Home  /  Renungan  / Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Bagaimana Umat Menyikapinya ?

Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Bagaimana Umat Menyikapinya ?


Polemik 1 Ramadhan dan 1 Syawal, Bagaimana Umat Menyikapinya ?


ﻳَٰAlhamdulillah, tahun ini kita masih dipertemukan kembali dengan Bulan Suci Ramadhan, bulan istimewa penuh berkah. Di Ramadhan tahun 2015 M ini, saya merasa bersyukur karena penentuan awal Ramadhan tahun ini sudah banyak sama. Biasanya tahun-tahun sebelumnya, selalu timbul polemik karena beda 1 hari antara Muhammadiyah dan “Pemerintah”.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa 59) .

Ayat ini sering dimunculkan ketika terjadi perbedaan pendapat ketika menentukan Ramadhan atau 1 Syawal. Sedangkan Allah SWT di dalam QS. Al Baraqah 185 menyuruh kita berpatokan pada bulan baru atau New Moon, atau biasa dikenal dengan hilal, di dalam menentukan awal pergantian hitungan satu bulan.

Sebetulnya di zaman sekarang ini, kita tidak perlu lagi banyak mempersoalkan apakah bulan tertutup awan atau tidak, semua bisa dilihat melalui satelit atau melalu perhitungan secara 3D di berbagai website terpercaya. Saran saya, coba install saja aplikasi Daff Moon di android masing-masing. 

QS. An-Nisa 59 pula sering dipergunakan dengan tujuan agar perdebatan menjadi berhenti dan ikut “Ulil Amri Minkum” saja, padahal pengertian “Pemegang Kekuasaan Diantaramu” Negara ini adalah RAKYAT, karena INDONESIA adalah Negara DEMOKRASI. Jadi oleh sebab itu Rakyat lah yang harus lebih cerdas dan mampu berpikir dengan baik dan benar.

Pendapat bahwa pemerintah menanggung dosa, menurut saya, seharusnya kita kaji lebih lanjut lagi, karena jelas dikatakan dalam QS. An-Najm 38, bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya secara individu. Allah SWT memberikan akal bukan hanya sekedar accesories, tapi alat berpikir di dalam membedakan antara Haq dan Bathil.

Comments

comments

Related Post


HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN
HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi…

Benarkah Dr Fiera Lovita Melakukan Penistaan Pada Ulama?
Benarkah Dr Fiera Lovita Melakukan Penistaan Pada Ulama?

Saya menemukan kisah ini di timeline Facebook seorang teman.... begitu…

Makna Spiritual Sabar dan Shalat
Makna Spiritual Sabar dan Shalat

Tulisan ini saya susun dari Rangkaian kultweet  Kang @dickyzainal :…

Mengapa Kita Bangga Menjadi Orang Pelit?
Mengapa Kita Bangga Menjadi Orang Pelit?

Selamat pagi..! Sebuah renungan kiriman seorang kawan. Mengapa Kita ini…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *