya dan Irfan Anshory, mendirikan lembaga Bimbingan Belajar Ganesha Operation di Bandung.

Saya punya beberapa catatan khusus tentang Bimbingan Belajar kompetitor Sony Sugema College (SSC) ini, berdasarkan apa saya amati dan saya alami sendiri. Tahun 1992, saat kelas 3 SMA, saya tercatat sebagai siswa GO. Ada beberapa staf pengajar yang menjadi namanya selalu terkenang hingga bisa saya dongengkan di sini

This slideshow requires JavaScript.

divider

Parulian P (PP)

Sejak awal, beliau tidak pernah mengungkap, P di belakang namanya itu sebenarnya singkatan dari apa. Dari nama Parulian, udah jelas lah, itu nama khas Batak Sumatera Utara. Di depan kelas, beliau selalu tampil dengan logat Jawa Timur yang medok. Bahkan sering berkelakar bahwa P itu kependekan dari Purnomo. Sering mengaku kampungnya di Surabaya!

Parulian Panggabean Ganesha Operation 1

Menurut saya, cara beliau mengajar Matematika sangat bagus. Itu juga alasan kenapa saya tidak memilih kelas khusus di SSC, soalnya pingin suasana baru. Kalo di SSC mah isi kelasnya ya teman-teman di SMA 3 juga, lha wong kelas khusus SMA 3. Guru matematikanya juga Pak Obos Bastaman. Guru Fisikanya Pak Tata Santana. Itu mah tiap hari ketemu atuh.

Beberapa Quote dari Parulian P :

    • Ini khan gampang pisan…
    • Ini soal paling gampang… sedunia…
    • Misalkan x kuadrat = p, pemisalan harus p, kalau nggak p nggak bisa selesai 😀
    • Misalkan sapi sama dengan P
    • Gampang toch?
    • Gampang khan?
    • Istilah ini berasal dari kampung saya, Surabaya!
    • Woy.. itu kuping apa cantelan?
    • Sekarang tinggal difaktorkan, minimal kurungnya benar
    • Mas, pulangnya lewat mana?
  • “Saudara, saya protes pada kurikulum SMA yang tidak memasukan materi Himpunan ke dalamnya, materi ini selalu keluar setiap tahun, mnimal 1 soal”

Oman Karmana (OK) (alm)

Guru Biologi yang paling heboh, bikin ngakak abis-abisan di kelas. Guru Biologi paling omes sedunia. Cara mengajarnya sistematis, gampang dipahami, dan tepat sesuai kebutuhan siswa yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian-ujian sekolah. Pak Oman adalah seorang doktor, salah satu pakar biologi dari Universitas Padjadjaran Bandung.  Beliau tercatat sebagai alumni SMAN 3 Bandung. Beliau pun tercatat sebagai penulis buku pelajaran Biologi SMA terbitan Ganeca Exact.

Buku Biologi SMA Oman Karmana

Irfan Anshory (IA) (alm)

Penulis Buku Mudah Memahami Kimia. Buku beliau diterbitkan oleh penerbit Armico pada saat itu sangat populer dan banyak membantu siswa untuk memahami kimia. Dijelaskan dengan lugas, bahasa sehari-hari yang sederhana, banyak memberikan contoh soal dan penyelesaian. Yang saya ingat, beliau juga waktu itu mengajar di SMA Taruna Bakti dan Bimbingan Belajar ICT (Integrated Counseling Test).

Irfan-Anshory Ganesha Operation

Hasan Wiladi (HW)

Hasan adalah guru Fisika, beliau juga mampu mengajar IPA Terpadu dengan sangat baik. Gosipnya, Hasan adalah satu-satunya pengajar berstatus mahasiswa yang diterima oleh Ganesha Operation. Hasan kuliah di Jurusan Teknik Kimia ITB angkatan 1989. Gosipnya pula, prestasi akademik Hasan di SMA-nya sangat gemilang. Ijazah dan raportnya penuh dengan nilai 9 dan 10. Selain berpredikat sebagai Sarjana Teknik Kima, bahkan Master di bidang Kima, Hasan pun memegang gelar akademis di bidang pendidikan.   Cara mengajarnya sangat enak, praktis dan to the point pada masalah. Terakhir saya kontak di Facebook, Hasan kini tinggal di Tasikmalaya. Bisnisnya apa, saya nggak terlalu kepo, he he…

Ganesha Operation Hasan Wiladi

Bob Foster (BF)

Big Boss Ganesha Operation. Waktu saya masih SMA, Bob terkenal sebagai orang yang super sibuk. Hanya sedikit kelas yang dipegangnya. Cara mengajarnya cukup sistematis, meski banyak juga yang mengatakan “terlalu banyak mengandalkan rumus”. Bob juga terkenal jago memotivasi siswa-siswanya. Bob hobi belajar dan kuliah hingga jenjang S3.

This slideshow requires JavaScript.

Kamajaya (KJ)

Pengajar Fisika, penulis buku pelajara Fisika terbitan Ganeca Exact. Menurut saya, sebetulnya kapabilitas beliau bagus. Hanya saja, dia sering bikin ilfil di kelas dengan kata-kata lebaynya yang bikin suntuk, misalnya :

    1. “Wajar kalau kalian ngantuk, sekarang memang jam tidur siang.”
  1. “Kalau Bob khan masih muda, wajar kalau ngajarnya enakeun dan enerjik. Beda dengan saya yang udah tua.”

Beberapa “Pengajar Gagal” di GO Tahun 1992

Ini off the record saja. Sebetulnya mereka adalah orang-orang berkompeten di bidangnya. Hanya sayang sekali, metoda pengajaran dari beliau-beliau ini kurang tepat diterapkan di Bimbingan Test.

Bapak Lubis, guru Fisika SMAN 2 Bandung. Karena saya bukan siswa SMAN 2 Bandung, saya jadi tidak hafal bagaimana keseharian Pak Lubis mengajar Fisika di kelas. Tapi yang sekilas saya amati sih, beliau sangat bagus untuk di sekolah, sayangnya beliau waktu itu kurang bisa membaca situasi bahwa mengajar di kelas dan di Bimbingan Tes yang berorientasi pada soal UMPTN tentu butuh cara pendekatan yang berbeda.

Wahyu Alam Syah, dosen FMIPA Unpad. Pak Wahyu mungkin lupa bahwa siswa yang ada di hadapannya baru calon mahasiswa, bukan mahasiswa bimbingan beliau di Unpad. Belum lagi materi yang disampaikannya di kelas, tidak sesuai dengan kebutuhan calon peserta UMPTN. Itu yang menyebabkan banyak siswa protes ke sekretariat GO, meminta ganti pengajar. Ya iya lah , Pak… ngajar bimbel itu harus to the point, banyak bahas soal, bukan banyak jelasin cara penurunan rumus pake pendekatan differensial-integral!


Eksodus Beberapa Pengajar GO

Ini pun off the record. Saya tidak menemukan berita ini di media online manapun. Tapi gosipnya, sekitar tahun 1994-an GO pernah ditinggalkan oleh beberapa guru favoritnya : Dr. Oman Karmana, MSc, Parulian P, Nana Sutresna, Dra.Diana, yang memutuskan untuk mendirikan dan mengelola Bimbingan Belajar sendiri dengan nama Ganesha Favorite.

Dan gosipnya, Bob Foster mengantisipasinya dengan memanggil beberapa nama penulis buk-buku pelajaran terkenal seperti Marthen Kanginan (Penulis Fisika SMA terbitan Erlangga), Suwah Sembiring (Penulis Matematika SMA Ganeca Exact), Sukino (Penulis Matematika SMA terbitan Intan Pariwara), dan lain-lain.

Salah seorang murid bimbingan saya tahun 1998 berkomentar bahwa soal-soal Matematika di GF lebih susah dari di GO. Saya pikir ya nggak heran lah, buatan Bang Parulian gitu lho. Namun ternyata Ganesha Favorite tidak berumur panjang. Di Bandung sudah tidak ada lagi nama bimbingan Belajar (GF). Kalau kita browsing di Google sekarang, yang ada adalah nama Ganesha Favorite College di Kediri, yang didirikan oleh teman kuliah saya bernama Winarko.

Saat tulisan ini dibuat, Parulian Panggabean telah kembali ke GO, dan menjadi tokoh penting lagi di sana.


Rumus The King

Saya tidak tahu persis siapa inisiator merek dagang ini. Istilah The “King of The Fastest Soution”, yang disingkat jadi “Rumus The King”, yang mulai dipopulerkan sekitar tahun 1995. Mungkin karena jajaran manajemen GO terprovokasi oleh “Bimbel Tetangganya” yang mengusung tagline “The Fastest Solution”.  Sudah jadi rahasia umum di kalangan siswa-siswa SMA Favorit di Bandung bahwa mereka adalah target market dari 2 Bimbel terkemuka di Bandung, dan dua Bimbel itu bersaing dalam jumlah siswa dan jumlah kualitas kelulusan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana adik-adik angkatan saya di SMAN 3 Bandung didekati oleh para telemarketing Ganesha Operation.


Beberapa Kutipan dari Bob Foster

Ada beberapa kutipan dari Bob Foster yang menarik buat saya tulis di sini.

“Soal-soal itu bisa diprediksi. Selama siswa dilatih dengan baik, mereka tidak perlu meributkan soal-soal bocoran. Selama dilatih dengan baik, pasti bisa dikerjakan. Jika siswa gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), GO berani mengembalikan uangnya. “Kami pantau tiap bulan dengan tes simulasi soal ujian nasional. Kami petakan penguasaan setiap topic, materi, dan bab. Siswa yang lemah penguasaannya akan kami bina. Ada kelompok kategori waspada, semua orang tuanya kami panggil. Kami menawarkan pelayanan jam tambahan untuk bab tertentu. Kami minta orang tua terlibat mengawasi latihan soal di rumah,” lanjut Bob. “Ada beberapa siswa yang mungkin lataran orang tuanya sibuk jadi tidak terlibat. Ya sudah, itu resiko. Tapi uang tetap kembali kalau dia gagal tes.”

“Saya juga punya pengalaman waktu kerja di Perusahaan Listrik Negara (PLN). Suatu hati kita mendatangkan konsultan dari luar negeri. Itu pun penghargaan yang kita berikan kepada mereka terlalu berlebihan, padahal belum tentu mereka hebat. Maka saya sarankan waktu itu untuk dikembalikan karena saya, nilai tidak capable. Mindset kita harus bdiubah. Jika kita tidak bergerak sesuai dengan mindset itu, kita tidak akan bisa bangkit. Begitu pula dengan siswa GO.”

“Dalam GO, semua guru didiklat supaya tahu cara mengajar yang membangkitkan motivasi siswa. Awal dari sesi harus ada pembukaan yang memotivasi sekitar 3 menit, di tengah ada 4 menit. Di akhir pun diselipkan motivasi selama 3 menit sebelum bubar,” tutur pria yang menamatkanS2 nya di Universitas Padjadjaran dan S3 nya di Kennedy Western University itu.

“Kendali didistribusikan secara singkat, namun menurut Bob, siswa yang semula malas belajar, menjadi berubah pola belajarnya. “Bahkan ada siswa yang hampir bunuh diri. Setelah mendapatkan konseling dan motivasi, ia menemukan citra dirinya dan bangkit, dan diterima kuliah di universitas negeri di Bandung.”

“GO yang sekarang sudah punya 150 ribu siswa tersebut berubah menjadi rumah kedua siswa dengan penerapan prinsip-prinsip kejujuran.”

“Kejujuran bukan sekedar hukum. Tapi kita semua punya Tuhan yang tidak suka dengan kebohongan. Bahkan juga nilai keluarga yang kami tekankan supaya tidak terjebak dalam nilai-nilai negative seperti dugem, narkoba,” jelas Bob

“Mereka secara umum mendapat perubahan. Dari yang suka bohong-bohong kecil. Kalau ada masalah kemukakan saja, jauh lebih baik daripada kalian melakukan kebohongan. Itu nanti mempengaruhi hidup kalian. Anak cucu kalian akan menerima dampakya.”

“Sejak GO berdiri pada tahun1984 hingga tahun 2002 tidak ada masalah. Namun, kemudian jumlah siswa semakin anjlok. Saya tawan pikiran saya. Saya muliakan Tuhan dalam kehidupan dan lakukan semua aktivitas di GO dengan kebenaran. Sampai seorang teman menantang saya. Kenapa anjlog terus? Tapi saya masih mementingkan Tuhan, dan hingga Desember 2005, survey Majalah SWA mencatat bahwa GO adalah bimbingan belajar dengan jumlah siswa terbanyak se-Indonesia.”

Tahun 2007, Bob memprediksi ada pelipatgandaan jumlah siswa. Dari tahun 2007 sebanyak 24 ribu siswa menjadi 48 ribu siswa di tahun 2008. “Saya sudah persiapkan anggaran. Kalau nggak nanti kalau orang datang guru habis, ruang habis, diktat habis,” kata Bob.


Gosipnya GO kini telah tumbuh menjadi salah satu Lembaga Bimbingan Belajar terbesar di Indonesia dengan lebih dari 400 cabang di 140 kota di Indonesia.

Selain GO, tahun 1999 Bob Foster juga membuka Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pelita Nusantara di Jl. Sumatera 35 Bandung. Pada tahun 2004, Politeknik Ganesha Bandung di Jl. Gatot Subroto 170 Bandung, yang menurut pengamatan saya, termasuk salah satu tempat kuliah dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Bandung.

Sony Sugema College

Banyak orang sukses yang memulai usahanya dari kondisi sangat memprihatinkan. Sony Sugema adalah salah satu orangnya.

Tahun 1980 ayah Sony meninggal dunia sehingga ia harus bekerja untuk menghidupi ibu dan empat orang adiknya. Ketika itu ia masih sekolah kelas dua di SMA Negeri 3 Bandung. Ia menawarkan jasa les privat pada teman-teman sekolahnya dengan biaya 5 ribu rupiah per bulan. Ternyata tawarannya disambut positif oleh teman-temannya. Selain memang bakatnya yang cerdas, Sony dikenal jitu membuat “soal-soal bayangan” dari ulangan dan ujian nasional oleh teman-teman sekolahnya.

divider

This slideshow requires JavaScript.

divider

Tahun 1982 ia lulus ujian masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Teknik Sipil.  Perjuangan Sony di tengah kprihatinan hidupnya terus berlanjut.  Untuk sekedar menghemat ongkos, ia harus mengayuh sepeda menuju kampus yang berjarak 20 kilometer dari rumahnya. Untuk membiayai kuliahnya sekaligus menafkahi keluarganya, ia banyak mengajar. Bukan gosip, selain mengajar, ia juga memproduksi kue cuhcur yang setiap hari dititip jualkan di kantin Mesjid Salman ITB. Di tempat itulah Sony bertemu dengan seorang wanita bernama Siti Romlah, seorang mahaiswi jurusan Biologi ITB yang membuatnya jatuh cinta, yang usianya tiga tahun lebih tua darinya. Mungkin bagi sebagian besar Akang-Teteh pembaca blog, tindakan Sony sangatlah nekad dan tidak masuk akal. Ia segera mempersunting Siti Romlah. Ia menikah muda dalam usia 17 tahun!

Tahun 1985 ia mengajar di SMA Angkasa Bandung. Ia mengajar Matematika, Fisika, dan Kimia untuk kelas satu, dua, dan tiga. Di luar itu, ia pun sibuk bekerja sebagai pengajar di beberapa Bimbingan Belajar.

Kesibukan demi kesibukannya menafkahi keluarga membuat dirinya tidak bisa fokus lagi di kuliahnya, Sony terkena kasus akademik di ITB, sehingga akhirnya Sony menerima kenyataan putus study (DO), dan ia harus rela melepaskan kesempatan meraih gelar Insinyurnya.

Pada tahun 1990 ia memutuskan untuk membuka bimbingan belajar sendiri. Cikal bakal Sony Sugema College (SSC) ini awalnya terletak di Jalan Dipati Ukur 71 Bandung. Modal awal pendirian bimbel sebesar Rp. 1,5 Juta yang ia peroleh dari pembayaran royalti buku-bukunya. Ia pernah menulis buku tentang pembahasan soal-soal UMPTN yang setiap tahunnya selalu diperbaharui. Uang 1,5 juta rupiaj dipakai untuk menyewa gedung sebesar Rp. 750.000 dan sisanya untuk membeli perlengkapan belajar seperti kursi, meja, papan tulis.

Bimbel Sony Sugema College 03

Promo semakin gencar dilakukan dengan mengusung metoda “The Fastest Solution”. Demo-demo cara cepat penyelesaian Ma-Fi-Ki gencar dilakukan. Saya sendiripun dulu termasuk yang terpukau dengan brosur-brosur bertagline “Pembantaian Soal-soal Matematika Kurang Dari 10 detik!” Cara itu terbukti ampuh untuk mengundang minat para siswa SMAN 3 Bandung angkatan saya. Lebih seru lagi, Bapak Obos Bastaman, seorang guru matematika senior SMAN 3 Bandung, mengklaim bahwa rumus-rumus cara cepat pembantaian Matematika adalah berasal darinya.

Awalnya murid bimbingan belajar ini hanya 140 orang, dan satu-satunya pengajar hanyalah dirinya sendiri. Waktu itu pun saya pernah dapat selebaran bertagline “Sony Sugema – Pengajar Tunggal!”

gosip try out bimbel ssc
Suasana Try Out Bimbel SSC di GOR Jl. Jakarta

Bimbingan belajar ini awalnya hanya khusus untuk menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ia memulainya dengan membuka kelas khusus SMAN 3 Bandung yang memberikan jaminan 100% uang kembali bagi murid yang gagal lolos UMPTN. Saya pun menemukan brosur bertarget siswa SMAN 5 Bandung yang juga memberikan jaminan uang kembali 50%. Benar-benar strategi jitu dari Sony Sugema saat itu.

Gospinya, hanya 10 orang dari 140 orang yang mengambil uangnya kembali.  Dan gosipnya pula, keberhasilan daya tarik metoda Rumus Cepat SSC ini membuat kompetitornya ketar-ketir. Kasus DO-nya Sony Sugema sering disindir oleh guru-guru Bimbingan Belajar Ganesha Operation waktu itu sebagai salah satu upaya Black Campaign memenangkan persaingan rebutan murid. Gosipnya pula itu membuat GO melakukan langkah revolusioner jurus-jurus baru yang mereka branding dengan nama “Rumus The King”.

Seiring berjalannya waktu, ia merasa kewalahan karena terlalu sibuk bekerja sebagai pengajar tunggal. Ia lalu meminta teman-temannya dari ITB, Unpad, dan IKIP (sekarang UPI) untuk membantunya mengajar di Bimbingan Belajar tersebut. Beberapa nama yang saya ingat : Pak Dimitri Mahayana, guru Fisika, Pak Iwan, guru matematika yang tiap ngajar selalu memamerkan kejombloannya :), ada lagi Pak Susilo, guru matematika. Beberapa guru favorit SMAN 3 juga ada yang ditarik sebagai pengajar : Pak Tata Santana (Fisika), Pak Rukman (Kimia).

Pada tahun 1993, SSC mulai membuka cabang di beberapa kota dengan Jakarta dan Garut, lalu Cirebon (1993), Tasikmalaya (1993), Surabaya (1994), Yogyakarta (1995), Bogor (1996), dan Medan (1997). Saat ini SSC memiliki cabang di lebih dari 30 kota di Indonesia.

Menurut Sony, yang membedakan SSC dengan bimbingan belajar lain, yaitu ia menerapkan dua system pengajaran : The Fastest Solution dan Learning is Fun – Art of Study. Dengan kedua metode tersebut, pengajar yang berminat untuk menjadi guru SSC harus memenuhi sejumlah kriteria. Selain harus menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, pengajar juga tidak boleh terlalu serius dan dapat diterima oleh siswa. Sebelum menjadi pengajar pun mereka harus melewati beberapa tes. Pertama tes tertulis untuk mengetahui sejauh mana calon pengajar menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan. Setelah itu, mereka diharusan melakukan simulai mengajar di depan guru-guru SSC. Setelah magang selama tiga bulan, barulah caon pengajar tersebut diangkat menjadi pengajar tetap. Gaji yang diterima pengajar cukup memadai, berkisar antara Rp 20.000 – Rp. 50.000 per jam.

Tahun 1996 ia mendirikan PT Sony Sugema Presindo yang bergerak dalam bidang penerbitan dan percetaan. Selain hobi mengutak-ngatik soal Ma-Fi-Ki, Sony juga ternyata menggemari bahasa pemrograman komputer. Hobinya itu disalurkan dengan mendirikan beberapa perusahaan software, antara lain : PT Sonisarana Cipta Olah Media (SSCOM), Quantum E-commerce College, dan PT Mega Portal Media. Ia juga membuat CD Al-Qur’an, program SMS Al Quran, dan Program S3 (Sony Sugema Script).

Pada tahun 2000 PT Sony Sugema Eduka didirikan, dan sejak itu pula SSC dikembangkan dengan menggunakan metoda waralaba. Hingga tahun 2008 SSC telah membuka 18 cabang waralaba, yakni di Padang, Palembang, Pekanbaru, Depok, Cianjur, Majalengka, Tegal, Palangkaraya, Pontianak, Makasar, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Denpasar, dan Lampung Metro.

Tahun 2001 ia mendirikan STTIS (Sekolah Tinggi Informatika Sony Sugema). Tahun 2003 ia mendirikan sekolah SMA gratis bernama Alfa Centauri di Jl. Diponegoro Bandung. Menurut Sony, sekolah ini didirikan sebagai rasa syukur kepada Allah dan kepeduliannya kepada anak-anak dari keluarga miskin dan yatim piatu.

Awalnya anak-anak yang belajar di sekolah ini bebas biaya. Dana operasional sebesar 20 – 30 juta per bulan diambil dari keuntungan beberapa perusahaannya. Pada tahun ketiga, tak hanya kaum dhuafa yang mendaftar ke sekolah ini sehingga untuk menampung keinginan mereka, ia memberi kuota 50 persen untuk siswa tadi, selebihnya tetap untuk kaum dhuafa. Perberlakuan biaya bagi mereka digunakan untuk subsidi silang bagi kaum dhuafa. Proses seleksi penerimaan juga cukup ketat. Jumlah pendaftar per tahunnya mencapai 400 – 500 orang, padahal siswa yang diterima hanya sekitar 30 – 40 orang saja. SMA Alfa Centauri dikelola dengan gaya bimbel. Sejak kelas dua setiap siswa diikutsertakan bimbingan belajar. Pagi sekolah mengikuti kurikulum biasa dan sorenya mengikuti Bimbingan Belajar. Metoda ini ternyata luar biasa. Dari 27 lulusan perdana akademik 2006/2007, yang mengikuti penerimaan mahasiswa baru (SPMB), 21 orang berhasil diterma di empat PTN terkemuka di Bandung.

“Sebenarnya angkatan pertama SMA Alfa Centauri yang menjadi alumni perdana berjumlah 36 orang itu, hanya 27 yang mengikuti SPMB. Yang lainnya sengaja tidak ikut SPMB karena untuk beli formulir saja mereka tidak punya biaya. Beli formulir paling rendah Rp. 150 ribu,” imbuh Sony menyayangkan.

Saat ini, gosipnya,  Sony Sugema  telah dikaruniai 12 anak dari dua orang istrinya. Sepuluh anak dari istri pertamanya, Siti Romlah, dan 2 anak dari istri keduanya, Ira Kartika, yang usianya terpaut 11 tahun dengan istri pertamanya.

Update 31 Januari 2016

Kabar duka datang dari Bandung, Jawa Barat. Sony Sugema yang selama ini dikenal sebagai pendiri lembaga bimbingan belajar Sony Sugema College meninggal dunia, Minggu (31/1/2016).

“Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak H Sony Sugema pada hari ini, Minggu, 31 Januari 2016. Berdoa semoga Almarhum Pak Sony mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT, diterima semua amal ibadah dan kebaikannya, diampuni segala khilaf dan dosanya serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Amin,” demikian informasi yang beredar di Medsos…

Sebelumnya, Sony sempat dirawat di RS Sentosa, Bandung, untuk masalah jantung.

Selain mendirikan SSC, Sony Sugema juga mendirikan Sekolah Alfa Centauri di Bandung. Ia juga turut mendirikan kantor berita Islam Mi’raj Islamic News Agency (MINA).