Sebuah Pelajaran dari Mang Jonih

Kami mempunyai WhatsApp Group keluarga. Tidak dipungkiri, WhatsApps group merupakan salah satu sarana untuk membangun dan mempererat silaturahmi antar anggota  keluarga. Saya pun bisa lebih mengenal anggota keluarga kami yang sehari-hari jarang  bertemu.

Namun, keindahan silaturhami keluarga begitu mudah ternoda ketika ada salah satu anggotanya mulai memposting isme politik dan keagamaan yang dia yakini, di mana tidak semua orang sepakat de gan sudut pandangnya.

Beberapa bulan terakhir ini terjadi panas di group. Semua itu berawal dari banyaknya postingan-postingan yang dilakukan salah seorang anggota group yang berisi : “ajakan untuk membenci agama lain”, “ajakan untuk membenci pemerintahan Jokowi”, “ajakan untuk memusuhi Syi’ah”, dan postingan-postingan yang sejenis dengan itu.

Mungkin karena risih dengan segala postingan negatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan membangun dan memelihara silaturahmi, Mang Jonih, paman saya, akhirnya memilih sikap untuk keluar dari group Keluarga Wongsowinangun.. Pesan terakhir yang beliau sampaikan sebelum keluar begitu inspiratif. Itu sebabnya saya ingin berbagi dengan teman-teman di sini…

Sebab beberapa bulan terakhir WAG ini selain untuk silaturahmi ternyata juga sibuk membicarakan  orang/kelompok lain, mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain, dan sepertinya para anggota punya banyak waktu untuk menghujat kelompok bahkan pemerintah, padahal di akhirat nanti kita tidak ditanya tentang orang lain, dan akan sibuk dengan urusan sendiri, dengan dosa-dosa yang bertumpuk dan amalan minimalis. Hapunten ka sadayana, abdi bade pamitan.

Lebih banyak pada masa-masa Pilkada kemarin. Memang paling asyik mencari dan menyalahkan orang lain, walau ilmu dan wawasan kita sangat mungkin untuk tidak mumpuni untuk menilai orang/kelompok lain, dan mereka tidak membutuhkan penilaian kita. Seandainya berita tentang kesalahan orang/kelompok tersebut benar pun, tidak boleh kita forward ke berbagai kontak dan WAG ke mana-mana, apalagi kalau tidak benar. Sebab dengan sibuk menyebarkan aib/kesalahan orang, jangan-jangan, nauuzubillahi min zalik, kita akan menjadi golongan orang yang bangkrut di akhirat nanti.

Saya pun memberikan tanggapan di group tersebut dengan tulisan sebagai berikut :

Dulu, jauh jauh hari sebelum group ini terbentuk, Mang Jonih pernah bercerita tentang buku pertamanya. Buku tentang pengalaman ibadah haji, judulnya Malaikat Cinta.

This slideshow requires JavaScript.

Pertama, dari pemilihan judulnya.  Sebagian besar orang tidak akan menyangka bahwa buku tersebut isinya tentang pengalaman spiritual ibadah haji. kenapa? supaya buku tersebut dibaca semua kalangan, bukan eksklusif orang Islam saja. Bahkan di awal bukunya ada kata sambutan yg ditulis oleh seorang pendeta nasrani. Saya lihat Mang Jonih cukup berhasil menyampaikan keindahan ajaran Islam pada komunitas lintas agama. Ini yang namanya Syiar Islam… Menyampaikan pemahaman yang benar tentang Islam dengan cara damai.

Kedua, Mang Jonih memilih bekerjasama dengan Penerbit Gramedia, itu khan Kompas group yang dikuasai orang Nasrani toch? Apa jadinya jika diterbitkan oleh Mizan, Pustaka Rabbani, Gema Insani Press, atau penerbit berlabel Islam lainnya? berapa banyak kalangan di luar Islam yg tertarik membaca bukunya? Saya lihat Mang Jonih berusaha menunjukan keindahan nilai-nilai spiritual Islam kepada semua kalangan.

Beda banget ya dengan sebagian dari kita yang dikit-dikit ribut dan emosi karena terprovokasi : boikot sari roti, boikot Traveloka, boikot metro TV, mari kita belanja hanya kepada toko-toko milik muslim pribumi, dll. Disaat yang bersamaan kita lupa bahwa rokok yang kita hisap adalah produk paling sukses dari nenek moyang bangsa yang mereka bilang Yahudi itu. Suka tidak suka harus kita akui, sejujurnya sebagian besar orang mah cuma taklid.. jarang yang menelurusi kebenaran informasi dan bertabayyun dgn seksama… Ada berita dikit tentang “Islam dihina”, “agama kita dilecehkan”, “mari kita bela agama Allah”, “takbir!”, lalu ikut-ikutan berbuat anarkis. Jangan-jangan, nauzubillahi min dzalik, kita ini termasuk orang-orang yang perilakunya seperti binatang ternak…

Setiap ada postingan gaya “Saracen” di group ini, Mang Jonih gak pernah nanggapin tuch.. malah berusaha mengalihkan fokus kita dengan memposting karya-karya tulisnya yang inspiratif… atau foto-fotonya saat dirinya bertadabur alam di tempat-tempat dengan pemandangan alam yg menyejukkan…

Saya pikir, beginilah harusnya kita bersikap, semakin tinggi dan dalam pemahaman kita akan ilmu agama, semakin santun bersikap & bertutur kata, semakin tolerir dirinya pada berbagai perbedaan pendapat, karena kita semakin meyakini bahwa kebenaran mutlak hanya milik Rabb semata, dan kita tidak berhak bersikap takabur dengan begitu gampangnya menghakimi orang lain yang berbeda pendapat, mazab, atau bahkan keyakinan dengan kita.

Bagi saya pribadi, Mang Jonih Rahmat adalah salah satu “Role Model” dakwah. Pengertian dakwah levelnya tentu lebih tinggi dari ceramah. Kalau cuma ceramah, setiap orang pun termasuk anak-anak kecil seperti yang tampil di kontes Pildacil bisa, syaratnya hanyalah sekedar hafal cuplikan ayat kitab suci dan hadits dan bias berbicara di depan umum.

Berbeda dengan penceramah, pendakwah mereka bukan sekedar berceramah, mereka adalah orang-orang yang hidupnya senantiasa diisi dengan kebajikan hingga menjadi tauladan dan panutan bagi orang-orang di sekitarnya. Ceramah cukup dengan pidato, tapi dakwah dengan contoh perbuatan.

Keberhasilan beliau membimbing dan menyantuni banyak anak-anak yatim di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan aktif membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat adalah bukti nyata dedikasi beliau pada kegiatan dakwah.

Mohon maaf jika di antara anggota group WhatsApp ada yg tidak berkenan dengan tulisan saya.. ini cuma opini pribadi. Yang benar berasal dari Rabb, yang salah berasal dari diri saya pribadi…

Apakah ada yang tersinggung dengan catatan saya di atas? Tentu saja. Dia tidak terima dibandingkan dengan “Saracen”. Dia juga mungkin tidak terima postingan-postingan dia yang nggak bermutu yang berisi ajakan kebencian pada orang-orang yang tidak seagama, saya banting dengan fakta sepak terjang Mang Jonih yang jauh lebih bermanfaat bagi umat. Maklumi saja. Tulisan di blog ini pun tidak saya share ke group WhatsApp tersebut. Saya tidak mau bertengkar di sana 🙂

Last but not least…. Mang Jonih, terima kasih sudah mengingatkan kami untuk terus mengoptimalkan waktu kita untuk berbuat kebajikan.

Salah satu quote favorit saya dari Mang Jonih, “Sayangi yang di bumi, Engkau akan dicintai oleh yang di langit”.

Dari hati saya yang paling dalam… Nuhun, Mang…

Para Angkoters.. Move On, donk!

Menutup transportasi online bukan solusi untuk meningkatkan taraf ekonomi para pengemudi angkot. Tanpa ojek dan taksi online pun masyarakat sudah beralih ke sepeda motor kok. Kredit kepemilikan sepeda motor itu mudah. Para pemilik motor bisa menghemat anggaran belanja rumah tangga sangat significant dibanding tiap hari naik angkot. Tarif angkot itu mahal lho. Angkot juga kurang nyaman, juga kurang praktis. Mending naik online yg bisa nganter sampe depan rmh dgn biaya lebih murah dari angkot donk. Bahkan tanpa online pun mending naek motor pribadi yg udah jelas sangat memangkas ongkos naek angkot…

Transportasi online memang bikin Taksi konvensional jadi lumpuh. Ongkis naik taksi argo aja udah mahal. Dgn murahnya transportasi online, kami sebagai konsumen berhak bertanya donk, apa sebabnya ongkos taksi mahal? Transparasinya gimana sih? Berapa banyak yg keterima bersih drivernya? Berapa yg bagi-bagi para pejabat lewat biaya retribusi dan berbagai birokrasinya? Apalagi taksi tanpa argo yg nangkring di stasiun dan bandara. Kenapa mereka gak ditertibkan? Apa karena ada kongkalikong dgn para pejabat yg sifatnya simbiosis mutualisme sehingga masyarakat sebagai konsumen dikorbankan?

Masyarakat tetap akan mencari alternatif yg lebih nyaman dan terjangkau.

Daripada sibuk demo demo nu teu pararuguh yg semakin hari semakin meresahkan masyarakat, sudah waktunya driver, pemilik, dan pengelola angkot move on, dan mulai lebih kreatif menggali alternatif usaha lain yg lebih realistis & menguntungkan…

Surat Terbuka Untuk Abang dan Mamang Angkot

Dear Abang dan Mamang Angkot..

Abang angkot yang baik, sebenernya apa sih yang abang takutin dari ojek online? Abang pikir karena penghasilan abang ber*kurang? Abang lupa ya waktu penumpang minta cepet2 angkot abang jalan, terus jawaban abang apa? “Kalo mau cepet naik mobil sendiri” nah sekarang doa abang di kabulin Tuhan, kita pake jasa online mobil serasa mobil sendiri n cepet lagi.

Abang inget gak waktu uang penumpang kurang apa yang abang lakuin? Teriak2 sambil ngomel2 kan terus bilang “woiii kurang nih uangnya gimana sih, gak punya uang jangan naik angkot”

Do’a abang juga sekarang dikabulin bang… ada ojek online yang penuh dengan diskon… terus kenapa abang marah?

Dan abang sadar gak yang paling sadisnya lagi… waktu penumpang diangkot abang cuma sendirian? Abang turunin tuh penumpang ditengah jalan tanpa abang peduliin keselamatan penumpang itu terus abang minta pula ongkosnya…tanpa abang mikirin tuh orang masih punya uang apa engga? Gimana kalo ongkosnya cuma segitu2nya…nah sekarang Tuhan kirimin ojek online yang nganterin penumpang sampai tujuan. Terus kenapa abang cemburu?

Banyak Copet di angkot Dan abang tau itu copet tp abang diem aja ga bs ngasih tau / lindungin penumpang nya, bnyk pelecehan seksual di angkot jg tp abang bs apa???? blm lagi yg ngamen sambil maksa minta uang dr penumpang,, mabok pula serem bang.. gak nyaman naek angkot skrng..

Kan kyak sticker2 yang di angkot abang “Anda butuh waktu, saya butuh uang” tapi kenapa abang sering ngetem? Kalo kita bilangin, abang suka galak…sedih tau bang, hancur nih perasaan penumpang. Oh ya bang satu lagi, maaf ya kalo abang bukan pribumi tolong jangan galak2, doa orang Cimahi mujarab bang
Sekarang mendingan pada damai, kalo ngerasa rejeki terhambat karena ini itu mending sama2 intropeksi diri aja,. 

#sharedarikamiparapenumpang
#hakpenumpang
#hakwarga

Note :
Abang & Mamang angkot yg baik… sepertinya udah waktunya kita belajar cari alternatif lain untuk cari duit di jaman teknologi informasi seperti sekarang… karena dengan matinya transportasi online, bukan berarti penghasilan abang dan mamang akan meningkat lagi… Yg jelas mah orang yang punya motor bakal tambah banyak… Udah gitu mau gimana? Mau demo besar-besaran lagi ke dealer-dealer motor yang begitu gampang meng-ACC kredit kepemilikan motor? Kapan damainya, Bang? Kita ini sudah hidup di akhir zaman.. dan, meski kita nggak tahu kapan datangnya, secara logika sudah makin terlihat klo kiamat sudah makin dekat

Memahami Makna Berhijab

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Ahzab:59)

Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya hingga menutupi dadanya.
(QS. An Nuur:31)

Dua dalil di atas seringkali dipakai untuk menunjukkan betapa pentingnya hijab syar’i bagi para wanita. Setelah jilbab syar’i digunakan, apakah otomatis akan langsung terjaga? Tergantung orang yang memakainya juga. Tapi setidaknya pakaian yang menutup aurat tentu secara logika akan lebih menjaga pemakainya dari segala gangguan sexual harrashment dan sejenisnya.

Masalah pentingnya berhijab, juga tertulis dalam kitab sebelumnya :

Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghinanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. (1 Korintus 11:5)
Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. (1 Korintus 11:6)

Pertimbangkanlah sendiri : Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? (1 Korintus 11:13)

Saat ini, banyak kalangan intelektual yang berpendapat bahwa hakikat berhijab bagi perempuan adalah menutup seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan, seperti bergunjing/ghibah, pamer baju-baju modis dan mahal, mengambil hak orang secara bathil, dll. Jadi intinya berhijab itu bukan ditutup berlebihan secara fisik, namun berpenampilan sopan sesuai kondisi lokal dan perilakunya positif.

Banyak yang baper dengan pendapat di atas, lalu berkata sinis, “Jadi, maksud ente, nggak berhijab juga gak apa-apa ya, asal perilakunya baik? Hati-hati, gan, itu secara langsung maupun tidak langsung adalah upaya menggiring umat agar jauh dari kewajiban berhijab”

Lho, kenapa harus sinis dengan pendapat di atas? Pengertian berhijab itu bajunya atau akhlaqnya? Cobalah kita bercermin pada diri sendiri saja. Jika hijab syar’i sudah digunakan, bahkan sudah pakai cadar juga, tapi perilakunya masih sering bergunjing, bergibah, pamer baju modis & mahal, mengambil hal orang secara bathil dll, apakah wanita tersebut sudah bisa dikatakan berhijab? Secara ritual IYA, tapi secara spiritual TIDAK.  Mana yang nanti akan dihisab oleh Rabb di yaumil akhir kelak? bajunya atau akhlaqnya?

Orang yang akhlaqnya baik sudah tentu akan menutup auratnya dengan baju yang pantas, sopan, dan elegan. Jadi pendapat di atas, sama sekali bukan mengatakan hijab syar’i tidak penting. Hijab syar’i adalah pengingat diri mengenai pentingnya seluruh perbuatan buruk yang berpotensi dilakukan perempuan.

 

Benarkah MLM Haram?

Apakah MLM haram? Masalah itu sebetulnya sudah cukup banyak dibahas orang. Kalau hukumnya mutlak haram, Ustadz Yusuf Mansyur gak bakal buka Paytren yang sifatnya MLM. Kalau sifatnya haram, keluarga Aa Gym gak mungkin terlibat dalam MLM DBS yang saat ini sudah bermetamorfosis menjadi Synergi Lavanya. Kalau MLM haram, nggak mungkin HPAI begitu serius menggarap bisnisnya.

Tapi, masalah ini menjadi rancu karena paradigma orang tentang MLM saja tidak seragam. Saat ini banyak yang tidak bisa membedakan mana bisnis MLM dan mana Money Game berkedok MLM. Saya menulis artikel ini karena ada sebuah broadcast yang mendeskriditkan MLM di group WhatsApp keluarga.

Alhamdulillah, tidak satupun yang menanggapi postingan itu di sana. Sayapun tidak berkomentar apa-apa. Buat apa buang-buang waktu mengomentari sesuatu yang sifatnya multitafsir? Tidak akan ada kesepakatan apa-apa. Yang ada cuma debat dari pandangan-pandangan yang serba subyektif.  Yang lebih lucu lagi, broadcast ini dicopas salah seorang anggota group yang sehari-harinya juga tidak lepas dari pekerjaan haram. Dia banyak berkecimpung di proyek-proyek pemerintahan yang penuh KKN dan manipulasi data. Dia juga tiap hari merokok. “Bukankah rokok itu haram?”, tanya saya dalam hati, “Wah, yang broadcast ini  Maling teriak maling rupanya!” 😀

Inilah Isi Broadcast tersebut, disertai beberapa komentar pribadi yang saya cetak biru. Setiap ada ide atau informasi baru, Insya Allah, saya akan update terus komentar-komentar pribadi saya di sini.

Bisnis model MLM adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut ini, yaitu :

[1]. Sebenarnya anggota Multi Level Marketing [MLM] ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yan akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.

Untuk perusahaan MLM yang benar, banyak orang tertarik menjadi membernya untuk mendapat harga diskon. Dengan cara itu, member tersebut berhak menjual kepada konsumen non member dengan harga retail. Dari situ, dia dapat laba.

Untuk Akang-Teteh yang sehari-hari banyak berkecimpung di bisnis jual beli produk, tentu sangat paham tentang hukum “paciwit-ciwit” ketika mendapatkan produk tertentu dari suppliernya. Supplier yang baik biasanya menerapkan aturan harga distributor, harga reseller, dan harga dropshipper dengan diskon harga yang berbeda. Sebetulnya MLM pun menerapkan prinsip yang sama. Dengan cara seperti itu, terjadi keseragaman harga yang tertib di pasar yang akan memberikan kenyamana terhadap pedagang dan pembeli.

[2] Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

Tanpa MLM pun, banyak produk yang harga pokok produksinya jauh di bawah harga konsumen. Teh Botol Sosro misalnya, harga pokok produksinya juga tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada toko retailnya.

Baju-baju yang dijual di pertokoan dan fashio shop pun banyak yang seperti itu. Mangkanya tidak heran pada saat proses cuci gudang, terjadi diskon besar-besaran yang fantastis, hingga lebih dari 70%, tapi tokonya tetap tidak rugi.

Produk asesoris gadget,  banyak sekali yang harga pokok produksinya kurang dari 10% dari harga yang dibayarkan konsumen ke tokonya. Apalagi barang-barang asesoris produk impor China. Saya paham sekali masalah ini, karena pernah jualan asesoris dan ngurus warung.

Bisnis obat-obatan lebih gila lagi. Dengan harga pokok produksi yang sangat rendah, pasien membelinya dengan harga mahal. Contohnya produk Ponstan dan Asam Mefanemat yang harganya ibarat bumi dan langit padahal produknya sama persis. Apa sebabnya jadi mahal? Biaya marketing dan distribusinya bisa lebih dari 1000% dari harga pokok produksinya.

Jadi, saya gagal paham jika sumber artikel broadcast ini sampai membuat fatwa haram dengan alasan Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

[3]. Bahwa produk ini biasa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan Multi Level Marketing [MLM] ini di jaringan internet.

Bukankah semua produk non MLM pun begitu? Ini khan jaman serba online, Akh. Antum sehari-hari pake pulsa gak? Pernah beli pulsa khan? Pulsa handphone dan pulsa listrik? Itu adalah contoh produk non fisik yang begitu gampang dipindahkan oleh semua orang secara online melalui jaringan internet meskipun wujudnya gak kelihatan! 🙂

Saat Antum belanja dari onlineshop pun, antum dengan mudah mengakses produknya tanpa harus keringetan desak-desakan di pasar. Kalau dengan alasan ini antum sampai membuat fatwa haram tentang MLM, sepertinya antum kurang wawasan neh 🙂

[4]. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan diiming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan kepada mereka.

Tiap tahun ajaran baru juga para siswa dan mahasiswa pada daftar ulang di kampusnya masing-masing. Pulsa isi ulang dan kuota internet juga masa aktifnya harus diperbaharui secara berkala, kalau nggak jadi hangus.

Minimarket dan Supermarket pun memberlakukan masa aktif tertentu pada kartu membernya. Mereka juga mengiming-iming konsumennya dengan berbagai program diskon ini itu. Ini terjadi di luar MLM. So what gitu lho? Harusnya Antum keluarin juga fatwa haram membership Alfamart, Yomart, Indomart, Griya, dll juga. Nggak cuma MLM.

[5]. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Up Line) sedangkan level bawah (Down Line) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka. Berdasarkan ini semua, maka system bisnis semacam ini tidak diragukan lagi keharamannya, karena beberapa sebab yaitu :

❗ Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadap anggota

❗ Produk Multi Level Marketing [MLM] ini bukanlah tujuan yang sebenarnya. Produk itu hanya bertujuan untuk mendapatkan izin dalam undang-undang dan hukum syar’i.

Saya akui, memang banyak MLM tanpa produk dengan skema Money Game dan Skema Ponzi yang merugikan masyarakat. Tapi tidak semua MLM seperti itu, Syaikh 🙂

Ini sih sama saja dengan memaksakan paradigma bumi datar dengan mengutip ayat-ayat Al Qur’an yang sebetulnya bisa ditafsirkan juga sebagai bumi bulat.

❗ Banyak dari kalangan pakar ekonomi dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perekonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum Berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’i didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan lainnya.

Oh iya, Syaikh sudah membaca buku ini belum? Cobalah luangkan waktu untuk menelaah. Seorang Ustadz harus berwawasan luas khan? Bukan apa-apa, santri sekarang semakin lama semakin kritis pola pikirnya…

This slideshow requires JavaScript.

Maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena hal ini berarti terjadi penipuan pada Allah dan RasulNya, oleh karena itu system bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’i. Kalau ada yang bertanya : Bahwasanya bisnis ini bermanfaat bagi sebagian orang. Jawabnya ; Adanya manfaat pada sebagian orang tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana di firmankan oleh Allah Ta’ala. Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : Pada hakekatnya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya [Al-Baqarah : 219] Tatkala bahaya dari khamr dan perjudian itu lebih banyak daripada menfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan.

‼ Kesimpulannya: Bisnis Multi Level Marketing [MLM] ini adalah alat untuk memancing orang-orang yang sedang mimpi di siang bolong menjadi jutawan.

Bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi. Dan spekulasi adalah bentuk perjudian. ‼‼

Mohon disebarkan.

Apa hak Anda nyuruh-nyuruh saya ikut nyebarkan Broadcast sesat Antum?  Ini bukan untuk disebar,  tapi untuk diluruskan! Atau minimal, ikut memberikan opini juga lah… Mohon maaf ya kalau saya memilih untuk tidak bersikap taklid buta pada segala informasi yang keluar dari Antum.

‼‼ https://almanhaj.or.id/1489-hukum-syari-bisnis-multi-level-marketing-mlm.html

Website punya siapa sih? Nanti saya lihat-lihat. Siapa tahu artikel-artikel lainnya banyak yang bagus dan bermanfaat. Saya lihat tulisan ini dibuat oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali. Mohon maaf Syaikh, tidak setiap pendapat Antum saya harus sepakat.. Punya opini sendiri boleh khan? Bukankah dalam banyak surat Rabb menyuruh kita untuk berpikir? 🙂