Home  /  Renungan  / Mengetahui Kedalaman Agama Seseorang

Mengetahui Kedalaman Agama Seseorang


Mengetahui Kedalaman Agama Seseorang

Di jaman Now begini, WhatApp Group adalah salah satu sarana untuk menyambung kembali tali silaturahmi dari keluarga, alumni sekolah, atau teman-teman satu komunitas. Selalu ada 2 sisi mata uang dari kemudahan teknologi. Meskipun seringkali berhasil menghidupkan kembali kenangan masa lalu yang berujung pada acara-acara reuni, salah satu hal yang menyebalkan adalah ketika postingan-postingan titipan dari orang-orang yang berbeda pandangan politik berujung pada pertikaian.

Salah satu postingan di WAG keluarga kami yang menuai protes dari salah seorang anggotanya.

“Jika ingin mengetahui kedalaman agama seseorang, janganlah lihat dari betapa banyak ia shalat dan puasa, melainkan lihatkah bagaimana ia memperlakukan orang lain.”

Orang tersebut begitu reaktif dan menganggap tulisan ini sesat dan bisa mengundang perdebatan agama.

This slideshow requires JavaScript.

Pertanyaannya, kenapa dia harus protes? Sebelum-sebelumnya khan dia juga yang memancing kerusuhan dengan memaksakan postingan-postingan yang menurut saya tidak etis. FYI, orang tersebut banyak memposting ajakan kebencian terhadap agama lain, terhadap kelompok lain. Jadi wajar banget sih klo ada beberapa orang yang masih waras terpancing untuk mengklarifikasi masalah tersebut.

Tidak hanya protes, orang tersebut lagi menulis argumentasi dari sudut pandang dia sebagai berikut :

“tulisan yang tidak jelas semacam ini sebaiknya tidak diposting di grup. Kita dapat melihat bahwa tulisan pada gambar di atas tersebut tidak menyebutkan siapa sumbernya, apakah dari hadits atau fatwa ulama atau pendapat para ahli, sama sekali tidak disebutkan sumbernya.

Selain itu, tulisan pada gambar tersebut juga mengundang perselisihan dan kontroversi, sebab menimbulkan kesan bahwa shalat dan puasa itu tidak penting. Padahal dalam Islam, Habluminullah dan Habluminannas itu sama-sama penting.

Selain dari memancing perdebatan agama, tulisan pada gambar tersebut juga bersifat pemikiran tidak logis (logical fallacy) yang berjenis false dilemma fallacy, seolah-olah menggiring opini bahwa antara shalat dan puasa dengan sikap baik kepada orang lain adalah suatu pilihan yang bersifat mutually exclusive; sehingga berpotensi menggiring opini seolah-olah orang yang rajin shalat dan puasa adalah orang yang tidak bersikap baik kepada orang lain.

Padahal kan tidak begitu. Kan bisa saja dua-duanya sekaligus.”

Hmm… begitu ya? Tapi saya kok nggak lihat itu ya?

Saya pikir tulisan ini tidak bisa dianalisis dengan logika bodoh. Sebelum menghakimi tulisan ini, cobalah introspeksi diri. Sudah benarkah shalat dan puasa kita selama ini? Lagipula ketika kita lagi di Google, ternyata tulisan tersebut sumbernya jelas kok, nih lihat :

Banyak orang yang ke-GR-an menganggap dirinya adalah seorang “muslim yang taat”, ritual shalat selalu tepat waktu,ritual puasa Ramadhan tidak pernah terlewat, tetapi tindakan sehari-harinya masih jauh panggang dari api.

Apa makna shalat? Perintah shalat dalam Al Qur’an itu sangat mendalam. Kita tidak cukup mengerjakannya hanya sebatas asal gugur kewajiban. Shalat itu harus didirikan. Mendirikan shalat maknanya jauh lebih dalam dari sekedar gerak dan mantra. Tiap gerakan shalat mengandung makna spiritual yang membimbing arah hidup kita pada Sang Pencipta. Tidak heran jika ada ayat Al Qur’an yang mengatakan :

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Perwujudan shalat yang benar adalah akhlaq yang baik.

Mungkin itu sebabnya Al Quran secara khusus mengatakan, “neraka wail bagi orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya”.

Lalai dalam shalat pun tafsirannya sangat luas. Bisa lalai dalam pelaksanaan ritual wajib, bisa juga berarti lalai dalam arti kita gagal memahami makna spiritual di balik totalnya dalam segala aspek kehidupan kita sehari-hari hari. Wallahu alam.

Bahkan menjaga wudhu saja pun bisa menolong kita di dunia dan akhirat.

Apa makna puasa?

Puasa itu pengendalian diri bukan menahan. Nafsu itu harus dikendalikan oleh akal. Bukan dikendalikan oleh nafsu. Itu sama dengan jeruk minum jeruk, nanti malah dipermainkan oleh nafsu itu sendiri. Makanya selama puasa, orang menganggap itu siksaan, kalau nggak menganggap siksaan pasti biasa-biasa saja ketika berbuka, makannya seperti balas dendam, segala ada dan diada-adakan.

Shaum yang baik adalah ketika kita bersatu dengan Sang RABB dimana segala Nafs terkendali dengan baik.

Apakah orang-orang yang jari-jarinya selalu kegatelan untuk menyebar hoax dan kebencian di Sosial Media mencerminakan orang yang rangkaian wudhu, shalat dan puasanya baik? Mari kita telaah dan  Renungkan bersama….

 

Comments

comments

Related Post


Sebuah Pelajaran dari Mang Jonih
Sebuah Pelajaran dari Mang Jonih

Kami mempunyai WhatsApp Group keluarga. Tidak dipungkiri, WhatsApps group merupakan…

Benarkah Dr Fiera Lovita Melakukan Penistaan Pada Ulama?
Benarkah Dr Fiera Lovita Melakukan Penistaan Pada Ulama?

Saya menemukan kisah ini di timeline Facebook seorang teman.... begitu…

Kembangkan Sikap Penuh Pengertian
Kembangkan Sikap Penuh Pengertian

Seorang dokter bedah bergegas masuk ke dalam ruang operasi. Ayah…

Kisah 4 Mahasiswa Telat Ujian
Kisah 4 Mahasiswa Telat Ujian

Alkisah... Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *