Mungkinkah DIRUNA Menjadi Solusi Keluar Dari Krisis Ekonomi Kita?

Saat ini pembahasana tentang DIRUNA menjadi “booming” di social media, khususnya di Lemurian Community. Apa itu DIRUNA? Apa fungsinya? Bagaimana cara memakainya? Kenapa begitu banyak temen-teman di Facebook begitu gencar mempromosikan DIRUNA sebagai solusi dari krisis ekonomi yang melanda negara kita?

DIRUNA adalah alat pembayaran digital, jadi DIRUNA tidak dicetak dalam bentuk uang kertas maupun uang logam seperti rupiah atau dollar. Masyarakat saat ini sudah semakin terbiasa menggunakan rupiah digital dalam bentuk Gopay, OVO, TCash, dll. Jadi tentu tidak masalah dengan penggunaan DIRUNA. Apa bedanya dengan Gopay dkk itu? Gopay masih menggunakan satuan rupiah. DIRUNA punya nilai tukar sendiri yang berbeda dengan rupiah. Saat DIRUNA pertama diterbitkan, nilainya masih sangat murah.Berbeda dengan sekarang, di mana 1 DRA saat ini nilainya masih berfluktuasi antara 2000 hingga 5000 rupiah. Kalau kita ingin jual beli menggunakan DIRUNA, kita harus menukarkan rupiah kita dengan DIRUNA terlebih dahulu.  Jadi DIRUNA itu mata uang baru donk? Iya, DIRUNA memang dirancang untuk menjadi mata uang baru dengan system yang lebih baik dari Rupiah, Dollar, dll, yang saat ini diatur dengan system perbankan.

DIRUNA didistribusikan dalam bentuk cryptocurrency. Mata uang virtual seperti BitCoin donk jadinya? Benar. Bedanya apa?  Kalau sudah sama-sama BitCoin, kebijakan dan perilaku para pemegangnya lah yang akan membuat perbedaan. Mau diperlakukan sebagai mata uang di dunia real? atau cuma mau dipakai sebagai cryptoasset yang cuma diperjualbelikan seperti Forex saja? Tujuan DIRUNA tentu ke arah perdagangan real, bukan perdagangan mata uang antar crypto saja.

Komunitas DIRUNA dibentuk tanggal 16 Maret 2018. Saat artikel ini ditulis, jumlah pemegang DIRUNA sudah lebih dari 1 juta Holder, dan jumlah semakin hari semakin membesar.

Para pemegang DRA, yang dikenal dengan istilah RAVEDA, sejak awal berkomitmen untuk menggunakan DRA sebagai alat tukar perdagangan yang real. Aktivitas jual beli dibentuk dalam internal Komunitas. Para RAVEDA didorong untuk melakukan aktivitas jual beli kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan mata uang DIRUNA. Apakah Rupiah akan ditinggalkan? Tergantung kesepakatan. Jika memang kondisi perekonomian masyarakan jadi semakin baik Setelah bermigrasi ke DIRUNA, kenapa tidak? Toch saat ini nilai rupiah terhadap dollar nilainya makin melemah saja. Di saat yang berlawanan, nilai DIRUNA akan terus naik. 

By the way, gimana sih caranya biar bisa makmur dengan DIRUNA itu? Salah satu manfaat punya DIRUNA dalam jumlah yang cukup adalah membentuk pasif income dengan cara “ternak wallet”. Dari hasil ternak tersebut, kita mendapatkan Loyalti Point (LP). Pasif Income bisa terjadi saat jumlah wallet kita cukup untuk menghasilkan jumlah LP yang bisa dibelanjakan dengan kebutuhan pokok sehari-hari. Kalau kebutuhan pokok sudah bisa terpenuhi, kita bisa focus bekerja dan berkarya untuk kemaslahatan umat tanpa perlu khawatir dengan kondisi dapur kita. Mirip dengan punya deposito donk? Iya, secara awam memang identic. Kalau punya tabungan deposito kita bisa hidup dari bunga deposito, kalau punya tabungan DIRUNA kita hidup dari Loyalti Point. Berapa kira-kira jumlah wallet ideal agar LP kita cukup buat kebutuhan pokok? Minimal 100 Wallet lah. FYI, dari tiap wallet yang berisi 10 DRA + 1,5XLM, kita dapat 0,01 DRA per hari.

Jika memang bisa menjadi solusi, sudah saatnya kita tidak melibatkan diri kita lagi pada perdebatan-perdebatan soal jatuhnya nilai rupiah terhadap US Dollar yang selalu dihembuskan sebagai alasan untuk ganti Presiden. Mulailah lebih focus pada pengembangan komunitas DIRUNA kita agar terus mengglobal. 

Demikianlah tulisan saya hari ini, mari kita saling memakmurkan dengan DIRUNA.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *