Selamat Jalan, Pak Kadarman

Kabar duka mengenai meninggalnya Pak Kadarman beredar di group WhatsApp Alumni Teknik Sipil ITB 92 hari selasa tanggal 8 November kemarin :

“Innalillahi wa innaa ilahi roojiiuun. Telah meninggal Bapak Kadarman Harso Kusumo pada hari Selasa tanggal 8 November 2016 sekitar pukul 17.40. Saat ini jenazah masih di RS Pondok Indah.

Semoga beliau husnul khotimah. Aamiin YRA.

Meneruskan info: Pemakaman alm Pak Kadarman, hari ini Rabu, 9 Nov, habis dhuhur .rmh duka Jl kencana permai 2 no 32 pndok indah.tks. Turut berduka cita atas meninggalnya bapak Kadarman… Semoga keluarga yg ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dr Tuhan. Luar biasa energi dan komitmen beliau dlm hal pekerjaan konstruksi. Terakhir berinteraksi dgn beliau dan putranya almarhum di pembangunan terminal kendaraan tanjung Priok. Rest in Peace Pak Kadarman……”


Berikut ini adalah beberasa kesan penulis mengenai beliau masih terekam dalam ingatan :

Saat itu, di kurikulum pendidikan jurusan teknik sipil ITB, mata kuliah Mekanika Teknik 1 & 2 bernama Statika dan Mekanika Bahan diajarkan di Semester 3 & 4 dengan beban masing-masing 3 SKS. Saat itu dibagi 2 kelas berdasarkan NIM (Nomor Induk Mahasiswa), NIM Ganjil dan NIM Genap.

NIM Ganjil dipegang Pak Djuanda (Ir. Djuanda Suraatmadja), NIM genap dipegang Pak Kadarman.

Entah kenapa ya mungkin saat itu banyak diantara kami yang kurang ngulik sehingga soal-soal ujian Pak Kadarman dianggap lebih susah dari Pak Juanda. Mungkin juga karena waktu itu saya termasuk mahasiswa yang rajin bolos dan kurang gaul dengan teman-teman yang ngulik tips dan trik penyelesaian Mektek, saya pun termasuk yang menganggap soal-soal Pak Kadarman itu nyebelin, susah dapat nilai A-nya. Saat itu banyak juga yang akal-akalan biar bisa pindah kelas karena saking takutnya pada soal ujian Pak Kadarman.

Ada anekdot percakapan mahasiswa Teknik Sipil saat itu,

“Batang pendel itu apa ya? cara ngerjain soalnya gimana?”

“Waduuh, nggak tahu ya, da saya mah NIM ganjil” 🙂

Sebagai gambaran saja, di Mata Kuliah Statika (Mekanika Teknik 1), jika soal UAS Pak Djuanda adalah Struktur 3 Sendi dan Balok Gerber, soal-soal ujian khas Pak Kadarman adalah balok yang disokong oleh batang-batang pendel.

Selain mengajar Mekanika Teknik, Pak Kadarman juga saat itu mengajar di mata kuliah Rekayasa Jembatan.

Kini Pak Kadarman, salah satu orang yang paling berjasa menurunkan Ilmu Mekanika Teknik yang menjadi dasar dari sebagian besar perhitungan struktur Teknik Sipil pada kami,  telah berpulang pada Sang Maha Pencipta. Selamat jalan, Pak Kadarman. Kami tak pernah lupa pada sosok bapak yang begitu humoris saat mengajar di kelas. Kami do’akan agar Bapak mendapat terbaik di sisi-Nya…

Software Mathcad : Alat Bantu Perhitungan Numerik Untuk Pelajar, Mahasiswa, Hingga Insinyur

Saya yakin sebagian besar teman-teman pembaca sudah sangat familiar dengan Software Autocad yang biasa dipergunakan oleh para arsitek dan Insinyur pembangunan. Yang mau saya bahas di sini bukan AutoCad, tapi MathCad, sama-sama “Cad” di belakangnya, tapi beda fungsi. Saya mengenal dan mulai belajar Mathcad  saat masih kuliah di Jurusan Teknik Sipil ITB dulu. Waktu itu ada satu orang teman saya yang memang hobi dan rajin mengutak-atik software komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang banyak melibatkan rumus dan hitungan. Contoh penampakan Mathcad :

Software Mathcad 1

 

Belajar Mathcad itu jauh lebih mudah daripada belajar AutoCad. Salin saja print-an hasil-hasil perhitungan Mathcad yang dibuat oleh temen anda yang sudah ahli, Insha Allah cepet bisa kok, dijamin!

Saya melihat Mathcad bagaikan melihat perpaduan spreadsheet Excel dan Microsoft Equation saat kita mengetik dengan Microsoft Word. Hal yang membuat Mathcad istimewa adalah, dia bisa menghitung sekaligus dengan satuan-satuannya. Jadi bukan cuma keluar angka-angkanya saja.

Awalnya saya tidak percaya Mathcad bisa digunakan sebagai alat bantu perhitungan untuk menyelesaikan Tugas Besar Struktur Baja, namun saya melihat dia menyelesaikan tugas tersebut dengan software itu. Memang sempat ada sedikit perdebatan dengan Asisten Mata Kuliah, karena memang masih di luar kebiasaan umum mahasiswa saat itu. Kekaguman saya pada Software Mathcad semakin membesar ketika melihat ada seorang Dosen di Universitas Katolik Parahyangan menyusun Diktat Kuliah Struktur Baja LRFD dengan Software Mathcad. Ternyata bukan cuma Struktur Baja yang beliau susun, Struktur Kayu pun begitu.

Banyak kemampuan lain Mathcad yang bisa dieksplor oleh para pencinta matematika, Fisika, dan para Insinyur praktisi desain perencanaan struktur. Mathcad teryata juga  bisa menampilkan grafik fungsi matematis yang terlibat dalam perhitungan kita.

Agar punya gambaran bagaimana cara kerja Mathcad, silahkan perhatikan dan pelajari contoh lembar kerja perhitungan desain elemen struktur baja yang saya buat di bawah ini :

Desan Batang Tekan 01

Desan Batang Tekan 02

Asyik bukan? Rumus-rumus perhitungan yang rumit tampil dalam bentuk apa adanya. Hasil perhitungan tentu sangat akurat. Dengan menggunakan lembar kerja elektronik MathCAD diatas, untuk soal-soal serupa, pembaca tinggal mencoba  mengganti angka-angka seperlunya untuk mendapatkan solusi secara instan. Lembar kerja di atas juga dapat kita percantik tampilannya dengan menambahkan gambar-gambar ilustrasi pelangkap.

Setelah memahami cara kerja MathCAD, cobalah untuk membuat sendiri. Untuk anda para mahasiswa Teknik Sipil, banyak manfaat yang bisa diambil dengan menguasai Software ini. Mathcad membuat kita terbiasa berpikir sistematis dalam memecahkan masalah perhitungan. Berdasarkan apa yang pernah saya alami sendiri, alat ini tebukti ampuh digunakan dalam perhitungan Struktur Baja, Struktur Beton Bertulang, Struktur Beton Prategang, Hidraulika, Mekanika Tanah dan Desain Pondasi.

Hal yang menghambat semangat mahasiswa untuk mempelajari software ini cuma satu sih, buat apa saya mempelajari software ini kalau dosen saya tidak paham? Begini saja, ajak saja dosen anda tersebut untuk sama-sama belajar MathCAD, he he…

Ilmu Matematika-Fisika-Kimia Apa Yang Dipake Teknik Sipil?

Di artikel ini saya mencoba berbagi wawasan saja bagi para pelajar, siapa tahu ada yang berminat kuliah di Jurusan Teknik Sipil. Apakah Ilmu Fisika perlu didalami? Yang jelas, untuk bisa diterima di Jurusan ini, Fisika Dasar SMA memang perlu dilalui dengan benar.

Cabang ilmu Fisika yang paling berkaitan dengan Teknik Sipil, tentu saja Mekanika, khususnya Statika. Juga pengetahuan Getaran dan Gelombang. Listrik dan Optik memang tidak dipakai. Dalam Teknik Sipil, Mekanika Teknik (Mektek) adalah tulang punggung ilmu yang menjadi dasar perhitungan Teknik Sipil.

Apakah Matematika banyak digunakan? Tentu saja, selama masa kuliah, ada 4 mata kuliah Kalkulus yang harus ditempuh, dan jumlah SKS nya cukup banyak. Meskipun begitu, penguasaan matematika dasar akan jauh lebih terpakai dibandingkan dengan Kalkulus Diferensial-Integral.

Tapi dalam praktek perhitungan Struktur Beton, Struktur Baja, Struktur Kayu, ternyata jarang sekali memakai Diferensial dan Integral tingkat lanjut. Yang banyak dipakai hanyalah matematika dasar biasa : perkalian, pembalian, penjumlahan, pemangkatan, pengakaran. Aplkasi Kalkulus itu erat kaitannya dengan Mata Kuliah Analisis Numerik dan Pemrograman Komputer, yang menjadi alat bantu perhitungan Teknik Sipil tingkat lanjut.

Jika ingin benar-benar menjiwai Teknik Sipil, jangan alergi pula dengan gambar teknik. Untuk yang kurang suka dengan belajar manual menggunakan tangan, kini tersedia banyak software gambar. Yang paling banyak digunakan di lapangan adalah AutoCAD. Jaman sekarang, belajar Ilmu Teknik Sipil sudah tidak sulit lagi, karena sudah banyak dukungan informasi di internet dan banyaknya aplikasi komputer yang menjadi alat bantu perhitungan.

Apakah Borland Delphi Cocok Untuk Teknik Sipil?

Saya tidak tahu anda-anda ini kuliah di mana. Tidak penting juga sya mempertanyakan asal kuliah teman-teman Insinyur dan praktisi Teknik Sipil. Tapi di manapun tempat kuliahnya, kalau jurusannya Teknik Sipil, pasti lah dapat mata kuliah Bahasa Pemrograman Komputer, minimal 2 SKS.

Di ITB sekitar tahun 1993-an, Bahasa Pemrograman Turbo Pascal dan Fortran diajarkan dalam mata kuliahnya adalah Metoda Numerik dan Bahasa Pemrograman, dengan bobot 3 SKS. Saat itu satu kelas dipegang oleh Bapak Amrinsyah Nasution, asisten-nya, Pak Hasballah Zakaria. Saat itu, untuk kalangan dosen-dosen yang sangat senior, mungkin saat ini sudah pensiun, FORRAN adalah bahasa pemrograman untuk insinyur. Kalau kita baca beberapa literatur Teknik Sipil klasik, misalnya Foundation Analysis & Design dari Joseph Bowles, memang ada beberapa script program perhitungan yang ditulis dengan Bahasa Fortran. Saya menemukan itu juga di beberapa textbook Hydraulika. Jadi wajar kita Fortran digunakan sebagai pengantar pemrograman di kurikulum pendidikan Teknik Sipil. Apalagi Bahasa FORTRAN sudah diperkenalkan sejak tahun 1956, meski saya tidak pernah melihat computer jenis apa yang digunakan saat itu untuk menuliskan kode-kode programnya 🙂

Di Itenas sekitar tahun 2000-an, mata Kuliah Bahasa Pemrograman dan Metoda Numerik diberikan terpisah, masing-masing 2 SKS. Bahasa program yang dipakai di sana adalah Turbo Pascal. Saat itupun sudah timbul masalah kompabilitas software. Buku terkenal yang banyak dipakai calon programmer saat itu adalah Turbo Pascal dari Jogiyanto terbitan Andi Offset Yogyakarta. Di tahun 2000-an awal, semua komputer saat itu sudah berbasis Windows 97, sudah tentu timbul masalah teknis ketika kita menggunakan Turbo Pascal 7 yang berbasis DOS. Masalah itu bisa diatasi dengan menginstall Turbo Pascal for Windows, dengan sedikit penyesuaian di baris programnya.

Masalah cocok tidaknya Delphi untuk mahasiswa Teknik Sipil memang sangat bisa diperdebatkan. Saat saya mengikuti kuliah bahasa pemrograman, baik di ITB maupun di Itenas, materi yang diajarkan adalah Turbo Pascal. Bahasa Pascal memang dikenal cocok diajarkan pada pemula, diharapkan, struktur bahasa Pascal yang terstruktur dapat menjadi bekal untuk mengembangkan potensi pemrograman yang dimiliki mahasiswa yang bersangkutan. Masalah utama sebetulnya sih, karena saat itu masih sangat jarang buku yang membahas pemrograman Turbo Pascal yang dikhususkan untuk mahasiswa dan calon insinyur Teknik Sipil.

Tapi kalau dari segi sintak bahasanya, Pascal memang cocok dipakai sebagai bahasa pendidikan. Menurut saya pribadi sih lebih cocok dari Fortran yang dibangga-banggain sama dosen-dosen kolot itu. Alasan dosen-dosen kolot ya sudah jelas, meskipun tabu untuk diungkap. Mereka sudah merasa ahli di bidang FORTRAN itu, dan sebetulnya mungkin sudah “hoream” belajar hal baru lagi. Apalagi dalam buku-buku teks Teknik Sipil, contoh-contoh perhitungan yang diprogram, misalnya dalam buku Principle of foundation Engineering-nya Bowles, juga pake Fortran.

Mungkin dosen-dosen sepuh itu masih beranggapan bahwa Visual Basic itu identik dengan Bahasa Basic klasik yang masih pake nomor baris, yang memang banyak sekali kelemahannya, terutama dalam soal efisiensi memori pada komputasi numerik.

Masalahnya, saat teknologi Windows sudah diterapkan, bahasa pemrograman berbasis teks rasanya kok jadi kurang cocok ya? Memang sih ada Turbo Pascal for Windows. Saya sebagai praktisi pemrograman, cenderung lebih memilih Visual Basic dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Sintak Lebih Sederhana
2. Lebih mudah diterapkan pada berbagai alat. Macro Office menggunakan VB. Kalkulator program pun menggunakan bahasa mirip basic.

Saya belum sem,pat ngecek lagi ke Itenas, apakah saat tuisan ini diposting, mereka masih menggunakan Borland Delphi? Pada saat awal Delphi digunakan dalam praktikum komputer, ada beberapa alasan intern mereka sih. Alasan utamanya adalah, pertama, ada satu orang dosen yang sangat berkompeten di bidang Delphi.

Awalnya, dia menggunakan Turbo Pascal. Saya setuju dengan alasan beliau, Pascal lebih sistematik dan terstruktur dibandingkan dengan Fortran, hingga cocok digunakan sebagai alat pendidikan. Satu hal yang saya salut dari beliau, dia tuh belajar Pascal-nya gak kepalang tanggung. Begitu mengenal Delphi, dia secara serius menekuni. Nampaknya dia menemukan jalan untuk berbisnis software. Bahkan beliau sekarang punya Software House bernama Niftrasoft. Software house ini menggunakan Delphi sebagai developer kit-nya. Jadi wajar jika dalam pemberian mata kuliah di kelasnya menggunakan Delphi.

Masalah beliau (saat itu, gak tahu kalo sekarang) cuma satu, kalau ngajar gak sistematis. Tapi it’s oke lah. Ini sama sekali gak perlu disalahkan. Beliau dosen, bukan guru bimbingan belajar, tugas seorang dosen khan bukan mengajar sejelas dan sedetail guru bimbel. Mahasiswa sendiri lah yang harus banyak belajar secara mandiri di luar ruang kelas. Setelah itu, harus banyak berdiskusi dengan dosen yang bersangkutan. Saya pernah beberapa kali diskusi bahasa pemrograman dengan beliau. Ternyata malah asyik lho.. mungkin karena sama-sama hobii di bidang utak-atik kode pemrograman komputer.

Alasan kedua, Dosen lain saat itu nggak ada yang ngerti pemrograman, jadi ikut saja. Pasrah dan nggak punya pendapat. Bahkan saat saya berpartisipasi menjadi co-asisten di lab komputasi Sipil pun, keliahatan jelas kok kalau dosen-dosen di luar pemilik Niftrasoft itu tidak memiliki penguasaan materi Delphi yang memadai.

Borland Delphi Untuk Teknik Sipil

Oh iya, saat saya mengedit ulang artikel ini tahun 2015, pertanyaan saya adalah : Apakah Borland Delphi masih banyak digunakan? Setelah jaman Windows XP berlalu dan orang mulai beralih di Windows 7, Windows 8 hingga windows 10, Borland Delphi 7 yang terakhir saya pakai tahun 2005 sudah semakin sulit diintall “secara normal”. Butuh akal-akalan agar Delphi 7 tetap terinstall dengan sempurna di Windows 7 ke atas, tapi buat anda yang senang utak-atik, nggak sulit kok,petunjuk cara menginstal Delphi 7 di Windows 10 saat ini sudah banyak bertebaran di internet.

Setelah Delphi sudah terinstall, berarti teman-teman sudah siap membuat aplikasi seperti tampilan ini ya 🙂

Saat ini, pemrograman berbasis web dengan bahasa pemrograman PHP dan MySQL jauh lebih banyak dipakai daripada Delphi for Windows. Namun tampaknya kurang cocok juga jika digunakan sebagai bagian kurikulum pendidikan Teknik Sipil.

Sekedar pendapat pribadi, sebetulnya mudah saja sih mengadaptasikan Turbo Pascal ke dalam platform Borland Delphi. Penyedia materi tanggal sedikit memodifikasi saja bagian input dan output program yang tadinya berbasis teks menjadi berbasis komponen. Gampang kok, yang di Turbo Pascal pakai sintaks “writeln”, “write”, “readln”, di Delphi pakai komponen text, textbook, dan sebuah tombol untuk eksekusi program.

Meskipun sintax bahasanya sama, karena Delphi memang menggunakan Bahasa Pascal, sebetulnya ada baiknya para pembelajar Delphi memahami apa itu Function dan apa itu Procedure. Silahkan dicoba 🙂

Bahasa Pemrograman Visual Basic Untuk Dosen, Mahasiswa, dan Praktisi Teknik Sipil

Dalam kurikulum pendidikan sarjana Teknik Sipil, selalu ada mata kuliah Bahasa Pemrograman Komputer. Idealnya, mata kuliah ini dibuat saling berkaitan dengan mata kuliah Analisis Numerik atau Metoda Numerik, karena aplikasi penyelesaian analisis numerik adalah pemrograman komputer. Menurut saya, sangat aneh jika mahasiswa lulus mata kuliah metoda numeric dengan nilai A tapi gak menguasai Bahasa pemrograman computer.

Bahasa Pemrograman yang sangat popular saat jaman computer PC XT berbasis DOS sekitar tahun 80-an adalah Bahasa Basic. BASIC, adalah singkatan dari Beginners’ All-purpose Symbolic Instruction Code adalah sebuah kelompok bahasa pemrograman tingkat tinggi. Secara harfiah, BASIC memiliki arti “kode instruksi simbolis semua tujuan yang dapat digunakan oleh para pemula”.

Namun tampaknya, kalangan dosen-dosen senior dan para insinyur saat itu lebih suka dengan Bahasa FORTRAN. Bahasa FORTRAN adalah sebuah bahasa pemrograman. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1956 oleh John Backus di IBM. Digunakan dalam bidang sains selama 50 tahun kemudian. Ditujukan untuk mempermudah pembuatan aplikasi matematika, ilmu pengetahuan, dan tehnik. Coba saja buka textbook Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi dari Joseph J Bowles, di sana banyak sisipan bahasa program Fortran. Di masa lalu, Bahasa Fortran memang sangat popular di kalangan akademik Teknik Sipil, terutama saat computer masih berjalan dalam system DOS, Disk Operating System. Kemajuan perkembangan yang begitu cepat menyebabkan DOS tidak lagi digunakan, karena semua bermigrasi ke system Windows. Setelah itu terjadi, Fortran semakin terasa ketinggalan jaman. Itulah akhir masa kejayaan Fortran.

Di saat transisi dari jaman DOS ke Windows, banyak orang-orang yang mencoba beralih ke Bahasa Pascal, karena dianggap lebih cocok untuk pembelajaran awal bahasa pemrograman komputer. Bahasa Pascal memang memiliki sintak yang rapi, modular, dan terstruktur. Dengan mempelajari Bahasa Pascal sebagai dasar-dasar pemrograman, diharapkan setiap mahasiswa mempunyai dasar pemrograman yang kuat, logis, modular, terstruktur, dan sistematis. Sekitar tahun 1993, saya pribadi sempat mempelajari Bahasa Pemrograman Turbo Pascal. Setelah Windows 3.1 bergeser ke Windows 95, 96, 97, Turbo Pascal semakin sulit dijalankan di computer yang semakin canggih. Karena buku-buku pelajaran Turbo Pascal yang banyak beredar di pasaran, seperti karangan Jogiyanto memang dimaksudkan untuk DOS, akhirnya, agar tetap bisa menjalankan Turbo Pascal di system Windows 97 dan Windows XP, perlu menggunakan DOS Emulator, misalnya DOS Box, seperti tampilan di bawah ini :

Menurut pendapat saya pribadi sih, Bahasa pemrograman yang ideal untuk Teknik Sipil adalah Bahasa Basic. Bukan Bahasa Basic yang masih pakai nomor baris, melainkan Bahasa Basic modern seperti Quick Basic.

Atau sekalian aja beralih Visual Basic yang lebih modern. Iya, daripada bikin program yang gak ada tampilan visual apa-apa, mending bikin aplikasi windows sederhana seperti tampilan di bawah khan? Ini mudah dilakukan dengan Visual Basic atau Borland Delphi.

Nah saat ini orang-orang sudah mulai meninggalkan Windows XP, bahkan pengguna Windows 7 pun sudah banyak yang beralih ke Windows 8 dan Windows 10. Masalah baru pun timbul. Visual Basic 6.0 jadi tidak compatible lagi dengan Windows 7 dan Windows 10. Kita membutuhkan trik seperti dulu saat menjalankan Turbo Pascal di Windows 97.

Meskipun demikian, ada beberapa keuntungan menggunakan VB dibanding bahasa pemrograman lain yang lebih “serius”.

Pertama, Visual Basic relatif lebih mudah dipelajari. Kurva pembelajaran dan pengembangan yang lebih singkat dan mudah dibanding dengan bahasa pemrograman lain, seperti C/C++, Delphi atau PowerBuilder sekalipun. Pernyataan ini masih bisa diperdebatkan, tapi saya pribadi merasa, belajar Delphi akan sulit jika kita tidak menguasai konsep dasar Bahasa Pascal yang kuat.  VB merupakan bahasa pemrograman yang sangat populer dan banyak penggunanya. Cukup banyak literatur, kursus, situs internet ataupun komunitas yang siap membantu. Yang perlu disiapkan hanya tinggal kemauan dan kerja keras, dan pengaturan waktu yang baik untuk mempelajarinya. Untuk Anda para dosen, mahasiswa, dan praktisi Teknik Sipil,  ada dua buku bagus dan sesuai yang saya referensikan :

This slideshow requires JavaScript.

Buku Visual Basic di atas pun kebetulan ditulis oleh seorang dosen sekaligus praktisi Teknik Sipil, Dr Ir Wiryanto Dewobroto, Universitas Pelita Harapan. Sudah tentu sesuai dengan kebutuhan anda, bukan? 🙂

Kedua, dengan menguasai Visual Basic, kita bisa mengembangkan keterampilan Visual Basic for Application (VBA) digunakan oleh keluarga Microsoft Office (Word, Excel, Access, PowerPoint, Project). VBA dikembangkan dari aplikasi yang sebelumnya dikenal dengan istilah macro, otomasi langkah-langkah berulang. Dengan adanya VBA, kemampuan macro dapat ditingkatkan menjadi seperti bahasa pemrograman lain. Baris-baris program yang kita buat di Visual Basic dapat diadaptasi dengan mudah di Microsoft Excel. Bagi Anda yang ingin mengoptimalkan kemampuan AutoCad pun, dapat digunakan macro yang menggunakan VBA. Apakah Anda bisa melakukan ini semua dengan FORTRAN? 🙂

VBA tidak berbeda dengan VB, jika dipelajari dan dimanfaatkan dengan produk software di atas, akan menjadi investasi yang berharga. Sayangnya, saat ini masih belum ada literature VBA untuk pendidikan Teknik Sipil dan Insinyur Sipil.

Itulah keunggulan VB. Tapi biar lebih, fair, kita bahas dikit soal kekurangan VB di sini. Oke? Pertama, dibanding dengan C/C++, maka file distribusi run-time yang dihasilkan VB berukuran lebih besar. VB juga fungsi-fungsi untuk mengambil fitur-fitur sistem operasinya lebih sedikit.

Kedua, VB bukanlah sepenuhnya bahasa pemrograman yang berorientasi objek seperti C/C++ dan Borland Delhpi. Kecuali VB Net dan versi yang lebih canggih. Kekurangan OOP VB 6 ke bawah adalah dalam hal konsep inheritance atau pewarisan.

By the way, apaan tuh OOP dan inheritance? Itu mah urusan orang Informatika kali ya, orang Sipil mana urus? Yang penting buat kita-kita khan asal program bisa jalan dan hasilnya bener, khan? He he.

Jadi kesimpulannya, segala kekurangan VB dibandingkan Bahasa Pemrograman lain tidak akan terasa untuk Orang Teknik sipil mah. Okeh?

Sedikit dongeng, Saat kuliah di ITB, saya punya dosen yang begitu fanatik pada bahasa pemrograman C++. Entah kenapa, menurut beliau, VB dan Delphi bukanlah bahasa pemrograman yang serius bagi Teknik Sipil. Ah, masa sih Pak? Sebetulnya serius atau tidak khan tergantung yang make. Lebih baik pake VB sederhana tapi menghasilkan banyak program numerik bermanfaat daripada cuma komentar canggih tapi gak ada bukti. Setuju?