You cannot copy content of this page
Kompetisi Itu Budaya Yang Merusak

Kompetisi Itu Budaya Yang Merusak

Pengantar Admin :

Tulisan bagus ini saya dapatkan dari group Prodigy, ditulis oleh dari Kang Sandi Nugroho. Semoga bermanfaat bagi teman-teman pembaca


Mari perhatikan aturan alam yang ada pada diri kita. Mulai dari tubuh manusia yang setiap sel dan organnya tumbuh bersama sejak janin. Berikut pelajaran yang dapat kita ambil.

Tidak ada sesama sel darah yang berkompetisi terhadap sesama sel darah dan berusaha mengalahkan sel darah lain. Juga tidak ada sel darah yang berusaha mengalahkan sel sumsum tulang belakang. Semua tumbuh bersama. Saling dukung, saling melindungi, saling menghidupi dan saling menyelamatkan.

Masing-masing menjalankan fungsinya sendiri. Tidak ada yang berusaha mempengaruhi sel lain atau organ lain untuk beralih fungsi menjadi sama dengan dirinya.

Semuanya hidup selaras sehingga dapat tumbuh bersama.

Kapan sel-sel tubuh kita berusaha mengalahkan sel lain?

Saat ada sel asing dari kuman, bakteri dan virus yang masuk.

Ternyata keberadaan kuman, bakteri dan virus tersebut adalah agar sistem imunitas pada tubuh manusia dapat terus bekerja. Jika tidak ada kuman, bakteri dan virus yang masuk, maka sistem imunitas pelan-pelan akan mati dengaan sendirinya. Seperti halnya jika seseorang berhenti menggunakan salah satu anggota tubuhnya, misalnya kakinya. Pelan-pelan otot-otot kakinya akan mengecil lalu syaraf-syarafnya akan dimatikan satu per satu. Sehingga kaki tersebut tidak bisa lagi digunakan bergerak dan merasa.

Adakah kondisi yang membuat sel-sel tubuh menjadi saling berkompetisi?

Ada. Yaitu kondisi saat sebagian sel-sel tubuh berubah menjadi sel kanker karena terus-menerus dirusak oleh racun atau radiasi.

Saat sel tubuh menjadi sel kanker. Semua kondisi kompetisi terjadi.

Sel darah berusaha menaklukkan sel darah lain.
Sel hati yang satu berusaha mendominasi sel hati lainnya.
Sel kulit yang satu mempengaruhi sel kulit lainnya supaya menjadi pengikutnya
Sel paru-paru mempengaruhi sel paru-paru lainnya untuk berhenti menyediakan oksigen untuk sel tubuh lain.

Jika diperhatikan lagi lebih jauh. Budaya kompetisi itu adalah kebalikan dari ajaran-ajaran pada banyak agama yang mengajarkan kerjasama dan toleransi.

Puasa, paduan suara, meditasi serta samadhi yang melatih pengendalian hawa nafsu dan toleransi dibalikkan latihannya oleh budaya kompetisi yang justru melatih kebanggaan dan hasrat menaklukkan bagi pemenang serta rendah diri dan rasa hina bagi yang kalah.

Budaya kompetisi ini pula yang melahirkan kebanggaan berlebihan terhadap kelompoknya yang sempat jadi pemenang. Baik itu kelompok masyarakat, suku, agama, atau ras tertentu. Kebanggaan yang dibangun tersebut biasanya disertai dengan merendahkan kelompok lainnya. Hal ini biasanya akan diikuti dengan aksi balasan serupa dari kelompok lain. Puncaknya adalah munculnya perang antar sesama manusia.

Situasi yang betul-betul sama dengan tubuh yang terkena kanker. Terjadi perang antar sesama sel tubuh dari orang yang sama.

Yang merugi adalah si pemilik tubuh. Pada umat manusia, yang merugi adalah seluruh umat manusia.

Lantas pada peristiwa pembuahan sel telur oleh sel sperma, apakah hal tersebut merupakan kompetisi?

Mungkin selama ini kita diajarkan untuk berpersepsi bahwa jutaan sperma itu berkompetisi membuahi satu sel telur.

Tapi apakah demikian skema sebenarnya?

Bagaimana kalau ternyata sel-sel sperma yang lebih lemah itu sebenarnya membantu membukakan jalan bagi sel terkuat? Lalu sel-sel sperma yang tidak membuahi sel telur kemudian menjalankan fungsi lain selain membuahi? Karena tidak ada yang diciptakan percuma atau hanya jadi pihak yang kalah..

Sebenarnya hal tersebut adalah bentuk kerjasama jutaan sel sperma untuk mempersiapkan satu sel sperma yang membuahi sel telur, karena pada vagina dan rahim terdapat sistem pertahanan berlapis yang mampu membuat jutaan sel sperma tersebut gagal semuanya.

Saatnya kita perlu kembali merenung, masihkah perlu kita memelihara budaya kompetisi? Sedangkan tugas manusia diciptakan Allah bukanlah untuk berkompetisi.

Comments

comments