Empat Pendekar Ciremai

8-POWER-DIESEL

Empat Pendekar Ciremai menceritakan tentang sepak terjang Kinong, Kartaran, Thomas, dan Mang Pe’i setelah turun gunung. Mereka kini telah dibekali dengan jurus-jurus yang disesuaikan dengan hewan kesayangan mereka. Kinong dengan Jurus Burung Beo, Kartawan dengan Jurus Lumba-Lumba, Thomas dengan Jurus Kucing dan kemampuan mata batin yang bisa menembus benda, dan Mang Pe’i dengan Jurus Bebeknya. Keempat orang inilah yang kelak di masa dewasanya dikenal sebagai Malaikat Bayangan.

4-pendekar-ciremaiSinopsis :

Keluarga Liem Boen di Krawang mengutus Bu Beng dan Chuan Chin untuk mengantar surat tantangan berpibu kepada Louw Liong San karena telah mencelakai putra mereka, Liem Boen Bie. Louw Liong San marah, kedua utusan itu disiksa dengan dipotong hidung dan telinganya.

Babah Louw Liong San merupakan tuan tanah di daerah sekitar Cirebon. Ia sangat dekat dengan pihak kumpeni karena jasanyalah Bajing Ireng berhasil ditangkap pihak Belanda.

Siang itu, rumah Wong Kun Lun diobrak abrik para pendekar bayaran atas perintah pihak kumpeni. Rumah babah Wong disita karena akan dijadikan hadiah bagi Babah Louw. Terpaksa Babah Wong dan putrinya Mei Ling pergi meninggalkan rumah yang dimilikinya itu, ke tempat lain, mencari tempat tinggal baru.

Tiga pendekar cilik, Kinong, Kataran dan Mang Pi’i tiba di daerah Sunyaragi, Cerbon. Mereka turun gunung menuju Kandanghaur. Baru saja mereka tuntaskan belajar ilmu silat kepada Ki Denggol dan Ki Luncup di pegunungan Ciremai.

Ditengah perjalanan, mereka bertiga bertemu dengan Ki Sancang dan Ki Cupang, dua orang seniman topeng monyet yang sedang bersedih karena sang monyetnya meninggal. Akhirnya Kinong Cs bersepakat membantu kedua orang tua itu mengamen. Mang Pi’i yang badannya kurus dan bergigi tonggos kini mesti berakting dengan menjadi seorang waria.

Kidang Talun, pendekar cilik si keris kembar, selalu berusaha membalaskan dendam atas kematian Wadul Angkara dan Dewi Seriti, orang tuanya yang mati dibunuh oleh Ki Denggol dan Ki Luncup.

Kinong dan Kataran terkena racun yang dimasukkan Kidang Talun ke dalam nasi yang mereka makan.

Mang Pi’i dengan jurus bebeknya berhasil mengalahkan Kidang Talun, sayang, ia berhasil kabur. Kesedihan Mang Pi’i berakhir ketika ia mengetahui Ki Secang dan ki Cupang berhasil mengobati kedua saudaranya yang terkena racun Kidang Talun, Kinong dan Kataran.

Perjalanan Wong Kun Lun bersama putrinya, Mei Ling dalam mencari daerah tinggal baru sampai ke daerah Kandanghaur.

Sementara di dalam benteng Kandanghaur, Karta dan Ranti sedang menghitung hari, menanti penuh kerinduan akan putra mereka, Kataran yang telah 3 tahun memperdalam ilmu silat di gunung Ciremai.

Latihan silat diantara pendekar di dalam Kandanghaur terus berjalan dengan giat guna memperhebat perlawanan mereka melawan pihak kumpeni.

Pihak Kandanghaur, hari itu bertambah kuat dengan masuknya babah Wong Kun Lun dan putrinya, Mei Ling. Atas jaminan Roijah, istri Parmin Si Pendekar Jaka Sembung, babah Wong dan Mei Ling kini menjadi bagian dari keluarga besar Kandanghaur.

Karisidenan malam itu menjadi heboh atas kedatangan putra residen yang telah meninggal, Thomas. Sang putra tiri sang residen nyatanya masih hidup. Ia datang bersama paman Petrus, yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri.

Petrus adalah pacar sang nyonya residen di masa lampau. Demi mendapatkan sang nyonya, tuan residen beberapa tahun yang lalu telah menyiksa dan menghancurkan wajah Petrus. Tuan residen menyangka Petrus telah mati, nyatanya masih hidup. Bahkan anak tirinya sendiri yang dibunuh, ternyata kini ia datang kembali.

Malam itu, karisidenan bermandikan darah. Tuan residen akhirnya tewas di tangan Jaka Sembung. Petrus dan nyonya residen, sepasang kekasih di masa lalu, orang tua kandung dari si Thomas, mereka harus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan tuan residen.

Thomas atas permintaan orang tuanya sebelum meninggal, ia dititipkan kepada Jaka Sembung, kini ia bergabung dengan Kinong, Kataran dan Mang Pi’i. Mereka berempat kelak akan dikenal sebagai 4 Pendekar Ciremai.

Selesai pula tugas rahasia Ki Secang dan Ki Cupang yang terpaksa menyamar jadi pengamen demi menjaga keselamatan 3 pendekar muda dari gunung Ciremai itu hingga ke Kandanghaur.

Bagaimana dengan Kidang Talun? Akhirnya sang bocah menyadari keadaan orang tuanya, Wadul Angkara dan Dewi Seriti yang merupakan sepasang pendekar dari golongan hitam. Berkat kesadaran yang ia telah dapatkan, kini ia bersahabat dengan 4 Pendekar Ciremai.

Mereka semua melanjutkan perjalanan menuju benteng pertahanan perjuangan di Kandanghaur. Sementara itu, Jaka Sembung bersama Awom melanjutkan penyelidikan ke pihak kumpeni di selatan Cerbon.

Bagaimana dengan rencana pibu antara keluarga Louw melawan keluarga Liem dari Krawang? Bagaimana nasib babah Wong Kun Lun selanjutnya?

Jaka Sembung

“Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung goblok” adalah sebuah pantun singkat yang begitu populer di masyarakat. Tapi tahukah Akang-Teteh pembaca blog, siapakah Jaka Sembung itu?

Saya kenal tokoh fiktif Jaka Sembung sekitar kelas 6 SD dari komik-komik Djair yang saya pinjam dari Taman Bacaan Ria di Turangga Dalam, Perpustakaan Aneka B di Buahbatu, dan Aneka A di Jl. Taman Siswa Bandung, dan Taman Bacaan Asterix di daerah Gumuruh. Eh, by the way, itu taman bacaan masih pada eksis gak ya? Terahir lewat buahbatu rasanya kok udah gak kelihatan? he he… Ada juga beberapa judul yang sempat beli di Bursa Buku Palasari.


Jaka Sembung adalah karakter utama dalam serial cerita silat yang diciptakan oleh komikus Djair Warni pada tahun 1960-an.  Nama asli Jaka Sembung adalah Parmin. Dia adalah murid dari Ki Sapu Angin. Tapi saya sih bacanya tahun 80-an akhir. Karakter ini pertama kali muncul pada tahun 1968 dalam komik Bajing Ireng yang diterbitkan oleh penerbit Maranatha. Komik ini adalah salah satu komik silat pertama karya komikus Indonesia yang telah memopulerkan cerita silat khas nusantara. Komik ini begitu populer sehingga diadaptasi secara lepas menjadi sebuah film layar lebar bergenre film aksi laga pada tahun 1981 dengan judul “Jaka Sembung Sang Penakluk” yang dibintangi oleh aktor laga Barry Prima. Film ini akhirnya menuai sukses besar sehingga dilanjutkan oleh beberapa sekuel dan melambungkan nama Barry Prima.

Alkisah, Parmin adalah seorang pendekar silat asal Kandanghaur yang berjuang melawan kolonialisme di era VOC, abad ke-17. Karena berguru dengan perguruan silat di Gunung Sembung, dia dikenal dengan nama julukannya, “Jaka Sembung”. Bersama kekasihnya, Roijah atau si “Bajing Ireng” dan juga pendekar-pendekar silat rekan seperjuangannya dari segala penjuru Nusantara, bahkan dari benua Australia, Jaka Sembung berjuang bersama-sama saling bahu membahu dalam melawan pasukan VOC.

Jaka Sembung mengambil latar di Desa Kandanghaur daerah sekitar Indramayu dan Cirebon. Kisahnya begitu hidup, hingga dulu kalo guru IPS bertanya siapa pahlawan nasional asal Jawa Barat, saya tidak ragu untuk menjawab, “Jaka Sembung, bu, dari Desa Kandanghaur”, he he…

Beberapa tokoh dalam Serial Jaka Sembung

Parmin si Jaka Sembung, murid dari Ki Sapu Angin dan Begawan Soka Lima. Parmin adalah anak dari Elang Sutawinata. Tongkat besi sembrani adalah salah satu senjatanya selain golok.

Roijah, si Bajing Ireng, istri Jaka Sembung. Parmin bertemu dengan Roijah ketika Bajing Ireng terdesak dalam perkelahian dengan pendekar bayaran penjaga lumbung padi meneer Belanda. Roijah adalah anak Bek Marto, kepala desa antek penjajah.

si-gila-dari-muara-bondetKarta, si Gila Dari Muara Bondet. Adik angkat Jaka Sembung. Karta menderita depresi berat ketika harus berpisah dengan Nuraini, kekasihnya. Dalam kondisi depresi, Karta berlatih di Muara Bondet.

Ranti, istri Karta, anak angkat kesayangan Raja Rampok Gembong Wungu. Sebelum bertemu dengan Karta dalam kisah si Cakar Rajawali, Ranti tergila-gila pada Parmin si Jaka Sembung. Bahkan Ranti sempat menantang Roijah bertarung untuk memperebutkan cintanya.

Jaka Sembung punya dua orang adik, Kaswita dan Sri. Kaswita, adik lak-laki Jaka Sembung. Kaswita punya senjata khas berupa blenceng bermata dua. Sri, adik perempuan Jaka Sembung. Pada saat terjadi Badai di Laur Arafuru, Kaswita dan Sri terdampat di Pulau Halmahera. Di sana mereka bertemu dengan Raja dan Ratu Bajak Laut.

Baureksa, Umang, Mirah. Sahabat Jaka Sembung. Dalam pertempuran menumpas gerombolan Lalawa Hideung yang dikisahkan dalam “Pendekar Dari Gunung Sembung), Baureksa kehilangan kaki kanannya, sedangkan Umang kehilangan tangan kanannya.


Ternyata bukan hanya Pangeran Diponegoro yang dijebak Belanda dengan cara mengadakan perjanjian. Jaka Sembung pun demikian. Parmin ditangkap saat tiba di keresidenan Van der Smooth untuk berunding. Pada saat Jaka Sembung dibuang ke Papua oleh Belanda, teman-teman seperjuangan Jaka Sembung ikut menyelendup ke dalam kapal. Dalam perjalanan ke Papua, terjadi badai besar di laut Arafuru yang membuat rombongan terpencar-pencar ke beberapa pulau. Kaswita dan Sri terdampar di Halmahera, Karta, Baureksa, Umang, dan Mirah terdampar di Pulau Aru. Sedangkan Parmin sendiri terhempas di Pantai Papua.

Awom, murid Jaka Sembung dari Papua. Awom adalah pemahan jitu, saya rasa kemampuannya tidak kalah dengan Green Arrow, salah satu tokoh DC Comic temennya The Flash 🙂

Wori Pendekar Bumerang. Kalau bisa, saya ada sedikit pertanyaan neh sama Pak Djair. Setahu saya, setidaknya yang diajarkan dalam pelajaran IPS di Sekolah Dasar, Boomerang itu senjata khas suku Aborigin yang hidup di benua Australia. Tapi menurut Pak Djair Wori Pendekar Bumerang berasal dari suku Maori, setahu saya, suku Maori itu hidup di Selandia Baru.


Ini adalah list lengkap Serial Jaka Sembung, gak semua berhasil saya baca. Apalagi sekarang komiknya sudah jadi barang langka. Seandainya ada yang nerbitin ulang, saya mau deh bela-belain beli.

Daftar lengkap serial Jaka Sembung :

  1. “Bajing Ireng”, 63 halaman, Maranatha, Januari 1968,
  2. “Si Gila dari Muara Bondet”, 64 halaman, Maranatha, Maret 1968,
  3. “Bergola Ijo”, 66 halaman, Maranatha, 1968
  4. “Gembong Wungu”, 130 halaman, PT Bintang Kejora, 1968
  5. “Air Mata Kasih Tertumpah di Kandang Haur”, 1968
  6. “Si Cakar Rajawali”, 63 halaman, UP Aries, Agustus 1968
  7. “Pendekar Gunung Sembung”, 574 halaman, PT Bintang Kejora,1969
  8. “Leonard Van Eisen”, 133 halaman, PT Bintang Kejora, 1969
  9. “Badai Laut Arafuru”, 252 halaman, 1972
  10. “Papua”, 372 halaman, UP Rosita, 1972
  11. “Iblis Pulau Aru”, 372 halaman, 1972
  12. “Wori Pendekar Bumerang”, 620 halaman,UP Rosita, 1973
  13. “Singa Halmahera”, 558 halaman, UP Rosita, 1973
  14. “Kinong”, 558 halaman, UP Rosita, 1973
  15. “Dia Bajing Ireng”, 744 halaman, UP Rosita, 1973
  16. “Dia Bangkit dari Kubur”, 496 halaman, UP Rosita, 1974
  17. “Kabut Ciremai”, 629 halaman, UP Rosita, 1975
  18. Empat Pendekar Ciremai“, 528 halaman, UP Rosita, 1975
  19. “Asiong”, 720 halaman, UP Rosita, 1976
  20. “Kiamat di Kandang Haur”, 720 halaman, UP Rosita, 1977
  21. “Wali Kesepuluh”, 720 halaman, UP Rosita, 1977
  22. “Jaka Sembung Sang Penakluk Ratu Pantai Selatan”, 479 halaman, UP Rosita, 1987
  23. “Banjir Darah di Pantai Selatan”, 383 halaman, UP Rosita, 1988
  24. “Tahta Para Bangsawan”
  25. “Jaka Sembung vs Si Buta dari Gua Hantu”, 109 halaman, Pluz+, 2010

Karakter Jaka Sembung telah diadaptasi secara lepas ke dalam media layar lebar, antara lain:

  1. “Jaka Sembung Sang Penakluk”, 1981
  2. “Si Buta Lawan Jaka Sembung”, 1983
  3. “Bajing Ireng dan Jaka Sembung”, 1985
  4. “Jaka Sembung dan Dewi Samudra”, 1990

Tapi tetap saja, buat saya, komik Jaka Sembung jauh lebih menarik dan imajinatif dibanding versi layar lebar dan layar kacanya. Da kumaha atuh, asa teu mirip Parmin na komik jeung Bary Prima nu jadi Jaka Sembung. Na film mah gondrong teuing buukna ceuk sayah mah, heu heu…

Jaka Geledek

Jaka GeledekJaka Geledek  adalah tokoh fiktif kreasi Djair Warniponakanda, komikus yang dulu terkenal sebagai kreator Jaka Sembung, Malaikat Bayangan, Toang Anak Jin,  Si Tolol, Penyair Sakti. Seperti halnya Jaka Sembung,  Jaka Geledek pun dilahirkan dalam kultur penjajahan Belanda. Kalau tidak salah berada dalam setting Perang Padri di Sumatera dan sekuel dari pergerakan perang Diponegoro di Jawa.

Jaka Geledek bernama Arlek, Arlek Amanca, sebuah singkatan yang membuat saya dulu tertawa terpingkal-pingkal. Karena ternyata Arlek Amanca adalah singkatan dari Biar Jelek Asal Mantap dan Dipercaya.

Jaka Geledek adalah putra dari Putri Ular, seorang putri bangsawan Aceh yang terlantar saat keluarganya dirampok oleh komplotan Raja Rampok yang bermarkas di daerah Sumatera Barat, yang sejak bayi menjadi anak angkat dari Ratu Ular yang memerintah semua Ular yang ada di Pulau Andalas. Ayahnya bernama Baharudin, seorang bangsawan Aceh.

Walaupun sama-sama diawali dengan kata “Jaka”, namun saya tidak melihat ada hubungannya dengan Jaka Sembung. Kisah Jaka Geledek justru berhubungan dengan si Tolol dan beberapa orang tokohnya seperti Rediakso si pemilik “ilmu kontak”.

Jaka Geledek sejak bocah memiliki kekuatan ajaib. Jika marah ia bisa memunculkan pukulan geledek. Anehnya lagi ia dilahirkan oleh seorang wanita yang ayahnya adalah seekor ular bernama Ja Ukkoro. Setiap kali, Jaka Geledek menemui masalah dan sangat membahayakan, lalu muncullah Ja Ukkoro yang bentuknya kecil. Namun, kalau datang bisa dengan ribuan ular lainnya, sebagai anak buahnya. Ja Ukkoro adalah “ayah” Jaka Geledek dari bangsa Ular.

Dulu komik saya lengkap. Sekarang udah pada ilang neh. Nanti dongengnya saya lanjut lagi ya kalo komik-komik dan data-data pendukung lainnya udah ketemu, he he…