MLM & Viral Marketing – Jilid 1

Saya mendapat broadcast di WAG tentang 10 perbedaan antara MLM dan Viral Marketing.  Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan isi broadcast tersebut. Pada akhirnya, si penyebar BC tersebut menawarkan peluang usaha yang dia sebut “Viral Marketing”, bukan “MLM”…  Inilah isi broadcast, yang saya cetak dengan font warna biru, dengan komentar saya di bawahnya…

Pendapat para ahli di masa yang akan datang ada satu macam bisnis yang akan berkembang dengan pesat di Indonesia yaitu bisnis jaringan. Bisnis ini memiliki keunggulan modal yang murah/relatif terjangkau oleh semua kalangan bahkan gratis, tidak memerlukan lokasi tertentu sebagai tempat usaha, tidak memerlukan gudang sebagai stok barang, tidak perlu karyawan, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan mudah dijalankan oleh semua orang asal memiliki komitmen untuk sukses.

Tidak usah nunggu lagi, bisnis jaringan memang sudah ada kok. Saya sendiri mulai mengenalnya lewat Amway tahun 1992. Saat itu ada juga CNI, Forever Young, dll

Bisnis jaringan yang telah dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Multi Level Marketing (MLM) namun sayangnya, bisnis ini saat ini mulai tercemar karena banyak oknum yang menyalah gunakan system guna mempercepat jenjang karier mereka digunakan cara instant sehingga berkembang menjadi money game.

Benar sekali, sejak tahun 95 pun mulai bermunculan banyak money game berkedok MLM.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet berkembang pula bisnis jaringan yang dikenal sebagai Viral Marketing, lantas apa perbedaan antara Viral Marketing dengan MLM? Ada beberapa hal yang membedakan Viral Marketing dan MLM antara lain:

Pertama, MLM  hanya menjual Produk tertentu, atau produk khusus yang tidak dijual di pasar bebas atau monopoli. Viral Marketing, produk tersedia di pasar bebas dan sudah dikenal konsumen. 

Wajar donk jika perusahaan MLM punya produk unik yang tidak ada di pasaran, karena itulah nilai tambah yang ditawarkan ke masyarakat. Di awal tahun 2000-an, Group Sidomuncul pernah berusaha membuat MLM yang produknya merupakan produk kebutuhan sehari-hari yang sudah dikenal masyarakat.  MLM tersebut bernama Triple S, SSS, atau Sugih Sehat Sejahtera. Triple S menggandeng Nissin, Indofood, dll, untuk membuat produk yang sudah ada dengan kemasan khusus atau privat label Triple S. Ada produk Extra Joss dibranding jadi Kuat Joss, ada Adem Sari dikemas ulang dengan merek Extra Kool. Ada minyak goreng, sabun, deterjen, dll. Awalnya sempat booming, namun ternyata tidak bertahan lama. Salah satu sebabnya, menurut saya, karena produknya kurang mendukung. Justru yang saat itu booming adalah Tianshi yang dipimpin oleh Trisulo, Louis Tendean, Naga Sugara, Eric Yong, dll. Saat itu, OPP Tianshi di kota Bandung saja terjadi setiap hari. Hotel-hotel dan tempat pertemuan full-booked oleh mereka. Orang-orang ramai membicarakan Tianshi. Kurang viral apalagi fenomena ini? 

Ilustrasi di atas membuktikan bahwa, pertama,  MLM memang butuh produk unik yang berbeda dengan apa yang sudah ada di pasaran. Kedua, barang-barang produk sehari-hari saat itu ternyata gagal menjadi viral di MLM.

Kedua, di MLM harga produk umumnya di mahalkan/manipulsasi harga karena tidak ada dipasaran. Di Viral Marketin harga produk wajar dan kompetitif karena produk bisa dibeli dipasaran.

Sudah saya bahas di atas toch kalau produk-produk MLM Triple S itu wajar dan kompetitif? Harga produk mahal belum tentu karena manipulasi. Banyak kok harga produk di luar MLM yang harganya mahal, obat-obat patent misalnya. Jika sebuah produk dijual di pasaran dengan harga beberapa kali lipat HPP-nya, itu juga wajar, karena komponen biaya marketing memang banyak. Pernah gak kamu mikir berapa sih sebetulnya HPP The Botol Sosro atau Aqua yang kamu minum sehari-hari? Itu adalah dua contoh produk yang dijual dengan harga beberapa kali lipat HPP tapi terasa wajar di konsumen.

Saya baru bahas 2 dari 10 poin yang dibahas broadcast tersebut… Hari ini segitu dulu ya, besok saya sambung lagi pembahasan ini…

Bersambung ke jilid 2

 

OTU Chat – Kompetitor WhatsApp dengan Banyak Nilai Tambah – Part 1

Teman-teman pembaca tentu sudah sangat familiar dengan WhatsApp. Apa sih jaman Now ini yang gak pake WhatsApp? Group keluarga, group almamater, hingga urusan bisnis dan pekerjaan, selalu menggunakan WhatsApp untuk kemudahan komunikasi.

Sebetulnya program sejenis WhatsApp itu banyak. Beberapa yang sudah saya install antara lain : Line, Telegram, Facebook Messenger, Imo, Duo. Beberapa diantaranya sudah saya uninstall : Bee Talk, MiChat, WeChat, KakaoTalk, dan liteBIG. Bukan karena messenger-messenger yang saya unistall itu gak bagus, ini cuma masalah efisiensi saja. Ngapain juga nginstall semua messenger kalo yang sepakat dipake teman-teman dan kerabat kerja cuma itu-itu juga? Tapi bisa jadi, kita menginstall Messenger lain untuk mencari hal-hal lain yang tidak difasilitasi WhatsApp, misalnya untuk menambah teman. MiChat dan WeChat punya fasilitas itu.

Kali ini saya ingin membahas OTU Chat. Kenapa saya merasa perlu bahas itu?

Pertama, karena OTU Chat adalah messenger local karya anak bangsa, selain liteBIG yang dulu pernah saya bahas. Selain chatting text dan berbagai file, OTU Chat juga punya fitur Video Call seperti WhatsApp.

Kedua, karena OTU Chat ini memang punya nilai tambah yang berbeda dan menonjol dibanding messenger-messenger yang pernah ada dan umum dipakai. OTU Chat punya fitur khusus yang gak ada di WhatsApp, Line, atau Telegram yang biasa kita pake sekarang. Fasilitas istimewa yang dimiliki OTU Chat yang terintegrasi di dalamnya adalah Payment Point. Dengan fasilitas itu, kita sebagai pemakai OTU Chat bisa beli pulsa, bayar listrik, bayar internet, hingga beli tiket pesawat & tiket kereta api, tanpa harus pergi ke Alfamart dan Indomaret.

Awalnya saya cuma komentar, saya tuch udah lama ya gak bayar tagihan listrik, telpon, dll di loket pembayaran manual konvensional. Saya juga sudah beralih ke PPOB online di HP yang bayarnya juga pake m-banking. Selain itu, PPOB gratisan mah di Playstore juga banyak! Ada Kudo, Bebas Bayar, VPS, Payfazz, hingga yang berbayar seperti Paytren. Apa istimewanya?

Masalah kedua, kalau dibandingkan harga-harganya, ternyata harga di system Tokopedia dan Bukalapak harganya lebih murah. Saya pikir ini kurang cocok dengan pemilik toko dan toko yang niatnya cuma nyambi jualan pulsa. Kalau mau harga murah mah, ambil aja di bukalapak, tokopedia, atau M-Kios, yang kalau dijual ke konsumen, labanya bisa lebih gede. Setuju?

Ternyata ada potensi luar biasa yang belum kepikiran dari info sekilas.  Apa itu ya? OTU Chat saat ini terus menerus disempurnakan. Diawali dengan Payment Point, ternyata pengembangnya punya visi yang lebih besar dari sekedar payment, bahkan ada Onlineshopnya kayak Tokopedia dan Bukalapak!

This slideshow requires JavaScript.

Eklanku ternyata punya kebijakan yang berbeda dengan Tokopedia & Bukapalak. Wajar jika harga-harga bayar tagihan yang ada di sini memang bukan harga pedagang untuk dijual lagi, tapi memang harga konsumen, karena alokasi labanya digunakan untuk program cashback konsumen. Pertama kita tetap lebih untung dibanding belanja di counter, karena semua cukup dilakukan lewat Smartphone kita, transaksi bisa dilakukan kapan saja. Kedua, eklanku program customer get customer yang berpotensi membangun pasif income kita di masa depan. 

 

Akang-Teteh tertarik? Silahkan download aplikasinya di sini

Kapan MLM Binary Muncul di Indonesia?

Saya kurang tahu pasti kapan tanggal tepatnya MLM jenis binary mulai muncul pertama kali di Indonsia. Nampaknya, system ini mulai muncul beberapa tahun Setelah boomingnya Amway di tahun 92-an lalu. Salah satu binary pertama yang saya kenal adalah UBS (Uni Beauty Shop), yang sering diplesetkan menjadi Uang Banyak Sekali. Saat itu saya belum tertarik untuk ikut terlibat dalam kegiatan bisnis binary. Doktrin Amway dan Network 21 bahwa mereka adalah yang terbaik di dunia saat itu masih begitu kuat.

UBS sendiri muncul pada tahun 1997, dan ternyata masih bisa bertahan hingga sekitar tahun 2005. Setelah itu gaungnya sudah tidak terdengar lagi. Mungkin sekali UBS collapse lantaran gagal bersaing dengan perusahaan lain yang terus berinovasi.

Saat saya akhirnya berhasil diculik seorang teman ke kantornya di pertokoan Segitiga Emas Kosambi Bandung, barulah saya menyadari bahwa MLM itu ternyata bukan cuma Amway dan CNI saja. Saya bahkan cukup kaget dengan pendekatan mereka yang sangat jauh berbeda dengan gaya formal Network 21. Di bisnis ini semua member yang baru dapat bonus benar-benar buka-bukaan memperlihatkan slip bonus mereka, bahkan gepokan duitnya juga mereka lihatin. Mereka kompak membuktikan bahwa bisnis ini benar-benar jalan dan uangnya nyata. Sangat jauh berbeda dengan orang-orang Network 21 yang impact di panggung dengan setelan baju rapi lengkap dengan jas dan dasinya, yang kita sendiri nggak tahu sebetulnya penghasilan mereka berapa. Benar-benar kejutan budaya!

Saat itu khan belum jaman internet murah seperti sekarang. Tentu saja alasan ini adalah alasan yang paling tepat buat saya buat ngeles dari terlambat tahunya informasi UBS (Uni Beauty Shop) tersebut 🙂 Dan saat itu juga belum jaman website. Para membernya daftar offline ngisi formulir, lalu disetorkan dengan uang pendaftarannya ke kantornya. Di kantor tersebut orang ngumpul-ngumpul di meja bundar. Ngobrol sana sini diselingi dengan presentasi.

Setelah itu, mulailah paradigma baru saya terbuka. Saya menemukan beberapa perusahaan sejenis dengan UBS, antara lain :

  • BBS (Binawan Bibit Sejahtera)
  • Mega Bonus
  • Esteem
  • Yoshihiro
  • Gold Quest
  • dll

Namun, satu hal yang menurut saya negative, UBS and the gank tersebut, meskipun menawarkan uang besar singkat yang menggiurkan, bukanlah MLM yang sehat. Bahkan sebetulnya jauh lebih tepat disebut Money Game. Gimana mau dibilang sehat? Lha wong produk-produknya dijual dengan harga terlalu mahal dan tidak wajar. Misalnya, sabun 5 ribu perak dijual 100rb.

Para leader di perusahaan-perusahaan binary tersebut memang tidak mengajarkan membernya untuk berdagang yang sehat, mereka lebih menekankan kepada perekrutan member sebanyak Mungkin dan nikmatilah bonusnya yang besar dan cepat! Salah seorang leadernya malah ngomong, “gak usah mikirin produk, itu buang aja ke laut, yang penting uangnya!

Apakah perusahaan-perusahaan yang saya list di atas sampai sekarang masih ada? Tentu saja sudah bubar, teman-teman. Wajar khan kalau dibilang Money Game? 😀

Meskipun demikian, ternyata banyak sekali orang yang suka pada bisnis semacam ini. Alasan mereka sederhana saja. Menjalankan MLM matahari seperti Amway atau CNI itu terasa sulit. Mereka merasa penghasilan di  Amway saat itu gak seberapa. Terasa gak sebanding  dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan buat bayar pertemuan, beli tiket seminar, beli kaset dll

Saya memang mengamati, banyak sekali orang-orang yang tadinya di Amway gak menghasilkan apa-apa selain kebrangkrutan pribadi, bertransformasi menjadi orang-orang kaya baru. Dari situ saya mengamati adanya siklus para pemain MLM.  Itu adalah siklus perpindahan dari para pemain MLM murni ke MLM binary.

Apakah MLM binary lebih baik dari MLM matahari? Tergantung sudut pandang. Kelebihan system matahari adalah potensi incomenya benar-benar tak terbatas, hanya saja untuk mencapai memang susah dan lama. Di sisi lain, system binary menawarkan kecepatan penghasilan yang cukup besar, tapi potensi besar penghasilan terbatas.

Tidak semua MLM binary dikategorikan binary tidak sehat. Setelah era money game, munculah perusahaan-perusahaan MLM binary yang sehat, misalnya Sun Hope di tahun 1998.

Beberapa leader Sun Hope yang saya kenal saat itu, beberapa diantaranya adalah alumni Amway – Network 21, antara lain : Mohamad Rasyid, Trisulo, Firdaus Haryo Lukito.  Mereka saat ini udah gak ada di Sun Hope. Rasyid kini jadi top leader di Synergy Worlwide. Trisulo menjadi salah satu legenda di Tianshi, yang kemudian loncat ke Fur Change, Talk Fussion, Jeunesse Global, dan kini membranding dirinya menjadi Coach Legendary Network Marketing.

Bersambung ke Jilid 2

Didaftarin ke HPAI, jalanin gak ya?

Adik saya mendaftarkan saya menjadi member di bisnis MLM barunya, namanya HPAI. Namanya didaftarkan gratis, saya sih gak keberatan. Saya lihat produk herbalnya lumayan, cukup menarik.

Adik saya bilang, “Aa khan terapis, suka nerapi orang pake tenaga dalam, ini khan bisa dikombinasikan dengan produk-produk herbal, nah, herbalnya ambil dari sini saja, he he.. ,” begitu katanya

Sebelum memutuskan mau dijalanin atau nggak, saya menemukan beberapa kendala. Masalah pertama, produk HPAI ini ternyata gak terlalu murah, meski tidak semahal produk-produk Tianshi yang impor dari China, atau Synergy Worldwide, Usana, Nutrilite, NuSkin yang impor dari  Amerika. Biasanya saya pribadi konsumsi herbal-herbal internal komunitas seperti Kapsul AB, Kubadar, Ragani, dkk. Kalaupun butuh produk herbal yang lain, saya lebih suka hunting di Google, Tokopedia, atau Bukalapak. Di sana harga-harganya banyak yang lebih murah dari herbal-herbal HPAI. Saya juga menemukan lapak online yang menjual produk-produk HPAI yang menjualnya dengan harga member. Artinya, tanpa jadi member pun ternyata saya bisa beli produk dengan harga member. Kalau begitu ngapain juga saya jadi member? Malesin bangeth dech liatnya. Saya nggak perlu kasih link nya ya… masuk aja sendiri ke tokopedia terus searching sendiri 🙂

Lalu masalah tempat belanjanya, saya belum tahu stokis terdekat yang bisa saya kunjungi untuk belanja produk. Kalau dilihat dari buku Panduan yang saya terima, Business Center Bandung baru ada 2, satu di Ciburial Dago, satu lagi di Daarut Tauhid Geger Kalong. Saya juga berhitung margin rabatnya yang saya lihat di katalog produknya. Tipis ya, sekitar 20%. Jadi hitungan bisnisnya harus masuk donk, berapa modal, berapa harga jual, berapa operasional untuk belanja dari Buahbatu ke Gegerkalong? Masuk akal nggak? Jangan sampai pengalaman dulu di jaman Jahiliyah saat baru mengenal Amway yang pada akhirnya jadi besar pasak daripada tiang terulang lagi 😀

Adik saya bilang, “Ada stokis dekat rumah, A, di daerah Gumuruh”. Tapi ternyata stokis tersebut sudah pindah ke Bekasi.

Kemudian saya dapat info ada stokis di daerah Kiaracondong, bisa dianter pake Gojek katanya. Pas jalan-jalan ke daerah Ciganitri saya juga nemu di sana. Tapi belum dicek aktif apa nggaknya. Produk dia lengkap apa nggak. Nah, di luar masalah stokis itu, khan ada pelapak tokopedia yang jual harga member? Bisa dihitung khan mana yang operasionalnya lebih tinggi? Transportasi ke stokis Bandung? Atau ongkos kirim dari stokis online di Bekasi yang obral harga member ke umum itu, he he..

Masalah kedua, meskipun benar saya suka nerapi, saat ini kegiatan terapi lebih banyak dilakukan ke anggota keluarga terdekat saja, terutama istri dan anak-anak. Saya bukan terapis profesional yang buka praktek pengobatan. Kalaupun terlibat kegiatan terapi, itupun sifatnya sosial saja, bukan tuntutan profesi.

Rupanya masalah klasik produk Direct Selling sesudah masuk Lapak Konvensional banyak sekali terjadi. Bukan cuma produk HPAI, jika Akant-Tetah butuh produk-produk herbal direct selling apapun, coba saja cari di bukalapak dan tokopedia. Banyak sekali produk-produk yang sudah dijual dengan harga di bawah harga membernya. Jika Akang-
Teteh sedang berkecimpung di bisnis yang bersangkutan, apa gak sakit hati tuch?Saya pribadi juga pernahy kok beberapa kali beli propolis dari Tokopedia. Member-member MSS tentu saja meradang dan teriak-teriak “itu produk propolis palsu, beli yang asli hanya dari member”. Tapi saya tahu persis itu produk asli. Ngerti juga seluk beluk permainan yang menyebabkan harganya begitu, he he..

Seharusnya perusahaan-perusahaan Direct Selling di Indonesia lebih serius membenahi masalah harga damping lapak-lapak online ini. Perusahaan direct selling asing begitu tegas menetapkan aturan ini. Saya jarang sekali, atau bahkan tidak pernah menemukan produk Usana & Nutrilite harga miring di lapak online.

Kembali ke masalah produk HPAI, saya tutup mata aja dech. Untuk menghargai niat baik adik saya yang udah bela-belain daftarin saya ke HPAI, saya tetap masukin ke lapak online dan Instagram saya, tapi nggak akan dipikirin mau jalan apa nggak. Nggak akan dipikirin juga produknya bisa laku atau nggak. Saya jalanin aja secara alami bersamaan dengan bisnis saya yang lain. Soal rejeki, biarlah Sang Maha Pencipta yang mengaturnya. Di luar itu, saya lebih tertarik jualan Hi-Octan, baju, asesoris, atau produk unik lainnya yang margin harganya lebih masuk akal buat saya. Lagipula, saya juga harus fokus beresin produk digital pendidikan saya yang belum kelar-kelar juga. Semoga semua niat baik bisa tercapai…

Benarkah MLM Haram?

Apakah MLM haram? Masalah itu sebetulnya sudah cukup banyak dibahas orang. Kalau hukumnya mutlak haram, Ustadz Yusuf Mansyur gak bakal buka Paytren yang sifatnya MLM. Kalau sifatnya haram, keluarga Aa Gym gak mungkin terlibat dalam MLM DBS yang saat ini sudah bermetamorfosis menjadi Synergi Lavanya. Kalau MLM haram, nggak mungkin HPAI begitu serius menggarap bisnisnya.

Tapi, masalah ini menjadi rancu karena paradigma orang tentang MLM saja tidak seragam. Saat ini banyak yang tidak bisa membedakan mana bisnis MLM dan mana Money Game berkedok MLM. Saya menulis artikel ini karena ada sebuah broadcast yang mendeskriditkan MLM di group WhatsApp keluarga.

Alhamdulillah, tidak satupun yang menanggapi postingan itu di sana. Sayapun tidak berkomentar apa-apa. Buat apa buang-buang waktu mengomentari sesuatu yang sifatnya multitafsir? Tidak akan ada kesepakatan apa-apa. Yang ada cuma debat dari pandangan-pandangan yang serba subyektif.  Yang lebih lucu lagi, broadcast ini dicopas salah seorang anggota group yang sehari-harinya juga tidak lepas dari pekerjaan haram. Dia banyak berkecimpung di proyek-proyek pemerintahan yang penuh KKN dan manipulasi data. Dia juga tiap hari merokok. “Bukankah rokok itu haram?”, tanya saya dalam hati, “Wah, yang broadcast ini  Maling teriak maling rupanya!” 😀

Inilah Isi Broadcast tersebut, disertai beberapa komentar pribadi yang saya cetak biru. Setiap ada ide atau informasi baru, Insya Allah, saya akan update terus komentar-komentar pribadi saya di sini.

Bisnis model MLM adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut ini, yaitu :

[1]. Sebenarnya anggota Multi Level Marketing [MLM] ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yan akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang.

Untuk perusahaan MLM yang benar, banyak orang tertarik menjadi membernya untuk mendapat harga diskon. Dengan cara itu, member tersebut berhak menjual kepada konsumen non member dengan harga retail. Dari situ, dia dapat laba.

Untuk Akang-Teteh yang sehari-hari banyak berkecimpung di bisnis jual beli produk, tentu sangat paham tentang hukum “paciwit-ciwit” ketika mendapatkan produk tertentu dari suppliernya. Supplier yang baik biasanya menerapkan aturan harga distributor, harga reseller, dan harga dropshipper dengan diskon harga yang berbeda. Sebetulnya MLM pun menerapkan prinsip yang sama. Dengan cara seperti itu, terjadi keseragaman harga yang tertib di pasar yang akan memberikan kenyamana terhadap pedagang dan pembeli.

[2] Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

Tanpa MLM pun, banyak produk yang harga pokok produksinya jauh di bawah harga konsumen. Teh Botol Sosro misalnya, harga pokok produksinya juga tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada toko retailnya.

Baju-baju yang dijual di pertokoan dan fashio shop pun banyak yang seperti itu. Mangkanya tidak heran pada saat proses cuci gudang, terjadi diskon besar-besaran yang fantastis, hingga lebih dari 70%, tapi tokonya tetap tidak rugi.

Produk asesoris gadget,  banyak sekali yang harga pokok produksinya kurang dari 10% dari harga yang dibayarkan konsumen ke tokonya. Apalagi barang-barang asesoris produk impor China. Saya paham sekali masalah ini, karena pernah jualan asesoris dan ngurus warung.

Bisnis obat-obatan lebih gila lagi. Dengan harga pokok produksi yang sangat rendah, pasien membelinya dengan harga mahal. Contohnya produk Ponstan dan Asam Mefanemat yang harganya ibarat bumi dan langit padahal produknya sama persis. Apa sebabnya jadi mahal? Biaya marketing dan distribusinya bisa lebih dari 1000% dari harga pokok produksinya.

Jadi, saya gagal paham jika sumber artikel broadcast ini sampai membuat fatwa haram dengan alasan Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

[3]. Bahwa produk ini biasa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan Multi Level Marketing [MLM] ini di jaringan internet.

Bukankah semua produk non MLM pun begitu? Ini khan jaman serba online, Akh. Antum sehari-hari pake pulsa gak? Pernah beli pulsa khan? Pulsa handphone dan pulsa listrik? Itu adalah contoh produk non fisik yang begitu gampang dipindahkan oleh semua orang secara online melalui jaringan internet meskipun wujudnya gak kelihatan! 🙂

Saat Antum belanja dari onlineshop pun, antum dengan mudah mengakses produknya tanpa harus keringetan desak-desakan di pasar. Kalau dengan alasan ini antum sampai membuat fatwa haram tentang MLM, sepertinya antum kurang wawasan neh 🙂

[4]. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan diiming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan kepada mereka.

Tiap tahun ajaran baru juga para siswa dan mahasiswa pada daftar ulang di kampusnya masing-masing. Pulsa isi ulang dan kuota internet juga masa aktifnya harus diperbaharui secara berkala, kalau nggak jadi hangus.

Minimarket dan Supermarket pun memberlakukan masa aktif tertentu pada kartu membernya. Mereka juga mengiming-iming konsumennya dengan berbagai program diskon ini itu. Ini terjadi di luar MLM. So what gitu lho? Harusnya Antum keluarin juga fatwa haram membership Alfamart, Yomart, Indomart, Griya, dll juga. Nggak cuma MLM.

[5]. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Up Line) sedangkan level bawah (Down Line) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka. Berdasarkan ini semua, maka system bisnis semacam ini tidak diragukan lagi keharamannya, karena beberapa sebab yaitu :

❗ Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadap anggota

❗ Produk Multi Level Marketing [MLM] ini bukanlah tujuan yang sebenarnya. Produk itu hanya bertujuan untuk mendapatkan izin dalam undang-undang dan hukum syar’i.

Saya akui, memang banyak MLM tanpa produk dengan skema Money Game dan Skema Ponzi yang merugikan masyarakat. Tapi tidak semua MLM seperti itu, Syaikh 🙂

Ini sih sama saja dengan memaksakan paradigma bumi datar dengan mengutip ayat-ayat Al Qur’an yang sebetulnya bisa ditafsirkan juga sebagai bumi bulat.

❗ Banyak dari kalangan pakar ekonomi dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perekonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum Berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’i didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan lainnya.

Oh iya, Syaikh sudah membaca buku ini belum? Cobalah luangkan waktu untuk menelaah. Seorang Ustadz harus berwawasan luas khan? Bukan apa-apa, santri sekarang semakin lama semakin kritis pola pikirnya…

This slideshow requires JavaScript.

Maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena hal ini berarti terjadi penipuan pada Allah dan RasulNya, oleh karena itu system bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’i. Kalau ada yang bertanya : Bahwasanya bisnis ini bermanfaat bagi sebagian orang. Jawabnya ; Adanya manfaat pada sebagian orang tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana di firmankan oleh Allah Ta’ala. Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : Pada hakekatnya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya [Al-Baqarah : 219] Tatkala bahaya dari khamr dan perjudian itu lebih banyak daripada menfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan.

‼ Kesimpulannya: Bisnis Multi Level Marketing [MLM] ini adalah alat untuk memancing orang-orang yang sedang mimpi di siang bolong menjadi jutawan.

Bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi. Dan spekulasi adalah bentuk perjudian. ‼‼

Mohon disebarkan.

Apa hak Anda nyuruh-nyuruh saya ikut nyebarkan Broadcast sesat Antum?  Ini bukan untuk disebar,  tapi untuk diluruskan! Atau minimal, ikut memberikan opini juga lah… Mohon maaf ya kalau saya memilih untuk tidak bersikap taklid buta pada segala informasi yang keluar dari Antum.

‼‼ https://almanhaj.or.id/1489-hukum-syari-bisnis-multi-level-marketing-mlm.html

Website punya siapa sih? Nanti saya lihat-lihat. Siapa tahu artikel-artikel lainnya banyak yang bagus dan bermanfaat. Saya lihat tulisan ini dibuat oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali. Mohon maaf Syaikh, tidak setiap pendapat Antum saya harus sepakat.. Punya opini sendiri boleh khan? Bukankah dalam banyak surat Rabb menyuruh kita untuk berpikir? 🙂