Home  /  Opini  / Ketika Sampurasun Diplesetkan Menjadi Campur Racun

Ketika Sampurasun Diplesetkan Menjadi Campur Racun


Ketika Sampurasun Diplesetkan Menjadi Campur Racun

SAMPURASUN dan RAMPES merupakan salam khas warisan nenek moyang bangsa Nusantara. Banyak di antara kita yang saat ini tidak memahami makna dari SAMPURASUN-RAMPES ini, karena memang tidak pernah diajarkan di kurikulum pendidikan nasional. Ada pula yang mengatakan hingga sebatas, “Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama.”

SAMPURASUN berasal dari kata SAMPRAZAAN, kata dalam bahasa ZHUNNDA, yang berarti Selamat sejahtera semoga dilimpahkan kepada Anda. Karena penyebutannya makin lama makin dianggap susah, kata ini lambat laun berubah menjadi SAMPURASUN dalam bahasa sunda masa kini. Kenapa nenek moyang kita memakai kata “Selamat sejahtera” dan bukan “salam sejahtera?

Dari awal, ucapan selamat diberikan pada semua manusia di segala dimensi. Sedari awal, manusia mengharapkan keselamatan, baik keselamatan di dunia, dan di segala dimensi. Mengapa juga mencakup keselamatan di segala dimensi? Bisa saja kita secara fisik celaka di dunia saat ini, tapi kita “selamat di dimensi lain. Misalnya saja ketika seseorang mengalami tabrakan, ia secara fisik bisa saja hancur, namun sebenarnya diselamatkan oleh Allah. Bila tidak, ia akan hidup dan menjalankan hidupnya sebagai penjahat. Contoh lain, anak yang meninggal kaena sakit cacar, mungkin saja sebenarnya ia diselamatkan oleh allah agar tidak tumbuh menjadi koruptor.

Kata itu dijawab RHAMPIAZA, yang lambat laun berubah menjadi RAMPES, yang artinya “anda semua di seluruh dimensi”. Nenek moyang bangsa kita memahami bahwa tidak ada manusia yang mati, yang ada hanyalah pindah dimensi dari kehidupan dunia ke dimensi kehidupan selanjutnya, hingga harus tetap didoakan.

SAMPRAZAAN dan RHAMPIAZA mengandung makna yang sangat dalam. Keduanya adalah do’a yang disampaikan sesama manusia, untuk semua umat manusia, di dimensi manapun dia berada. Sayangnya, banyak yang tidak mengerti maknanya yang dalam tersebut. Sehingga saat ini, SAMPURASUN dan RAMPES hanya dianggap sebagai sebuah tradisi sapaan basa-basi biasa saja. Kata SAMPRAZAAN dan RHAMPIAZAA ini, kemudian diadopsi ke dalam bahasa Arab oleh Rasulullah Muhammad SAW menjadi kata Assalamu’alaikum dan Wa’alaikum salam.

Jika benar demikian, artinya nenek moyang bangsa Indonesia jaman dulu hidupnya sudah demikian Islami. Bukankah itu berari SAMPURASUN dan RAMPES mempunyai makna yang benar-benar identik dengan kata “Assalamu’alaikum – Wa’alaikum Salam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh”?

Jadi, bisakah kata “Sampurasun-Rampes” dianggap sepadan dengan “Assalamu’alaikum – Wa’alaikum salam“? Yang jadi masalah yang suka dibesar-besarkan, banyak orang dari golongan fanatik tertentu yang tidak terima dengan fakta ini. Karena di mata mereka, bahasa Arab adalah bahasa syurga, bahasa pilihan Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka keukeuh mengatakan bahwa Bahasa Arab adalah akar dari segala bahasa di dunia. Da aku mah apa atuh.. ustadz bukan, ulama juga bukan.. alumnus pesantren bukan, ngerti bahasa Arab juga nggak 🙂 Tapi yang jelas, Nilai Islam dapat diamalkan tanpa harus menghilangkan budaya lokal.

Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, bangsa Arab punya kebiasaan memutari kabah tanpa busana, dan banyak bayi wanita dikubur hidup hidup. Rasulullah hanya mengubah tradisi yang merugikan dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam, serta membiarkan tradisi yang tak bertentangan, seperti tradisi kumpul-kumpul duduk melingkar makan nasi briyani, mas kawin pakai onta, dll

Cukup menyedihkan memang, ketika kita mencoba berbicara soal budaya di depan kaum intoleran yang merasa telah mewakili Tuhan yang begitu mudahnya mengeluarkan vonis liberal atau Islam Nusantara. Tetap melestarikan SAMPURASUN-RAMPES untuk sunda, dan KULONUWON untuk jawa adalah budaya yang baik, tidak ada pertentangan dengan akidah sama sekali. Meskipun Al Qur’an ditulis dengan bahasa Arab, bukan berarti kita harus memaksakan hatur nuhun dan matur nuwun dihapus dan diganti dengan kata “syukron” yang lebih arabi.

Islami berbeda dengan Arabi…

Comments

comments

Related Post


Surat Terbuka Untuk Abang dan Mamang Angkot
Surat Terbuka Untuk Abang dan Mamang Angkot

Dear Abang dan Mamang Angkot.. Abang angkot yang baik, sebenernya…

Sehat Dengan Olah Nafas
Sehat Dengan Olah Nafas

Saat ini semakin banyak orang yang sadar akan manfaat oleh…

Telkom Memang Terbukti Menjebak Konsumennya
Telkom Memang Terbukti Menjebak Konsumennya

Antara Indihome dan MNC Play Media Bagian 1 : Telkom Indihome…

Benarkah Bahasa Arab Adalah Bahasa Khusus Umat Islam Sekaligus Bahasa Syurga?
Benarkah Bahasa Arab Adalah Bahasa Khusus Umat Islam Sekaligus Bahasa Syurga?

Rasulullah SAW memang diturunkan di Jazirah Arab. Sudah tentu di…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *