Home  /  Renungan  / Aturan Gawe Manusia

Aturan Gawe Manusia


Aturan Gawe Manusia

Aturan GAwe MAnusia atau AGAMA bertujuan agar terjalin hubungan baik manusia dgn manusia, manusia dgn alam, manusia dgn Sang Pencipta. Di dalam Agama ada ritual dan simbol agar manusia mengerti dan mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari hingga terbentuk harmoni.

Di dalam Agama diajarkan bahkan diperintahkan untuk : Turunkan EGO dan maklumi orang lain, atau istilah lainnya adalah SABAR. Agama pula mengajarkan bagaimana kita belajar memaklumi perbedaan pendapat, dan mengerti bahwa orang lain itu mungkin berbeda pemikiran.

Agama adalah untuk perdamaian. Tidak ada satupun ajaran Agama untuk permusuhan. Memusuhi sesama itu ajaran “kepentingan” bukan ajaran Agama. Surat dan ayat disalahgunakan untuk menanamkan kebencian pada pihak lain, itu adalah ajaran “kepentingan”, bukan ajaran Agama. Agama mengajarkan kesabaran, toleransi, memaklumi, kalau ada tokohnya mudah marah, benci, itu “tokoh kepentingan” bukan “tokoh Agama”.

Ajaran Agama yang demikian tinggi, secara perlahan dan pasti mulai dipelintir sedikit demi sedikit tanpa terasa & Sistematis. Satu contoh yg paling jelas adalah dibuatnya umat hanya mengenal ritual tanpa mengetahui arti spiritualnya. Ini sudah mengakar. Sang Maha Pencipta memerintahkan agar manusia itu damai, tenang, tentram, saling memahami, toleransi, tolong menolong, bukan perang. Sekarang banyak yg mengaku beragama namun mengajarkan kebencian, menghasut, menghujat, bahkan “membunuh” mereka yg berbeda pendapat.

Agama mengajarkan konfirmasi, namun sepertinya hal itu sangat sulit dilakukan karena sudah terhasut secara mendalam dan benci membuta. Penindasan oleh kelompok mayoritas pada kelompok minoritas di dalam beragama juga terjadi dimana-mana,itu sangat bertentangan dengan Agama.

Agama mengajarkan untuk tidak menjelek-jelekkan, tapi banyak penceramah selalu menjelek-jelekkan pihak lain yang berbeda pendapat dengannya.

Agama mengajarkan berpikir untuk yakin, namun sekarang diajarkan yakin tanpa berpikir, akibatnya umat semakin mundur dan emosional.

Agama mengajarkan “Mendirikan” bukan hanya “melakukan”, karena dua hal itu sangat jauh berbeda. Seperti perbedaan bumi dengan langit. “Melakukan” hanya sekedar ritual saja tanpa mengenal makna dari segala yg dilakukan juga simbol gerakan dan bacaan tidak diketahui pula. “Mendirikan” bukan hanya ritual saja, namun mengenal arti spiiritual semua simbol dan mengejawantahkannya di dalam kehidupan secara utuh.

Comments

comments

Related Post


Apa yang diamalkan lebih penting dari sekedar dihafalkan
Apa yang diamalkan lebih penting dari sekedar dihafalkan

Yang ditanya di akherat itu amalan, bukan hapalan. Maaf.. saya…

Kajian Surat Al Fiil
Kajian Surat Al Fiil

Suatu ketika, Abdul Muthalib ‘pasrah’ dan lebih memilih menyingkir ketika…

Benarkah Kita Bisa Menjadi Kaya dengan Rajin “Mewiridkan” Surat Al Waqi’ah?
Benarkah Kita Bisa Menjadi Kaya dengan Rajin “Mewiridkan” Surat Al Waqi’ah?

Di dalam pandangan awam kaum muslimin yang kurang berfikir dalam…





Add Comment


Your email address will not be published. Required fields are marked *