Home  /  Opini  / Benarkah Bahasa Arab Adalah Bahasa Khusus Umat Islam Sekaligus Bahasa Syurga?

Benarkah Bahasa Arab Adalah Bahasa Khusus Umat Islam Sekaligus Bahasa Syurga?


Benarkah Bahasa Arab Adalah Bahasa Khusus Umat Islam Sekaligus Bahasa Syurga?

Rasulullah SAW memang diturunkan di Jazirah Arab. Sudah tentu di awal-awal dakhwahnya beliau berbicara dengan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi pada masyarakat lokal jazirah Arab. Bahkan Al Qur’an pun beliau sampaikan kepada umatnya dengan bahasa Arab. Ditulis dengan Huruf Arab Hijyaiyah. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang berpendapat bahwa bahasa Arab adalah bahasa pilihan Sang Maha Pencipta, salah satunya adalah Ustadz Yusuf Mansyur

Memang benar sih jika dikatakan bahwa bahasa Arab memiliki kaidah tatabahasa dan seni sastra bahasa yang lebih tinggi dari bahasa Indonesia yang kita pakai saat ini. Tapi jika kita sampai ekstrim mengatakan bahwa bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa yang diterima Allah kelak di akhirat, entah kenapa, saya pribadi kok rasanya belum sepenuhnya sepakat.

Saking pentingnya kegiatan memuliakan bahasa Arab, masih banyak mesjid-mesjid di Indonesia, bahkan sampai ke pelosok-pelosok pedesaan, khutbah jum’atnya menggunakan bahasa Arab, meskipun jemaah yang hadir di sana pada nggak ngerti bahasa Arab.

Saya tidak anti bahasa Arab. Bagaimanapun bahasa Arab adalah salah satu bahasa terbesar di dunia yang diakui PBB. Banyak untungnya menguasai bahasa Arab. Dengan menguasai bahasa Arab, communication skill Anda bertambah, dengan menguasai bahasa arab, anda bisa hidup di jazirah arab, kuliah di sana, kerja di sana, berbisnis di sana. Dengan menguasai bahasa arab, anda akan lebih mudah memahami isi kandungan berbagai mushaf Al Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab dengan huruf Hijaiyah. Dengan menguasai bahasa Arab, anda lebih mudah mempelajari kitab-kitab kuning yang ada di berbagai pesantren di negara kita. Dengan menguasai bahasa arab, anda relatif lebih mudah memahami arti dari bacaan-bacaan shalat yang kita pelajari sejak kecil. Sudahkan Anda mengerti dan memahami arti dan makna bacaan shalat yang kita baca sehari-hari?

Sejumlah kaum Muslim yang “lugu” di Indonesia sering berasumsi atau bahkan berkeyakinan bahwa Bahasa Arab itu “bahasa Islam”, “bahasa suci” atau bahkan menurut “Ustad Ucup”, “bahasa Surga”. Tetapi pada saat yang sama, lucunya, mereka mengafirkan dan “me-neraka-kan”Kristen dan Yahudi (atau non-Muslim secara umum). Pertanyaanya: bagaimana dengan umat Arab Kristen dan Yahudi, yang seperti kaum Muslim Arab, juga menggunakan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berkomunikasi. Tidak hanya itu, tata-cara beribadah (misalnya kebaktian Minggu untuk Kristen atau sabat untuk Yahudi), nama-nama tempat-tempat ibadah (Sinagog dan Gereja), dan kitab suci mereka juga menggunakan Bahasa Arab!

This slideshow requires JavaScript.

Foto di atas hanyalah sekedar contoh Kitab Perjanjian Baru umat Arab Kristen dan Kitab Talmud umat Arab Yahudi yang ditulis dengan Bahasa Arab.

Dunia Arab bukan melulu “Dunia Muslim”. Di kawasan ini, ada berjuta-juta masyarakat non-Muslim: Kristen, Yahudi, Yazidi, Baha’i, Zarastutra, atau bahkan agnostik dan ateis. Data dari Liga Arab misalnya menyebutkan ada sekitar 20 juta warga Arab yang memeluk Kristen. Mereka tersebar di Lebanon, Palestina, Suriah, Mesir, Irak, dlsb. Masyarakat Arab Yahudi, meskipun tidak sebanyak umat Arab Kristen, juga ada disini seperti di Bahrain, Oman, Yaman dll.

Karena Arab adalah bahasa mereka, maka umat Arab Kristen dan Yahudi ini juga bertutur-sapa dan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari juga menggunakan Bahasa Arab. Seperti kaum Muslim, mereka juga menggunakan istilah-istilah “Allahu Akbar, Insha Allah, Masha Allah, Assalamu ‘alaikum, Bismillah, Alhamdulilah, Shafaka Allah…”.

Ye tentu saja mereka menggunakan Bahasa Arab. Nggak mungkin lah mereka menggunakan istilah-istilah : sampurasun, sugeng enjing, selamat pagi dlsb? Sudah tentu Bahasa Arab mereka jauh lebih fasih ketimbang para “Arab KW” di negara kita yang dengan “genit”nya gemar berantum-antum dan berakhi-ukhti itu.

Islam Datang Bukan Untuk Arabisasi Indonesia

Jadi, kita harus menjadi umat Islam yang cerdas dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Perbanyaklah “turisme intelektual”, supaya wawasan keagamaan dan keislaman kita semakin “bergizi”. Dengan demikian, umat Islam yang berfikir diharapkan semakin toleran dalam bersikap dan bertindak di masyarakat yang majemuk ini.  Jangan cuma “wisata rohani” dan foto-foto di tempat-tempat suci melulu yang dibesar-besarkan. Saya tidak alergi dengan teman-teman saya di sini yang gemar menggunakan gamis dan memanjangkan jenggotnya. Meniru cara berpakaian dan gaya idolanya adalah hal yang sangat lumrah yang terjadi di masyarakat.

Pendukung budaya Arab yang fanatik begitu gampang tersinggung ketika ada yang berpendapat bahwa bahasa Arab pun berasal dari bahasa sangsekerta. Mereka tambah kebakaran jenggot ketika dikatakan bahwa bahasa yang pertama diajarkan Nabi Adam kepada anak cucunya bukan bahasa Arab. Bahkan mereka akan begitu mudah mengeluarkan fatwa sesat ketika ada yang berpendapat bahwa akar segala bahasa di dunia adalah bahasa Sunda yang diturunkan di bumi Nusantara. Masalahnya, nggak gampang sih menelusuri bukti-bukti sejarahnya.

Saya tentu saja mempertanyakan ketika seorang Ustadz mengatakan bahwa bahasa yang berlaku di dimensi alam kubur adalah bahasa Arab. Klo begitu kebayang dong para nabi Dan rasul Dari mulai Isa Putra Maryam ke belakang akan menggunakan bahasa isyarat alias bahasa Tarzan karena malaikat di sono pake bahasa Arab saat menginterogasi yg mana nggak dimengerti oleh para nabi dan rasul di luar bangsa Arab. Karena secara logika kita tidak bisa membayangkan apa jadinya di akhirat kelak pada orang-orang yang selama hidup di dunia tidak pernah belajar bahasa Arab.

Memang sih pernyataan ini gampang ditangkis dengan sebuah doktrin pamungkas, “Itu mah kekuasaan Allah, Kang, nggak usah dipikirkan, cukup imani saja!”

Tapii… bukankah Islam adalah rahmat bagi seluruh Alam dan dimensi? Jadi Islam itu bukan Rahmatan Lil Arabiyin saja Kekuasaan Sang Pencipta itu bukan hanya di Tanah Arab tapi meliputi seluruh jagad dan dimensi. Masih mau terkecol sama paham Arabi?

Comments

comments

Related Post


Benarkah Kita Bisa Menjadi Kaya dengan Rajin “Mewiridkan” Surat Al Waqi’ah?
Benarkah Kita Bisa Menjadi Kaya dengan Rajin “Mewiridkan” Surat Al Waqi’ah?

Di dalam pandangan awam kaum muslimin yang kurang berfikir dalam…

Gosip Cara Tukang Ojek Berpenghasilan di Atas UMR
Gosip Cara Tukang Ojek Berpenghasilan di Atas UMR

Sejumlah media menulis kisah yang menggugah tentang fenomena gojek, dengan…

Ramadan – Waktu Untuk Revolusi Materi Ceramah di Mesjid-Mesjid.
Ramadan – Waktu Untuk Revolusi Materi Ceramah di Mesjid-Mesjid.

Ramadhan baru saja berlalu, selama sebulan penuh kemarin, semoga kita…

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN
HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *