Maaf, Saya Tidak Anti Arab, Tapi…

Ketika beberapa kali saya membagi postingan tentang krisis minyak di Saudi Arabia, tentang gamis pria yang menurut saya mirip daster,  beberapa anggota keluarga saya menganggap saya sedang kampanye anti arab. Mereka berkata, “Jangan lupa, Wan, Al Quran itu diturunkan dalam bahasa Arab, bacaan shalat kita sehari-hari juga berbahasa Arab”.

Saya sama sekali tidak menggugat bacaan shalat. Yang banyak saya masalahkan saat ini adalah, betapa susahnya masyarakat kita membedakan apa itu Islami dan apa itu Arabi.

Waktu kecil dulu, saya sering mendengar cerita dari beberapa orang family yang baru pulang menunaikan ibadah haji. Mereka bilang laki-laki arab itu banyak yang biadab. Kalau kita suami istri naik taksi di sana, laki laki harus duluan naik, saat taksi berhenti di tempat tujuan, perempuan harus duluan turun. Kenapa? Untuk menghindari kemungkinan bahaya penculikan.

Sampai saat inipun, kita masih sering mendengar cerita tentang nasib tenaga kerja wanita Indonesia yang mendapat pelecehan seksual hingga diperkosa, tapi malah mereka yang dinyatakan bersalah lalu dihukum pancung.

Saat berkesempatan menunaikan umroh di tahun 2003 dulu, sayapun menyaksikan sendiri betapa nyebelinnya orang-orang arab yang menjadi petugas bandara. Pelayanan mereka saat itu gak optimal sehingga kita lama tertahan di bandara, sementara kami lihat si orang-orang Arab itu malah asyik SMS-an.

Mungkin itu sebabnya Rasulullah lahir dan ditugaskan terlebih dahulu di sana. Bukan karena tanah Arab adalah tanah yang paling dicintai Allah. Melainkan karena orang-orang yang paling dulu harus dibenahi ahlak dan perilakunya adalah orang-orang Arab. Bukankah saat Rasulullah lahir, jazirah arab terkenal dengan budaya jahiliyahnya?

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *